
“Hah?” tanya Ara dengan nada yang tidak percaya.
Reza memandang Ara dengan pandangan yang membuat Ara menjadi ingin tertawa, “gue mau loe,” ucapnya mengulang kata sebelumnya, membuat Ara tertawa dan kembali mencubit tubuhnya.
Reza kali ini seperti menghindari cubitan Ara. Sekali lagi, Ara tertawa karena Reza.
Hari-hari Ara lalui seperti biasa, dengan Reza yang selalu ada di hampir setiap kegiatannya.
Ara merasa, Ara sangat beruntung bisa memiliki orang yang sangat pengertian pada dirinya. Sejauh ini, Ara hanya memulai hubungan dengan Reza saja. Ia tidak bisa memulai hubungan dengan siapa pun lagi selain Reza.
Hingga akhirnya hari yang paling spesial baginya tiba. Hari itu, adalah hari ulang tahun Reza yang ke-17. Ara sangat bahagia, sampai-sampai Ara ingin memberikannya sebuah kejutan kecil yang ia harap bisa Reza kenang dan tidak akan ia lupakan.
Ara berjalan pergi menuju toko kue yang letaknya tak jauh dari rumah Reza. Ia masuk ke dalam toko kue itu, dan bergegas menghampiri sang kasir.
“Mbak, saya mau ambil pesanan kue, atas nama Ara,” ucap Ara, pada sang kasir.
“Ditunggu sebentar ya kak,” ucapnya dengan sangat ramah, lalu pergi mengambil pesanan yang sudah Ara pesan sebelumnya.
Ara menunggu, sembari mencoba mengirim singkat pesan pada Reza.
“Za, gue sebentar lagi sampai,” isi pesan singkat yang Ara kirimkan pada Reza.
“Silakan, kak,” ucap sang kasir yang berhasil membuat Ara terkejut.
Ara segera mengambil pesanannya, dan bergegas pergi ke rumah Reza.
Ya! Namanya adalah Reza. Orang yang Ara kenal tidak sengaja, saat Ara menjadi siswa baru di sekolahnya.
Reza adalah anggota OSIS di sekolah mereka. Pertemuan mereka merupakan ketidaksengajaan yang berujung kebahagiaan.
Saat itu, Ara sedang dihukum oleh anggota OSIS yang lain, karena terlambat masuk ke dalam barisan. Tentunya bukan tanpa sebab Ara terlambat datang ke sekolah. Itu semua karena kakaknya terlambat bangun, dan Ara terpaksa harus naik ojek pangkalan depan komplek.
Tidak berjalan mulus seperti itu saja, saat perjalanan menuju ke sekolah ternyata motor yang mereka kendarai mengalami ban bocor. Ara sempat memaki-maki tukang ojek itu sebelum kemudian Ara mengambil keputusan untuk berjalan kaki menuju ke sekolah.
Singkat cerita, sesampainya Ara di sekolah, Ara dihadang oleh beberapa OSIS keamanan yang sedang berjaga di depan gerbang sekolah. Ara dipaksa untuk mengikuti barisan yang terlambat pada saat itu. Padahal, ini murni bukan kesalahan Ara. Ara sudah prepare sebelumnya.
__ADS_1
Akhirnya mau tidak mau, Ara menuruti hukuman yang ada, dan mereka menghukum Ara dengan cara berdiri hormat pada tiang bendera.
Ara menurutinya, karena ia tidak mau hukumannya bertambah berat. Sampai ia lupa, kalau dirinya tidak sarapan pagi tadi, sehingga kepalanya terasa sangat pusing. Ara kehilangan kesadarannya.
Saat Ara tersadar, orang yang pertama ia lihat adalah Reza.
Berawal dari sana, Ara menjadi semakin dekat dengan Reza.
Mereka jadi lebih sering bertemu di sekolah, bahkan juga di luar sekolah. Kemudian mereka bertukar nomor handphone, dan bertukar kabar setiap harinya.
Mereka saling menceritakan diri mereka masing-masing. Sampai Ara mengetahui, kalau hobi Reza adalah fotografi.
Tidak bisa dipungkiri, seorang wanita pasti hobi ber-selfie, bukan? Begitu juga dengan Ara.
Ara jadi merasa bahwa mereka sangat serasi sekali. Dari mulai hobi, kesukaan sampai lain-lainnya.
Meskipun Arash terlalu ketat dalam menjaga Ara, tapi Arash tidak bisa menemukan jejak, kalau adiknya sudah menjalani hubungan yang serius dengan lawan jenisnya. Arash belum mengetahui, kalau Ara sudah mulai menunjukkan perubahan sikap kedewasaan, saking sibuknya Arash saat itu.
Reza selalu berusaha ada untuk Ara, tidak peduli saat Ara senang ataupun sedih, Reza selalu ada menemani hari-hari Ara. Reza menunjukkan kepada Ara, betapa berharganya Ara baginya.
Saat ini, Ara sudah sampai tepat di depan pagar rumah Reza. Ara melihat pagar yang tidak terkunci, sehingga Ara penasaran dan masuk ke dalam halaman rumah Reza.
Ada mobil yang terparkir rapi di sana, yang sebelumnya tidak pernah Ara lihat, membuat Ara mengerenyitkan dahinya.
“Ada tamu?” lirih Ara, bergumam.
Ara melangkah menuju pintu rumah Reza. Betapa terkejutnya Ara, karena pintu rumah Reza pun tidak terkunci, dan dibiarkan terbuka begitu saja.
Ara sampai terheran sekali. Ara bergerak masuk untuk mencari laki-laki yang sangat ia cintai itu, untuk memberikan sedikit kejutan kepadanya.
Selain dirinya yang berulang tahun, hari ini juga adalah hari kelulusan Reza. Ara sangat bersemangat untuk merayakannya bersama dengan Reza.
Ara sudah sampai di ruang tamu rumah Reza. Tidak ada siapa pun di sini.
Ara menoleh ke segala arah, “pada kemana sih orang-orang?” tanya Ara yang penasaran dengan keberadaan mereka.
__ADS_1
Ara memang sudah beberapa kali diajak ke rumah Reza, hingga bertemu dengan kedua orang tua Reza. Entah mengapa, hari ini Ara tidak dapat melihat mereka.
“Mmm … apa Reza masih tidur kali ya?” pikir Ara, “apa aku masuk aja ke kamarnya?” sambungnya dengan lirih.
Ara menyalakan lilinnya, kemudian mengambil kembali semua hadiah dan kue yang baru saja ia letakkan di atas meja ruang tamu.
Ara melangkah dengan sangat hati-hati, khawatir sampai kuenya jatuh. Ara mencoba mencari Reza di kamarnya.
Sesampainya di depan kamarnya, Ara bersiap untuk membuka pintu kamar Reza.
“Selamat ulang tahun ...,” pekik Ara dengan riang, yang kemudian seketika terdiam, setelah melihat keadaan di sekitarnya yang menurutnya agak aneh.
Ara melihat Reza yang sedang bertelanjang dada di atas ranjang, bersama dengan wanita yang tidak Ara ketahui identitasnya itu.
Seketika Ara terkesiap, hilang kata dan merasa tidak bergairah. Bak tersambar petir di siang bolong, Ara sama sekali tidak bisa menahan gejolak yang terus menghujam tajam, menikam hatinya.
Tapi, dengan segenap rasa yang tersisa, Ara berusaha menjaga emosi yang bisa merusak suasana milik mereka.
“Huft ….”
Ara menghela napasnya dengan panjang, tapi tak bisa dipungkiri, pikiran Ara memang sudah kalut dalam emosi yang menyulut.
“Brukk ….”
Ara terkejut, sampai menjatuhkan kue dan beberapa hadiah yang sedang ia pegang.
Terlihat Reza dan wanita asing itu, yang sedang gelagapan, menghindari perlakuan dan sikap mereka.
Ara berusaha menahan air mata yang hampir keluar dari pelupuk matanya.
Sudah tidak ada lagi yang perlu dijelaskan bukan? Semua sudah terlihat jelas dari apa yang Ara lihat tadi.
Reza menatapnya dengan sangat khawatir,“ehmm ... Ra ... loe--”
“Happy birthday, Za. And happy graduation,” pangkas Ara, yang sedang berusaha menahan air matanya, agar tidak jatuh.
__ADS_1
Reza terlihat seperti orang yang sangat bersalah.