
Ara telah tiba di rumahnya. Kini, mereka sedang berdiri di depan pintu rumah Ara.
Rasanya, Ara sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan, bahkan untuk mengeluarkan satu patah kata pun, ia tidak sanggup. Ara hanya bisa diam, sembari menatap kosong ke arah hadapannya.
“Sudah sampai,” lirih Morgan. Aku hanya diam tak bergeming.
“Gak akan terjadi apa pun sama kamu. Ayo ... kita masuk,” ucap Morgan, yang berusaha membuat suasana hati Ara menjadi tenang.
Tapi, Ara sama sekali tidak merasa tenang, karena mungkin rasa traumanya dengan hal semacam itu.
Aku tidak ingin lagi hidup di dunia ini. Aku sangat takut dengan kejahatan yang terjadi malam ini, pikir Ara.
Melihat Ara yang hanya diam mematung di depan pintu, Morgan pun merasa iba dengannya.
“Ra ...,” Morgan meletakkan tangannya di pipi kanan Ara lalu mengelus lembut pipinya.
Ara mengacuhkannya, dan langsung membuka pintu rumahnya.
“Ra!” Morgan menahan tangan Ara.
Entah kenapa, Ara tidak ingin berbicara pada Morgan untuk sementara waktu. Ara sudah tidak bisa lagi berdebat dengannya.
Ara hanya memandangnya dengan tatapan sinis, membuat Morgan mendelik kaget karenanya.
Ara menggunakan sisa energinya untuk melepaskan tangannya dari cengkeraman Morgan.
Perlahan ia mulai meninggalkan Morgan, dan masuk ke dalam rumahnya.
Ara berjalan gontai menuju kamar tidurnya. Ia tidak bisa berpikir dengan jernih. Sekujur tubuhnya menggigil, dan ia sama sekali tidak memiliki tenaga untuk melakukan sesuatu lagi.
Perutnya kini terasa sangat sakit dan perih, seperti tersayat pisau yang tajam. Ara menghempaskan dirinya ke atas ranjang tidur, dan mulai memejamkan matanya yang sudah sayu.
Morgan melihat ke arah Ara yang nampaknya sudah tertidur lemas di atas ranjangnya.
Morgan memandangnya dengan lekat.
Aku menyesal dan merasa sangat tidak berguna saat ini. Aku tidak tahu akan seperti ini jadinya. Aku takut terjadi sesuatu yang serius dengan Ara. Aku tidak ingin melihat dia terluka. Aku merasa gagal menjaga wanitaku, pikir Morgan.
Morgan pun menatap ke arahnya dengan sendu. Ia mulai menghampiri Ara.
Perlahan, ia membukakan sandal yang masih terpasang di kedua kaki Ara.
__ADS_1
Aku masih tidak percaya akan terjadi hal seperti ini, pikir Morgan.
Morgan memadamkan lampu kamar Ara, mulai berjalan ke arahnya, kemudian merebahkan diri di sampingnya.
Morgan menoleh dan menatap wajah Ara yang menyedihkan itu. Ia lantas mengelus setiap sisi wajah Ara.
Morgan sedih dan terus menyalahkan dirinya, kenapa aku sangat tidak berguna? Aku malah mementingkan ego, dan juga mementingkan keselamatan wanita yang tidak jelas itu? Aku malah mengabaikan keselamatan orang yang aku cintai. Aku menyesal! Pikir Morgan.
Ya, seperti yang kita semua tahu, penyesalan memang selalu datang di akhir, jika datangnya di awal, itu namanya pendaftaran, hihi.
“Gomen,” lirih Morgan, meminta maaf pada Ara, kemudian mengecup lembut kening ara.
Morgan memeluk tubuh Ara yang terasa sangat dingin.
Ia takut, Ara terbangun dengan keadaan tidak tenang.
Morgan hanya ingin memberikan dia rasa aman kali ini, sebagai bentuk penyesalan atas kelalaiannya malam ini.
...***...
Ara merasakan tubuhnya yang menggigil. Ia mulai membuka matanya secara perlahan. Tapi, ia tidak bisa bergerak sama sekali.
Ara mulai melihat siapa yang memeluknya di sampingnya.
“Morgan,” lirih Ara.
Ara memandangnya dengan tatapan miris. Ia tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa kepada Morgan.
Yang jelas, dia sudah datang menemuiku dan menyelamatkanku, walaupun itu terlambat, pikir Ara yang mulai bisa menerima keadaan.
Yang terpenting sekarang, tidak ada sesuatu yang terjadi dengan kita, pikir Ara.
Tubuh Morgan terasa hangat sekali, karena ia sama sekali tidak membuka jaketnya.
Ia mungkin tertidur saat sedang menjagaku semalaman, pikir Ara.
Ara membalas pelukannya, dan mempererat pelukannya pada Morgan. Tubuhnya menjadi lebih hangat, dan mampu membuat Ara menjadi lebih hangat dari sebelumnya.
Ara menoleh ke arah jam dinding. Saat ini, sudah pukul delapan pagi, dan Morgan pun belum juga bangun.
Apakah dia tidak masuk kerja hari ini? Aku tidak tega membangunkannya. Ditambah lagi, aku juga masih ingin berlama-lama memeluknya seperti ini. Aku masih memiliki kesalahan karena Bisma kemarin. Dengan seperti ini, bisa membuatku nyaman dan mungkin mengikis rasa takutku, pikir Ara.
__ADS_1
“Dringg ....”
Handphone Morgan berdering dengan kencang. Ara sampai terkejut dibuatnya. Ia ingin sekali meraih handphone-nya, yang berada di saku jaket Morgan.
‘Ergh … susah banget,’ batin Ara, yang mencoba meraih saku jaketnya.
“Enghh ....”
Ternyata pergeseran tubuh Ara membuat Morgan bangun dari tidurnya. Morgan dengan cepat mengambil handphone-nya dan mematikan alarmnya.
Morgan mengucek mata kanannya, “selamat pagi, sayang,” sapa Morgan yang terdengar sangat sopan di telinga Ara.
Seketika sekujur tubuh Ara merasa menggigil kembali, saat mendengar Morgan mengucapkan selamat pagi. Ia hanya diam tidak bergeming, sembari menatap mata coklat Morgan yang indah.
“Kenapa gak bangunin saya? Saya jadi gak kerja deh,” ucap Morgan, Ara menahan tawanya karena mendengar suara Morgan yang baginya sangat lucu, efek bangun tidur.
Morgan mengerenyitkan dahinya, “lho, kenapa ketawa?” tanya Morgan bingung, membuat Ara menghentikan tawanya.
“Lucu,” lirih Ara, yang masih saja tidak bisa sepenuhnya menghentikan tawa.
Morgan mengulurkan tangannya, menggelitik Ara dengan pelan, membuat Ara menjadi geli dibuatnya.
“Ampun …,” lirih Ara, membuat Morgan menghentikan keusilannya.
Pandangan mereka pun bertemu, satu sama lain.
“Kenapa kamu gak bangunin saya?” tanya Morgan, Ara menghela napasnya.
“Aku gak mau jauh dari kamu, untuk saat ini,” ucap Ara terus-terang padanya.
Aku tidak ingin membuatnya salah paham lagi. Aku ingin berterusterang dengan yang aku rasakan saat ini, pikir Ara, membuat Morgan tersenyum ke arahnya.
Morgan menyentuh hidung Ara, “sebentar lagi ujian,” ucap Morgan, Ara tidak mengerti dengan yang ia ucapkan.
Ara mengerenyitkan dahinya, “terus kenapa kalau sebentar lagi ujian? Aku kan kena skors?” tanya Ara balik.
Morgan hanya tersenyum jahil ke arah Ara, membuat Ara bingung dengan arti senyumannya itu.
“Saya harus kasih materi pengayaan untuk mereka, sebelum pekan ujian dimulai. Hari ini adalah pembelajaran terakhir sebelum ujian dimulai. Besok dan lusa, kampus memberikan dispensasi waktu sebagai minggu tenang untuk mereka bersantai, dan mengulang kembali pelajaran yang belum mereka mengerti,” ucap Morgan, menjelaskan panjang lebar.
Ara hanya mengerutkan bibirnya, karena ia tidak bisa berbuat apa pun lagi. Ara juga tidak bisa menghalangi Morgan untuk pergi.
__ADS_1
Mendengar perubahan sikap Ara yang signifikan, membuat Morgan mengerti dengan keadaan ini.
Harus segera dicairkan suasana seperti ini, pikir Morgan.