
Ara duduk di hadapan Morgan yang terlihat sangat kaku saat ini. Entah kenapa, mereka malah saling mencuri pandang.
Ada apa sih dengan dia? Aku tidak suka! Dia, seperti paparazi saja! Pikir Ara.
“Apa loe liat-liat?” sinis Ara yang sudah tidak tahan dengan Morgan.
Morgan mengerenyitkan dahinya, karena memikirkan tentang emosi Ara yang sangat parah itu.
“Mana soal yang saya suruh kerjakan tadi?” tanya Morgan, Ara hanya memandangnya dengan tatapan yang remeh.
“Nih.” Ara menyodorkan beberapa tumpuk kertas padanya, dan Morgan pun mengambilnya, kemudian melihatnya satu per satu.
Morgan menghitung beberapa tumpuk kerasa itu, “kurang selembar,” ucapnya dengan simpel.
Ara terkejut mendengar ucapan Morgan itu.
“Hah? Kurang?” tanya Ara yang tidak percaya, dan langsung mengambil paksa kertas yang baru saja Ara berikan pada Morgan.
Ara melihat semua nama yang tertera pada kertas itu, sembari memeriksa kembali dan mencocokkan dengan jumlah mahasiswa yang ada di kelasnya.
Tubuh Ara mendadak berubah suhu menjadi panas dingin, sepertinya memang ada yang salah dengan jumlah kertas ini.
“Haaaaaaaa!” Ara terkejut.
Seluruh nama teman-temannya, ada di tumpukan kertas ini. Hanya nama dirinya saja yang tidak ada di sini. Ara bingung setengah mati, karena hanya kertasnya saja yang tiada.
“Mana nama gue?” Ara berusaha mencarinya kembali, dengan perasaan panik, seperti sedang kehilangan harga dirinya.
Morgan menatap Ara yang sedang panik, dengan melipat kedua tangannya.
“Bawa ke sini dalam hitungan, 10 …,” ucap Morgan yang sangat datar, membuat Ara terkejut.
Apa-apaan dia? Kenapa bertingkah seenaknya saja? Pikir Ara.
“Haaaaa?” Ara menganga kaget di hadapannya, ketika mendengar Morgan yang sudah mulai menghitung.
“9 ....” Morgan rupanya tidak main-main dengan yang ia ucapkan.
Ia menghitung mundur angka, membuat Ara sangat gelagapan sembari mencari kertasnya yang hilang itu.
Mana dia? Aku sama sekali tidak bisa menemukannya, pikir Ara.
“8 ... 7 ... 6 ....” Ara berusaha mencari keberadaan kertas itu.
‘Duh … kemana sih kertasnya? Masa iya sih kertanya terbang?’ batin Ara resah.
“5 ... 4 ... 3 ....”
Ara menoleh ke segala arah yang ada di ruangan ini, “oh!” Ara berhasil menemukannya!
__ADS_1
Ara melihatnya di bawah meja Morgan, dan berusaha mengambilnya dengan susah payah.
Ara berhasil mengambilnya, dan langsung memberikan kertas itu kepada Morgan, meskipun Ara masih berada di kolong mejanya, karena sudah tidak ada waktu untuknya harus berdiri ke atas.
“2 ... 1. Waktu habis!” ucapnya dengan cepat, secepat saat Ara memberikan kertas itu.
‘Apa katanya? Waktu habis?’ batin Ara yang melongo kaget mendengarnya.
Ara sudah susah payah untuk mencari dan mengambilnya secara cepat. Butuh effort yang sangat besar untuk semua itu. Tapi, Morgan kelihatannya tidak mempedulikan dengan semua usaha yang sudah Ara lakukan.
Aku mendengus kesal. Napasnya memburu, matanya mendelik, dan sekarang emosinya jadi tak terkendali.
“DASAR … DOSEN GAK PUNYA HATI!” bentak Ara dengan sangat kesal.
Ara berusaha bangkit dengan emosi yang meledak-ledak.
“Brak!”
Tak sengaja, kepala Ara menyentuh langit-langit meja kerja Morgan, membuat Ara merasakan sakit, dan juga pusing seketika. Benturan itu membuat Morgan sangat terkejut, sampai hampir melompat dari kursinya.
“Aws ….” Ara yang sudah hilang keseimbangan, bertumpu di pangkal kaki Morgan, karena sudah tidak kuat lagi dengan rasa sakit yang ia terima, karena tidak sengaja mengenai langit-langit meja itu.
Ara tidak tahu, kenapa rasanya aneh sekali. Ara merasa, ada sesuatu yang hangat, yang tidak sengaja ia pegang.
Apa itu?
Sepertinya, ada yang salah dengan keadaan ini.
“Ra, kamu … lagi megang apa, Ra?” tanya Morgan, yang seperti terdapat kejanggalan dari pertanyaannya.
“Hah? Gue megang apa?” Ara bertanya balik, tidak menyadari dengan yang Morgan tanyakan.
Ara terus berpikir tentang pertanyaan Morgan.
Ara merasakan sesuatu yang sedang ia pegang, mendadak menjadi keras. Mata Ara membulat seketika, dan langsung melihat ke arah hadapannya. Ternyata, itu adalah arah yang tidak semestinya Ara sambani. Ara langsung terkejut histeris, karena baru menyadarinya sekarang.
“Ah!!”
Ara berteriak histeris, lalu segera keluar dari bawah sana, dan mengambil apa saja yang ada di hadapannya.
“Plakk ....”
Ara yang sudah terlanjur panik, langsung memukul Morgan dengan sekumpulan kertas yang Ara bawa tadi. Ara meninggalkan Morgan karena malu, dan langsung pergi kembali ke ruang kelasnya.
Morgan yang sudah kehilangan kendali, karena tak sengaja Ara membangkitkan gairahnya, langsung menarik tangan Ara dengan cepat, sebelum Ara meninggalkannya.
“Grepp ….”
Tiba-tiba saja, Morgan menarik tangan Ara dengan kasar, membuatnya tidak jadi pergi dari sana. Ara tidak terima dengan perlakuan Morgan itu padanya.
__ADS_1
“Dasar, dosen idiot!” bentak Ara yang kesal dengan perlakuan Morgan.
Ara berusaha melepaskan diri dari cengkramannya.
“Lepasin!”
Ara berusaha keras, untuk pergi darinya.
“Tass ….”
Tiba-tiba saja, Ara merasa seperti sudah memutuskan sesuatu yang terikat di pergelangan tangan Morgan. Ara melihat, banyak benda kecil yang terjatuh dari pergelangan tangan Morgan itu.
Terlihat sebuah gelang, yang ia pakai di pergelangan tangannya, membuat Ara heran.
‘Sejak kapan Morgan pakai gelang?’ batin Ara bingung.
Padahal, kalau diingat kembali, Morgan hanya terlihat memakai jam tangan saja, tidak memakai gelang. Kenapa ada banyak kejanggalan setelah Ara jauh dari Morgan, hanya dalam beberapa hari saja?
Sudahlah! Tidak ada waktu untuk memikirkan hal yang tidak penting baginya.
Ara pergi dari sana secepat yang ia bisa. Ia sangat kesal, saat mengingat kelakuan Morgan yang absurd tadi.
Morgan meremas rambutnya, karena merasa sudah tidak bisa lagi menahan gairahnya. Secara tidak sengaja, Ara baru saja membangkitkan gairahnya itu. Morgan terus-menerus menghela napasnya, agar keadaannya kembali normal seperti semula.
Ara masih berlarian, menghindari Morgan. Ia tidak menyangka, akan terjadi hal memalukan seperti ini antara Morgan dan dirinya. Ara sampai tidak tahu lagi dengan sikap Morgan yang tadi itu.
‘Kenapa bisa begini sih? Kenapa gue bisa nyentuh sesuatu yang gak seharusnya gue sentuh? Belum lagi ekspresi darinya tadi. Sebetulnya, Morgan suka atau gak sih sama gue? Dia kayak cuma narik-ulur gue aja,’ batin Ara dengan perasaan yang campur aduk.
“Oh, ****.” Ara menepuk keningnya dengan keras.
Ara melupakan sesuatu.
Morgan itu sudah mempunyai pacar. Apa dia sudah bodoh dengan berpikiran bahwa Morgan menyukainya?
Jangan mimpi!
Dia itu sama seperti laki-laki lain, yang hanya menginginkan tubuh seorang wanita, dan melampiaskan ***** birahinya saja. Harusnya, aku sadar akan hal itu. Tapi aku selalu terbuai dengan perlakuan lembut dan ketampanannya itu, pikir Ara.
“Gue bodoh banget,” lirih Ara kesal, lalu berhenti menatap ke arah hadapannya, “dasar, dosen idiot! Pantesan aja gak nikah-nikah! Gue sumpahin loe nikah sama nenek lampir!”
“Duaaaarrrr ....”
Terdengar suara petir yang sangat keras, menyambar.
Ara kaget bukan main mendengarnya. Apa kata-kata Ara akan dikabulkan? Apa nantinya Morgan akan punya istri yang seperti nenek lampir?
Entahlah!
Ara tidak mempedulikannya.
__ADS_1
“Biarin aja sana loe nikah sama nenek lampir! Biar tau rasa!” teriak Ara karena kesal, mengingat kejadian memalukan tadi.