Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Tabir Kehidupan


__ADS_3

Sore itu, Fla sangat khawatir karena Arash yang sama sekali tidak bisa dihubungi. Biasanya, Arash selalu memberi kabar, dan menyempatkan diri untuk meneleponnya, di sela-sela waktu luang Arash.


Tapi, sudah sejak pagi sampai sore seperti ini, Arash sama sekali tidak ada memberinya kabar.


"Duh ... kenapa, ya?" gumam Fla, membuat dirinya merasa pusing sendiri dengan keadaan Arash.


Apa ada sesuatu yang terjadi? Kok sepertinya aku ngerasa gak tenang ya? Pikir Fla, yang sedari tadi tidak tenang dengan keadaan Arash.


Seperti ada ikatan batin di antara mereka.


"Apa aku ke sana aja nanti?" gumam Fla bertanya-tanya.


Ia berpikir sejenak, dan mengubah pikirannya, karena Arash yang sudah dewasa, tidak mungkin terjadi apa pun yang sangat berarti padanya. Terlebih lagi dirinya itu adalah seorang pria, minim kemungkinan terjadi sesuatu yang buruk pun sangat sedikit.


Fla mendelik, "jangan-jangan dia lagi sama cewek lain?" gumam Fla lagi, yang mulai berpikiran sempit terhadap Arash.


Fla seperti kebakaran jenggot, ia tidak bisa tenang tapi terpaksa harus tenang, karena dirinya harus berpikir secara rasional.


Tidak seperti Ara, yang lebih mengedepankan perasaan dan emosinya, Fla justru sebaliknya.


Fla menghela napas panjang, "oke Fla, tenang ... kak Arash gak mungkin kenapa-napa. Santai aja," lirih Fla, membuat dirinya kembali menjadi tenang.


Namun, namanya wanita, pasti mempunyai batas kesabaran yang pendek.


"Ih ... tapi aku khawatir!" Fla membentak dirinya sendiri, karena merasa logikanya sudah kalah dengan perasaannya.

__ADS_1


"Apa aku telepon lagi aja kali, ya?" gumam Fla lagi, yang lalu segera mengambil handphone-nya, dan menekan nomor telepon Arash.


Di sana, Arash, Ilham beserta Rangga sedang berdiri di hadapan makam ibu dan ayah Arash. Arash memandang batu nisan dengan sendu, karena dirinya yang merasa sudah gagal untuk menjalankan amanat yang ia emban.


Handphone Arash berdering, membuat suasana menjadi buyar seketika. Arash seketika merogoh sakunya, dan melempar dengan cukup kencang handphone-nya ke hadapannya, membuat Ilham dan Rangga mendelik kaget dengan kelakuannya itu.


'Kenapa dia sampai seperti itu?' batin Ilham, yang bingung dengan sikap Arash yang sudah terlalu over menurutnya.


Ilham dengan segera mengambil handphone Arash, yang tidak terlalu jauh ada di hadapannya. Untuk berjaga-jaga, Ilham mengambilnya dan meletakkan handphone itu di dalam saku jas hitamnya. Ilham pun kembali berdiri di sebelah Arash.


"Bu ... jadi ini rasanya kerja keras seperti ibu?" gumam Arash sendu, sembari meratapi nasibnya saat ini.


Arash sudah hampir tidak memiliki apa pun lagi saat ini. Uang yang sudah ia dapatkan dengan susah payah, tiba-tiba harus lenyap begitu saja. Belum lagi tagihan gaji karyawan, yang nantinya harus dibayarkan pada tiap-tiap karyawan, membuat Arash semakin kelimpungan sendiri dibuatnya.


"Brukk ...."


Rangga mendelik, dan segera ingin membangunkan Arash yang sudah tertunduk lemas itu, tapi tangan Ilham menghalangi Rangga agar tidak melakukan hal itu.


Rangga sontak mendelik karena bingung dengan hal yang Ilham pikirkan. Ilham menarik Rangga untuk menjauh sedikit dari arah Arash.


"Ada apa Pak Ilham? Kenapa saya gak boleh hantu beliau?" tegur Rangga, membuat Ilham memandangnya dengan tajam.


"Biarlah dia melakukan hal yang dia suka, selama masih di dalam batas. Kasih dia waktu sebentar, supaya bisa meluapkan emosi dan kekesalannya," ucap Ilham, membuat Rangga mendelik.


Rangga mengerti maksud dan tujuan Ilham, membuatnya mengangguk kecil menuruti apa yang Ilham perintahkan.

__ADS_1


Mereka memandangi Arash yang terus meneteskan air matanya sembari menundukkan kepalanya. Mereka tidak bisa melakukan apa pun selain memperhatikannya dari kejauhan, sama seperti yang selalu Ilham lakukan sejak dulu.


"Bu, apa Arash gak pantas buat sukses? Apa gak cukup cita-cita Arash saja yang tidak tergapai? Kenapa harus bisnis ini juga yang ikut tidak tergapai? Kenapa semua beban harus bertumpu pada Arash, Bu?" gumam Arash lemas, hanya menunduk tak memandangi nisan ibunya.


Arash merasa dirinya sangat tertekan dengan beban di pundaknya, yang ia pikul sejak ia masih kecil, sampai mengorbankan angan dan cita-citanya. Tapi saat ini ia justru gagal, dan tidak bisa meraih keduanya.


"Maafin Arash, Bu. Tender kali ini, gagal. Arash sudah mengeluarkan banyak dana secara cuma-cuma. Arash gagal pertahankan semuanya, sebelum Arasha lulus kuliah dan bantu Arash untuk ngembangin perusahaan sama-sama. Maafin Arash," gumam Arash yang sangat merasa bersalah di hadapan ibunya.


Jika Arasha bisa melihat, saat ini ibunya pun sedang menangis di hadapannya, sembari membelai lembut rambut Arash yang sudah basah karena keringatnya yang terus mengucur, dan juga sampai membasahi dahinya.


Ibunya sangat sedih, mendengar perkataan anaknya itu. Namun, ibunya yang sudah berbeda alam itu, tidak bisa berbuat apa pun.


"Arash harus gimana lagi, Bu?" gumam Arash, yang tetap terus meneteskan air matanya, namun tak menampakkan wajahnya yang sudah penuh dengan air mata itu.


Rangga menatapnya dengan sendu, "memangnya beliau sudah biasa seperti ini, Pak?" tanya Rangga, yang penasaran dengan sosok seorang presdir yang menurutnya sangat tegar.


Ilham menoleh ke arahnya, "sekuat-kuatnya seseorang, pasti ada titik terlemahnya, dan ada titik terendah di dalam kehidupannya. Karena Arash sudah tidak ada tempat mengadu, dia terpaksa menahan semuanya sendiri. Apalagi, dia masih punya tanggungan yaitu adiknya. Dia masih harus menjaga adiknya dan memberi tempat ternyaman, sebelum nanti dipinang," ucap Ilham menjelaskan, membuat Rangga mendelik, dan segera menoleh ke arah Ilham.


"Begitu," gumam Rangga, yang pikirannya terbuka karena ucapan Ilham.


Begitulah Ilham, selalu menyalurkan energi positif kepada semua orang yang sedang terjatuh. Tanpa ia sadari, psikiater pun perlu konseling juga pada orang lain. Dengan kata lain, walaupun Ilham terus memberikan energi positif pada mereka, ia juga harus mendapatkan energi positif dari orang lain, jika tidak mau energinya habis.


Rangga menatap Ilham dengan heran, "memangnya, sedekat apa Pak Ilham dengan presdir?" tanya Rangga, membuat Ilham mendelik kaget mendengar ucapannya itu.


Ilham menunduk, meratapi hubungan dirinya di masa lalu dengan Arash. Ia juga teringat dengan sikap introvertnya di masa lalu, yang selalu membuat Arash kesulitan.

__ADS_1


Mengingat hal itu, Ilham jadi malu sendiri dibuatnya. Terlebih lagi, Ilham sempat meninggalkan Arash setelah ibu Arash meninggalkan Arash untuk selamanya. Tapi, bukan tanpa sebab Ilham melakukan semua itu.


"Saya ... belum dikatakan dekat dengan Arash. Malah, saya merasa sangat asing," jawab Ilham dengan nada datar, berusaha sekuat tenaga untuk tidak berekspresi di hadapan Rangga.


__ADS_2