Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Luluh


__ADS_3

Morgan hanya memandang Ara dengan tatapan yang datar. Lagi-lagi Ara kesal dengan sikap Morgan yang semaunya saja, tanpa ada kompromi dengan Ara.


Ara merasa bahwa dirinya tidak akan kuat, kalau harus terus-menerus merasakan tegang, bila sedang bersama Morgan.


“Kalau di luar, saya takut mereka masih ngejar kita. Satu-satunya cara, ya dengan menginap di hotel terdekat. Karena mereka sudah kenal dengan mobil yang saya pakai. Karena cuma saya yang pakai mobil ini di daerah ini,” ucap Morgan yang sudah menyadarkan Ara tentang keselamatan mereka berdua.


Meskipun Ara tidak tahu tentang permasalahan yang terjadi, dan tidak ada sangkut-pautnya mengenai ini, Ara juga tidak sampai hati meninggalkan Morgan sendirian di sini.


Ara mendelik, “oke kalau gitu. Tapi, janji gak akan ngelakuin apa pun, ya?” tanya Ara dengan nada menagih.


Morgan tersenyum pada Ara, seakan mengisyaratkan ketidakberaniannya untuk berjanji pada Ara.


Ara mendelik sembari mendengus kesal, karena perilaku Morgan itu. Tapi, tak ada lagi yang bisa Ara katakan, karena ia juga tidak ingin terjadi sesuatu pada dirinya.


Mereka pun segera pergi dari sana, dan perlahan menuju ke suatu hotel terdekat, yang sekiranya berjarak sekitar 200 meter dari tempat mereka singgah tadi.


Di perjalanan menuju hotel itu, Ara terus-menerus melihat ke arah spion, untuk memastikan keadaan sekitar. Tak bisa dipungkiri, Ara sangat trauma dengan kejadian yang baru saja terjadi.


Meskipun, Ara sama sekali tidak terlibat pada masalah yang terjadi, tapi mereka mungkin saja sempat melihat Ara, yang sedang bersama dengan Morgan sejak tadi.


Ara menoleh ke arah Morgan, yang wajahnya masih saja terlihat tegang.


Aku masih tidak menyangka. Sebenarnya, ada apa antara Morgan dengan laki-laki yang sepertinya tidak asing bagiku itu? Pikir Ara.


Mereka sudah sampai pada basement hotel, tempat mereka akan bermalam.


Morgan melihat ke sekeliling dari tempatnya memarkirkan mobilnya. Kiranya dirasa aman, Morgan segera melepaskan sabuk pengamannya, begitu pun Ara.


Morgan terlihat sedang mengeluarkan handphone-nya. Ara mengintip sedikit ke arah Morgan yang sedang asyik bermain gadget. Ternyata, Morgan sedang memesan tiket di hotel ini, melalui aplikasi.


Morgan menoleh ke arah Ara, “nanti, jangan pernah lepas tangan saya, ya,” ucap Morgan, membuat Ara mengangguk.


Tak ada lagi yang bisa Ara lakukan, selain menuruti semua yang Morgan ucapkan. Ini semua ia lakukan, untuk menjaga keselamatan dirinya dan juga keselamatan Morgan.


Mereka pun keluar dari mobil, tak lupa untuk mengambil barang-barang berharga mereka, yang ada di dalam mobil.


Ara berjalan menyelaraskan langkah Morgan yang jenjang. Ara bingung, kenapa Morgan tidak memegang tangannya, seperti yang ia ucapkan tadi.

__ADS_1


Ara menoleh ke arahnya.


“Grepp ....”


Ara terpaksa menyambar dan menggenggam tangan Morgan itu, membuat Morgan menoleh ke arah Ara.


Tangannya terasa dingin sekali. Apa dia sekarang sedang gugup? Pikir Ara.


“Jangan cepet-cepet sih!” bentak Ara, Morgan hanya tersenyum padanya.


Entah kenapa, Ara tiba-tiba saja menjadi sangat kesal, karena dalam situasi seperti ini, Morgan masih saja bisa tersenyum. Tidak seperti dirinya yang sejak tadi tegang, dan cemas karena terus memikirkan keselamatan mereka.


Ingin rasanya aku memukul kepalanya itu, agar dia bisa kembali berpikir dengan normal, pikir Ara.


Mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju lobi hotel.


Sesampainya di sana, mereka langsung mengonfirmasi tentang kamar yang sudah Morgan pesan sebelumnya. Setelah terkonfirmasi, mereka kemudian segera mengambil kunci kamar hotel.


Ara bergerak masuk ke dalam kamar yang sudah mereka pesan.


“Ckleekk ….”


Suasana mulai terasa mencekam, saat Ara dan Morgan sudah sama-sama duduk di pinggir ranjang. Ara tidak tahu, mengapa suasana sekarang mendadak berubah menjadi canggung. Padahal, untuk melakukan hal yang lebih dari sekedar duduk berdua saja, mereka sudah sering kali melakukannya bersama.


Padahal, mereka duduk saling berjauhan. Sekitar satu meter lebih jauh, dari jarak biasa untuk orang yang sedang berbincang.


Ara berusaha melirik ke arah Morgan, karena tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Ia hanya bisa diam, sembari menunggu Morgan berbicara.


Ara kembali melirik ke arah Morgan yang ternyata sedang melirik ke arahnya juga. Ara tertangkap basah sedang melirik ke arah Morgan. Ara pun mengalihkan pandangannya, begitu pun Morgan.


‘Duh ... kenapa jadi canggung begini, ya?’ batin Ara yang sedang berusaha mengatur detak jantungnya yang tidak beraturan itu.


Jantungnya terus berdegup tak keruan, sejak pertama masuk ke dalam kamar hotel ini. Apa lagi, Morgan juga mengunci kamar ini dengan kunci ganda. Ara jadi semakin canggung karenanya.


Morgan heran dengan keadaan yang canggung ini. Ia menghela napasnya, dan memberanikan diri untuk menoleh ke arah Ara.


“Ekhmm ...,” Morgan pun berdeham, membuat Ara melirik ke arahnya.

__ADS_1


Terlihat Morgan yang nampak tegang, dengan wajahnya yang sudah terlihat pucat. Morgan melonggarkan kancing kemeja yang ia pakai, yang sudah mencekik lehernya tanpa sengaja.


“Kalo gerah, buka aja jasnya,” ucap Ara dengan asal.


Morgan spontan menoleh ke arah Ara, membuat Ara menatapnya dengan tatapan bingung.


Apa ada yang salah dari ucapan ku? Pikir Ara.


Morgan dengan segala keraguan dan keresahan yang ada, segera membuka jas yang ia kenakan, sesuai perintah Ara, membuat Ara membulatkan matanya. Rupanya, Ara sudah mulai sadar dengan apa yang ada di pikiran Morgan.


‘Bodoh! Gue malah nyuruh dia yang engga-engga! Padahal kan, dia gak mau buka awalnya. Kok gue jadi kayak terkesan murahan gitu ya?’ batin Ara yang terus-menerus mengaduh, menyalahkan dirinya sendiri.


Ara memberanikan diri menatap ke arah Morgan, “gimana masalahnya sih? Coba ceritain masalahnya ke gue biar gue paham,” ucap Ara, berusaha mendominasi keadaan, agar terkesan tidak rancu.


Morgan hanya memandangnya dengan tatapan putus asa, membuat Ara tak mengerti.


“Gue cuma takut, ini bakalan berdampak serius buat loe ke depannya. Dan mungkin bakalan berdampak buruk juga buat gue ke depannya,” papar Ara panjang lebar.


Morgan masih tetap saja diam, sambil mengepalkan kedua tangannya yang digabungkan menjadi satu. Lama-lama, Ara menjadi muak sendiri dengan sikapnya yang terus-menerus diam.


Ara membolakan matanya, “please deh, Gan! Diam gak akan bisa menyelesaikan masalah. Gue gak suka kalau loe terus-menerus diam begini. Percuma ada gue di sini yang loe seret, tapi loe gak ada penjelasannya sama sekali ke gue. Gimana bisa gue ngasih solusi dan nyelesain masalah yang ada sekarang?” Ara mengoceh pada Morgan, yang sedari tadi hanya menunduk, seperti sedang memikirkan sesuatu.


Ara khawatir dengan kesehatan mentalnya, kalau ia terus-menerus introvert seperti ini.


Mungkin, sebuah pelukan hangat bisa mencairkan suasana, pikir Ara.


Ara mempersiapkan dirinya untuk itu.


“Greppp ....”


Ara memeluk Morgan dengan hangat. Morgan tidak bergerak sama sekali dari posisinya. Ara bingung, harus mulai bicara dari mana. Ia ingin sekali membantu Morgan.


Morgan mengerti dengan maksud dan tujuan Ara memeluknya. Tak lama kemudian, ia membalas pelukan hangat Ara. Kini, mereka saling berpelukan untuk melepas ketegangan dari yang telah mereka lewati pada hari ini.


“Saya takut ...,” lirihnya sembari menambahkan erat pelukannya itu.


Ara menahan air mata yang hampir ke luar dari pelupuk matanya. Ara juga merasakan kesedihan yang dialami Morgan saat ini.

__ADS_1


Dengan perasaan aneh yang Ara alami saat ini, tak sadar Ara mengelus-elus punggung Morgan, kemudian melepaskan pelukannya dan menatap Morgan dengan sendu.


“Baiklah, saya ceritain dari awal ....”


__ADS_2