Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Pesona Lelaki 2


__ADS_3

Ara melihat seorang wanita dan laki-laki yang sedang bercumbu mesra di dalam sana. Seketika, yang ada di pikiran Ara adalah Morgan.


Ara membulatkan matanya, “masa iya Morgan, sih?” pikir Ara yang masih memikirkannya.


Ara tidak percaya dengan apa yang ia pikirkan, dan segera melihatnya kembali dengan seksama.


Seseorang tiba-tiba saja datang dari arah yang entah darimana itu. Ia sedikit terkejut tatkala melihat Ara yang sedang menguntit ke arah ruangan itu.


Ia yang penasaran dengan apa yang Ara lihat, mendonggak sedikit ke arah kaca jendela yang tidak terlalu tinggi itu, dan melihat kejadian apa yang sedang terjadi, yang tidak ia ketahui.


Orang itu melihat bahwa ada seseorang yang sedang memakai ruangannya untuk bercinta. Sontak hal itu membuat dirinya sangat kesal, dan kembali memandang Ara.


“Lagi apa kamu di situ?” tegur seseorang dari arah belakang Ara.


“Hah!!”


Ara terkejut, dan langsung ingin berbalik ke arah belakangnya.


“Waaaa!”


Nahas, Ara kehilangan keseimbangannya. Kakinya terpeleset dan menekuk, membuat Ara pasrah dengan keadaannya saat ini.


“Eh!!” Ara berteriak lumayan kencang, karena merasa sangat khawatir dengan keselamatan dirinya.


Orang itu tiba-tiba saja menangkap tubuh Ara, yang hampir terperosok ke bawah. Pandangan mereka pun bertemu dalam satu titik.


“Deg ....”


Jantung Ara berdebar dengan sangat kencang. Kenapa bisa pas sekali jatuhnya dirinya ini dengan tangkapannya?


Morgan ....


Matanya coklat bersemi, dengan bulu mata yang hitam dan lebat, sudah seperti memakai ekstensi. Hidungnya yang tidak terlalu lancip namun juga tidak datar, membuat Ara semakin merasa deg-degan saat menatapnya dari jarak yang sedekat ini.


Ternyata, ketampanannya tidak perlu diragukan lagi.


“Ekhmmm ....” Ia berdehem, membuat Ara tersadar dari lamunannya.


Morgan tiba-tiba saja melepaskan tangannya dari tubuh Ara, membuat Ara setengah mati terkejut.


“Aaaa ….”


“Brak ....”

__ADS_1


Ara jatuh tergolek di atas lantai, karena Morgan yang tiba-tiba saja melepaskan rangkulannya itu dari tubuh Ara.


“Awwwwwsss ....” Ara merintih kesakitan.


Tak habis pikir, tega sekali dia melepaskan rangkulan tangannya itu, dengan tiba-tiba. Ara jadi terjatuh karena ulahnya. Ara berusaha menahan tubuhnya yang sakit karena dijatuhkan begitu saja. Semua lembar jawaban teman-temannya, habis berserakan di atas lantai.


“Gila loe ya!” teriak Ara dengan sinis padanya.


Morgan memasukkan kedua tangannya ke saku celananya. Sepertinya, ia tidak merasa bersalah, sama sekali.


Seseorang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu, membuat Ara harus mengubah fokusnya ke arahnya.


“Lho ... Pak Dicky?” teriak Ara kaget, yang melihat penampilan Dicky yang terlihat acak-acakan sekali.


Ia membenarkan dasi yang ia pakai, tanpa menghiraukan ucapan Ara. Tiba-tiba saja, seseorang datang dari arah belakangnya. Wanita itu terlihat malu, dan hanya menunduk, lalu pergi meninggalkan ruangan ini.


“Hah?” Ara menganga kaget, karena tidak percaya dengan yang ia lihat.


Ara tidak menyangka, dosen Dicky bermain cinta dengan dosen Lidya. Dosen yang terkenal galak, dan mematikan itu, ternyata bisa ditaklukan dengan mudahnya, oleh seorang Dicky.


Pantas saja wanita itu belum menikah sampai sekarang. Ternyata, dia selalu bermain cinta dengan laki-laki tampan yang ia sukai. Dan anehnya, Dicky juga lantas menjadi sasaran empuknya.


‘Kenapa selera Pak Dicky kayak dia sih?’ batin Ara kesal sembari melihat ke arah Dicky.


“Gue kira siapa,” gumam Dicky dengan santainya, seperti tidak ada masalah yang berarti.


Morgan menatapnya dengan tatapan yang datar juga. Dari sudut pandang Ara, kelihatannya, Morgan dan Dicky sudah terbiasa dengan hal-hal semacam ini. Itu malah membuat Ara kesal karena teringat kembali tentang kejadian malam itu bersama dengan Morgan.


‘Ish!! Pergi jauh-jauh deh bayangan gue sama orang gak jelas itu! Gue harus gimana lagi sekarang?’ batin Ara bingung dengan yang sudah terjadi.


“Eh, gadis cantik ... ngapain di bawah?” tanya Dicky, membuat Ara sadar dengan posisinya yang masih duduk di atas lantai itu.


Ara berusaha membenarkan kertas yang berhamburan, dengan kecepatan kilat. Ia tidak mau citranya terlihat buruk di mata dua laki-laki itu.


Pesona dua laki-laki ini tiada tanding. Ara saja, sampai tercengang melihatnya. Mungkin tidak aneh lagi bagi mereka, tapi aneh sekali bagi Ara yang melihat hal ini dari sisi yang berbeda.


“I-ini, Pak, tadi saya gak sengaja kesandung terus jatuh, akhirnya berantakan deh semua kertas di sini,” ucap Ara yang terpaksa harus berbohong.


Ara tidak ingin Dicky tahu kalau Ara sudah melihatnya melakukan adegan panas dengan dosen killer itu. Ara tidak ingin sampai reputasinya hancur karenanya.


Padahal, kalau dipikir kembali, Dicky yang sudah melakukan kesalahan. Kenapa harus Ara yang berusaha menghalau rasa malu ini? Bukankah, seharusnya dia yang merasa malu karena perbuatannya itu dilihat oleh orang lain?


Sudahlah.

__ADS_1


Ara sudah selesai membereskan semua kertas yang tercecer, dan langsung bangkit sembari membenarkan pakaiannya yang sedikit berantakan.


“Bukannya tadi habis ngintip, ya?” tanya Morgan, tanpa memandang ke arah Ara, membuat Ara mendelik ke arahnya.


Dicky menatap Ara dengan tatapan yang jahil, Ara yang melihat Dicky sontak merasa tak enak, dan tidak tahu harus berbuat apa lagi.


“Ah? Eng-enggak, kok!” bentak Ara yang tak enak saat memandang Dicky, Ara seketika menoleh ke arah Morgan, “apaan sih loe!” Ara kembali melihat ke arah Dicky, “enggak! Bohong Pak Dicky, saya aja baru datang,” ucap Ara berusaha untuk meyakinkan Dicky dengan gelagat yang tidak bagus, membuat Dicky semakin tersenyum lebar.


Dicky mendekat ke arahnya, “gak usah ngintip, yuk … kalau kamu mau, saya bisa kasih kamu trial-nya. Bisa kamu bandingkan lho, sama ‘permainan’ Morgan waktu itu ….”


Ucapan Dicky membuat wajah Ara seketika memerah dan panas.


‘Kenapa ini? Pesona lelakinya terpancar banget!’ batin Ara yang masih tercengang setelah mendengar ucapan Dicky tadi.


Morgan yang tidak terima itu, seketika langsung menarik Ara ke dalam pelukannya untuk menjauhi Dicky. Morgan memandang Dicky dengan tatapan sinis.


“Kamu gak akan bisa menandingi ‘permainan’ saya, Dicky. Mungkin hanya satu per delapannya saja,” ucap Morgan dengan nada dingin, yang lagi-lagi membuat Ara tidak bisa berkata apa pun.


“Yakin sekali Pak Morgan ini …,” ledek Dicky menyeleneh.


“Sudah pernah saya buktikan,” Morgan menoleh ke arah Ara, membuat Ara juga menoleh ke arah Morgan, “ya kan, Ra?” tanya Morgan.


Ara tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia hanya bisa menganga karena merasa sangat malu dengan ucapan Morgan tadi.


Dicky yang mengetahui itu, seketika berganti sikap pada Ara.


“Ya sudah, saya mau lanjut dulu,” ucap Dicky, membuat Ara tak enak padanya.


“Maaf mengganggu,” ucap Ara dengan nada yang sangat rendah.


Ara malu sekali, karena Dicky tahu kalau Ara mengintipnya dari sela jendela.


Mau taruh di mana muka ini? Pikir Ara.


“Gak papa kok. Yaudah, saya lanjut lagi, ya,” ucap Dicky lalu pergi meninggalkan Ara dan Morgan.


Suasana menjadi sangat canggung di sini.


Morgan melepaskan pelukannya pada Ara, “ikut ke ruangan saya,” suruhnya yang langsung pergi meninggalkan Ara di sana.


Lagi-lagi Ara ditinggalkan seperti ini. Membuatnya kesal sekali.


“Ish!” Ara berusaha menahan rasa kesal di hatinya, dan mengikuti Morgan ke dalam ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2