Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Kekhawatiran Sahabat


__ADS_3

Di sana, Fla sangat khawatir dengan Ara yang tidak bisa dihubungi, karena Fla yang sudah melewatkan telepon dari Ara.


Alhasil, Fla mencoba menelepon Arash, namun Arash juga sama sekali tidak mengangkat telepon darinya.


"Ara kenapa, ya? Apa ... dia udah tahu kalau kak Morgan hari ini berangkat ke Amerika?" gumam Fla, yang nampak sangat khawatir dengan keadaan Ara.


Tiba-tiba saja teringat dengan semua teman-temannya. Fla pun membuat video call bersama mereka.


Satu per satu teman mengangkat telepon darinya, terkecuali Ara dan juga Farha. Hanya Ray dan Rafa yang mengangkatnya.


"Halo, Fla? Ada apa?" tanya Rafa, yang terlihat seperti sedang bermain salju.


Fla menjadi bingung dengan keadaan Rafa, "Loe di mana, Raf? Kok ada salju, sih?" tanya Fla yang bingung dengan keberadaan temannya itu.


"Lagi jalan-jalan, lah! Gak ngajak kita dia," celetuk Ray, membuat Rafa mengubah gimiknya menjadi sangat kesal.


"Apa sih loe, nyari ribut aja!" bentak Rafa, membuat Ray menyeringai ke arahnya.


"Hah, loe lagi jalan-jalan, Raf? Ke mana?" tanya Fla.


"Korea. Ke rumah Kim," jawab Rafa dengan sangat tegas, membuat Fla dan Ray tak percaya dengan apa yang ia ucapkan.


"Hah?!" pekik Fla dan Ray secara bersamaan, membuat Rafa mengerenyitkan dahinya.


"Kenapa sih, kalian kok kayak kaget gitu?" tanya Rafa, membuat Fla masih saja menganga dibuatnya.


"Yang benar aja loe, Raf?" tanya Ray, yang merasa agak jengkel mendengar teman sekaligus rivalnya, sedang berlibur bersama dengan salah satu calon dosen, yang akan mengajar di kampusnya itu.


"Iya. Gue sama Kim, mau persiapan, married coy!" gumam Rafa yang sangat senang, membuat Fla dan Ray mendadak tak percaya dengan apa yang barusan ia katakan.


"Wah, yang bener aja, Raf?" tanya Fla dengan sangat tidak percaya.


"Pasti loe guna-guna kan, tuh si Kim?" gumam Ray, yang menerka-nerka kejadian.


"Sembarangan! Cowok ganteng kayak gue, mana ada pakai begituan?" bantah Rafa, membuat Fla dan Ray berpura-pura ingin muntah di hadapannya.


"Gaya loe!" cemooh Ray, membuat Rafa tertawa kecil padanya.

__ADS_1


"Gue gak mau kalah dong sama Ara dan Pak Morgan. Gue juga mau buru-buru nikah," gumam Rafa, membuat Fla mengingat tujuan utama ia menelepon teman-temannya.


Fla pun mendadak sendu mendengarnya, "Gaes ... ada yang mau gue sampaikan ke kalian," gumam Fla yang sangat serius dengan ucapannya kali ini, membuat Ray dan Rafa agak canggung melihat perubahan sikap Fla yang tiba-tiba.


"Memangnya ada apa, Fla?" tanya Rafa, membuat Fla menghela napasnya panjang.


"Ara udah gak sama kak Morgan," gumam Fla membuat Ray dan Rafa mendelik tak percaya.


"Apa?" gumam Rafa dan Ray bersamaan, membuat Fla mendadak semakin sendu.


"Ya, dan yang lebih sedihnya lagi, kak Morgan sekarang ke Amerika selama 4 bulan, dan gak kasih tau Ara sama sekali. Dia juga ngelarang gue buat ngasih tau ke Ara, tentang ini," tambah Fla, membuat Ray dan Rafa semakin tidak percaya mendengarnya.


"Ya ampun, gue gak nyangka! Padahal, mereka romantis banget, lho! Kok bisa putus?" gumam Rafa yang menyayangkan berakhirnya hubungan mereka.


Ray mendelik ke arah Rafa, "Ati-ati makanya! Yang udah deket begitu aja masih bisa putus, apalagi loe yang baru kenal beberapa minggu sama dia," celetuk Ray, membuat Rafa geram mendengarnya.


"Nih orang lama-lama bikin emosi jiwa," gumam Rafa, membuat Ray tertawa geli mendengarnya.


"Tadi Ara nelepon gue beberapa kali, dan gak keangkat karena gue lagi mandi tadi. Jadi, gue gak tahu kondisi dia, tapi dia pasti lagi depresi banget deh!" gumam Fla membuat Ray dan Rafa merasa sedih mendengarnya.


"Mau ke sana sekarang?" tanya Ray.


Rafa memandang mereka dengan sangat tidak enak, "Emm ... sorry nih guys, bukannya gue ga peduli sama temen. Ya, gue lagi di luar soalnya," gumam Rafa, membuat Fla tersenyum ke arahnya.


"Gak apa-apa, semangat! Gue dukung loe sama dia, kok. Jangan sampai putus di tengah jalan, kayak Ara. Yuk bisa yuk!" gumam Fla, berusaha memberikan respon positif untuk Rafa.


Ray memandangnya dengan tatapan tak enak, "Iya deh, gue doain moga langgeng, biar loe gak stres," gumam Ray, membuat Rafa menyeringai.


"Sialan, loe! Btw, makasih doanya. Salam untuk Ara dan kak Arash di sana," ucap Rafa, membuat. Fla dan Ray mengangguk.


"Ya udah Fla, siap-siap ya. Nanti gue jemput," ucap Ray.


"Oke deh!"


...***...


"Ting ... nong ...."

__ADS_1


Seseorang menekan bel rumah Ara, membuat Ilham yang tertidur di sofa, segera sadar karena merasa terusik dengan suara tersebut.


"Ehmm ...," gumam Ilham, sembari merenggangkan tubuhnya yang pegal, akibat tertidur dengan posisi terduduk.


"Ting ... nong ...."


Bel rumah pun berbunyi kembali, membuat Ilham segera menuju ke arah pintu untuk membukakan pintu untuk tamu yang datang.


"Cklekk ...."


Ilham membuka pintu rumah, dan segera melihat siapa yang sudah bertamu ke rumah Ara.


"Hai Kak Ilham!" sapa seorang gadis, yang ternyata adalah Fla.


Ilham membenarkan pandangannya kembali, mencoba menegaskan gadis yang ia lihat, yang ternyata memanglah benar Fla.


"Hai, Arash sedang mengajak Ares ke rumah Bunga," gumam Ilham yang masih setengah sadar, membuat Fla tertawa kecil.


"Iya aku tau, kok," ucap Fla, "Kak Ilham ketiduran, ya?" tanya Fla.


"Mungkin," jawab Ilham singkat.


Ilham tak sengaja menoleh ke arah pria yang berada di sebelah Fla, membuat Fla tersadar kalau Ilham belum mengenal Ray.


"Oh, kenalin ini Ray, Kak," gumam Fla, membuat Ilham menyodorkan tangannya ke arah Ray, "Ray kenalin ini temennya kak Arash, namanya kak Ilham," tambah Fla, Ray pun menjabat tangan Ilham.


Mereka saling melepaskan tangannya.


Fla memandang Ilham dengan dalam, "Ara mana, Kak? Dia ... baik-baik aja, kan?" tanya Fla, membuat Ilham jadi teringat dengan keadaan Ara, yang baru saja selesai ia suapi makan.


"Ara ... sepertinya gak enak badan, Fla," jawab Ilham, membuat Fla menjadi sendu lalu segera melempar pandang ke arah Ray.


Fla memandang kembali ke arah Ilham, "Apa Ara baik-baik aja, Kak? Jujur aku belum percaya kalau Ara putus sama kak Morgan," gumam Fla, membuat Ilham menghela napasnya dengan panjang.


"Setiap pertemuan, pasti ada perpisahan. Muda pasti tua, terbit pasti terbenam. Namun, yakinlah akan ada pelangi setelah hujan. Badai pasti berlalu," gumam Ilham, membuat Fla bertambah sedih mendengar ucapannya.


Fla pun menunduk sendu, membuat Ray mengelus lembut kedua sisi bahu Fla, mencoba memberikannya semangat.

__ADS_1


Ilham teringat dengan situasi, "Silakan masuk," ucap Ilham, membuat mereka masuk ke dalam rumah.


__ADS_2