
Ara sudah tiba di rumah petang ini. Ia sudah menghabiskan waktu bersama dengan Hatake seharian, sampai waktu pun tak terasa sudah bergulir. Keseruannya kali ini, sudah membuatnya merasa begitu nyaman bersama dengan Hatake, tentunya hanya sebagai seorang sahabat saja. Ara masih tetap pada batasannya, dan tidak melebihi itu.
Ternyata, menyenangkan bisa berteman dengan Hatake, pikir Ara.
Ara merogoh saku celananya, dan melihat di hadapannya saat ini ada sebuah gantungan yang mirip sekali dengan wajah Morgan. Ara tak sengaja melihat toko pembuat kerajinan itu di sekitar mall, membuatnya tak tahan ingin membeli itu untuk ia berikan kepada Morgan dan juga ia simpan sebagai kenangan.
Ara tersenyum sesekali, sembari berjalan gontai menuju kamarnya, dengan membawa seluruh barang-barang yang sudah ia beli di mall tadi.
Sesampainya di kamar, Ara pun melemparkan tas selempang dan juga bingkisan kado itu, ke atas ranjang.
“Duh … capek, ya?” gumam Ara, yang baru merasakan efek lelah selama perjalanannya bersenang-senang di mall tadi.
Ara mengebas-ngebas tangannya ke arah lehernya, karena suhu tubuhnya yang terasa sangat panas, padahal AC di ruangan itu tidak pernah sekalipun dimatikan.
“Mandi dulu kali, ya?” gumam Ara, yang sepertinya bingung, karena suhu malam ini yang cukup dingin dari biasanya, membuatnya agak ragu untuk membasuh tubuhnya, khawatir menggigil nantinya.
“Tapi kalau gak mandi, ya bau, dong!” gumamnya lagi sembari berpikir.
Ara pun terdiam beberapa saat.
“Mandi aja deh!”
Ara bergegas untuk membersihkan tubuhnya. Kali ini, Ara merasa sangat bersemangat, karena sebentar lagi, dirinya akan segera bertemu dengan Morgan.
Setelah selesai membersihkan tubuh, dan sudah selesai berdandan, Ara pun mengemas barang-barang yang hendak ia bawa, ke dalam kopernya.
Sebelumnya, Morgan memberikan sedikit bocoran akan ke mana mereka pergi nantinya.
"Kalau di sana kan dingin, apa aku perlu bawa mantel double, ya?" gumam Ara, sembari berpikir.
“Ah … bawa aja,” gumam Ara.
Ara menjatuhkan pilihan untuk membawa kedua mantel tersebut. Ia melipat dengan rapi, dan memasukkan keduanya ke dalam koper.
"Bawa make up secukupnya aja kali, ya?"
Ara kembali mengemas peralatan make up dirinya. Ara hanya membawa face wash, lipstick, dan juga serum. Tidak banyak yang ia bawa, mengingat kopernya juga yang tidak terlalu besar.
__ADS_1
"Siap! Tinggal nunggu Morgan dateng," gumam Ara, yang sudah menyelesaikan mengemas barang-barangnya.
“Drtt ….”
Handphone Ara bergetar, ia pun segera memeriksa notifikasi tersebut.
“Saya sudah sampai di kafe dekat rumah.” Isi pesan singkat dari Ilham.
Ara mendelik kaget, “oh iya, aku kan udah janji mau ketemuan sama kak Ilham,” gumam Ara, yang sudah lupa dengan janjinya bersama Ilham, saking semangatnya dia untuk menyiapkan dirinya bertemu dengan Morgan.
Ara pun segera bersiap-siap, untuk menuju ke tempat yang ia janjikan. Ia melangkah menuju ke arah pintu kamarnya, namun langkahnya terhenti karena ia yang tiba-tiba saja teringat sesuatu.
“Oh ya, kadonya sampai lupa!” gumam Ara, yang segera kembali ke kamarnya, dan segera mengambil kado untuk diberikan kepada Ilham.
Ara pergi dengan sangat cepat, khawatir kalau Ilham menunggu lama.
Ara berjalan kaki menuju kafe, karena letak kafe yang memang berada tak jauh dari rumahnya. Dengan derap langkah, Ara melangkahkan kakinya, sampai ia tiba di kafe yang dimaksudkan.
Dari arah pintu, Ilham tak sengaja melihat Ara, yang sepertinya sedang mencari-cari dirinya. Ilham tersenyum, dan melambaikan tangan ke arah Ara, membuat Ara melihatnya dan segera menghampirinya.
“Maaf, nunggu lama ya, Kak?” tanya Ara, membuat Ilham tersenyum.
Ara mengerenyitkan dahinya, “tadi Kak Ilham bilang apa?” tanya Ara yang tidak mendengar dengan jelas ucapan Ilham yang sangat lirih tadi.
Ilham melontarkan senyum, dan segera bangkit untuk menarikkan kursi untuk Ara.
“Silakan duduk,” gumam Ilham yang sudah menarikkan kursi untuk Ara.
Ara pun terdiam, sembari melontarkan senyum ke arah Ilham, kemudian segera menempati kursi tersebut.
Ilham kembali pada tempatnya.
“Kamu sudah makan?” tanya Ilham, membuat Ara menggelengkan kepalanya.
Ilham mengerenyitkan dahinya, “kenapa belum makan?” tanya Ilham yang terselip nada kekhawatiran di sana.
“Tadi cuma sarapan dan coffee break aja sama temen, jalan-jalan seharian ternyata bikin lupa waktu, sampai lupa makan segala,” jawab Ara, membuat Ilham menafikan pandangannya sejenak, lalu kembali memandang ke arah Ara.
__ADS_1
“Sama teman?” tanya Ilham, membuat Ara mengangguk dengan cepat.
“Namanya Hatake. Dia bukan orang asli sini, tapi dia orang Jepang. Aku seneng banget ngobrol sama dia, karena dia tuh orangnya responsif. Selalu asik diajak ngobrolnya. Dia juga waktu itu pernah nolongin aku, pas aku hampir diapa-apain sama preman,” ucap Ara menjelaskan, membuat Ilham mengerenyitkan dahinya.
‘Jadi, nama pria yang saya tolong waktu itu, Hatake? Kenapa dia bisa dekat dengan Ara?’ batin Ilham yang berusaha menyimpulkan tentang pria yang ia tolong waktu itu, saat Ilham menguntit Ara dari belakang.
“Kak …,” pekik Ara, membuat Ilham tersadar dari lamunannya.
“Kenapa ngelamun?” tanya Ara, membuat Ilham tiba-tiba saja tersenyum ke arah Ara.
“Gak apa-apa. Kita makan dulu, ya?” tawar Ilham, yang segera memanggil pelayan untuk memesan makanan.
“Jangan, Kak!” pekik Ara, membuat Ilham tak jadi memanggil pelayan itu.
Ilham menoleh ke arah Ara, “lho, ada apa, Ra? Kok gak mau makan? Katanya belum makan?” tanya Ilham, membuat Ara menyeringainya.
“Aku gak lama kok di sini. Lagipula, aku mau berlibur sama pacar aku sebentar lagi. Jadi, aku cuma bisa sebentar ke sini.”
“Degg ….”
Ucapan Ara mampu membuat Ilham mendelikkan matanya. Ia tak menyangka, Ara akan berlibur bersama dengan Morgan, membuat Ilham tiba-tiba saja menjadi tidak mood.
‘Lagi-lagi saya kalah langkah,’ batin Ilham, yang sudah pasrah dengan perasaannya kini.
Walaupun Ilham sangat tidak rela mendengar hal itu, tapi, ia mengerti posisi dirinya yang bukan siapa-siapa bagi Ara.
Ilham hanya bisa melontarkan senyuman pasrah ke arah Ara, berusaha tegar saat berhadapan dengan orang yang sangat ia sayangi itu.
Ara mendelik ke arah bingkisan yang ia bawa, “ini untuk Kak Ilham,” ucap Ara sembari menyodorkan bingkisan itu ke arah Ilham.
Ilham pun terdiam sesaat, memandang sendu ke arah hadiah yang Ara berikan.
‘Apa masih pantas saya menerima pemberian dari dia? Yang ada nanti, saya malah gak bisa lupain dia,’ batin Ilham yang masih bimbang dengan keadaan.
“Terima kasih, karena Kak Ilham waktu itu udah nolong aku,” gumam Ara lagi, membuat Ilham memandang ke arahnya.
Dengan berat hati, Ilham mengambil hadiah yang Ara sodorkan, dengan melontarkan senyuman ke arah Ara, membuat Ara membalas senyuman Ilham kembali.
__ADS_1
“Terima kasih ya, saya terima hadiahnya,” ucap Ilham, membuat Ara mengangguk kecil.
Kiranya dirasa cukup, Ara segera bergegas merapikan barang-barang yang ia bawa, kemudian segera bangkit dari tempatnya.