
Saat ini, Ara sudah sampai di depan tempat parkir di kampusnya. Ia menoleh ke segala arah, untuk melihat mobil Morgan.
Pandangannya tertuju pada sebuah mobil hitam milik Morgan. Ara mendadak menjadi sendu melihatnya.
'Dia belum pulang?' batin Ara.
Ia segera mengeluarkan handphone-nya dari dalam sakunya, dan segera menghubungi Morgan.
-Tuuuuuuttt-
"Maaf nomor telepon yang anda tuju tidak dapat dihubungi silakan hubungi beberapa saat lagi."
Ara sedikit kesal, dan langsung melihat ke arah layar handphone-nya.
"Duh ... masa sih, dari siang tadi sampai sore begini, dia nggak nge-charge handphone-nya?" gumam Ara yang sedikit khawatir dengan keadaan Morgan.
"Kalau gitu, aku enggak bisa pulang bareng dia dong? Terus aku harus pulang sama siapa?" lirih Ara merenungi nasibnya.
Ara kebingungan, karena memang dirinya yang sedang tidak ingin bercengkerama dengan kakaknya saat ini. Ara masih perlu waktu, untuk bisa menerima kenyataan yang baru ia ketahui pagi tadi.
"Apa aku pesan taksi online aja, ya?" gumam Ara, sembari berpikir, kemudian segera membuka aplikasi online untuk memesan taksi.
Ilham tiba-tiba saja berhenti di depan gerbang kampus Ara. Ia mengedarkan pandangannya, coba melihat keadaan sekitar.
Matanya tak sengaja tertuju pada Ara, yang sedang berkutik dengan handphone-nya.
Satu senyuman pun mengembang di wajah Ilham. Dengan segera, ia membuka sabuk pengamannya dan segera keluar dari mobil, untuk menghampiri Ara di sana.
"Ara," pekik Ilham, membuat Ara mengehentikan aktivitasnya.
Ara mengerenyitkan dahinya, "lho, kok kak Ilham di sini?" tanya Ara dengan nada yang sangat bingung.
Ilham melontarkan senyum, "kebetulan lewat aja," jawab Ilham dengan sedikit nada ragu.
Ara tak percaya dengan jawaban dari Ilham. Ia memandangi Ilham dengan tatapan yang sinis.
"Masa kebetulan begitu, sih? Kayak ... ada kesengajaan aja gitu," gumam Ara, membuat Ilham bingung harus menjawab apa.
Ya, seperti dugaan Ara, Ilham memang sengaja untuk menjemput Ara di kampusnya. Selain karena Arash yang menyuruhnya, Ilham juga sangat senang jika bisa menjemputnya di kampus.
__ADS_1
Ilham tersenyum, "ia deh, saya ngaku, saya emang sengaja ke sini buat jemput kamu. Itupun Arash yang nyuruh," jawab Ilham yang sangat jujur dengan Ara.
Ada tatapan tak senang dari wajah Ara, karena dirinya yang sedang malas jika membahas masalah kakaknya itu. Ara pun menyedekapkan lengannya.
"Males," lirih Ara, Ilham hanya bisa tersenyum, melihat ekspresi Ara yang demikian.
"Ayo kita pulang?" ajak Ilham, membuat Ara menoleh ke arahnya.
"Aku males pulang!" ucap Ara dengan spontan.
Ilham mendelik, 'apa boleh ngajak dia jalan-jalan dulu sebentar?' batin Ilham yang ingin memanfaatkan keadaan.
"Ekhm ...."
Ilham berdeham dan berganti sikap, "terus, kalau males pulang, kamu mau ke mana?" tanya Ilham, yang berusaha memberikan trik psikologi untuk Ara.
"Ke mana kek, males banget di rumah. Ada bocil tuyul itu!" jawab Ara dengan jutek, membuat Ilham hampir tak bisa menahan tawanya karena Ara mengatakan kalau Ares adalah tuyul.
"Ya udah, gimana kalau kita ke mall?" usul Ilham.
"Setuju! Beliin aku es krim yang banyak!! Aku lagi gak mood soalnya," bidik Ara, membuat Ilham lagi-lagi melontarkan senyuman manisnya.
"Kalau perlu, kedai es krimnya saya beli untuk kamu," jawab Ilham yang sedang menggoda Ara, membuat Ara sedikit tersenyum memandangnya.
'Kenapa kamu tidak tersenyum setiap saat, sih? Padahal senyuman kamu sangat manis,' Batin Ilham yang sudah mulai kepincut dengan Ara, lebih dalam.
"Yuk," ajak Ilham, membuat Ara mengangguk.
Mereka pun pergi meninggalkan tempat itu, dan segera menuju ke arah mobil Ilham, untuk segera menuju ke mall terdekat.
Lagi-lagi sepasang mata mengintai dari kejauhan. Mata itu tak lain adalah mata miliki Morgan.
Ia melihat Ara sedang bersama dengan pria yang sama, dengan pria yang ia lihat lagi tadi di taman.
Tangan Morgan mengepal, saking kesalnya ia dengan pria itu.
"Tahan," gumam Morgan, yang menahan dirinya sendiri untuk tidak bertindak gegabah di kampusnya.
Biar bagaimanapun juga, Morgan tidak ingin citra dirinya menjadi rusak, akibat bertengkar dengan seseorang, yang permasalahannya saja tidak ia ketahui.
__ADS_1
Bisa-bisa namanya sebagai dosen, tercoreng, hanya karena masalah wanita.
...***...
Ara dan Ilham kini sudah sampai di sebuah mall. Tempat tujuan yang mereka datangi lebih dulu, adalah tempat es krim, seperti yang Ara bilang tadi.
Ilham membiarkan Ara mengambil sebanyak mungkin es krim yang ia suka. Ilham sampai memberikan sebuah ember padanya, untuk ia pakai sebagai wadah es krim tersebut.
Melihat Ara yang tersenyum saat mengambil es krim, tak sadar membuat Ilham juga melontarkan senyum ke arahnya, meski saat ini, Ara sedang tidak melihatnya karena sedang fokus dengan es krim yang ia ambil.
Tak sengaja, Ara melirik ke arah Ilham, dan mendapati Ilham yang sedang tersenyum sembari memperhatikan ke arahnya. Seketika senyuman manis Ara, sirna.
Menyadari Ara yang memandang ke arahnya, Ilham segera menafikan pandangan, karena merasa malu dengan pandangan Ara yang seperti itu padanya.
...***...
"Woah ... banyak banget es krimnya! Memangnya bisa habis kalau aku sendiri yang makan?" gumam Ara yang saat ini sudah duduk di sebuah food court.
Ilham mengambil sebuah sendok, yang ada di hadapannya.
"Kata siapa cuma kamu sendiri yang akan ngabisin es krimnya? Kita berdua lah yang habiskan," protes Ilham, membuat Ara tersenyum.
Walaupun Ilham sama sekali tidak suka es krim, melihat Ara yang nampaknya sudah kalap mengambil satu ember es krim seukuran ember ayam kriuk ternama, ia jadi tidak tega dengan Ara. Di samping akan menjadi mubadzir, itu juga pasti akan membuat gula darah Ara menjadi naik drastis.
Karena batas konsumsi gula pada wanita, lebih sedikit dibanding batas konsumsi gula pada pria, dalam satu hari.
Ara tersenyum, dan segera melahap es krimnya dengan ceria, bersama Ilham.
"Siapa yang cepat, dia yang menang," lirih Ara, membuat Ilham tertantang untuk menghabiskan es krim itu dengan cepat.
'Boleh juga idenya, biar dia gak terlalu banyak konsumsi gula,' batin Ilham yang sudah mengatur siasat untuk menghabiskan es krim dengan porsi yang lebih banyak daripada yang Ara habiskan.
"Yuk mulai," lirih Ilham, Ara mengangguk setuju.
"Satu ...."
"Dua ...."
Ara berhenti menghitung, dan memandang Ilham dengan saksama. Ilham yang menyadari itu, langsung melancarkan aksinya untuk menyantap es krim lebih dulu dari Ara, membuat Ara terkejut dan segera mengikutinya untuk menyendok es krim itu ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Mereka tertawa bersama, melupakan sejenak permasalahan yang ada di pikiran Ara.
...***...