
Suasana nampak mencekam sekali di dalam mobil. Morgan melajukan mobil dengan kecepatan sangat tinggi, karena hari yang sudah malam, sehingga jarang sekali kendaraan yang melewati jalanan ini.
Hal ini membuat Ara menjadi sangat khawatir dengan keselamatan dirinya dan juga keselamatan Morgan.
Ara memperhatikannya yang tak henti-hentinya melirik ke arah kaca spion. Ara tidak tahu dengan permasalahan yang sebenarnya terjadi.
Morgan hanya terus melihat ke arah spion, sembari sesekali menambah kecepatan mobil yang sedang ia kendarai.
Mengetahui hal itu, membuat Ara sangat pasrah, karena melihat Morgan yang sudah seperti ini. Ara juga tidak berani untuk bertanya pada Morgan saat ini. Ia khawatir, kalau sampai dirinya mengganggu konsentrasi Morgan dalam menyetir.
“Sabuk pengaman, Ra!” teriak Morgan, membuat Ara tersadar, bahwa dirinya belum mengenakan sabuk pengaman, saking terburu-burunya.
“Ah …,” lirih Ara, kemudian berusaha memasang sabuk pengaman.
“Tseetttt ....”
Pemotor yang ada di belakang mereka, tiba-tiba saja menyalip mobil yang sedang Ara tumpangi, membuat Morgan menghindari arah sebelah kanannya.
“Ah!!” teriak Ara, karena merasa terkejut dengan pergerakan Morgan yang tiba-tiba saja membanting kemudinya ke arah kiri, membuat Ara terpental sedikit ke arah kiri, akibat ia tidak berhasil menggunakan sabuk pengamannya.
Syaraf otak Ara seketika menjadi tegang, karena tragedi tadi. Morgan hampir saja menabrak pemotor itu, karena premotor itu yang seenaknya memotong jalan Morgan secara tajam menukik.
Mata Morgan membulat. Karena menghindari pemotor yang memotong jalannya itu, mengakibatkan Morgan membanting stir ke kiri, dan tidak melihat kalau di hadapannya sedang ada perbaikan jalan.
“Ngiikk ….” Morgan berusaha menginjak pedal rem, agar terhindar dari tabrakan yang tidak diinginkan.
“Grepp ….” Ara yang takut dan tegang dengan situasi semacam ini, hanya bisa memegang lengan kiri Morgan, dan sebisa mungkin menutup mulutnya rapat-rapat.
Ara tidak ingin membuyarkan konsentrasi Morgan saat menyetir.
Mobil seketika berhenti tepat pada waktunya, sebelum menabrak pembatas jalan. Mereka menghela napas dengan lega, karena baru saja terhindar dari kecelakaan.
Morgan menoleh ke arah Ara yang sedari tadi hanya bisa memeluk lengan kirinya saja.
Morgan melirik ke arah spion, “dia semakin dekat,” lirih Morgan yang tegang dengan keadaan.
Ara menoleh ke arah yang Morgan lihat. Terlihat beberapa mobil yang terus membuntuti mereka.
__ADS_1
Morgan kembali menginjak pedal gas, dan berusaha secepatnya meninggalkan tempat itu.
Ara kurang yakin dengan firasat Morgan. Sengaja ia meraih stir kemudi, lalu membelokkan ke arah kiri dan kanan. Morgan terlihat sangat kaget mengetahui sikap Ara yang menurutnya sedang bercanda, pada situasi genting seperti ini.
“Eh … kenapa, Ra?” tanya Morgan dengan paniknya, tapi Ara hanya berfokus pada mobil yang berada di belakang mereka.
Ternyata memang benar, dua mobil yang berada di belakang mereka itu, sengaja mengikuti gerak-gerik Ara dan juga Morgan.
Mereka mengikuti gerakan mobil Morgan ke kiri dan ke kanan.
“Bener! Mereka ngikutin kita, Gan! Loe harus cepet, sebelum mereka berhasil nyergap kita!” ucap Ara dengan nada yang sedikit takut.
Ara memakai sabuk pengaman dengan segera, khawatir terjadi sesuatu lagi padanya. Morgan hanya terlihat bersikap datar, lalu melajukan dengan cepat mobil yang ia kendarai.
“Brukkk!”
“Aww ….”
Mereka menabrak jalanan yang berlubang. Mobil yang sedang Morgan kendarai langsung oleng, namun hal itu masih bisa diatasi olehnya. Entah kenapa, di waktu yang masih belum larut ini sudah terbilang cukup sepi dari lalu-lalang.
Saat ini, Ara mulai bisa bernapas dengan lega, tapi tidak dengan Morgan.
Terlihat Morgan yang masih sangat tegang. Morgan menoleh ke arah Ara yang sudah lemas, saat sudah melewati situasi semacam ini.
Ara mengatur napasnya yang sudah sangat tidak beraturan.
Melihat keadaan Ara yang sudah tidak keruan, Morgan segera memeluk Ara dengan erat. Ara hanya bisa pasrah, karena sisa ketegangan yang ia rasakan itu, masih terasa hingga sekarang.
“Maaf,” lirih Morgan yang berbisik di telinga Ara.
Aku tidak menghiraukan permintaan Morgan. Ara sangat takut dan khawatir, kalau saja orang-orang jahat itu, berhasil menyergap mereka.
Kalaupun mereka tidak berhasil, siapa yang tahu kalau Ara dan Morgan akan baik-baik saja atau tidak? Bisa saja mereka tadi menabrak seseorang atau sesuatu? Contohnya tadi, saat mereka hampir saja celaka karena pemotor yang tidak bertanggung jawab itu.
Masih ada sesuatu yang mengganjal di hati Ara, “itu tadi... siapa?” tanya Ara yang masih tetap berada di pelukan Morgan, tetapi Morgan hanya diam.
“Cups ....”
__ADS_1
Morgan mengecup pipi Ara dengan singkat, seakan mewakilkan perasaannya terhadap Ara, yang tidak ingin kehilangan Ara.
Sikapnya sungguh aneh! Dari mulai di bioskop, sampai sekarang, dia menunjukkan sikap yang aneh yang tidak biasa ia perlihatkan padaku, pikir Ara.
“Kamu gak kenapa-napa, kan?” tanya Morgan lirih, tetapi Ara hanya menggeleng kecil.
Mungkin memang benar, Morgan memang sangat mempedulikan keselamatanku. Tidak heran sih, karena permasalahan seperti ini sudah bukan hal yang biasa lagi. Ada beberapa orang yang mengejar kami dari belakang. Siapa pun pasti akan takut dan khawatir kalau sampai orang yang bersamanya kenapa-kenapa, pikir Ara.
“Yang tadi itu, siapa?” tanya Ara, Morgan lagi-lagi hanya diam tak bergeming.
Aku tahu, dia tidak akan pernah bercerita apa pun padaku. Aku memakluminya. Aku cuma ... khawatir dengan keadaannya saja, pikir Ara.
Cieeee khawatir ….
“Ya udah kalau loe gak mau kasih tau ke gue, gak apa-apa kok. Gue cuma ...,” ucap Ara menggantung, “khawatir aja sama loe,” sambungnya dengan ragu.
Morgan tiba-tiba menatap ke arah Ara dengan tajam, membuat Ara menjadi mendelik ke arahnya, karena merasa terkejut.
“Ikut saya, nanti saya ceritain semuanya,” ucap Morgan.
Ara merasakan ada hal yang aneh di sini.
Ara kembali menatap Morgan dengan perasaan yang tegang sembari berpikir.
Haruskah aku ikut dengannya kali ini? Sebenarnya, memang ada sedikit rasa khawatir padanya. Aku tidak tega membiarkan dirinya dikejar seperti ini dengan orang-orang aneh itu, pikir Ara.
“I-iya tapi, kita mau ke mana?” tanya Ara yang sangat ragu.
Morgan melirik ke arah jam tangannya, lalu kembali menoleh ke arah Ara.
“Di dekat sini, sepertinya ada hotel. Kita check-in saja semalam,” ucapnya, membuat Ara seketika melihatnya dengan tatapan sinis.
Ara tidak ingin kejadian aneh terulang kembali, antara dirinya dan juga Morgan.
Ara tidak mau terus-terusan dibuat mabuk olehnya. Ara tidak cukup kuat untuk bisa menahan godaan dari pesona Morgan.
“Enak aja! Nanti loe macem-macem sama gue lagi!” tolak Ara dengan sinis.
__ADS_1