Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Bioskop Perdana 3


__ADS_3

“Itu balasan, atas semua yang sudah kami rasakan!” ucap lirih Arash.


Bram ingin sekali meminta tolong padanya, namun sisa tenaganya saat ini tidak cukup untuk sekedar berbicara.


Bram mengembuskan napas terakhir, seketika matanya terpejam mengikuti napas yang sudah tidak berembus lagi. Kini, drama tentang perselingkuhan ini, sudah benar-benar selesai.


Anggun mati mengenaskan dengan luka lebam di setiap sisi tubuhnya, dan Bram pun mati mengenaskan dengan pisau yang menancap di punggungnya, yang sampai menembus bagian depan perutnya itu.


Itulah alasan, Ara tidak ingin ada kekerasan lagi dalam hidupnya. Ia sudah dipaksa dewasa oleh keadaan, yang membuat seluruh keluarganya menjadi pecah.


Hal itu yang membuat Ara enggan jatuh cinta lagi. Karena tidak ingin ada kekerasan di dalamnya. Ia tidak ingin kejadian seperti yang dialami ayah dan ibunya terulang kembali.


-FLASHBACK OFF-


“Tes ….”


Tiba-tiba saja air mata bercucuran dari sumbernya, membuat Morgan bingung setengah mati, dengan keadaan Ara yang sangat cepat berubah. Morgan bingung dengan keadaan Ara, yang tiba-tiba saja menangis seperti ini.


‘Apa saya melakukan kesalahan lagi?’ batin Morgan yang bingung dengan yang ia hadapi saat ini.


Morgan hanya diam, membiarkan Ara untuk menenangkan diri terlebih dahulu, sebelum Morgan bertanya padanya.


Sekian lama berlalu, Ara masih tetap saja menangis, dan membuat Morgan menjadi bingung.


Apa yang harus aku lakukan? Pikir Morgan.


Morgan menoleh ke arahnya dengan ragu, “mmm … boleh saya peluk?” tanya Morgan, yang berusaha untuk membuat Ara tenang.


“Biar gimana pun juga, jangan pernah ngomong begitu lagi! Gue gak suka!” bentak Ara, membuat Morgan mendelik tak percaya dengan apa yang ia katakan.


‘Itu berarti, kehadiran saya diakui di hatinya?’ batin Morgan yang senang dengan pernyataan Ara yang mendadak seperti itu.


Hal itu yang membuat rasa cinta Morgan bertambah pada Ara. Morgan tidak menyukai gadis yang terlalu mengejar dirinya. Morgan hanya menyukai gadis yang ia kejar, meskipun gadis itu tidak menyukai dirinya.


Dengan lembut, Morgan merengkuh Ara ke dalam pelukannya, berusaha menenangkan hati Ara yang sedang gundah gulana itu.


“Saya gak akan bicara seperti itu lagi,” ucap Morgan dengan dingin, membuat Ara mengangguk dan berusaha menghapus air matanya menggunakan kemeja yang Morgan pakai.


Morgan melihat ke arah kemejanya yang sudah berlumuran air mata dan juga ingus dari Ara, membuat Morgan tidak bisa berkata apa-apa lagi.


‘Biarin dia seneng aja, lah,’ batin Morgan yang sudah pasrah dengan apa yang Ara lakukan.


Ara melepaskan pelukan Morgan, “kita mau ngapain ke mall?” tanya Ara yang bingung.

__ADS_1


Morgan membuka sabuk pengamannya. Begitu juga dengan Ara. Morgan membukakan sabuk pengaman yang sedang Ara pakai.


“Turun aja,” ucap Morgan yang masih dengan nada dan ekspresi yang datar.


Sampai-sampai Ara tidak bisa membedakan keadaan diri Morgan. Yang mana yang sedang ia alami saat ini. Senang, atau sedih?


Ara bergegas turun untuk mengikuti Morgan yang hampir hilang dari pandangan matanya. Ara mencoba menyelaraskan langkahnya dengan langkah Morgan. Namun, langkahnya sangat besar. Ara jadi sedikit ribet untuk mengikutinya.


“Duh … pelan-pelan dong!” bentak Ara.


Morgan kemudian tiba-tiba saja berhenti di hadapan Ara, membuat Ara harus menabrak tubuhnya yang kekar.


“Aws ….”


Ara kehilangan keseimbangan, dan jatuh ke lantai basement. Ara sangat kesal dengan perbuatan Morgan itu. Banyak orang yang lalu-lalang dan menertawai Ara.


“Ih … Morgan!” bentak Ara, namun Morgan sama sekali tidak merespon ucapan Ara.


“Gue bingung ya, loe baru aja bersikap baik sama gue, tapi tiba-tiba aja loe langsung berbuah sikap begini, bikin gue gak betah tau gak!” bentak Ara, tapi Morgan lagi-lagi hanya diam saja.


“Haha ….”


Beberapa orang yang melewati Ara, menertawakan keadaan Ara yang jatuh tersungkur di atas lantai basement. Morgan yang tidak terima dengan perlakuan mereka, langsung menghampiri mereka.


Ara memperhatikan mereka dari kejauhan.


“Bruuukkk ....”


Morgan tanpa basa-basi menonjok orang itu, sehingga membuat Ara terkejut.


‘Bisa-bisanya dia berbuat ulah di tempat umum!’ batin Ara resah karena melihat sikapnya.


“Morgan!!” pekik Ara, yang rupanya tidak cukup untuk menghentikan emosi Morgan.


“Aduh, gimana nih!” lirih Ara yang bingung dengan hal yang harus ia lakukan.


Ara pun menghampiri mereka, dan berusaha untuk melerai mereka.


“Stop Gan! Stop!” bentak Ara sembari menarik tangan Morgan.


Dua laki-laki itu sekarang sudah tergeletak lemas di atas lantai basement. Sama seperti keadaan Ara tadi.


Morgan menepuk-nepuk tangannya, dengan tujuan untuk membersihkan debu yang menempel di kedua tangan Morgan.

__ADS_1


“Saya kasih kesempatan kalian buat pergi,” lirih Morgan dengan nada datar.


Mereka pun langsung pergi tanpa basa-basi.


Ara tidak mengerti dengan semua yang Morgan lakukan.


Apakah cuma Morgan, laki-laki di dunia ini yang sama sekali tidak bisa aku mengerti? Pikir Ara.


Ara membelalak ke arahnya, “Apa-apaan sih, Gan? Loe gak harus hajar mereka kayak gini, kan?” tanya Ara yang sedikit khawatir dengan keadaan Morgan.


Ara khawatir, jika saja ada satpam yang tiba-tiba datang dan mengusir mereka. Atau malah membawa kasus ini ke jalur hukum.


Semoga tidak terjadi, pikir Ara.


Morgan memandang Ara dengan tatapan dingin, “kamu khawatir sama saya?” tanya Morgan, sekali lagi dengan nada yang percaya diri.


Apa aku terlalu terang-terangan untuk memberikan perhatianku padanya? Padahal ada banyak makna yang tersirat dari pertanyaanku tadi, pikir Ara.


Ara merasa ilfeel padanya, “ahh … udah ah! Ngomong sama loe tuh gak akan pernah ada habisnya!” bentak Ara.


Ara kesal dan meninggalkan Morgan sendiri di sana. Tapi, Morgan menyelaraskan kembali langkahnya dengan langkah yang Ara miliki.


Mereka berjalan beriringan, membuat semua mata terpana pada mereka. Ara sangat risih melihat mereka semua yang memandang sinis dengan tatapan seperti itu.


Apa karena aku jelek, dan cowok yang berada di samping aku ganteng? Pikir Ara.


Rasis!


Ara mebolakan matanya, “Males banget sih, diliatin begitu!” geram Ara, sembari membuat pandangannya ke arah lain.


“Wajar lah! Kamu kan sedang jalan sama orang ganteng. Jadi mereka semua bengong, terpana melihat saya,” ucapnya yang selalu mengandung makna percaya diri, sampai-sampai Ara mual mendengarnya.


“Udah deh, gak usah banyak bacot! Cepet jalan!” bantah Ara dengan kesal.


Morgan hanya tertawa kecil, melihat ekspresi Ara yang tidak meyakinkan dirinya.


Ara diajak ke dalam bioskop. Ara juga tidak tahu, kenapa Morgan mengajaknya ke tempat itu.


“Saya pesan dua, ya.” Morgan memesan popcorn dan minuman untuk cemilan mereka selama menonton bioskop nanti.


Setelah mempersiapkan semuanya, mereka pun menunggu waktu untuk memasuki studio.


“Eh om, kenapa kita nonton?” tanya Ara bingung.

__ADS_1


__ADS_2