Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Kekhawatiran Arasha


__ADS_3

Setengah jam pun berlalu, Ara masih saja belum bisa menghubungi Morgan, karena pastinya Morgan tidak akan mau mengangkat telepon darinya.


Dengan kekhawatiran yang mendalam, Ara sampai tidak bisa tenang, mengingat Morgan yang tadi tiba-tiba saja pergi meninggalkannya.


Ara terus menggenggam jam tangan Morgan, yang tertinggal di rumahnya. Kali ini, ia benar-benar sangat menghawatirkan keadaan Morgan.


Pasalnya, setiap Morgan merasa tak bisa menahan amarah, ia pasti akan mencelakakan orang-orang di sekitarnya, bahkan ia juga sampai mencelakakan dirinya sendiri.


Ara tidak ingin itu semua terjadi padanya lagi.


Ara hanya mondar-mandir pada balkon depan rumahnya. Ia hampir putus asa, karena membayangkan sesuatu yang tidak-tidak, yang mungkin akan terjadi dengan Morgan.


“Duh … kenapa bawaannya khawatir terus, ya?” lirih Ara yang tak tenang, sembari terus mondar-mandir pada balkon rumahnya.


Satu ide muncul di benak Ara. Dengan cepat, ia melihat handphone-nya, dan segera menelepon Fla.


“Kali aja Morgan pulang,” lirih Ara, sambil menunggu telepon terhubung.


Tak lama, telepon pun terhubung.


“Halo, Ra?” sapa Fla.


“Halo, Fla?” sapa balik Ara yang sangat senang, karena teleponnya sudah terhubung.


Ara sangat khawatir dengan keberadaan Morgan, yang tidak tahu di mana. Ia pun mengubah posisinya dan duduk di kursi balkon.


“Kenapa, Ra?” tanya Fla, Ara jadi teringat dengan kondisi Fla saat ini.


“Emm … gimana keadaan loe, Fla?” tanya Ara, dengan sedikit berbasa-basi pada Fla.


“Udah agak membaik, bekas ruamnya masih ada, dan masih gatal-gatal sedikit, mudah-mudahan besok gue udah bisa masuk kampus lagi,” jawab Fla, membuat Ara sedikit lega karena mendengar kabar baik darinya.


“Syukur deh. Oh ya, gue mau nanya Fla, di sana ada Morgan gak?” tanya Ara dengan nada yang agak khawatir.


“Kak Morgan? Dia belum pulang tuh, Ra,” jawab Fla, membuat Ara lemas mendengarnya.


Ke mana lagi aku harus mencari Morgan? Dia tidak pulang sama sekali sejak tadi pagi dan ia sekarang bukan sedang pergi ke arah rumahnya, pikir Ara gelisah.


Mengetahui Ara yang sepertinya tidak baik-baik saja, membuat Fla sedikit khawatir padanya.


“Ra? Ara ...,” pekik Fla, namun Ara sama sekali tidak meresponnya.


“Ra ...,” pekik Fla lagi, yang kali ini cukup mengejutkan Ara.

__ADS_1


Tanpa sadar, Ara berpikir yang tidak-tidak tentang Morgan.


Aku takut terjadi sesuatu dengan Morgan di luar sana. Mengingat kejadian waktu itu yang hampir membuat jantungku copot, saat di kejar-kejar sekelompok orang yang tidak aku kenal, pikir Ara.


“I-iya Fla,” Ara terkejut dan reflek karena mendengar Fla memanggilnya.


“Emangnya kak Morgan gak di sana, Ra?” tanya Fla.


“Enggak,” jawab Ara dengan simpel.


Aku tidak ingin ia berpikir yang tidak-tidak dan aku tidak ingin terlalu ribet menjawab pertanyaan Fla yang bertubi-tubi nantinya, pikir Ara.


Fla tersenyum tipis, “tenang aja, Ra. Kak Morgan kan, udah dewasa. Nanti dia juga balik kok. Loe gak usah khawatir. Nanti gue kasih kabar kok, kalau dia udah sampe rumah,” ucap Fla, yang membuat Ara terpaksa harus tenang menghadapi kenyataan.


Aku tidak mungkin untuk bersikap lebih dari ini. Morgan juga sudah bukan anak-anak lagi. Aku juga paham sifat dan karakteristik Morgan seperti apa. Mungkin dia hanya butuh waktu sendiri, pikir Ara.


“Oke, Fla. Makasih ya, kabarin kalau misalkan dia udah balik. Cepet pulih ya,” ucap Ara, membuat Fla tersenyum tipis,


“Bye.”


Ara mengakhiri sambungan teleponnya dengan Fla.


Ara berpikir sedikit keras, apakah aku harus mencarinya, atau tidak?


“Cari gak, ya?” lirih Ara dengan sangat khawatir.


Ara mendelik, “ish ... tapi gue gak bisa begini terus!”


Hati Ara bimbang, dan tak tahu harus berbuat apa.


“Paling enggak, gue harus berusaha nyari dia,” Ara bergegas pergi untuk mencari Morgan.


Ara pergi tanpa berpikir apa pun.


Dari arah yang agak jauh dari pagar rumahnya, terlihat seorang pria yang sejak tadi sudah berada di sana. Ia sadar dengan Ara yang sedang melewati mobilnya.


Sorot matanya yang tajam, membuat matanya berwarna merah karena terkena pantulan sinar lampu.


“Bukankah, itu adik Arash?” lirihnya yang melihat kembali, Ara yang sedang berjalan cepat itu.


Saat sudah meyakini kalau gadis itu benar adalah adik dari Arash, pria itu pun segera mengikuti Ara secara perlahan.


Ara ketakutan, karena hanya membawa handphone-nya saja, tanpa membawa selembar uang pun. Ia khawatir tidak bisa berbuat apa pun tanpa memegang uang di sakunya.

__ADS_1


Aku lupa membawa dompet, pikir Ara.


Ara menoleh ke segala arah, “gue harus cari dia ke mana?” Ara melirik ke sana dan ke sini.


Ia berjalan kaki dengan bodohnya, tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri.


Kini, Ara sudah sampai di luar kompleks rumahnya. Ia perlahan menyusuri jalan, dengan keadaan lampu penerangan yang minim sekali.


Sesekali ia menoleh ke kiri dan ke kanan, khawatir sesuatu yang buruk yang mungkin saja akan menimpanya.


Kenapa malam ini sangat dingin? Saking terburu-burunya, aku sampai lupa memakai jaket, pikir Ara.


Dari sudut sana, Morgan kini sudah tiba di taman kota, yang sudah gadis misterius itu tentukan.


Ia memarkir mobilnya secara sembarang, lalu berusaha keluar dari sana, dan mencari keberadaan wanita misterius itu ke setiap sudut taman.


Morgan berlarian ke segala arah, dan menyusuri setiap sudut taman kota yang cukup luas itu.


Melihat setiap bangku taman yang ada, sudah terisi penuh dengan sepasang kekasih, membuat Morgan putus asa, karena mungkin saja gadis itu sudah pergi dari tempat ini.


Morgan sudah lelah berlarian tak tentu arah, namun tidak ada sama sekali keberadaan gadis itu.


Morgan terdiam, sembari mengolah napasnya yang terasa sesak dan pendek. Ia terlihat mengambil handphone-nya dan mencari nomor orang itu.


Morgan meneleponnya dengan harapan tidak terjadi satu apa pun dengannya.


“Dringg ....”


Tak berapa lama, terdengar suara dering handphone seseorang dari arah belakangnya.


Morgan mendelik, “itu dia,” lirih Morgan.


Ia merasa sangat terkejut, dan segera membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang berada di belakangnya.


...***...


Malam ini, selain merasakan dingin akibat angin malam, Ara juga merasakan jalanan ini sangat sepi dan jarang sekali ada orang yang melintas di daerah ini.


Ara menjadi khawatir dengan keselamatan dirinya sendiri. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan secara cepat.


Ara juga merasa, ada orang yang mengikutinya sejak tadi. Tapi, Ara tidak ingin ambil pusing.


Mungkin saja ada orang yang memang satu arah denganku, pikir Ara yang tetap melanjutkan jalannya.

__ADS_1


Ara mengirimkan pesan singkat kepada Morgan.


“Kamu di mana?”


__ADS_2