Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Terjebak di Lift 2


__ADS_3

Arash tak sadar menelan salivanya, karena merasa sangat gugup untuk melakukannya.


'Baiklah, ini semua saya lakukan supaya dia bisa selamat,' batin Arash, yang sepertinya tidak mempunyai pilihan lain lagi.


Arash mendekat ke arah wajah Fla, tanpa basa-basi ia segera memberikan napas buatan untuk Fla, agar Fla bisa terselamatkan.


"Cupps ...."


Arash berjuang sekuatnya, untuk memberikan Fla sisa napas yang Arash miliki, karena semakin lama berada di ruangan ini, semakin Arash juga merasa sesak karena keterbatasan oksigen.


Fla membuka matanya, dan mendapati Arash yang sedang menciumnya, lebih tepatnya memberikannya napas buatan. Pandangannya juga tertuju pada kalung yang ia ingin berikan kepada Arash, yang ternyata sudah dipakai oleh Arash, membuat Fla sedikit senang karenanya.


Tak disangka, walaupun Fla tahu Arash pasti melakukan ini karena ingin menolongnya, tapi Fla tidak menyangka, Arash akan melakukan hal romantis ini padanya.


Di sana, Ilham beserta tim sudah menuju ke terminal untuk mengatur lift tersebut.


"Kak Ilham!" pekik Jessline, yang saat itu masih terduduk di anak tangga.


Ilham pun menghentikan langkahnya, "ada apa?" tanya Ilham.


"Boleh aku ikut?" tanya Jessline, yang sepertinya menghawatirkan keadaan Arash.


Ilham mengangguk kecil, dan memapah Jessline untuk menuju ke tempat kontrol lift tersebut.


Mereka kini tiba di tempat yang mereka tuju, dan segera memeriksa keadaan sekitar, yang memungkinkan adanya kendala yang dapat membuat lift tersendat.


Para teknisi sedang memeriksa dengan detil, semua permasalahan yang ada, membuat Ilham dan Jess hanya bisa pasrah.


"Gimana nih, Kak?" lirih Jess, membuat Ilham menoleh ke arahnya, namun Ilham juga tidak bisa berkata apa pun pada Jessline.

__ADS_1


"Ketemu!" pekik seorang teknisi, membuat Ilham seketika menoleh ke arahnya, "l**ift sedang ada di lantai dasar, tapi tertahan dan tidak bisa terbuka," tambahnya, membuat Ilham mendelik.


"Oke, berusaha aja agar pintunya bisa segera dibuka, saya akan menunggu di depan pintu lift dengan para tenaga kesehatan, untuk pertolongan pertama," ucap Ilham, membuatnya mengangguk.


Ilham kembali menoleh ke arah Jessline, "kamu mau ikut?" tanya Ilham, membuat Jessline mengangguk.


Jessline melihat ke arah kakinya yang sudah tak keruan karena terjatuh di tangga darurat tadi. Hal itu membuat Ilham menghela napasnya panjang, dan tanpa menunggu persetujuan dari Jess, ia segera membopong Jess, sama seperti saat Jess kehilangan kesadarannya saat ia minum alkohol waktu itu.


Ilham membawa Jessline ke arah pintu lift, sementara sepanjang jalan Ilham membopong Jess, Jess selalu memperhatikan manik mata Ilham yang baginya sangat indah.


Entah kenapa, sejak kejadian itu, Jess sudah mengunci rapat hatinya untuk Arash, karena tujuan Jess mengajak Arash bertemu, adalah untuk mempertimbangkan masalah hubungan mereka. Tak disangka, Arash tidak datang, dan malah Ilham yang datang untuk menjaganya saat ia tak sadarkan diri, karena terlalu banyak minum alkohol.


Ilham hanya berjalan, tanpa melihat ke arah Jess yang saat ini sedang berada di dalam pelukannya. Yang Ilham pikirkan hanyalah keselamatan Arash, tapi Ilham juga tidak bisa meninggalkan Jessline di sana bersama dengan para teknisi. Biar bagaimanapun juga, Jessline adalah gadis yang sangat Arash cintai, dan Ilham tidak ingin terjadi sesuatu lagi pada Jess.


Mereka sudah sampai di depan pintu lift lantai dasar. Ilham pun menurunkan Jessline secara perlahan, sampai Jess benar-benar bisa berdiri dengan sendirinya.


"Nanti, kalau NAKES datang, minta mereka sekalian mengobati luka kamu," gumam Ilham, membuat Jessline mengangguk.


Beberapa saat berlalu, dan Arash masih saja mencoba untuk memberikan napas buatannya pada Fla, yang memang secara tidak sengaja memanfaatkan kesempatan langka ini. Fla memang tidak sepenuhnya sadar, namun Fla juga tidak sepenuhnya pingsan, sehingga masih bisa merasakan embusan napas yang ditransfer Arash melalui mulutnya yang saat ini sedang bersentuhan dengan mulut Fla.


Hal itu membuat Fla sangat nyaman, bahkan ia tidak ingin Arash menghentikan aktivitasnya itu.


'Nyaman,' batin Fla, yang ternyata terlalu senang dengan yang Arash lakukan padanya.


Beberapa saat kemudian, pintu lift tiba-tiba saja terbuka, dengan Arash yang masih saja memberikan napas buatan pada Fla.


Semua mata yang memandang ke arah Arash pun mendelik, karena ketika pintu terbuka, pemandangan yang mereka lihat adalah Arash yang sedang bercumbu mesra dengan Fla di dalam lift.


Tak terkecuali Jessline, yang melihatnya dengan sangat terkejut, lebih daripada yang lain.

__ADS_1


"Arash ...," gumam Jessline dengan sangat lirih.


Jessline sampai hampir kehilangan keseimbangannya, dan menabrak bahu Ilham.


Ilham yang menyadari kondisi Jessline yang shock, segera menangkap tubuh Jess, yang hampir terjun bebas ke lantai.


Arash melihat ada cahaya yang menyinarinya, membuat Arash menoleh ke arah sumber cahaya, dengan pemandangan yang ia lihat, ternyata sudah sangat ramai orang yang melihat aksinya itu.


Karena sudah terlalu lelah, dan merasa sesak napas karena seluruh sisa napasnya sudah ditransfer pada Fla, Arash akhirnya pun jatuh tersungkur, dan kehilangan kesadarannya.


Ilham yang melihat hal itu, mendadak terkejut karenanya.


"Arash!" pekik Ilham dengan terselip nada yang sangat khawatir dengan keadaan Arash.


Para Nakes segera berhamburan menghampiri Arash dan juga Fla yang sudah tak sadarkan diri itu. Mereka segera memberikan oksigen dengan memasang alat bantu pernapasan untuk mereka.


Sementara salah seorang Nakes, menghampiri Ilham dan juga Jessline di sana.


"Apa ada yang meminta obat luka tadi?" tanyanya.


"Oh, tolong berikan tindakan kepada Jessline, ya," pinta Ilham, membuatnya mengangguk kecil.


Dengan keadaan yang masih shock, Jessline dibawa ke tempat yang tak jauh dari sana, untuk segera melakukan tindakan, dan mengobati lututnya yang tak sengaja robek, akibat benturan dari ujung anak tangga tadi.


Ilham pun kembali memperhatikan ke arah Arash dan juga Fla.


"Rash ... Rash. Kenapa sih kamu selalu bersikap gegabah seperti ini? Hanya karena menolong gadis itu, sampai mengorbankan diri kamu sendiri, dan membuat Jessline salah paham dengan kamu," gumam Ilham, yang sudah mengetahui pangkal permasalahannya.


Sejak dulu, memang Ilham sudah paham dengan Arash, yang selalu melakukan apa pun untuk menolong seseorang. Terlebih lagi, jika yang ia tolong adalah seorang gadis, Arash pasti akan memberikan seluruh yang ia miliki, termasuk nyawanya sekalipun.

__ADS_1


Lagi-lagi Ilham hanya bisa memperhatikan Arash dari kejauhan, karena Ilham tidak bisa berbuat apa-apa lagi, jika Arash sudah menghendakinya. Sama seperti saat Arash menolong Bunga, pada saat itu. Arash sampai babak belur tak keruan, tetapi Ilham hanya diam saja sembari memperhatikannya dari kejauhan.


Sifat bawaan seseorang memang tidak akan pernah bisa diubah, kecuali ada sesuatu atau seseorang, yang bisa membuatnya berpikir untuk mengubah dirinya sendiri, menjadi lebih baik.


__ADS_2