
Ara menangis di tengah derasnya hujan, sembari merenungi apa yang baru saja terjadi padanya.
‘Kenapa sejak gue masuk ke kampus ini, kehidupan gue jadi lebih kacau?’ batin Ara sendu.
Harga diri, cinta, kasih, dan perasaan Arasha seketika hilang dan remuk. Dia yang dulu, bukan lagi dirinya yang sekarang. Ia sudah terbunuh oleh rasa sesak yang melilit kehidupannya. Dia bukan lagi Ara yang bisa menikmati indahnya kehidupan. Ara yang sekarang, hanyalah Ara yang bodoh.
“Kenapa semua ini terjadi sama gue, sih!” Ara berteriak sekeras mungkin, tak peduli dengan keadaan sekitarnya.
Yang Ara butuhkan hanyalah, bahu untuk bersandar.
”Grep ….”
Seseorang memeluk tubuhnya dari belakang. Ara kaget bukan main. Ia berbalik ke belakang, untuk melihat siapa yang memeluknya. Kali ini, di sana terlihat Morgan yang menatap Ara dengan tatapan yang dingin.
“Morgan …,” ucap Ara dengan lirih.
Ara kesal dengannya.
Kenapa Morgan malah muncul, di saat yang tidak tepat seperti ini? Seharusnya, ia muncul sebelum Bisma muncul di hadapanku tadi, agar aku tidak bisa mendengar omong kosong Bisma yang tidak jelas itu, pikir Ara.
Tapi, Morgan masih mau peduli pada Ara. Tanpa pikir panjang, Ara langsung berhambur memeluk Morgan dengan sangat erat. Ia menumpahkan perasaan kecewa, kesal, sedih, dan seluruh keluh kesahnya pada Morgan.
Pelukan Ara mungkin saja bisa membuat Morgan kesulitan bernapas. Ara tak peduli akan hal itu. Yang dia pikirkan sekarang, hanyalah rasa kesal dirinya saja.
Ara sudah sangat kesal dengan hidupnya. Ia sudah tidak bisa berbuat apapun lagi. Hanya bisa memeluk Morgan, sambil menangis di dalam pelukannya.
“Gan ... kenapa sih, kenapa gue selalu menderita begini?” tanya Ara padanya.
Morgan hanya diam, tak bergeming. Ia hanya memeluk Ara dengan erat. Sampai Ara pun sulit untuk bernapas.
Ara merasa tak enak padanya, khawatir ia merasa sesak. Ara berusaha melepaskan diri darinya.
“Jangan ... jangan dilepas,” ucapnya sembari memeluk Ara lagi, membuat Ara kembali tertahan.
Ara tahu ini berat untuk Morgan yang selalu berusaha untuk mendekatinya, bahkan Morgan juga sudah menolongnya waktu itu. Tapi, tak bisa dipungkiri, Ara ternyata sudah mencintai Bisma.
“Saya rindu sama kamu, Ra,” lirihnya, membuat Ara mendadak kesal mendengarnya, lalu mendorong keras tubuhnya sampai ia terhempas dari pelukan Ara.
“Apa-apaan loe? Bilang kangen, tapi gak pernah hubungin gue?” bentak Ara dengan kasar padanya.
Morgan hanya diam, sembari melihat Ara yang sudah meledak-ledak seperti ini. Ara juga tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Ara tidak menyangka akan serindu ini dengan Morgan, saat Morgan tidak memberikannya kabar, walau sehari saja.
Nampaknya, Morgan tak begitu merindukan Ara. Ia hanya diam, dengan sikap dingin yang ia punya. Hati gadis manis ini sangat terpukul, karena di sini, mungkin hanya dia saja yang merasakan sepinya tak diberi kabar.
Sementara Morgan, selalu sibuk untuk membuat jarak di antara mereka semakin renggang. Padahal jika diruntutkan dari kejadian lalu, Ara juga sudah membuat jarak antara dirinya sendiri dan juga Morgan.
Memang, wanita selalu benar.
“Udah marahnya?” tanya Morgan dengan santai.
__ADS_1
Ara semakin tidak terima dengan ucapan Morgan yang sekarang ini. Dia merasa kalau Morgan benar-benar tidak menghargai perasaannya.
Perasaan wanita yang sedang dilanda rasa kecewa, galau, dan frustrasi. Ara semakin panas, tapi ia tidak bisa berbicara lebih banyak lagi pada Morgan. Itu hanya membuatnya semakin tak terkendali.
“Kok diam? Ayo dong, ngomong lagi. Ngomong sampai kamu puas,” suruhnya.
Ara masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Morgan. Sebenarnya, dia mencintainya atau tidak?
Dari sudut pandangan Ara, ia seperti melihat musuh saat memandang Morgan. Tidak ada rasa khusus apapun ketika berhadapan dengan dirinya. Mungkin, yang ia rasakan bukan rindu, tapi rasa kehilangan.
Tapi rasa kehilangan itu, lebih cocok dipakai untuk orang yang memilikinya, bukan seperti Ara.
Ara bukan siapa-siapa di sini.
“Gak bisa ngomong, kan?” tanyanya.
Ara semakin tidak tahan dengan sikapnya. Ia geram, amarahnya kalut, dan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Morgan di sana.
“Hap ....” Morgan tiba-tiba saja menarik tangan Ara, membuat Ara tidak bisa meninggalkannya.
Pandangan mereka pun terpaksa menjadi satu titik, membuat Ara merasa risih.
“Lepasin, gak!” bentak Ara kasar, dengan mata yang mendelik.
“Kamu gak perlu repot-repot marah, dan pergi ninggalin saya di sini. Saya cuma mau ngomong satu hal ke kamu,” gumam Morgan, Ara menjadi penasaran dengan ucapan yang akan Morgan katakan.
‘Apa itu?’ batin Ara.
Dengan rasa penasaran, Ara pun mengambilnya dengan cepat.
Sebetulnya, amplop apa itu?
“Buang kalau kamu gak mau baca,” ucap Morgan kemudian berlalu pergi dengan sikap menyebalkannya itu.
Kenapa Morgan selalu sedingin itu terhadap Ara? Padahal kalau dilihat lagi, saat ia tersenyum, itu jauh lebih baik daripada sikap sok dinginnya itu.
Menyebalkan, pikir Ara.
Ara melihat sepucuk surat yang Morgan berikan, dengan seksama.
Kalau diperhatikan kembali, lucu juga, ya. Dia memberikan Ara sepucuk surat berlapis amplop hitam, yang diletakkan di dalam plastik es.
Supaya tidak basah mungkin? Haha.
“Ada-ada aja si Morgan,” Ara menggeleng kecil sembari tertawa.
***
Ara baru saja tiba di rumah. Ia tak sengaja berpapasan dengan kakaknya, yang saat ini terlihat sedang bersama dengan gadis itu lagi, di ruang tamu.
__ADS_1
Ara berpura-pura tidak melihatnya, dan melangkahkan kakinya dengan cepat melewati mereka, berharap mereka tidak memanggilnya.
“Ra ….”
‘Aduh, ternyata kepanggil juga gue,’ batin Ara, yang mengaduh karena kenyataan tidak sesuai dengan harapannya.
Ara menghentikan langkahnya, dan sekarang Ara berhadapan dengan mereka.
“Udah pulang?” tanya Arash.
Ara memutar bola matanya, sembari melipat kedua tangannya.
“Belom,” ketus Ara.
Kakaknya nampak tidak suka jawaban Ara.
Ya, Ara ingin kakaknya tahu, kalau Ara tidak suka dengan gadis yang ada di sampingnya sekarang. Tapi, kakaknya selalu membela Jessline, yang dia pikir bernama Monica.
Ya, Jess sangat licik menurut Ara. Entah susuk apa yang dia pakai, untuk memikat hati Arash, tapi Ara harus mengakui, susuknya memang sangat manjur.
“Kamu kenapa si, Ra? Marah-marah terus,” sinis Arash.
Ara malah menyeleneh.
“Gak usah pikirin aku deh, Kak. Pikirin aja tuh si MONICA,” ketus Ara sembari menekan kata “Monica”.
Ara langsung pergi menuju kamarnya, tak menghiraukan mereka yang sedang bermesraan di sana.
Ara heran, kenapa kakaknya selalu bermain cinta dengan wanita yang tidak jelas asal-usulnya? Usianya sudah cukup matang untuk melamar seorang gadis. Tapi, kenapa dia tidak mau memulai, dan malah sibuk dengan para wanita tidak jelas, yang hanya singgah sementara saja di hatinya?
“Hah ….”
Ara menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang tidur. Ara merasa, tubuhnya sangat lelah. Ara sampai malas untuk bergerak, walau hanya sedikit.
Tiba-tiba saja, ia teringat sesuatu yang tadi Morgan berikan kepada Ara. Ia merogoh ke dalam tasnya, dan mengambil sepucuk surat yang terbalut dengan plastik es itu.
“Hem ….” Ara tak sadar tersenyum sembari memandanginya.
Lucu sekali dia.
Kenapa dia sampai terpikir dengan hal semacam ini? Pikir Ara.
Kemudian, Ara membuka plastik tersebut, secara perlahan. Dengan sabar ia membuka ujung yang melipat plastik itu. Namun tak kunjung terbuka. Ara mulai tak sabar karena merasa penasaran dengan isi dari surat tersebut.
“Duh, susah banget, sih!” geramnya.
Ara mulai panas, dan mulai membuka paksa plastik itu. Ia merobeknya secara asal. Akhirnya, Ara bisa mengambil surat yang ada di dalamnya.
“Tukk ....”
__ADS_1