
Kini mereka duduk di atas ranjang bersama, dengan Ilham yang memeluk mesra Ara dari belakang, sembari mengelus perut buncit Ara.
Sudah seharian ini Ara menangis, karena terpikir tentang penyakit yang Ilham derita selama ini. Ara tak menyangka, kalau Ilham menyembunyikan penyakitnya, sama seperti yang Reza lakukan kala itu.
Tak henti-hentinya Ilham mengelus perut buncit Ara, sembari sesekali menciumi puncak kepala Ara. Ia sudah benar-benar sangat frustrasi. Mengingat percakapannya dengan sang dokter tentang penyakitnya, Ilham jadi merasa terpukul mengingatnya.
"Penyakit anda sudah memasuki status ganas. Kemungkinan untuk sembuh, hanya 10 banding 1 saja. Bila kondisi anda masih seperti ini, kemungkinan pahitnya hanya tinggal menghitung hari untuk kamu bisa hidup di dunia ini."
Kata-kata dari sang dokter selalu terngiang di pikiran Ilham. Namun, Ilham sama sekali tidak bilang pada Ara mengenai dirinya yang ternyata sudah divonis oleh dokter. Dia hanya mengatakan kalau dirinya sedang fokus pengobatan, untuk penyembuhan.
Kini, Ara sudah terlihat sangat kacau. Padahal, orang yang sedang mengandung tidak diperbolehkan untuk memikirkan sesuatu terlalu berat.
Ilham mengelus puncak rambut Ara, "Sayang ... udah seharian ini lho kamu nangis seperti ini. Jangan nangis lagi, ya?" ujar Ilham, tetapi Ara masih saja menangis.
"Apa ini arti dari ucapan kamu waktu itu? Kamu mau pergi jika sudah waktunya?" tanya Ara dengan sendu, membuat Ilham memandangnya juga dengan sendu.
Ilham harus jujur tentang perasaannya pada Ara. Ia sudah tidak bisa lagi mengelak, khawatir dirinya tidak punya cukup usia untuk menyalurkan apa yang ia inginkan untuk terakhir kalinya.
"Aku fokus pengobatan," ucap Ilham, yang mencoba mengalihkan pembahasan Ara.
Mendengar hal itu, tangis Ara seketika pecah kembali. Ia tidak ingin Ilham meninggalkan dirinya, bersama dengan kedua anaknya kelak.
"Aku mau habisin waktu bareng kamu. Kita bisa sama-sama fokus untuk melupakan. Ini permintaan aku untuk yang terakhir kalinya ke kamu. Aku harap, kamu--"
"Kamu harus sembuh, Ham!!" teriak Ara tiba-tiba, yang langsung memotong pembicaraan Ilham.
Tak kuasa menahan tangis, setiap Ara berbicara tangisannya selalu pecah, membuat Ilham melihatnya dengan sangat sendu. Ilham pun tak tega, tetapi ia juga tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk bersama Ara, sebelum waktu perpisahan itu tiba.
Ilham mengangguk, "Iya, aku harus sembuh. Tapi kamu mau kan, menghabiskan waktu bersama aku?" tanya Ilham, membuat Ara kembali menjerit dan menangis.
__ADS_1
"Jangan bicara yang enggak-enggak! Kamu itu kuat, udah bisa bertahan sampai sejauh ini! Harusnya kamu sembuh, dong!" bentak Ara, membuat Ilham tak bisa menahan gejolak perasaannya.
"Semua orang ada batasnya, Ra! Gak selamanya aku bisa nahan beban begini! Mungkin iya kemarin aku kuat, tapi ini sudah batas diri aku, Ra!" bentak Ilham yang kelepasan berkata demikian, membuat Ara terdiam dan mendelik mendengarnya.
Perkataan sang dokter, membuat Ilham menjadi kalut dalam kesedihan. Di satu sisi, perkataan Ara membuatnya kesal, karena harus selalu dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa ia lakukan. Ucapan mereka, bagai pro dan kontra. Kalau saja Ara tahu tentang Ilham yang divonis, ia juga tidak akan pernah mendesak Ilham untuk sembuh.
Ilham semakin mempererat pelukannya, membuat Ara semakin menangisi Ilham. Ara berbalik sedikit memeluk Ilham, membuat Ilham terus menciumi leher Ara, saking menyesalnya ia mengatakan hal itu pada Ara.
"Maaf ... gak seharusnya saya bicara begitu," gumam Ilham yang merasa kesal dengan dirinya sendiri.
"Apa pun yang terjadi nantinya, kamu harus janji sama aku, untuk tetap terus hidup. Jangan sampai anak kita terbengkalai. Biar gimana pun juga, mereka butuh sosok seorang ayah. Kalau seandainya aku ... kamu bisa mencari yang bisa menggantikan aku," ucap Ilham yang agak ragu, membuat Ara lagi-lagi harus menangis mendengarnya.
'Kenapa sih, semuanya harus begini?' batin Ara, yang sedih mendengar setiap perkataan dari mulut Ilham.
"Satu yang harus kamu tahu, Ra. Aku cinta kamu, sampai mati," gumam Ilham, membuat Ara tersentuh dan menumpahkan sisa tangisannya di dada Ilham, membuat kemeja dan jasnya menjadi basah.
"Maafin aku, kalau selama ini aku ada salah sama kamu. Aku minta maaf untuk yang udah aku lakuin. Jangan pernah membenci aku, ya?" ucap Ilham, membuat Ara semakin mempererat pelukannya.
"Terima kasih sudah mau menikah dengan aku, membalas cintaku, menerima ciuman pertamaku, mengizinkan aku melakukan hal itu sama kamu, sudah bersedia mengandung anak dari aku, dan ... terima kasih sudah selalu menemani hari-hari berharga aku selama ini," ucap Ilham dengan tangis yang sedari tadi sudah menetes.
Ilham merogoh saku celananya, dan mengambil sesuatu di dalamnya. Dengan sangat ragu, ia mengambil sebuah kunci, dan menyodorkannya pada Ara.
"Ini, untuk kamu," ujar Ilham, membuat Ara memandang ke arah kunci yang Ilham sodorkan.
"I-ini apa?" tanya Ara, membuat Ilham tersenyum.
"Istriku aneh. Ini itu kunci," jawab Ilham, membuat Ara kesal sendiri jadinya.
"Ih, aku tahu ini kunci! Tapi buat apa?" tanya Ara, membuat Ilham memagut pelan hidung Ara.
__ADS_1
"Kamu bisa buka laci meja kerja, setelah aku benar-benar pergi," jawab Ilham, membuat air mata Ara kembali menggenang.
"Kamu harus sembuh," bantah Ara, membuat Ilham tersenyum.
"Iya, Sayang," ucap Ilham, membuat Ara sedikit banyaknya senang dengan jawaban Ilham.
Ara menerima kunci itu, lalu menyimpannya di atas meja dekat ranjang.
Ilham memang Ara dengan lekat, membuat Ara membalasnya dengan tatapan yang sama.
"Aku cinta sama kamu, Ra," ucap Ilham.
Ara memantaunya sendu, "Aku juga cinta sama kamu," ucap Ara.
Ilham langsung menyambar bibir Ara, membuat Ara menerimanya dengan senang hati.
Morgan yang baru saja datang, tak sengaja mendengar Ilham mengucapkan kata itu pada Ara, dan Ara membalasnya. Sedikit banyaknya ia sangat terpukul mendengar pengakuan cinta Ara pada Ilham.
Pasalnya, selama berpacaran dengan Ara, ia hanya bisa mendengar ucapan itu dua kali dari mulut Ara. Ia sangat iri dengan Ilham.
Mereka saling bercumbu, memagut kecil bibir satu sama lain. Setelah puas dengan ciuman itu, Ilham pun melepaskannya dan menyadari ada benda berwarna merah yang menempel di mulutnya.
"Duh ... lipstik kamu nempel di mulut aku," gumam Ilham, membuat Ara mendelik tajam.
"Itu bukan lipstik," gumam Ara yang masih tak percaya dengan yang ia lihat.
"Ini beneran lipstik," bantah Ilham sembari terus mengusap bibirnya.
'Seharian bareng Ara, aku jadi lupa minum obat,' batin Ilham sendu.
__ADS_1