
Ucapannya mengisyaratkan, seakan ia mengetahui semuanya. Tidak salah lagi, ini pasti ada hubungannya dengan Morgan.
“Jadi, semuanya itu dalangnya loe?” tanya Ara sinis, Morgan terlihat mengerenyitkan dahinya.
“Saya sama sekali gak tau apa pun,” jawabnya.
Ara membolakan matanya.
“Bohong! Loe sengaja ngadain makan malam ini, kan, biar gue bisa ketemu sama Jessline?” sinis Ara sembari mendelik ke arahnya.
“Ini murni keinginan Fla,” jawab Morgan.
Morgan tidak bohong kali ini. Terlihat jelas dari sorot matanya.
“Terus baju ini?”
“Ini sengaja saya pilih untuk kamu. Gak sengaja kok ... tapi momennya pas banget, ya? Haha.” Morgan tertawa kecil, membuat Ara semakin risih dengannya.
“Gak lucu tau gak! Minggir!” Ara berusaha mendorong tubuh Morgan untuk menjauh dari tubuhnya.
Berat sekali tubuhnya. Tak sedikit pun Ara bisa menggesernya.
“Duh ... berat banget sih, kayak kebo!” bentak Ara.
Morgan semakin mendekatkan wajahnya ke arah Arasha, membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Pandangan mereka bertemu dalam satu titik.
Pasrah.
Hanya itu yang bisa Ara lakukan saat ini.
“Aku mau kamu di sini ... sebentar saja,” pinta Morgan.
Apa dia gila sudah mengatakan demikian? Pikir Ara.
Mata Ara membulat ke arah Morgan.
Wajahnya mungkin saja sudah berubah warna menjadi merah. Karena jarak wajah Morgan ke wajahnya, itu sangat dekat.
“Mau loe apa, hah? Jangan macem-macem sama gue yah! Kalo enggak--”
“Kalau tidak?” pangkas Morgan.
Ara merasa sudah kehabisan akal menghadapi Morgan tidak tahu diri ini.
“Kamu mau teriak? Teriak aja. Saya akan bilang, kalau kamu masuk ke dalam kamar pria tidak dikenal, tanpa izin.” Ara semakin geram dengan ucapannya.
“Loe tuh ya!” Ara tak bisa berkata apa pun lagi.
Ara mengakui, kali ini, Morgan menang.
“Temani saya ....” Morgan memeluk Ara dengan sangat lembut, membuat Ara menjadi sangat nyaman berada di dalam pelukannya.
Jika terus seperti ini, Ara tidak bisa menjamin, tidak akan menyukai Morgan.
__ADS_1
Morgan membuat Ara berganti posisi, menjadi Ara yang di atas. Morgan mencengkram bahu Ara dengan sangat lembut.
“Kamu tahu tidak? Saya senang sekali kamu bisa datang ke rumah ini,” ungkap Morgan dengan nada yang sedikit lembut.
Kesadaran Ara berkurang, ia jadi tidak fokus jika terus berada pada posisi ini.
“Tapi gue ke sini bukan karena loe, ya! Gue ke sini karena Fla!” bantahnya, masih tidak ingin sepenuhnya terlihat kalah.
Morgan melontarkan senyum ke arahnya.
“Hey, gadis manis. Fla itu adik saya.” Morgan berusaha mengingatkan Ara dengan statusnya, yang merupakan kakak dari teman Ara.
‘Kenapa gue bisa lupa?’ batin Ara.
Morgan merapikan rambut Ara yang menghalangi pandangannya. Morgan membelai lembut rambut Ara berulang kali, membuat Ara merasa agak risih karena merasa geli di setiap sentuhannya.
“Apaan sih loe! Gak usah pegang-pegang gue, deh!” bentak Ara, tapi Morgan malah memeluk tubuhnya dengan penuh kelembutan.
Heran, semakin Ara membentaknya, semakin Morgan bersikap lembut padanya.
Membuat Ara merasa dilema.
“Percaya, ya. Saya gak akan nyakitin kamu,” ungkap Morgan.
Semakin lama, Ara semakin muak dengan kata-katanya itu. Ia sudah berpengalaman merasakan sakit, saat dikecewakan oleh Reza. Ia tidak ingin merasa kecewa sekali lagi oleh Morgan.
“Gak usah banyak bacot deh, ya--”
“Ra, apa kamu ga sadar?” pangkas Morgan, “sejak tadi saya memeluk kamu, tapi kamu tidak berontak sama sekali,” pernyataannya membuat Ara kaget.
“Perasaan loe aja kali. Gue mau pergi kok! Loe aja yang nyuruh gue buat tetep tinggal di sini--"
“Dan kamu setuju,” potong Morgan, membuatnya mendengus kesal, sangat kesal.
Morgan mendekatkan wajahnya kembali. Ara takut, sesuatu akan terjadi di antara mereka. Ara menutup matanya dengan perasaan was-was. Tidak ada sesuatu yang terjadi. Perlahan Ara membuka matanya ....
Morgan mencium bibir Ara tiba-tiba. Ara melotot kaget dengan perlakuan Morgan itu. Ara berusaha memberontak, namun Morgan meneruskannya.
Lama-kelamaan, Ara larut dalam permainannya itu.
Apa tidak apa-apa Ara berbuat seperti ini? Ia sudah mempunyai pacar. Apa Ara boleh melakukan hal ini kepada selain pacarnya?
Ah.
Morgan sama sekali tidak mengasarinya. Tidak ada ***** di sini. Ara bisa merasakan ciuman hangatnya itu. Ara sangat nyaman dengan tingkahnya ini. Semakin lama dan semakin larut Ara dengannya.
Tangan Morgan mulai bergerak menuju lehernya. Melepaskan kancing di bagian belakang lehernya. Ia menciumi leher Ara dengan sangat lembut, dan Ara membiarkannya melakukan itu. Ara sangat nyaman ia memperlakukan itu padanya.
Ara melepaskan Morgan untuk mengambil jeda. Ia terlihat tersipu di hadapan Ara. Morgan menutupi wajahnya yang mulai terlihat berwarna merah. Ia mengelus kembali pipi Ara.
Sebenarnya Ara juga sangat malu. Ara sampai tidak berani menatap wajah Morgan yang tampan itu.
“Saya tidak akan melakukannya kalau kamu gak kasih izin,” gumam Morgan.
Ara bingung menjawab pertanyaan semacam itu.
__ADS_1
“Kamu boleh menolaknya, jika kamu mau,” tawarnya lagi.
Ara tidak tahu harus melakukan apa. Ara sudah terlanjur nyaman dengannya.
“Kakak ...,” pekik seseorang yang Ara tahu itu adalah Fla.
Ara yang kaget langsung menoleh ke arah sumber suara.
“Fla?” kaget Ara.
Kenapa bisa ada Fla di sini? Pikir Ara.
Ara malu, dan bingung harus berbuat apa.
Tapi nampaknya, Morgan merasa santai sekali. Tak ada ekspresi apa pun darinya.
“Ada apa?” Morgan bertanya dengan nada biasa saja.
Fla hanya diam tercengang melihat pemandangan yang seharusnya tidak untuk dipertontonkan.
Suasana hening seketika.
Ara mendelik, “i-ini gak seperti yang loe--”
“Okey ... lanjut aja yaa! Gue gak ganggu kok,” pangkas Fla yang langsung berubah sikap, kemudian dengan segera menutup pintu kamar Morgan.
Jantung Ara sudah terasa mau copot. Kenapa Fla tidak bersikap apa pun? Harusnya dia kaget dan memberitahu ayah dan ibunya.
Ara kesal, dan langsung memukul-mukul dada bidang Morgan.
“Dasar cowok brengsek!” dumel Ara, yang kemudian langsung menampar wajah Morgan.
“Plak ....”
Suasana menjadi hening seketika.
Buru-buru Ara membenarkan pakaiannya yang berantakan, akibat ulah Morgan. Ara keluar dengan keadaan marah sembari menahan air mata. Tapi Morgan nampaknya tidak ada reaksi sama sekali.
Ara kembali ke ruang makan, dan menghadap langsung pada ayah dan ibu Fla. Setelah melihat Fla, Ara nampak canggung sekali jadinya. Fla juga sepertinya terlihat begitu.
“Om, tante, Fla, aku izin pamit duluan, ya, tiba-tiba aku gak enak badan,” ucap Ara yang tak enak pada mereka.
“Lho, mau om antar ke rumah sakit?” tanyanya, membuat Ara menjadi tidak enak.
“Gak usah, om. Ara cuma agak kecapean aja. Mau istirahat,” tepis Ara.
“Hati-hati di jalan, ya, Ra,” tante tersenyum hangat padanya, tanpa sengaja mengalirkan energi positif pada Ara.
“Makasih tante.”
Ara melirik ke arah Fla di sana.
“Gue anter loe ke depan ya, Ra,” ucap Fla yang sepertinya ragu.
“Gak usah, Fla. Gue bisa ke depan sendiri, kok.”
__ADS_1
Ara pamit pulang kepada Fla dan yang lainnya.