Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Mengobati Goresan Luka


__ADS_3

Ara mengambil kompres, obat merah dan kain kasa untuk mengobati luka Ilham yang sudah berubah warna menjadi merah lebam. Ada beberapa luka yang juga sampai mengeluarkan darah.


Ara memeras handuk kecil itu, kemudian menempelkannya pada luka di wajah Ilham.


"Aww ...," rintih Ilham, yang merasa lukanya sangat perih, padahal Ara sudah sangat lembut menempelkan handuk itu ke sudut bibirnya.


"Aduh ... maaf," gumam Ara yang tidak tega melihat Ilham yang kesakitan seperti ini.


Ilham mengelus tangan Ara yang ia gunakan untuk mengompres wajah Ilham, membuat Ara merasa sendu melihatnya.


"Apa kamu gak apa-apa? Mau kita lapor polisi?" tanya Ara, membuat Ilham tersenyum.


"Untuk apa? Toh ... aku sama-sama mukul dia. Kecuali cuma dia yang pukul aku. Memangnya kamu mau, kalau aku sampai kena hukuman juga?" tanya Ilham, membuat Ara sendu mendengarnya.


"Terus gimana, luka kamu?" tanya Ara, membuat Ilham lagi-lagi tersenyum padanya.


"Gak apa-apa. Hanya luka kecil, harusnya bisa sembuh dengan cepat. Wajar lah ... namanya juga laki-laki," jawab Ilham, membuat Ara tak tega mendengarnya.


Ara melanjutkan aktivitasnya untuk membersihkan luka Ilham. Terakhir, tak lupa ia memakaikan obat merah, dan juga menempelkan kain kasa.


Ilham mendelik, "Gak perlu pakai kasa," tolak Ilham, membuat Ara tidak jadi menempelkan kasa di wajahnya.


Ara melanjutkan menempelkan plester di kening Ilham, di sekitar siku tangan, siku kaki, dan juga pada area tertentu di sekitar tangannya. Akhirnya, Ara sudah selesai mengobati Ilham.


Karena sudah terlalu larut, Ilham pun bergegas untuk beranjak ke meja kerjanya, untuk sekadar menorehkan perasaan dirinya pada hari ini.


Ara sudah tertidur sejak tadi, karena merasa tidak enak badan dan juga tak dipungkiri, bertemu dengan masa lalu yang masih ia sayangi ternyata menguras mental dan perasaan.


Ilham tidak menyalahkan Ara, karena ia tahu kalau Ara masih menyayangi Morgan, namun masih tetap memilih dirinya. Sama halnya dengan sikap Ara pada Reza.

__ADS_1


Ilham jadi teringat dengan hadiah pemberian Reza kemarin. Ia sama sekali belum memberikannya pada Ara. Entah mengapa, Ilham tidak ingin Ara sampai mengetahui apa yang sudah Reza berikan padanya.


..."Hati kamu goyah, tidak? Kenapa kamu tidak memilih mereka dan masih memilih saya? Padahal kan ... seharusnya saya sudah tidak ada hubungannya lagi dengan kamu, karena bayi yang kamu kandung sudah gugur. Harusnya, kamu tidak butuh saya lagi untuk menyelamatkan status sosial kamu. Namun, kalau disuruh menjauhi kamu, terus-terang saya pun gak bisa. Hubungan kita sudah sampai sedalam ini. Saya jadi tidak ingin melepaskan kamu. Entah kenapa, rasa egois itu tiba-tiba saja muncul di hati saya. Padahal, saya sadar kalau saya tidak akan bisa selamanya menemani kamu."...


Ilham menorehkan demikian pada lembaran kosong buku diary-nya. Berbagai pertimbangan selalu ia pikirkan, demi kebahagiaan Ara ke depannya.


Ilham menoleh ke arah Ara yang sudah tertidur pulas itu, "Aku sayang kamu, Ra," gumam Ilham, memandang sendu ke arah Ara.


Ilham meletakkan kembali buku catatannya pada tempatnya semula. Ia mengambil kalung pada saku celananya, dan memperhatikan kalung tersebut dengan saksama.


"Akan selalu saya pegang. Tidak akan saya lepaskan sebelum waktunya tiba," gumam Ilham lirih, sembari memperhatikan kalung milik Ara tersebut.


Ia pun menyimpan kembali kalung tersebut, dan mengeluarkan beberapa kotak obat. Ia menenggak 8 jenis obat sekaligus, dan segera menenggak habis air mineral yang selalu tersedia di meja kerjanya.


Usai meminum obat tersebut, ia segera beranjak menuju ranjangnya di samping Ara. Ia menutup saklar lampu, kemudian memejamkan matanya.


Di luar kediaman Ilham, Morgan melihat lampu ruangan kamar utama sudah dipadamkan. Ia memandang sendu ke arah rumah sederhana type 56 tersebut, dan kembali menyandarkan kepalanya pada kursi kemudi.


"Mereka benar sudah menikah. Lantas saya harus apa?" gumam Morgan dengan sendu, merenungi nasib dirinya sendiri.


Ia tidak bisa maju, tetapi juga tidak bisa mundur begitu saja. Self healing yang ia lakukan di Amerika selama 4 bulan kemarin, sangat sia-sia ia lakukan ketika melihat pemandangan Ara yang sedang bercumbu mesra dengan Ilham di mobilnya.


Morgan mengusap kasar wajahnya, merasa sangat idiot dalam hal ini. Ia tidak mengerti dengan hatinya, kenapa bisa ia melepaskan Ara begitu mudahnya? Padahal, mungkin saja Ilham sudah mengincar Ara ketika ia putus hubungan dengan Morgan.


"Bego banget!!" teriak Morgan.


"Brakk!!"


Ia menggebrak stir kemudi, karena merasa kesal dengan dirinya sendiri. Entah apa maunya hati, Morgan sama sekali tidak mengerti dengan perasaannya. Hatinya kesal melihat kejadian Ara dan Ilham kala itu, tetapi hatinya juga kesal ketika melihat Ara dan Ilham sudah menikah saat ini.

__ADS_1


...***...


Ara membuka matanya, dengan perlahan mencoba memfokuskan pandangannya yang masih kabur. Ia menoleh ke arah sebelah ranjangnya, tetapi ia sama sekali tidak bisa menemukan suaminya.


"Srakk ...."


Ara mendengar suara dari kamar mandi, menandakan bahwa sedang ada seseorang di dalamnya. Siapa lagi kalau bukan Ilham.


Ara menoleh ke arah jam dinding, dan melihat jam yang masih menunjukkan pukul 5 pagi.


"Dia kok rajin banget? Masih gelap udah mandi aja?" gumam Ara, yang merasa kalah dengan suaminya.


Bahkan dirinya sendiri yang merupakan seorang wanita, ternyata kalah gesit dengan suaminya.


"Cklekk ...."


Ilham keluar dari kamar mandi, hanya dengan mengenakan sehelai handuk yang ia lilitkan pada pinggangnya. Melihat pemandangan itu, Ara menjadi sangat terpacu dengannya.


Memandang Ara yang sudah terbangun, Ilham pun tersenyum, "Sudah bangun ternyata," ujar Ilham, membuat Ara tersenyum ke arahnya.


Entah kenapa, Ara merasakan sesuatu yang sudah mulai biasa antara dirinya dengan Ilham. Memang awalnya, mereka merasa sangat malu satu sama lain. Namun, kali ini sudah lebih bisa menerima kenyataan dengan baik, walaupun masih ada getaran di hati keduanya.


Ilham melangkah ke meja kerjanya, berusaha membuka plester yang sudah ia siapkan sebelumnya. Mengetahui niat Ilham, Ara segera melangkah dan membantu Ilham memasangkan plester itu di setiap luka yang ada.


Ilham tersenyum memandang sikap Ara yang manis, "Terima kasih, sayang," gumam Ilham dengan lembut, membuat Ara menatapnya dengan senyuman.


"Iya," jawab Ara dengan singkat.


Ilham masih saja terpikir dengan kejadian kemarin bersama Morgan. Tak bisa dipungkiri, Ilham kini sudah benar-benar takut kehilangan Ara.

__ADS_1


Ilham memandang ragu ke arah Ara, "Kalau bisa, hari ini jangan masuk kuliah dulu," gumam Ilham, membuat Ara seketika terdiam mendengarnya.


__ADS_2