
Ilham menyeret Morgan menuju ruang tamu, membuat Morgan tak bisa mengelak lagi darinya.
"Maksud kamu apa sih, masuk ke rumah orang tanpa izin?" tanya Ilham dengan sinis, membuat Morgan hanya bisa menatapnya dengan pandangan dingin.
Tak bisa dipungkiri, Morgan sangatlah kesal melihat wanita yang ia cintai sedang melakukan itu bersama dengan laki-laki lain. Namun, keadaannya sudah berbeda sekarang. Ia sedang tidak menangani Bisma seperti waktu itu, tetapi ia sedang menangani Ilham, yang merupakan suami sah dari wanita yang ia cintai.
Bagaimana Morgan harus bersikap?
Ilham mendelik, "Pergi kamu dari sini!" bentak Ilham, sembari menunjuk ke arah pintu keluar.
Morgan hanya bisa diam, tidak tahu harus berkata apa.
Dengan sangat berat hati, Morgan pun pergi dari hadapan Ilham, dan segera meninggalkan kediaman mereka.
Melihat kepergian Morgan, Ilham yang sebenarnya masih belum bisa mengontrol dirinya karena gairahnya yang bangkit, membuat Ilham tidak bisa berkata-kata lagi. Ia menghempaskan diri di atas sofa, sembari memijat pelan keningnya yang terasa menegang.
"Gila si Morgan itu. Bisa-bisanya dia masuk di saat yang tidak tepat seperti tadi," gumam Ilham yang kesal dengan Morgan.
Ilham hanya bisa memendam rasa kesalnya, karena kali ini ia gagal bercinta dengan istrinya.
Ini semua, tak lain adalah ulah Morgan.
...***...
Ara sudah bersiap memakai almamaternya, untuk segera berangkat ke kampus. Dengan sangat terpaksa, ia harus berangkat ke kampus karena sebentar lagi akan diadakan ujian akhir semester. Ia harus masuk, jika ingin mendapatkan materi pelajaran yang akan diujikan.
Ilham menekuk wajahnya di depan cermin, sembari membetulkan dasinya yang sedang ia pakai. Ara melihatnya dengan pandangan yang tidak enak, karena karena kejadian Morgan tadi, mereka jadi gagal untuk bercinta.
Ara memeluk Ilham dari belakang, berusaha memberikan kenyamanan untuk Ilham, karena Ara merasa sangat tidak enak dengan Ilham.
"Maafin aku, ya?" gumam Ara, sembari tetap memeluk Ilham dengan erat.
Ilham sama sekali tidak memedulikannya, dan hanya fokus kepada dasi yang sedang ia perbaiki.
Mengetahui sikap Ilham yang sepertinya cuek, Ara pun menjadi bingung harus menghadapi dirinya seperti apa.
"Kamu marah sama aku?" tanya Ara, membuat Ilham menghela napas panjang.
Ilham segera berbalik, dan menekan pipi Ara dengan kedua tangannya.
"Aku gak marah sama kamu. Aku cuma marah sama dia, udah ganggu waktu kita bercinta," jawab Ilham, membuat Ara mengerutkan bibirnya, membuat Ilham yang menatapnya menjadi sangat malu tiba-tiba.
__ADS_1
Wajah Ilham merona, membuat Ara tersenyum dan semakin mengerutkan bibirnya.
Ilham menafikan pandangannya, "Jangan begitu. Kamu itu jadi terlihat imut kalau begitu," ujar Ilham, membuat Ara tertawa mendengarnya.
"Aku memang imut," gumam Ara yang merasa sangat yakin dengan dirinya sendiri, membuat Ilham yang mendengarnya menjadi terkekeh.
Ilham melihat ke arah jam tangannya, "Sudah hampir jam 7. Kita berangkat sekarang yuk, nanti terlambat," ajak Ilham, membuat Ara mengangguk kecil.
...***...
Akhirnya, mereka kini sudah sampai di kampus Ara. Ara menoleh ke arah Ilham, yang terlihat sangat kaku.
"Sayang," panggil Ara dengan lembut, membuat Ilham menoleh ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Ilham, membuat Ara lagi-lagi mengerutkan bibirnya.
Melihat Ara yang melakukan hal itu lagi, membuat Ilham menjadi tidak tahan melihatnya.
"I-iya, jangan gitu lagi, ya?" pinta Ilham yang langsung berubah sikap menjadi sangat baik terhadap Ara.
Ara hanya menyeringai melihat responnya yang aneh dengan tiba-tiba.
"Mau cium ...," rengek Ara yang seperti anak kecil, membuat Ilham menggelengkan kecil kepalanya.
Melihat Ilham yang menggelengkan kepalanya, membuat Ara semakin mengerutkan bibirnya. Ilham seketika kembali merona dibuatnya. Ilham sama sekali tidak kuat menahan keimutan istrinya itu.
"Iya iya ...," gumam Ilham sembari merengkuh tengkuk kepala Ara, dan menariknya ke dalam jarak yang lebih dekat.
Ilham mencium bibir Ara dengan sangat lembut, membuat Ara menjadi sangat bergelora dibuatnya.
Melihat adegan mereka kembali, yang bercumbu mesra di dalam mobil, membuat Morgan menjadi sangat geram. Ia sama sekali tidak bisa menghentikan Ilham, karena ia sudah tidak punya hak atas Ara.
"Brukk!!"
"Argh!!"
Morgan sampai menghajar pagar kampus dengan kesal, saking geramnya ia melihat adegan romantis mereka.
...***...
Ara melangkah masuk ke dalam ruang kelasnya. Melihat teman-temannya yang mengerubungi Rafa, membuat Ara menjadi sangat penasaran dengan yang terjadi.
__ADS_1
"Eh ... ada apa?" tanya Ara yang penasaran dengan yang terjadi.
Fla dan yang lainnya pun mengalihkan fokusnya pada Ara.
"Ini, bentar lagi si Rafa nikah," jawab Ray, sontak membuat Ara terkejut dan sangat senang mendengarnya.
Ara mendelik, "Hah, serius? Kapan?" tanya Ara yang mendadak menjadi excited mendengarnya.
"Habis ujian katanya. Jadi liburan kita kondangan, sambil recokin bulan madu mereka," jawab Fla dengan tingkahnya yang aneh, membuat Ara dan Ray tertawa mendengarnya.
"Enak aja! Awas aja pada recokin bulan madu gue. Loe, gue, end!" bantah Rafa, lagi-lagi membuat mereka tertawa.
"Emangnya bisa end sama kita?" ledek Fla, membuat Rafa menyeringai.
"Hehe, enggak," jawab Rafa, membuat mereka semakin tertawa karenanya.
Tak sengaja, perhatian mereka teralihkan pada seseorang yang melewati kelas mereka. Ara memandangnya dengan penuh sendu, membuat Fla dan yang lainnya memperhatikan pandangan Ara terhadapnya.
Fla pun mengelus bahu Ara karena merasa tak tega dengannya, "Ra ...," panggil Fla dengan lembut, membuat Ara seketika menoleh ke arahnya.
"Kenapa?" tanya Ara dengan nada yang terkejut, dan memaksakan tersenyum pada mereka.
"Gue tahu kok ini berat buat loe, tapi tenang aja ... loe gak akan sendirian ngelewatin ini," gumam Fla, membuat Ara mengerti tentang maksudnya.
Karena Fla dan yang lainnya melihat Ara yang tiba-tiba memperhatikan Morgan yang melewati kelas mereka, suasana menyenangkan sebelumnya, kini menjadi sendu. Semua juga merasakan sedih ketika Ara memandang sendu ke arah Morgan tadi.
Rafa mengelus bahu sebelah Ara, "Tenang aja, ada kita kok! Jangan lihat masa lalu, jangan lihat ke belakang, lihat ke depan aja ya!" gumam Rafa, yang berusaha meyakinkan Ara lebih dalam lagi.
Ray tersenyum, "Iya, Ra. Jangan sedih lagi, ya!" ucap Ray.
Ray berdiri di hadapan Ara, dan ingin mengelus wajah Ara, tetapi Rafa dan Fla yang mengetahuinya segera menepis tangan nakal Ray.
"Aduh ... sakit!" lirih Ray, membuat Rafa dan Fla mendelik ke arahnya.
"Apa loe? Kesempatan megang-megang Ara!" bentak Fla dengan mata yang sudah mengeluarkan api, membuat Ara tertawa kecil melihatnya.
"Ih, gue kan mau semangatin Ara! Memangnya, gak boleh apa?" tanya Ray yang agak takut, membuat Rafa mendelik.
"Enak aja! Ara udah jadi bini orang, jangan diganggu!" bantah Rafa, membuat Ara dan Fla tertawa kecil mendengarnya.
Mereka pun tertawa seperti sebelumnya, karena merasa sudah tidak ada beban di antara mereka, karena Ray yang sudah berhasil mencairkan suasana.
__ADS_1
...***...