
Arash mendelik kaget, karena ia melihat pesan dari Fla, yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kotak masuknya.
‘Perasaan gue belum nerima permintaan mengikutinya, deh?’ batin Arash yang agak kebingungan dengan sesuatu yang ia lihat.
‘Terus, kenapa dia minta ketemu?’ batin Arash, yang merasa kebingungan dengan isi pesan dari Fla itu.
‘Ah, untuk apa ketemu sama dia? Lagipula, gue lagi liburan juga di sini,’ batin Arash yang merasa tidak peduli dengan permintaan yang Fla ajukan untuknya.
Arash kembali meletakkan handphone-nya di kursi sebelahnya.
Arash kembali menikmati sejuknya udara pantai pagi itu.
“Tring ….”
Arash terkejut, karena ia kembali mendengar suara notifikasi dari handphone-nya. Dengan rasa penasaran yang menggebu, ia pun membuka pesan singkat yang masuk di handphone-nya.
“Malam ini, apa bisa temenin gue minum di tempat biasa?” Isi pesan singkat dari Jessline, yang membuat Arash mendelik karenanya.
‘Gue harus pulang hari ini juga,’ batin Arash, membulatkan tekadnya.
Bunga berusaha untuk menghampiri Arash, yang terlihat sangat terkejut, ketika membaca pesan di handphone-nya.
Perlahan, Bunga duduk di sebelahnya, kemudian membaca sekilas pesan singkat yang sedang Arash lihat itu.
Bunga segera merebut handphone Arash, dari tangannya.
“Yuk foto!” ucap Bunga, membuat Arash terkejut karena ia yang sudah mengambil handphone Arash secara tiba-tiba.
Arash mendelik, “balikin HP saya!” pekik Arash, tapi Bunga tidak menghiraukannya dan malah membuka aplikasi kamera di handphone milik Arash.
“Senyum …,” Bunga mengarahkan kameranya tepat ke arah mereka.
“Ckrekk ….”
Satu foto berhasil diambil oleh Bunga, dan segera ia mengunggah foto dirinya bersama dengan Arash, di akun media sosial milik Arash.
“Tring ….”
Dari sana, Fla terkejut, karena mendengar satu notifikasi dari handphone-nya. Segera Fla melihat notifikasi itu, khawatir Arash membalas pesan darinya.
“Hah?”
Mata Fla mendelik, karena yang ia lihat bukanlah balasan pesan dari Arash, melainkan notifikasi tentang unggahan yang baru saja Arash unggah di akunnya.
Fla melihat Arash yang sedang bersama dengan seorang wanita asing, yang sama sekali ia kenal. Di caption-nya tertera “Beautiful sea like your smile.”
Fla tidak bisa berkata apa pun lagi, karena melihat kejadian yang baru saja ia temui ini. Pasalnya, semua koleksi foto Arash hanya ada fotonya sendiri, tidak ada satu wanita pun yang Arash unggah di akunnya.
Tapi kali ini, untuk pertama kalinya, Fla melihat foto Arash bersama dengan wanita asing, yang sedang mengenakan bikini. Wajar saja sih, Fla melihat mereka yang sepertinya memang sedang berada di pantai.
Entah kenapa, Fla mendadak kembali kehilangan harapannya. Ditambah lagi dengan pesan singkatnya yang hanya dibaca saja oleh Arash, membuat Fla merasa Arash sama sekali tidak menghargai dirinya.
‘Lagipula, aku siapa? Berani sekali mendekati pria sesempurna kak Arash,’ batin Fla yang terus berpikiran negatif tentang dirinya sendiri.
__ADS_1
Jam istirahat tiba. Bel pun terdengar berbunyi sangat keras.
Ray yang sedang duduk di bangkunya, langsung menuju tempat duduk Fla, Rafael dan juga Farha.
Ia mengamati wajah Rafa yang sedang asik tersenyum sendiri, dan juga Fla yang hanya diam, tak bereaksi sedikit pun.
Sepertinya, mereka salah minum obat, pikir Ray.
“Brukk ....”
Ray menyenggol pelan pundak Rafa yang sedang melamun, membuat ia tersadar dari lamunannya.
“Hei! ngelamun aja. Ada apa sih?” tanya Ray dengan nada seperti sedang menggodanya.
Rafa menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mengembalikan kesadaran dirinya.
“Salah minum obat loe ya?” sambar Ray, Rafa kaget dan berusaha merapikan buku-buku yang berserakan di atas mejanya ke dalam tasnya.
“Enak aja loe!” bantah Rafa.
Ray melihat tatapan Fla yang memandang jauh ke depannya, dengan tatapan yang kosong. Hal itu membuat Ray menyenggol bahu Rafa kembali.
“Temen loe kenapa sih, Raf?” tanya Ray.
Rafa melihat ke arah Fla, kemudian mengangkat kedua bahunya.
“Fla, loe kenapa?” tanya Farha, yang tiba-tiba saja menghampiri Fla, membuat Fla tersadar dari lamunannya.
“Hati-hati kesambet loe!” sambar Ray dengan nada meledek.
“Tau loe! Nggak takut kesambet apa?” tanya Farha yang sangat antusias dengan ucapan Ray.
Fla melirik ke arah mereka. Responnya saat ini, membuat mereka terdiam.
“Fla kenapa?” tanya Rafa, Farha dan Ray hanya menggeleng kecil.
“Weh, Fla? Kenapa?” tanya Ray.
Fla sama sama sekali tidak merespon apa pun, Membuat mereka semakin curiga dengan keadaan Fla saat ini.
“Eh woi, jangan begini dong! Takut sendiri gue lama-lama!” ucap Ray pada Fla. Farha dan Rafa mulai bergidik takut.
“Tau! Loe kenapa sih?” tanya Farha dengan sinis.
"Enggak usah khawatir, ada Aa kok di sini,” genit Ray pada Farha.
Namun lagi-lagi Fla hanya bisa diam sembari menatap ke arah depannya dengan tatapan kosong. Tak lupa ia tersenyum yang membuat kesan mistisnya lebih sedikit terasa.
Fla masih saja diam melamun sembari tersenyum menatap ke arah hadapannya. Ray jadi kesal sendiri padanya. Ia memberikan Farha dan Rafa kode untuk mengageti Fla.
Mereka semua pun bersiap.
“Satu ....”
__ADS_1
“Dua ....”
“Ti ... ga ....”
“Dooooooorrrrrrr!” Mereka mengagetkan Fla.
“Ahh!” Fla berteriak kencang sekali, seperti orang yang baru saja selesai melamun.
“Apaan sih? Kaget tau!” ucap Fla.
Mereka pun menahan tawanya.
“Loe kenapa si, Fla? Masih belum sembuh total?” tanya Farha.
“Tau loe, nggak biasanya kayak begini deh. Kalau masih belum sembuh, gak usah maksa masuk,” sambar Ray.
Rafa memperhatikan sorot mata Fla, sepertinya, Fla sedang jatuh cinta, pikirnya.
“Ah? Gu-gue gak apa-apa,” bantah Fla secara gugup.
Rafa mendekatkan wajahnya ke arah Fla. Ia mengikuti mundur searah dengan wajah Rafa yang maju ke arahnya.
“Mungkin loe ... lagi jatuh cinta kan?” bidik Rafa, membuat Fla terkejut.
“Mana ada!” bantah Fla dengan cepat.
Rafa terkejut, kenapa responnya begitu mencurigakan? Pikir Rafa.
Rafa menyipitkan pandangannya ke arah Fla. Farha dan Ray langsung berdiri di sebelah Rafa.
“Nah ... kan ....”
Rafa mencoba untuk memojokkannya. Fla terlihat seperti gugup sekali.
Rafa terhenti, karena ia tak sengaja melihat wanita yang ia dekati kemarin, sedang berjalan melewati koridor kelasnya, membuat Rafa seketika memperhatikannya berjalan.
Fla sadar dengan orang yang baru saja lewat di depan koridor kelas.
Fla menoleh ke arahnya. Terlihat dari jendela, wanita asing yang sangat cantik itu. Semua mata tertuju padanya.
Mata Rafa mengikuti arah dia berjalan. Rafa sampai lupa meminta nomor teleponnya.
Sampai Rafa sadari, Ray juga sudah memandanginya sejak tadi. Ray sudah maju selangkah untuk menghampiri wanita itu.
“Grepp ....”
Spontan, Rafa menahan tangannya, membuat Ray langsung menoleh ke arah Rafa dengan sinis.
“Apaan sih?” ucap Ray sinis.
“Bukan Fla yang lagi jatuh cinta. Tapi gue yang jatuh cinta, sama wanita yang barusan loe liat! Jangan tikung gue kali ini!” ancam Rafa kemudian langsung berlari menyusul wanita itu.
Rafa tidak peduli lagi dengan Ray yang selalu menyukai wanita yang sama dengan yang ia sukai.
__ADS_1
Kali ini, aku tidak akan mengalah darinya, pikir Rafa.
...***...