Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Bertemu Kembali


__ADS_3

Melihat mereka yang hendak menuju ke dalam mobil, Bunga pun dengan cepat masuk dan duduk di kursi depan, membuat Fla menghentikan langkahnya seketika.


Arash mengetahui perbuatan Bunga. Ia mengerti, Fla pasti ingin duduk bersebelahan dengannya, tapi Bunga sudah lebih dulu duduk di kursi bagian depan.


Arash menoleh ke arah Fla, "Fla ... kamu gak--"


"Gak apa-apa, kok. Aku bisa duduk sama Ares di belakang," pangkas Fla, membuat Arash menghela napasnya panjang.


"Apa kamu gak mau duduk bareng sama saya di depan?" tanya Arash, membuat Fla melontarkan senyumnya ke arahnya.


"Siapa yang gak mau duduk di sebelah orang ganteng," ledek Fla, membuat Arash sedikit tersipu karena ucapannya.


Arash mendekatkan wajahnya ke arah Fla, "gemes, jadi mau gigit," gumam Arash, yang langsung membuat pipi Fla berubah memerah.


"Kakak!" rengek Fla dengan nada yang manja, membuat Arash menjadi bertambah gemas dengannya.


"Yaudah, yuk kita jalan," ajak Arash, membuat Fla mengangguk kecil.


...***...


Morgan mengajak Ara untuk menuju ke arah tempat pemberhentian bus, membuat Ara mengerenyitkan dahinya.


Seumur hidupnya, ia sama sekali tidak pernah menaiki bus, atau kendaraan umum lainnya selain taksi. Taksi pun hanya dalam keadaan terpaksa, tidak sering ia menggunakan taksi untuk berpergian.


"Memang harus naik bus?" tanya Ara, Morgan mengangguk sembari menarik tangan Ara, untuk bisa melangkah masuk ke dalam bus.


"Gak lama kok. Hanya 5 menit," ucap Morgan dengan penuh semangat.


Ara merasakan Morgan yang sangat bersemangat dan memiliki mood yang sangat baik kali ini. Walaupun Ara sama sekali tidak ingin menaiki bus, tapi ia tidak ingin merusak mood Morgan yang sedang baik saat ini.


Karena di dalam bus keadaannya padat sekali, Ara jadi tidak kedapatan tempat duduk. Ara berdiri di hadapan Morgan dengan membelakangi orang yang sama sekali tidak ia kenal.


Morgan sedang asyik memandang setiap sudut Kota. Lain halnya dengan Ara yang saat ini sedang tidak nyaman. Ara merasa tidak enak saat ada orang yang terus menempelkan dirinya pada Ara. Ia merasa tidak nyaman di sini.


Memang pada dasarnya ini adalah kali pertama dirinya menaiki bus, jadi ia tidak tahu keadaan di dalam bus seperti apa.


Aku tidak mau merusak mood Morgan. Aku tidak ingin dia sampai membuat onar di wilayah orang, pikir Ara, sembari tetap menahan dirinya.

__ADS_1


Ara memutuskan untuk diam saat diperlakukan seperti itu.


Lama-kelamaan, orang ini semakin berani sekali. Bahkan, ia sampai berani meraba bokong Ara, membuat Ara terkejut saat mendapatkan perlakuan buruk darinya.


"Sumimasen (Permisi)," ucap seseorang yang berusaha menghalangi orang mesum itu dari tubuh Ara.


Orang yang memakai topi hitam misterius itu, menghalangi tubuh orang mesum tadi dan membuat celah di antara tubuh Ara dan tubuh orang mesum tadi. Ara jadi sedikit terbantu olehnya.


Ara pun melirik sedikit ke arah wajahnya. Dirinya terlihat dingin sekali. Sama seperti saat pertama Ara melihat Morgan kala itu.


Mata Ara membulat seketika, dirinya seperti melihat reinkarnasi Morgan yang ada di hadapannya.


Apa benar yang Aku lihat ini adalah reinkarnasi Morgan? Padahal, Morgan masih ada bersamaku dan belum meninggal, pikir Ara yang sudah tidak keruan.


Laki-laki itu sama sekali tak menoleh ke arah Ara, membuat Ara merasa bingung dengan keadaannya.


"Ckiiittttt ...."


Mobil bus berhenti mendadak, karena tujuan halte mereka hampir saja terlewat.


Morgan menoleh ke arah Ara, yang sepertinya sedang memperhatikan seseorang. Morgan hanya mengerenyitkan dahinya, tidak mau merusak suasana romantis mereka.


Ara hanya memandang laki-laki misterius itu, bahkan ia tidak sempat berterima kasih pada pemuda yang menolongnya tadi. Ara hanya bisa sekilas melihat matanya.


Matanya tajam seperti milik Morgan.


Ara dan Morgan sudah sampai di depan apartemen yang hendak mereka tuju. Morgan menggandeng mesra tangan Ara, sampai menuju kamar orang yang ia sebut bernama Naoki.


Kini, mereka pun sudah tiba di depan pintu kamar Naoki.


"Ting nong ...."


Morgan menekan bel yang ada di depan kamar Naoki. Tak lama berselang, seseorang membuka pintu apartemennya.


"Morugan! Ogenki desuka (Morgan! Apa kabar?)," ucapnya dengan nada yang sangat bersemangat.


Ia sampai memeluk Morgan, saking senangnya bertemu Morgan.

__ADS_1


"Hai! Genkidesu! (Ya! Kabar baik!)," Morgan membalas pelukannya itu.


Ara mungkin sampai terlupakan olehnya.


Morgan melepaskan pelukan kawannya itu, dan menatap Ara dengan tatapan penuh kebahagiaan.


"Ara, kenalin. Ini Naoki," ucap Morgan dengan perasaan sukacita.


Ara memandang ke arah Naoki, lalu menjabat tangan Naoki dengan senang hati, begitu pun Naoki yang membalas jabatan tangannya.


"Yoroshiku onegaishimasu, Ara-chan! (Senang bertemu dengan mu, Ara!)," ucapnya, Ara hanya diam sembari melirik ke arah Morgan.


Ara kurang begitu memahami bahasa Jepang. Morgan yang memperhatikan reaksi Ara, hanya bisa tertawa tipis memandangnya.


"Sumimasen Naoki, Ara wa anata ga itte iru koto o rikai shite imasen. (Maaf Naoki, Ara tidak mengerti ucapan mu,)" ycap Morgan dengan sedikit tawanya.


Ara ikut tertawa, karena Morgan juga tertawa.


Sepertinya hal yang lucu, walaupun aku tidak mengetahui artinya, pikir Ara.


"Oh, I see. Please come in," ucapnya dengan penuh rasa sukacita.


Apa semua orang Jepang sangat menyenangkan seperti ini? Kalau memang benar, aku betah berlama-lama di sini, pikir Ara sembari melontarkan senyuman ke arah Naoki.


Oke, author akan menggunakan bahasa Indonesia, demi kelancaran membaca readers semua. Karena sebenarnya semua bahasa yang mereka pakai adalah bahasa Jepang dan juga bahasa Inggris.


Ara dan Morgan diajak masuk ke dalam apartemen kecil milik Naoki. Mereka pun masuk mengikuti arah Naoki berjalan.


Terlihat seorang wanita yang tak asing, sedang duduk di sofa ruangan Naoki. Morgan memandangnya dengan sangat tajam, karena ia sangat mengenal wanita itu.


"Halo, senang bertemu dengan kalian," sapa wanita itu secara tiba-tiba, dengan menggunakan bahasa Jepang, saat mereka baru saja tiba di apartemen milik Naoki.


Ara agak kaget karena dirinya melihat lagi pramugari yang ia temui waktu itu, di pesawat. Ara sampai melirik ke arah Morgan, yang juga nampak masih dingin menanggapi kakak pramugari itu.


"Maaf, saya tidak bilang kalau sedang ada tamu di sini," ucap Naoki yang terdengar seperti merasa tidak enak pada Ara dan juga Morgan.


"Saya yang harusnya meminta maaf. Saya tidak tahu jika ada tamu yang sedang berkunjung," tepis Morgan dengan datar.

__ADS_1


Ara memandangnya dengan tatapan menyelidik, sikapnya berbeda sekali sejak pertama kami singgah. Apa ... ada sesuatu yang tidak aku ketahui? Pikir Ara cemas melihat ekspresi Morgan yang seperti itu.


__ADS_2