Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Pengakuan Bunga


__ADS_3

Arash sedang duduk di ruang tamu rumah Bunga. Ia duduk dengan ponsel yang senantiasa ia genggam, hingga tak sadar, ia pun terlelap.


Bunga pun tiba di ruang tamu tersebut. Melihat Arash yang tertidur di sofa ruang tamunya, membuat Bunga mendadak tak tega dengan keadaannya.


Bunga pun duduk di sofa yang berada di hadapannya, sembari memandangnya dengan sendu.


"Saya tahu beban yang kamu derita saat ini, Rash. Maaf, kalau bukan karena bos di perusahaan saya yang berbuat curang dengan kontrak tersebut, keadaan kamu mungkin gak akan seperti ini sekarang, Rash," gumam Bunga, yang mendadak sendu memandangi Arash dengan wajah polosnya.


"Kamu kuat," gumam Bunga lagi, sembari memandangnya dengan sangat sendu.


Bunga tidak bisa berbuat apa pun lagi. Setelah lepas dari perusahaan ayah Arash, yang saat ini di bawah naungan Arash, Bunga pun mulai mencari pekerjaan lain, untuk menghidupi dirinya sendiri dan juga Ares, pada masa itu.


Walaupun setelah kepergian ayah dan ibu Arash, Arash masih menanggung kebutuhan Ares dan Bunga, tetapi Bunga merasa tidak enak hati, ditambah memang dirinya yang sudah terbiasa bekerja, semakin membuatnya ingin sekali berkembang lebih dari sebelumnya.


Tak disangka, Bunga masuk pada perusahan yang merupakan rival dari perusahaan Arash, membuat Bunga kebingungan setengah mati. Untung saja selama ini, Arash tidak pernah bertanya tentang pekerjaan Bunga.


Sedikit banyaknya, Bunga juga ikut andil dalam kecurangan mega proyek yang sedang Arash jalani saat ini. Dirinya yang merupakan sekertaris bos di perusahaan tempat dirinya bekerja saat ini.


"Kalau saya gak menurut dengan bos, saya pasti akan kehilangan pekerjaan, dan kamu juga gak akan mungkin menanggung kami lebih lama dari ini, Rash. Maaf, sejujurnya saya gak bisa," gumam Bunga, yang merasa sangat bersalah dengan keadaan.


Bunga menatap Arash dengan sendu, "Ke depannya, saya gak akan repotin kamu lagi. Cukup urus Ares dengan benar, itu sudah sangat cukup untuk saya," gumam Bunga.


Mendengar hal itu, Arash pun seketika hampir saja tak bisa menahan gejolak amarahnya. Arash mendengar dengan jelas, setiap perkataan yang Bunga ucapkan.


Namun, jauh di lubuk hati Arash, dia juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Bunga. Walaupun Arash baru mengetahui, kalau ternyata Bunga bekerja di perusahaan milik rival dari ayahnya.


Arash hanya diam, sembari tetap bersikap seperti biasa orang tertidur. Ia hanya cukup tahu dengan kebenaran yang telah ia dengar.


"Dringg ...."


Tiba-tiba saja handphone Arash berdering, membuat Bunga penasaran siapa yang telah menghubungi Arash.


Bunga melongok sedikit, dan melihat di layar handphone yang Arash pegang, tertulis nama 'My Sweetie Flareon' di sana. Hal itu cukup membuat hati Bunga terasa sesak.


Bunga menatap Arash dengan dalam, "Setidaknya, kamu masih punya orang yang kamu sayang. Tidak seperti saya, yang sudah salah langkah sejak awal. Seharusnya, saya adalah orang yang sangat beruntung, karena sudah memiliki kamu," gumam Bunga dengan sendu.

__ADS_1


"Tess ...."


Bunga pun menitikkan air mata, merasa sangat menyesali perbuatannya dulu.


Ya, memang penyesalan datangnya di akhir.


"Maaf, saya sudah terlalu serakah, jika memaksa kamu untuk mencintai saya lagi," gumam Bunga, yang tak kuasa menahan tangisannya.


"Tess ...."


Arash tak kuasa menahan air matanya. Air matanya itu tak sengaja mengalir, padahal Arash sedang memejamkan matanya. Ia sampai bingung, kalau saja Bunga sampai mengetahui dirinya menitikkan air mata, karena perkataan Bunga yang sangat menyentuh hatinya.


"Enghh ...."


Akhirnya, Arash mengubah posisi tidurnya, sembari berusaha mengusap air matanya yang sudah mengalir itu, membuat Bunga buru-buru mengusap seluruh air matanya yang sempat pecah tadi.


Bunga juga tidak ingin jika Arash melihat kesedihan yang ia alami.


'Saya gak pernah mau jahat sama kamu. Biar bagaimana pun juga, kamu adalah orang yang pernah saya cintai, dan ibu dari Ares. Namun, untuk kembali seperti dulu lagi, saya gak akan bisa mengabulkannya,' batin Arash yang kembali tertidur, berusaha untuk membiarkan Bunga selesai membenarkan sikapnya.


'Untung Arash gak sadar kalau saya nangis,' batin Bunga, yang merasa aman dengan keadaannya, padahal Arash sudah mengetahui semua yang ia katakan dari awal hingga akhir tadi.


Bunga meninggalkan Arash di sana, dan menuju ke kamar Ares, tempat Ares berada.


Bunga melongok ke dalam kamar Ares, "Ares ...," pekik Bunga, membuat Ares menghentikan aktivitasnya, yang sepertinya sedang menelepon seseorang di kamarnya.


Dengan sangat gugup, Ares pun menyembunyikan handphone-nya di bawah bantal.


Bunga mengerenyitkan dahinya, "Kamu lagi teleponan sama siapa?" tanya Bunga, membuat Ares kembali gugup.


"Emm ... anu, Bu--"


"Halo, Ares?"


Tiba-tiba saja terdengar suara laki-laki dari arah telepon genggam Ares, membuat Bunga menghela napasnya dengan panjang.

__ADS_1


'Anakku sudah besar,' batin Bunga, yang risau dengan perkembangan anaknya saat ini.


Bunga pun tersenyum, "Tuh ... dipanggil sama temannya," gumamnya teriring senyuman, membuat Ares menyeringai ke arahnya.


"Iya," gumam Ares, yang tak enak karena merasa sudah tertangkap basah dengan ibunya.


Bunga menghampiri Ares, dan duduk di samping Ares, "Ibu mau bicara dengan teman kamu, boleh?" tanya Bunga, membuat Ares mendelik tak percaya.


"Hah? Ibu gak marah?" tanya Ares, membuat Bunga tersenyum kecil padanya.


Bunga menyentuh hidung mungil Ares, "Anak ibu udah gede," gumam Bunga, membuat Ares tersenyum padanya.


Ares pun mengeluarkan handphone-nya, dan segera memperlihatkan wajah anak laki-laki yang sedang melakukan video call bersamanya.


"Lian, kenalin ini ibu aku," gumam Ares, membuat Lian agak malu memperlihatkan wajahnya.


"Halo, Lian?" sapa Bunga dengan sangat lembut, membuat Lian agak sedikit luluh karenanya.


"Ha-halo tante," jawab Lian dengan sangat gugup.


"Apa kabarnya?" tanya Bunga, membuat Lian semakin merasa percaya diri berbicara dengan ibu dari Ares.


"Baik. Tante sendiri gimana kabarnya?" tanya Lian, membuat Bunga tak henti-hentinya tersenyum.


"Baik juga," jawab Bunga.


Ares tersenyum ke arah Bunga, "Bu, ini Lian, yang udah kasih Ares kalung ini," gumam Ares, sembari memperlihatkan sebuah kalung yang selalu ia pakai, membuat Bunga mendelik tak percaya.


"Wah ... baik banget Lian," gumam Bunga, membuat Lian tersipu malu.


"Iya, Bu! Dia juga yang udah bilang ke ketua tim voli di sekolah aku yang baru, kalau aku mau gabung di tim mereka. Jadi, Februari nanti, aku gak batal tanding voli deh!" gumam Ares juga dengan sangat bersemangat, membuat Bunga bahagia mendengarnya.


"Pokoknya kamu harus menang, jangan bikin Lian jadi kecewa, ya," gumam Bunga membuat Ares mengangguk setuju dengan ucapan Bunga.


Mereka pun saling bercanda, dan akhirnya berbincang sampai waktu yang cukup lama.

__ADS_1


__ADS_2