
Ilham tak bisa menahannya, hingga ia jadi memuntahkan semua makanan yang Ara suapkan padanya.
"Huekk ...."
Ara mendelik, melihat Ilham yang memuntahkan makanan yang ia suapi untuknya. Ara merasa sangat kesal dengan Ilham, dan tiba-tiba jadi sangat membencinya.
Sikap Ara yang sedang mengandung, membuat dirinya jadi tidak bisa mengendalikan perasaan emosinya. Sering sekali Ara marah atau mood swing, membuat dirinya sudah mengendalikan dirinya sendiri.
"Kak Ilham, kenapa sih muntahin makanan yang aku suapin? Kak Ilham gak suka kalau aku suapin, hah?" tanya Ara dengan sangat sinis, membuat Ilham mendelik tak habis pikir dengan kelakuan Ara padanya.
Ilham langsung buru-buru mengambil tissue, dan segera mengelap makanan yang ia muntahkan.
"Tidak seperti itu--"
"Alah, udah deh! Aku benci banget sama Kakak! Tadi mau suapin aku, tapi pas aku suapin, malah dimuntahin gitu!" sinis Ara, membuat Ilham memandangnya dengan sendu.
"Maaf, bukan maksud saya begitu," gumam Ilham dengan sendu, membuat Ara menuju ranjangnya, dan tertidur sembari menutupi dirinya dengan selimut, tak membiarkan Ilham memandang dirinya.
Ilham memandangnya yang sudah tertutup selimut, dengan tatapan sendu. Ia tidak mengerti, kenapa akhir-akhir ini Ara selalu mengatakan kalau Ara membenci dirinya. Padahal, untuk hal sepele seperti itu, Ilham berpikir seharusnya Ara tidak sampai melakukan sesuatu yang sangat melewati batas seperti itu.
Ilham merapikan semua makanan yang sudah mereka makan. Ilham pun kembali ke meja kerjanya, dan melihat Ara yang masih menutupi dirinya dengan selimut, membuat Ilham semakin sendu saja dibuatnya.
Ilham duduk di kursi kerjanya, dan membuka buku catatannya, menorehkan kejadian yang hari ini terjadi pada dirinya dan juga Ara.
..."Ara seperti ini lagi. Dia bilang, kalau dia benci sama saya. Padahal, saya sudah sangat senang karena hari ini dia pertama kalinya menyuapi saya. Hanya karena terlalu banyak ia menyuapi, jadi terlalu banyak di mulut saya, membuat saya tak bisa menahan mulut yang sudah penuh. Akhirnya, saya muntah tanpa disengaja, di hadapannya. Dia bilang, kalau dia benci sama saya karena makanan yang dia suapi untuk saya, harus dimuntahkan di hadapannya."...
__ADS_1
Ilham menutup buku catatannya, dan segera membuka handphone-nya untuk melihat-lihat artikel tentang ibu hamil.
Dengan sabarnya ia mencari, dan akhirnya matanya mendelik, hingga sangat kaget melihatnya.
'Ja-jadi Ara begini bukan karena dia sengaja? Dia kenapa baby blues?' batin Ilham yang tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Ia kembali membaca dari awal sampai akhir artikel, mencoba memahami setiap poin yang tertera di sana.
'Mudah marah, mood swing, mudah cemburuan, peka terhadap bau, gangguan tidur, mudah lapar, mager, mudah cemas, benci dengan pasangan, gampang gerah, ingin diperhatikan lebih,' batin Ilham yang keheranan dengan perubahan sikap bumil yang ia baca di artikel tersebut.
Ilham mendelik heran, karena pada artikel yang ia baca, bahwa membenci pasangan ternyata juga diderita oleh ibu hamil seperti Ara.
Ilham memandangi Ara, 'Jadi, saya harus gimana? Masa sampai melahirkan nanti, saya harus seperti ini terus dengan dia?' batin Ilham, merasa dilema dengan keadaan Ara.
Ilham menghela napas panjang. Ia berusaha menurunkan egonya, dan beranjak ke ranjang, untuk duduk di sebelah Ara tertidur. Ini adalah kali pertama, Ilham duduk di samping Ara yang sedang tertidur. Biasanya, Ilham hanya duduk di pinggir ranjang saja.
'Rasanya agak aneh,' batin Ilham, yang merasa aneh melakukan ini dengan istrinya sendiri.
Ilham duduk di sebelah Ara yang sedang tertidur, lalu perlahan menarik sedikit selimut yang Ara pakai untuk menutupi wajahnya, hingga wajahnya pun terlihat saat ini.
Ara tiba-tiba saja mendelik, lalu kembali menutupi wajahnya, dengan selimut itu, membuat Ilham sedih melihatnya.
"Sayang ...," pekik Ilham dengan lirih, membuat jantung Ara seketika bergetar mendengar panggilan itu dari Ilham.
Ara tidak bisa menahan perasaannya. Ia sama sekali tidak bisa seperti ini. Kalau tidak, perasaannya akan semakin dalam dengan Ilham, sama seperti perasaannya dengan Morgan, kala itu.
__ADS_1
Bedanya, Ilham tidak kasar dan memaksakan kehendaknya pada Ara. Ilham selalu bertanya lebih dulu dengan Ara, berbeda dengan Morgan yang memang siap sedia untuk melakukan semuanya yang Ara tidak inginkan.
Ara tidak salah, karena dirinya yang memang tidak menginginkan hal manis itu, tetapi Ilham yang memperlakukan Ara, layaknya seorang istri sungguhannya.
"Kak Ilham jangan begitu, dong! Lama-lama aku bisa jatuh cinta sama Kak Ilham, kalau begini caranya!" bentak Ara, membuat Ilham mendelik kaget mendengar Ara berbicara seperti itu.
Tak tahu harus sedih atau senang, Ilham hanya bisa mendelik sembari tetap diam.
Perasaan Ara sudah tak bisa dibendung lagi. Ia sampai terpaksa harus berkata seperti itu, agar Ilham sedikit menjauhinya. Minimal, ada jarak lebih dari yang mereka lakukan selama ini.
"Berhenti panggil aku sayang, berhenti siapin makanan untuk aku, berhenti perlakukan aku seperti istri sungguhan, berhenti bersikap terlalu baik sama aku!" teriak Ara dengan air mata yang terus mengalir, membuat Ilham tak percaya dengan apa yang Ara katakan padanya.
Ilham menunduk sendu, tetapi hatinya menolak dengan perintah yang Ara ucapkan padanya. Ia tidak bisa berbuat seperti yang Ara perintahkan. Ilham sudah terlalu dalam mencintai Ara, dan karena sudah terbiasa bersama Ara, membuat cinta Ilham semakin lama semakin tak bisa dipisahkan dari Ara.
"Maaf, saya gak bisa melakukan itu semua," gumam Ilham dengan sangat sendu, membuat Ara semakin menangis dengan keras.
Ilham tidak bisa melakukan apa pun. Hanya bisa diam, sembari memperhatikan foto mereka yang masih tergantung di tempatnya.
"Izinin saya melakukan semua ini, karena saya menikah karena memang ingin menikah dengan kamu. Kalau bukan kamu, saya tidak akan menikah," gumam Ilham, membuat Ara mendelik, dan semakin menenggelamkan wajahnya di bawah selimut yang ia kenakan untuk menutupi sekujur tubuhnya.
"Gak bisa begini terus, cepat atau lambat, kita pasti akan saling bersikap layaknya suami-istri sungguhan. Sampai waktunya tiba, sampai detik itu, saya akan melepaskan kamu," gumam Ilham yang tanpa sengaja menitikkan air matanya, membuat Ara mendelik kaget mendengar perkataan Ilham.
Tak bisa dipungkiri, karena perlakuan Ilham yang manis, sebenarnya memang sudah membuat Ara jatuh hati padanya. Namun, Ara sama sekali tidak menyadari akan hal itu, karena dia yang sedang mengalami mood swing, sehingga tidak bisa menganalisa perasaannya sendiri.
Ilham segera mengusap air matanya yang berjatuhan. Beruntung, Ara sedang menenggelamkan wajahnya di bawah selimut, membuatnya tidak bisa melihat Ilham yang sudah menitikkan banyak air mata.
__ADS_1