Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Tentang Arash


__ADS_3

Arash berhasil menggenggam lengan gadis sexy itu, membuat gadis itu terkejut setengah mati.


Arash terdiam memandang gadis itu, membuat gadis itu tak bisa berkata apa-apa.


“Ada apa?” tanya gadis itu, membuat Arash terdiam sendu.


“Kamu ke mana aja, Jessline?” tanya Arash dengan sendu, membuat gadis bernama Jessline itu menatapnya dengan sendu.


Jess berusaha melepaskan diri dari Arash.


“Lepasin,” lirih Jess, membuat Arash merasa lemas tak berdaya.


“Jangan gitu,” lirih Arash, yang tak rela melepaskan tangannya.


Jess memandang Arash dengan tatapan mengucilkan. Ia tidak tenang dengan sikap Arash yang selalu mengejar dirinya.


“Gue udah muak dengan semuanya, Rash!” ucap Jess, membuat Arash bertambah sendu jadinya.


“Apa yang membuat kamu merasa muak? Bukannya kamu yang menghilang tanpa kabar?” tanya Arash, membuat Jess memandangnya dengan sinis.


“Ya, itu semua karena adik loe, si Ara!” bentak Jess, membuat Arash tidak mempunyai pilihan lagi.


Arash tidak mungkin memilih Jessline, jika pilihannya adalah Ara, adik kandungnya sendiri.


“Kalau bukan karena dia yang udah memergoki kita yang udah pernah tidur bareng, gue gak akan pernah ngehindar dari loe!” bentak Jess.


Tak ada yang bisa Arash lakukan, selain menatapnya dengan sendu.


“Gara-gara dia juga, gue gak bisa ngapa-ngapain di kampus sekarang! Temen-temen gue udah setengah benci sama gue, karena gue gak mau Ara sampe nyeret gue ke dalam masalah karena gue ngebelain temen-temen gue yang lagi bersengketa sama dia. Itu semua gue lakuin, supaya dia gak ngebongkar rahasia kita!” ucap Jess menjelaskan perkara yang terjadi.


“Memangnya, ada masalah apa Ara sama teman-teman kamu?” tanya Arash, masih penuh dengan kelembutan, berbedan dengan Jess yang sama sekali tidak bersikap lembut padanya.


Jess mendelik, “Gak tahu, bukan urusan gue. Yang jelas, gue sama sekali gak ikut campur sama permasalahan yang sedang mereka hadapi saat ini,” ucap Jess, membuat Arash merasa penasaran dengan yang terjadi dengan Ara hari ini.


Ditambah lagi dengan Ara yang tiba-tiba saja pulang sebelum waktunya, hal yang semakin membuat Arash penasaran dengan yang sudah terjadi.


Arash memandang dirinya, “Monic ... emm maksudnya, Jess, apa gak bisa pertimbangin lagi hubungan kita?” tanya Arash sendu, membuat Jess menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


“Sorry, gue belum bisa lupain Bisma,” ucap Jess membuat Arash mendelik tak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini.


Perlahan, Arash melepaskan cengkeraman tangannya dari tangan Jessline, karena hatinya yang sudah merasa sakit saat ini. Namun dengan dirinya yang masih mengenakan jas kerja, membuat Arash harus berpikir secara rasional.


Arash tidak ingin, mereka semua yang melewati tempat mereka berbicara, melihat Arash yang sudah berdandan rapi, menangis hanya karena seorang gadis yang menolak cintanya.


“Bukannya, laki-laki itu sudah pergi ke luar negeri?” tanya Arash, membuat Jess menjadi sendu, “apa tidak bisa melupakan dia sedikit aja?” sambung Arash, membuat Jess menunduk, tak berani melihat ke arahnya.


“Apa cuma laki-laki itu yang bisa bikin kamu begini?” tanya Arash dengan sendu, “apa gak ada kesempatan untuk saya di hati kamu?” sambung Arash, membuat Jessline bimbang sendiri dengan ucapannya.


“Apa cuma dia yang kamu cinta? Apa gak ada laki-laki lain selain dia yang bisa kamu terima?” tanya Arash yang mulai membuat genangan di pelupuk matanya.


“Gak ada laki-laki lain selain dia,” lirih Jessline, yang sukses membuat Arash menitikkan air matanya dengan deras.


Arash sudah tidak peduli lagi dengan keadaan sekitarnya.


“Lantas, kenapa kamu mau bercinta sama saya?” tanya Arash, yang sudah tidak bisa bertanya apa pun lagi, meski banyak sekali pertanyaan yang masih menggenangi isi kepalanya.


Jessline tidak bisa menjawab pertanyaannya yang satu ini, membuat Arash harus menahan rasa sakit yang lebih dalam dari yang sebelumnya ia rasakan.


“Apa benar, su-sudah tidak ada lagi harapan?” tanya Arash, membuat Jess tersenyum.


Senyuman yang mengandung banyak arti, yang Jessline sendiri pun tidak mengetahui arti tepat dari senyumannya itu.


“Maaf, Rash. Lebih baik, kita jalani ini semua masing-masing seperti sebelumnya,” lirih Jess, membuat Arash mendelik kaget.


Perlahan, Jessline pergi meninggalkan Arash yang sedang merasa gundah gulana tak menentu. Arash pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dan tidak kuasa untuk mengejar Jessline yang sudah meninggalkan jauh di hadapannya.


Arash mulai mengatur napasnya, membuat dirinya merasakan ketenangan dari angin yang terus berembus dengan kencang. Ia tak menyangka, akan seperti ini jadinya.


Berawal dari pertemuan mereka di salah satu bar, yang membuat mereka bisa menjadi dekat seperti itu.


Kenangan itu tidak akan bisa dilupakan begitu saja oleh Arash.


Di sisi sana, Fla tersenyum pada Farha yang saat ini memberikannya sebuah kotak hadiah.


Fla menatapnya dengan heran, “apa ini, Far?” tanya Fla yang nampaknya sudah mulai nyaman dengan Farha yang sangat baik padanya.

__ADS_1


Farha tersenyum, “nanti di rumah aja ya bukanya,” lirih Farha membuat Fla mengangguk.


Farha melirik ke arah jam tangannya, saatnya baginya untuk kembali ke rumah.


“Gue harus cepet balik, Fla. Gue duluan ya? Lagian udah sepi juga kan,” ucap Farha, membuat Fla mengangguk kecil ke arahnya.


“Bye,” ucap Farha, yang kemudian bergegas meninggalkan Fla di sana.


Fla memandangnya dengan senangnya.


Melihat temannya yang sudah pergi, Aca dan kawan-kawannya bergegas untuk bersiap, melancarkan aksinya.


Fla memasukkan hadiah dari Farha ke dalam tasnya, dan segera berjalan untuk kembali ke rumahnya.


“Satu ... dua ... tiga ....”


Acha dan teman yang lainnya segera melancarkan aksinya.


“Byurrr ....”


“Haaaa ....”


Fla berteriak, karena merasa terkejut dengan serangan air dingin yang ia rasakan dengan tiba-tiba.


Aca dan kawan-kawannya merasa puas karena sudah berhasil menjahili salah satu teman dari Ara, yang sudah membuat masalah dengan mereka.


“Rasain loe!” bentak Aca yang terlalu senang karena sudah bisa membalaskan setengah dendamnya pada Fla.


Fla mendadak pingsan seketika, membuat Aca dan yang lainnya menjadi bingung karenanya.


Yusfira mendelik, “Wah dia pingsan tuh!” ucapnya yang bingung dengan keadaan Fla yang tidak biasanya.


“Iya, gimana dong? Makin repot kita!” bentak Lisa, membuat Aca jadi kalang-kabut.


“Iya, gue gak mau sampe kita kena masalah,” lirih Fira yang tertekan dengan keadaan.


“Ih gue juga gak mau!” sambar Lisa dengan sangat tegang, membuat Aca memutar otaknya.

__ADS_1


Aca melihat ke arah sekelilingnya, yang ternyata tidak terdapat orang sama sekali.


“Udah, jangan berantem! Ayo kabur!” ucap Aca, membuat mereka semua mengikutinya untuk segera pergi dari sana, meninggalkan Fla yang sudah terbaring lemah di atas lantai koridor.


__ADS_2