Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Keputusan Arash


__ADS_3

Saat ini, Morgan dan adik-adiknya sudah berada di mall untuk sekedar menikmati quality time bersama, dan juga menebus waktu yang sangat jarang ia berikan kepada adik bungsunya.


Mereka melangkah menaiki eskalator.


“Kak Morgan, bantuin aku pilihin kado untuk pacar aku, ya?” pinta Lian, membuat Morgan mengerenyitkan dahinya.


“Hei, kamu sudah punya pacar?” tanya Morgan, membuat Lian tersipu malu.


“Punya dong,” jawab Lian dengan nada yang sangat bangga.


Morgan melangkah melewati ujung jalan eskalator. Fla yang mendengar Lian berbicara seperti itu, segera menafikan pandangannya.


Memang, Fla dan Lian sudah seperti Tom dan Jerry, yang jika bertemu bertengkar terus, jika mereka berjauhan, salah satunya pasti akan mencari. Bukan tanpa sebab Fla seperti itu pada adiknya. Itu semua karena memang dasarnya Fla adalah anak bungsu, dan sudah dimanja sejak ia masih berdua dengan Morgan saja.


Sejak ayahnya menikah kembali, dan memiliki Lian, Fla jadi merasa tersaingi dengan anak bungsu yang satu itu.


Ya, sudah biasa memang, jika kita melihat adik dan kakak yang bertengkar hanya karena permasalahan kasih sayang. Tapi, Fla tidak seperti Jessline yang benar-benar membenci. Biar bagaimanapun juga, Fla masih sangat menerima Lian sebagai adiknya, dengan tetap menganggap dirinya sebagai anak yang paling disayang oleh ayahnya.


“Yeh, belajar dulu yang bener, masih bau kencur juga!” sinis Fla, membuat Lian mengerenyitkan dahinya karena merasa tersindir dengan ucapan Fla.


“Apa sih Kak Fla ini, kalau jomblo mah diem aja, deh ...,” timpal Lian, membuat Fla mendelik dan menoleh ke arahnya seketika.


Perdebatan di antara mereka memang sudah biasa terjadi. Tapi, itu semua tidak seserius yang dipikirkan kebanyakan orang. Fla masih tetap menyayangi Lian, sama seperti adik kandungnya sendiri.


Jessline memperhatikan mereka diam-diam. Dia masih belum bisa membuka diri untuk bercanda bersama dengan Fla dan juga Lian. Dia masih sangat malu pada Fla yang sudah membuatnya kalang-kabut sendiri, hanya karena masalah Bisma waktu itu.


Hal itu juga yang membuat Jessline sampain berani menampar wajah Fla waktu itu. Sebetulnya, ada sedikit rasa sesal di hati Jessline. Hanya karena masalah itu, ia jadi tidak bisa dekat dengan Fla lagi. Apalagi Fla yang juga tidak bisa memulai sesuatu, karena memang sikapnya yang agak introvert yang membuatnya menjadi susah mengutarakan perasaannya.


Fla juga sampai lupa, kapan terakhir ia berbicara dengan Jess, saking ia tidak ingin Jessline semakin membenci dirinya.


“Harusnya kamu tanya sama Kak Fla, karena sesama wanita pasti tahu selera yang cocok,” ucap Morgan, membuat mereka berhenti berdebat.


Lian berpikir sejenak, “iya juga ya ...,” lirihnya, yang seketika menoleh ke arah Fla.

__ADS_1


Fla yang mengetahuinya, hanya bisa mendelik ke arah Lian, membuat Lian menyeringainya.


“Apa kamu,” tantang Fla, membuat Lian semakin menyeringai.


“Bantuin aku pilih kado!” ucap Lian dengan penuh semangat, membuat Fla kembali menafikan pandangannya dan menyedekapkan tangannya.


“Gak akan!” tolak Fla mentah-mentah.


“Ayo lah, Kak!” rengek Lian, tapi Fla masih tetap bersikeras menolaknya.


Morgan tidak memperhatikan mereka, dan malah menoleh ke arah Jessline.


“Kakak mau ngobrol sama kamu,” ucap Morgan, membuat Jessline melihat ke arahnya.


“Ayo lah, Kak!!” ucap Lian yang masih saja berusaha untuk merengek pada Fla.


Fla terdiam, ‘bener juga kata Kak Morgan. Kalau minta tolong pilihin kado sama Lian kan jadi makin oke tuh? Lian kayaknya lebih paham tentang selera laki-laki. Aku juga bisa kasih tahu selera yang perempuan suka ke si Lian,’ batin Fla yang sedang berpikir tentang hal bagus itu.


Fla tersenyum, “oke, kakak mau bantuin!” ucap Fla tiba-tiba, membuat Lian tersenyum.


Ia mengeluarkan kartu debit miliknya, dan memberikannya pada Lian, “ini, pakai uang kakak aja. Ingat, belinya jangan terlalu boros,” ucap Morgan, Lian dengan segera mengambil kartu yang Morgan sodorkan.


“Makasih kak!” ucap Lian dengan sangat bersemangat, dan langsung segera menarik tangan Fla untuk pergi dari sana.


Morgan menoleh ke arah Jess, membuat Jess agak terkejut melihatnya.


...***...


Arash sudah berkemas untuk segera pulang ke rumah. Ia memasukkan barang-barangnya ke dalam koper, dibantu dengan Ares yang juga ikut menyiapkan.


Ares selalu tersenyum sepanjang ia menyiapkan barang-barang milik kakaknya. Arash yang melihatnya menjadi gemas padanya.


“Kenapa sih, kok senyum mulu dari tadi? Nanti giginya kering, lho ...,” ledek Arash, membuat Ares semakin melebarkan senyumnya.

__ADS_1


“Aku seneng karena kakak ngajak aku pulang ke rumah kakak. Makanya aku gak bisa berhenti senyum deh,” ucap Ares, membuat Arash menghela napasnya dengan panjang.


“Memangnya kenapa Ares seneng? Memangnya Ares gak sedih, jauh dari mama?” tanya Arash, membuat Ares menggeleng kecil.


“Ares udah sering sama mama, jadi Ares mau sama kakak sekarang,” ucap Ares, membuat Arash yang mendengarnya, menjadi sangat sendu.


Ia terpaksa melakukan ini, karena ia harus segera memberitahu pada Ara, tentang Aresha. Jadi, Arash meminta Bunga untuk mengizinkan Ares tinggal di rumahnya untuk beberapa waktu.


“Mmm ... gitu. Padahal, Kak Arash kan bakalan kerja, memangnya Ares berani sendirian di rumah?” tanya Arash yang melontarkan pertanyaan psikologis pada Ares.


“Berani, dong! Ares kan udah gede, lagian Ares kan janji bakal jadi anak yang baik, dan gak akan bikin kakak repot dan malu karena ulah Ares,” jawab Ares, membuat Arash bisa bernapas dengan sangat lega saat ini.


‘Baguslah, memang itu yang ingin saya dengar,’ batin Arash, sembari menatap Ares dengan dalam.


“Sini,” ucap Arash pada Ares, yang menyuruhnya untuk mendekat ke arah Arash.


Ares bangkit dan melangkah ke arah Arash.


Arash segera memeluk Ares, “Ares janji ya, bagaimanapun nantinya sikap kakak cantik yang ada di foto tadi, Ares harus selalu bersikap baik sama dia ya. Biar Ares gak dibenci sama kakak cantik itu,” ucap Arash, membuat Ares cemberut.


Ares merenggangkan pelukannya, “kenapa kakak ngomongnya gitu?” tanya Ares yang tidak mengerti dengan yang Arash maksudkan.


Arash mengaduh dalam hati, tidak tahu harus beralibi bagaimana lagi.


“Emm ... ya kakak takut aja kalau Ares berbuat yang gak baik nanti. Jadinya kakak cantik itu marah deh sama Ares. Walaupun Ares gak berbuat apa pun yang buruk, pokoknya Ares harus selalu berusaha mengalah ya?” ucap Arash yang sudah tidak bisa berpikir dengan jernih, karena sudah kehabisan akal tentang apa yang harusnya ia ucapkan.


Ares terlihat diam berpikir sejenak.


‘Aku harus ngelakuin yang kakak suruh, supaya aku bisa tinggal di rumah kakak,’ batin Ares, yang memang sudah sangat rindu dengan kakaknya itu.


Ia pun melontarkan senyumannya ke arah Arash, “oke deh, Kak! Ares akan berusaha untuk bersikap baik, walaupun nanti kakak cantik itu gak bersikap baik ke Ares,” ucap Ares, membuat Arash tersenyum.


Arash mengacak-acak pelan rambut Ares, membuat Ares tersenyum karenanya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2