Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Hari Yang Dinanti Pun Tiba


__ADS_3

"Huekk ...."


Ilham mendelik, karena tiba-tiba saja Ara muntah-muntah di hadapannya. Ilham segera menghampiri Ara.


"Ra, kamu kenapa?" tanya Ilham, membuat Ilham panik setengah mati.


Ilham segera mengambil minum yang ada di meja dekat ranjang Ara, dan langsung memberikannya pada Ara.


"Minum dulu, Ra," suruh Ilham, membuat Ara menenggak dengan pelan air minum yang Ilham berikan.


"Glekk ... glekk ...."


Ara menenggak sedikit minuman yang Ilham berikan. Ilham pun meletakkan gelas itu kembali di mejanya.


"Apa yang kamu rasain, Ra?" tanya Ilham yang sangat khawatir dengan keadaan Ara.


Walaupun Ara tidak mengeluarkan isi di dalam perutnya, tapi itu cukup membuat Ilham khawatir dengan keadaan Ara yang sebenernya.


Ara hanya menggeleng kecil, membuat Ilham semakin bingung dengan keadaannya.


"Huekk ...."


Ara pun mulai mual-mual kembali, dan dengan segera ia pergi ke toilet untuk mengeluarkan seluruh isi dalam perutnya.


"Ra!" pekik Ilham, yang sangat menghawatirkan keadaan Ara.


Ilham tidak bisa mengejarnya, karena Ilham harus mempunya batasan. Ara sedang ada di dalam toilet, Ilham tidak mau melanggar batas privasinya.


Ilham yang khawatir dengan keadaan Ara, hanya bisa berdiri di depan pintu toilet yang tertutup rapat itu.


"Ra ... kamu gak apa-apa, kan?" tanya Ilham yang menunggu di luar toilet.


Ilham pun menunggu Ara keluar dari dalam sana, membuatnya semakin khawatir dengan keadaan Ara.


"Cklekk ...."


Ara membuka pintu toilet, membuat Ilham mendelik ke arahnya.


"Ra, kamu kenapa, Ra?" tanya Ilham, tetapi Ara tidak memberikan respon apa pun padanya.


"Brukk ...."


Ara tiba-tiba saja terjatuh. Beruntung Ilham ada di sana, sehingga Ara tidak terlalu terjatuh ke lantai karena tangan Ilham yang menyanggah tubuhnya.


"Ra!" pekik Ilham yang panik dengan keadaan Ara.

__ADS_1


Karena sudah terlalu panik, Ilham pun membawa Ara ke rumah sakit, untuk segera memeriksakan keadaan Ara.


Ilham membopong Ara menuju mobilnya, dan segera menuju ke rumah sakit.


Di sepanjang jalan menuju rumah sakit, Ilham sangat khawatir dengan keadaan Ara.


"Kamu kenapa sih, Ra?" gumam Ilham dengan sangat panik memikirkan keadaan Ara.


Di sisi sana, Morgan sudah sampai di bandara bersama Dicky. Morgan melangkah menuju ruang tunggu di bandara, menunggu jam pemberangkatan tiba.


Morgan pun duduk pada kursi yang tersedia, begitu pun Dicky.


Dicky menoleh ke arah Morgan, "Gak nyangka ya, hari ini tiba juga," gumam Dicky, membuat Morgan menoleh ke arahnya.


"Ya. Begitulah," jawab Morgan, yang masih berusaha menahan perasaannya.


Berat bagi Morgan meninggalkan semua orang yang ia sayangi. Termasuk juga ....


'Gak, saya harus bisa lupakan Ara,' batin Morgan yang bersikeras menolak seluruh perasaan yang masih tersisa untuk Ara.


"Gimana soal Ara? Kamu sudah beri tahu dia dari jauh-jauh hari, kan?" tanya Dicky tiba-tiba, membuat Morgan menunduk.


"Saya belum sempat memberi tahu Ara tentang ini," jawab Morgan dengan sendu, membuat Dicky mendelik ke arah Morgan.


Morgan menafikan pandangannya, "Percuma. Karena dia pun juga gak akan datang ke sini," bantah Morgan, membuat Dicky menatapnya dengan sendu.


Dicky menghela napasnya panjang, "Saya tahu rasanya pasti berat, tapi kamu harus kasih dia kabar, paling enggak jangan kamu hilang gitu aja dari kehidupannya dia," ujar Dicky, membuat Morgan kembali menundukkan pandangannya.


"Sudahlah. Saya mau menata ulang hati saya dulu, Dik. Jangan kasih tahu dia, ya?" ujar Morgan, membuat Dicky memandang dirinya dengan sendu.


"Kamu yakin?" tanya Dicky, Morgan pun mengangguk karenanya.


Dicky sudah tidak bisa berkata apa pun lagi, karena Morgan sudah berkata demikian.


Morgan meraba saku celananya. Ia mengeluarkan handphone-nya, dan melihat notifikasi pesan yang sudah menumpuk.


Semakin lama melihat ke arah layar handphone, membuat Morgan menjadi sangat sesak. Ia pun menonaktifkan ponselnya, dan segera menyimpannya kembali di sakunya.


Di sana, Ilham berlarian menuju ke ruangan, agar mendapatkan penanganan untuk Ara.


"Sabar ya, Ra," gumam Ilham yang sedang berlarian membopong Ara.


Kini, Ilham pun hanya bisa pasrah, sembari menunggu di luar ruangan Ara. Segala doa tak henti-hentinya dicurahkan, agar Ara bisa mendapatkan penanganan terbaik dari dokter.


"Mudah-mudahan gak terjadi apa pun dengan Ara," gumam Ilham dengan penuh harap.

__ADS_1


Terdengar notifikasi pesawat yang membuat Morgan dan Dicky terkejut.


"Sudah ada pemberitahuan. Ayo siap-siap," ujar Dicky, membuat Morgan mengangguk kecil.


"Sampai sini aja, Dik. Biar saya yang masuk sendiri ke dalam," pinta Morgan, membuat Dicky sendu.


"Yakin?" tanya Dicky, berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


"Ya. Terima kasih, ya. Kamu sudah selalu ada di saat apa pun dalam situasi tersulit sekalipun. Ingatkan saya untuk membelikan hadiah untuk kamu, saat pulang dari Amerika nanti," gumam Morgan, membuat Dicky sedikit banyaknya menjadi terharu karenanya.


"Makasih. Gak perlu begitu, Gan. Saya gak keberatan kok," tolak Dicky, membuat Morgan tersenyum mendengar ucapannya.


"Ah, jadi hadiahnya gak usah?" tanya Morgan meyakinkan diri Dicky.


Dicky menyeringai ke arahnya, "Jadi, dong!" bentak Dicky, membuat Morgan tertawa kecil padanya.


"Ah sok menolak tapi mau," ledek Morgan, membuat Dicky kembali menyeringai ke arahnya.


Morgan menatap Dicky dengan tatapan sendu.


"Jangan rindu ya," ledek Morgan, membuat Dicky tertawa kecil.


"Mana mungkin? Udah sana jalan, hati-hati!" bantah Dicky, membuat Morgan tertawa kecil.


Morgan menarik kopernya meninggalkan Dicky di sana. Dicky pun melambai ke arah Morgan yang tidak melihat ke arahnya.


"Tess ...."


Air mata berjatuhan dari pelupuk mata Dicky. Beruntung Dicky bisa menahannya dengan sangat kuat, sehingga Morgan tidak melihat dirinya meneteskan air mata.


"Kalau dia ngeliat, pasti habis saya diledekin," gumam Dicky tertawa kecil, sembari tetap meneteskan air matanya, menatap kepergian Morgan.


Morgan melangkah meninggalkan Dicky, tak kuasa menahan rasa sendunya ketika melihat wajah Dicky.


Ia memutuskan untuk terus berjalan, tanpa menoleh ke arah belakangnya kembali. Morgan melangkah masuk ke dalam awak pesawat, dan segera mencari tempat duduk yang sesuai dengan tiket pemesanannya.


"Selamat tinggal, Arasha," gumam Morgan yang tak bisa dipungkiri, masih mengingat kenangan bersama dengan Ara.


Di sisi sana, Ara masih saja mendapatkan perawatan dari dokter, ditemani dengan Ilham yang selalu menunggunya di luar ruangan, seraya berdoa untuk kesembuhannya.


Di sisi Morgan, kini dirinya sudah berada pada ketinggian 35.000 kaki, atau setara dengan 10.600 meter dari permukaan laut. Walaupun raganya sudah terbang setinggi itu, tetapi pikirannya selalu memikirkan Ara yang ada di sana.


Akan jadi seperti apa kelanjutan kisah mereka?


...***...

__ADS_1


__ADS_2