Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Firasat Wanita


__ADS_3

Sesampainya di sana, Ara segera mempersiapkan dirinya untuk bisa mengetuk pintu ruangan dosen. Ia sangat takut, karena hari ini adalah hari pertama ia masuk kembali ke kampus dengan keadaan dia terlambat, dan tidak mengenakan atribut dengan lengkap.


Hal itu cukup membuat Ara deg-degan tidak menentu.


“Hufftt ….”


Ara menghela napas panjang, untuk menghilangkan beban nervous di dalam pikirannya.


“Mau bagaimana lagi,” gumam Ara yang harus menghadapi ini, mau tidak mau.


“Tok ... tok ... tok ....”


“Permisi ...,” pekik Ara.


Tanpa menunggu siapa pun untuk membukakan pintu, Ara bergerak masuk dan segera menutup kembali pintu utama ruang dosen, agar AC-nya tidak mengalami kendala.


Di sana, sudah ada Pak Dicky dan Bu Lidya yang sedang berbincang ria, satu sama lain. Melihat mereka tersenyum penuh makna seperti itu, Ara jadi teringat kejadian saat mereka bermesraan di dalam ruangan Morgan waktu itu.


‘Sial, gak bisa hilang pikiran itu,’ batin Ara.


Dicky tak sengaja melihat Ara, “hai, Arasha. Pak Morgan sudah menunggu di ruangannya,” sapa Dicky tanpa basa-basi, yang tidak sengaja membuyarkan lamunan Ara.


Lidya memandang Ara dengan tatapan datar, ‘jadi, dia pacarnya Morgan? Kenapa bisa saya kalah dengan gadis seperti dia?’ batin Lidya yang masih tidak senang dengan pernyataan Morgan waktu itu.


Ara berusaha membenarkan pikirannya yang kotor, dan berusaha terlihat seperti sedang tidak terjadi apa pun.


“Ah. Baik Pak, permisi,” jawab Ara dengan sopan.


Ara bergegas menuju ruangan Morgan.


Nampaknya, ada sesuatu yang sangat penting sampai dia meminta bagian informasi untuk memintaku datang. Kalau urusan pribadi, dia tidak perlu melakukan itu. Cukup buka handphone-nya, lalu hubungi aku, pikir Ara.


Ara berdiri tepat di depan pintu ruangan Morgan. Ara sangat takut, jika benar ada sesuatu yang sangat penting yang tidak dirinya ketahui.


Ia mempersiapkan dirinya.


“Tok ... tok ....”


Dengan ragu, Ara pun mengetuk pintu ruangan Morgan. Perasaan resah gelisah menghantuinya.


Apa aku telah membuat kesalahan yang besar? Pikir Ara yang sedari tadi tidak tenang.


“Ckreekkk ....”


Beberapa saat berlalu, seseorang pun membuka pintu. Terlihat Morgan yang sangat rapi, sedan berdiri di hadapan Ara.

__ADS_1


Emm ... Morgan memang selalu terlihat rapi di mataku. Bahkan walau hanya memakai kaos yang tipis sekalipun, pikir Ara.


“Tadi kata dosen Dicky--”


“Masuk,” pangkas Morgan dengan datar, sampai tidak membiarkan Ara mengatakan alasannya datang ke tempat ini.


Ara mengepalkan kedua tangannya karena menahan kesal. Tentu saja tanpa sepengetahuan dari Morgan.


Ara mengikutinya masuk ke dalam ruangan.


“Ckrekkk ....”


Morgan mengunci pintu ruangannya itu, membuat Ara semakin bingung dan juga takut.


Apa yang akan dia sampaikan? Kenapa begitu privat sekali? Pikir Ara.


“Kenapa pintunya dikunci, Gan?” tanya Ara.


Ia tidak bergeming dan malah menarik tangan Ara dengan kasar, dan mendudukkannya di atas pahanya, membuat Ara terkejut bukan main.


“Gan, kenapa sih?” tanya Ara yang semakin cemas dengan perlakuan anehnya itu.


“Greppp ....”


Kelakuan aneh Morgan, benar membuat Ara kesal.


“Maksudnya apa sih?” tanya Ara.


Lagi-lagi Morgan tak bergeming, membuat Ara semakin tidak paham dengan sikapnya.


“Apa aku punya salah sama kamu?” tanya Ara kembali, terasa sekali ia sedang menggelengkan kepalanya.


“Lantas kenapa? Kalau sesuatu yang bersifat pribadi, harusnya kamu chat ke nomor aku dong. Bukan menghubungi bagian pengumuman,” Ara berusaha memberikan pengertian padanya yang masih memeluk Ara dengan erat.


Apa tidak apa-apa jika seperti ini lebih lama? Aku menghawatirkan mereka yang mungkin nanti akan melihat adegan mesra kami, pikir Ara.


“Srukkk ....”


Morgan menyodorkan handphone-nya ke arah Ara, membuat Ara mengerenyitkan dahinya karena bingung.


Ada apa dengan handphone-nya? Pikir Ara, ia pun mengambilnya dengan lembut.


“Ada apa?” lirih Ara sembari memeriksa handphone-nya.


Tidak menyala sama sekali. Mungkin saja baterainya low? Aku paham sekarang, mengapa ia tidak bisa menghubungiku, pikir Ara.

__ADS_1


“Gan ...,” Ara berusaha bangkit, namun Morgan tidak membiarkan dirinya pergi.


“Saya mohon, tetaplah seperti ini,” lirihnya yang terdengar sangat menyedihkan bagi Ara.


Ara menunduk sendu, aku juga ingin terus seperti ini dengannya. Tapi, bukankah sebentar lagi jam ujian berikutnya akan segera dimulai? Pikir Ara.


“Sebentar lagi, ujian mau dimulai,” lirih Ara dengan nada yang tak enak.


Ara rindu dengan Morgan, tapi suasanannya kurang tepat. Akankah Morgan mengerti keadaannya?


“Akhir pekan ini, bisa tidak temani saya?” tanyanya.


Ada sedikit rasa penasaran di hati Ara, dengan ajakannya.


“Akan saya usahakan, Pak,” ucap Ara dengan formal, berharap tidak ada yang mendengar atau memperhatikan mereka dari luar ruangan.


Mendengar ucapan Ara yang sangat formal, membuat Morgan sedikit kesal dengannya. Secara tidak langsung, Morgan merasa kalau Ara sudah meledeknya.


Bukan tanpa sebab Morgan bersikap demikian. Selain karena program pertukaran dosen ke Amerika, yang belum sempat ia utarakan pada Ara, Morgan juga kesal dengan Ara karena tidak sengaja melihat Ara yang sedang bersama dengan laki-laki yang tidak ia kenal.


Laki-laki itu juga mengucapkan kata-kata romantis yang samar Morgan dengar tadi, apalagi sampai mengusap lembut rambut Ara. Belum habis masalah kalung pemberiannya yang hilang itu, Morgan juga sempat melihat Ara yang sedang bercengkerama dengan seseorang yang sangat familiar dengan Morgan.


Yap, Hatake.


Morgan tidak suka semua hal yang terjadi pada Ara, namun seperti kata Morgan waktu itu, ia akan menelan habis semua yang terjadi pada Ara, dan biar saja dia yang merasakan sendiri.


Alasan Morgan akhir-akhir ini menjauhi Ara, karena ia belum bisa menerima keadaannya yang sebentar lagi akan meninggalkan Ara ke Amerika. Ia hanya latihan, kiranya ia jauh dari Ara, akan terasa seperti apa. Ditambah lagi permasalahan kalung pemberiannya yang hilang.


Morgan sengaja menjemput Ara pagi tadi, karena ia sudah merasa tidak kuat jika harus meneruskan latihannya untuk jauh dari Ara sementara. Tapi tak disangka, yang ia lihat malah pemandangan Ara bersama dengan laki-laki asing yang sedang bermesraan di taman dekat rumahnya.


“Cuppp ....”


Morgan dengan segala perasaan yang sudah seperti nano-nano, tiba-tiba saja mencium bibir Ara, membuat mata Ara membulat karena terkejut. Ara benar merasakan rasa rindu yang sudah Morgan tahan. Tak dipungkiri, Ara yang juga tidak bisa menahan rindu, pun membalas ciuman hangatnya itu.


“Ting ... nong ....”


Suara bel jam pelajaran berikutnya pun berbunyi. Ara dengan sangat terpaksa melepaskan diri dari Morgan. Morgan terlihat tak rela melepaskan ciumannya itu. Tapi mau bagaimana lagi, Morgan harus mengerti dengan keadaan Ara saat ini.


“Sampai jumpa,” lirih Morgan.


Nadanya terdengar seperti orang yang ingin meninggalkanku dalam jangka waktu yang lama. Aku mendadak sedih mendengar ucapan selamat tinggalnya itu. Apakah ada suatu firasat yang tidak aku ketahui? Pikir Ara.


“Kita pasti ketemu lagi nanti!” lirih Ara mantap, membuat mata Morgan seketika membulat.


...***...

__ADS_1


__ADS_2