Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Tragedi Fla


__ADS_3

Arash yang sedang menatap langit, merenungi nasibnya sembari menyandarkan tubuhnya pada mobilnya. Ia mengeluarkan bungkus cerutu, mengambil satu batang cerutu dan membakarnya.


Arash pun menghisap dengan cepat cerutu yang ia bakar. Pikirannya saat ini sudah kalut dalam emosi yang sudah tersulut.


Tak bisa berbuat apa pun lagi, Arash hanya bisa memandang langit yang sudah sepenuhnya mendung.


Arash memandang ke arah langit, “apa bagusnya bocah yang bernama Bisma itu?” lirih Arash, membuat hatinya semakin sakit jika mengingat kembali kebenarannya.


Wanita yang ia cintai, malah mencintai laki-laki lain, membuat Arash merasa sudah gagal dengan semua pencapaian yang sudah ia gapai.


Arash menghisap cerutunya lagi dengan durasi yang sangat lama, membuat dirinya sesak napas.


“Cepet ...,” ucap seseorang yang sedang berlarian bersama dengan dua temannya, membuat Arash mengalihkan fokus ke arahnya.


“Kenapa larinya cepat sekali?” pikir Arash yang bingung melihat Aca dan kawan-kawannya yang berlari secepat kilat.


Arash mengedarkan pandangan ke arah kampus, membuatnya melihat dan menemukan suatu kejanggalan.


Mata Arash membulat, dengan segera Arash membuang cerutunya dan berhambur ke arah koridor.


Arash melihat Fla yang sudah tergolek lemas di atas lantai koridor.


Arash melihat lebih dekat keadaan Fla, membuatnya kebingungan setengah mati.


“Fla!!” pekik Arash pada Fla, yang sudah tidak sadarkan diri itu.


Arash mendapati ruam di sekujur tubuh Fla, dan juga tangan Fla yang saat ini sudah menjadi lebih besar dari ukuran normalnya, membuatnya lebih tepat disebut sebagai pembengkakan.


Arash khawatir dengan keadaan fisik Fla yang aneh, membuatnya dengan cepat menggendong Fla dan segera ia bawa ke dalam mobilnya.


Arash meletakkan tubuh Fla di kursi paling belakang. Arash pun segera menuju kursi kemudi, dan memakai sabuk pengamannya.


‘Ada apa dengan Fla?’ batin Arash yang bingung dengan keadaan Fla yang sebenarnya.


Dengan kekhawatirannya pada Fla, membuat Arash segera membawanya ke rumah sakit terdekat.


***


Arash dengan rasa khawatir yang sangat menggebu, menunggu Fla yang sedang mendapatkan tindakan medis, di luar ruangan.


Arash khawatir dengan keadaan Fla. Biar bagaimanapun juga, Fla adalah adik Morgan, yang merupakan sahabatnya.


Arash merogoh sakunya, dan segera mengambil handphone-nya.


Arash pun berniat untuk menghubungi Morgan. Tapi, ia terkejut, karena mendapati handphone-nya yang sudah tidak berisi daya lagi.


Arash menghela napas panjang, “huft ... susah banget jalanin hidup ini,” lirih Arash yang sudah frustrasi dengan keadaan yang ia derita.

__ADS_1


Arash segera menuju ke arah bagian informasi rumah sakit, untuk segera menghubungi Morgan, agar ia bisa mengetahui keadaan adiknya.


Arash sudah sampai pada bagian informasi rumah sakit itu.


“Permisi,” sapa Arash.


Beberapa petugas menghampirinya dengan segera.


“Ada yang bisa kami bantu?” tanya salah seorangnya.


“Emm ... handphone saya kehabisan batrai. Apa boleh saya pinjam telepon rumah sakit untuk menghubungi wali dari pasien atas nama Fla?” tanya Arash, membuat mereka tersenyum.


“Silakan,” ucapnya.


Arash dengan ragu menekan nomor Morgan, untuk segera menghubunginya. Ia pun menunggu teleponnya terhubung.


I’m telling you, i softly wishper


To night ... to night ... you’re my angel ....


Begitulah nada dering handphone Morgan.


Morgan yang sedang asyik melancarkan aksinya bercumbu mesra bersama Ara saat ini, dengan menindih di atas Ara, menghentikan aktivitasnya sejenak karena merasa sangat terusik dengan dering telepon genggamnya.


Ara menatap ke arah Morgan yang nampaknya tidak senang dengan segala sesuatu yang sudah mengganggu waktunya bersama dengan Ara.


Morgan hanya diam, sembari menunggu dering teleponnya berhenti dengan sendirinya.


Morgan kembali menatap Ara yang saat ini sudah setengah kehilangan kesadaran. Dengan lembut, Morgan mendekatkan wajahnya kembali ke arah wajah Ara, berniat hendak menciumnya.


I’m telling you, i softly wishper


To night ... to night ... you’re my angel ....


Dering telepon Morgan pun terdengar lagi, membuat Morgan lagi-lagi harus menghentikan aksi panasnya itu.


Morgan tidak mengerti dengan para gadis itu yang selalu menghubungi dirinya, terlebih lagi di saat yang tidak tepat seperti ini.


Ara menatapnya dengan datar, “mungkin penting. Kenapa gak diangkat dulu?” tanya Ara, Morgan memandangnya dengan lekat.


“Mungkin orang iseng. Sudah biasa seperti itu,” jawab Morgan, membuat Ara mengerenyitkan dahinya.


“Oh ... nakal ya?” lirih Ara yang melontarkan senyuman maut ke arah Morgan, membuat Morgan hanya pasrah saja dengan senyumnya.


Morgan menyentuh wajah Ara dengan lembut, “sampai mana tadi?” tanya Morgan dengan nada yang genit, membuat Ara tersipu malu jadinya.


Morgan mempersiapkan dirinya, untuk melanjutkan aksi panasnya bersama Ara, karena Ara yang sudah memancingnya pagi tadi, membuat Morgan ingin membalaskan dendam pada Ara.

__ADS_1


Morgan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Ara, untuk segera menciumnya.


“Tok ... tok ... tok ....”


Mata Morgan membulat, karena ini adalah kali ketiga dirinya mengalami gangguan seperti ini di saat sedang memiliki hasrat bersama Ara. Hal itu membuat Morgan kesal dengan keadaan.


Morgan membekap wajahnya dengan bantal, “argh!” teriak Morgan sekeras mungkin, untuk menghilangkan rasa kesal di hatinya.


Ara hanya tertawa kecil melihat Morgan yang sudah tidak berdaya itu.


“Non ...,” pekik seseorang yang sepertinya tidak asing bagi Ara.


Ara bangkit dari ranjang, dan membenarkan kemejanya yang sudah berantakan akibat ulah Morgan. Ara mengikat rambutnya dengan segera, lalu membukakan pintu untuk bibi yang sudah menunggunya di luar kamar.


“Ckrekk ....”


Ara melihat bibi yang sepertinya berada dalam kegelisahan.


Ara mengerenyitkan dahinya, “ada apa, Bi?” tanya Ara, membuat bibi semakin panik dibuatnya.


“Maaf mengganggu waktunya, Non. Tapi, Den Arash telepon ke telepon rumah,” ucap bibi, membuat Ara membulatkan matanya.


“Ada apa, Bi?” tanya Ara, bibi hanya menggeleng.


Dengan segera Ara berhambur untuk pergi ke arah ruang tamu, dan menerima telepon dari kakaknya.


Ara mengarahkan gagang telepon ke arah telinganya, “halo, kak?” tanya Ara.


“Rumah sakit dekat kampus, lantai 6 gedung B. Segera ke sini,” ucap Arash yang menggantung, membuat Ara menjadi bingung.


-Tuuuuuuttt ....-


Arash memutuskan sambungan telepon, membuat Ara semakin khawatir dengan keadaan Arash yang saat ini sedang berada di rumah sakit.


“Hah, kakak?” pekik Ara, yang sudah tidak direspon oleh kakaknya itu.


Ara yang khawatir segera meletakkan kembali gagang telepon, lalu segera menuju ke arah kamar, untuk memberitahu tentang kejadian ini pada Morgan.


“Gan!” pekik Ara, namun tidak ada jawaban dari Morgan, yang saat ini sedang membenamkan wajahnya di bawah bantal.


“Gan, ayo ke rumah sakit!” ajak Ara dengan nada yang sangat panik, membuat Morgan bingung dengan keadaannya.


Morgan pun bangkit dari ranjang, dan melihat ke arah Ara.


“Ada apa?” tanya Morgan.


“Kakak masuk rumah sakit!”

__ADS_1


__ADS_2