Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Bioskop Perdana 4


__ADS_3

Morgan memberikan minuman dan popcorn itu pada Ara, dan Ara menerimanya.


“Kemarin kan gak jadi, bayar sekarang!” ucapnya, membuat Ara tersadar dengan saat Morgan ulang tahun.


Ternyata, ingatannya lumayan kuat juga. Ara sudah malas mengingat hal aneh lagi. Banyak hal yang sudah membuat Ara gila, hanya karena terus memikirkannya.


“Memangnya bisa dijadiin hutang? Kalo gak jadi mah yaudah gak usah nonton lagi,” ketus Ara, membuat Morgan agak jengkel dengan sikap Ara.


‘Sabar …,’ batin Morgan, yang sudah bisa menahan emosinya di hadapan gadis pujaan hatinya itu.


Ara seperti gelisah sekali, karena ia tidak bisa menunggu sesuatu.


“Duh … lama banget lagi ini pintu teater gak dibuka-buka!” geram Ara, membuat Morgan agak kesal dengan sikapnya itu.


Morgan menatap Ara dengan tatapan malas, “kamu mau diam, atau saya cium di depan umum?” tanya Morgan, membuat Ara terkejut dengan pemikiran idiotnya itu.


Mata Ara membulat, karena tidak bisa menerima perkataan dari Morgan yang membuat dirinya malu itu. Ara sudah tidak bisa berbuat apa pun lagi, karena Ara paham, Morgan adalah laki-laki yang tidak pernah main-main dengan setiap ucapannya. Morgan pasti akan nekat berbuat seperti apa yang ia ucapkan tadi.


‘Kesel banget sama orang idiot yang satu ini! Apa-apaan coba?’ batin Ara merasa jengkel dengan ucapan Morgan.


“Nah … gitu dong, diam, kalem, jadi gak ada beban buat saya,” lirih Morgan membuat Ara memelototinya dengan sinis.


“Pintu teater dua telah dibuka,” terdengar suara pemberitahuan mengenai ruang bioskop yang akan mereka datangi.


“Yuk, udah selesai tuh,” ucap Morgan, membuat Ara bersiap-siap untuk memasuki studio.


Mereka pun masuk ke dalam studio. Sambil menunggu film diputar, Ara memakan popcorn-nya.


Ara tak sengaja menoleh ke arah Morgan, yang nampak tegang sekali, membuat Ara menjadi bingung.


Film belum dimulai. Tapi kenapa wajahnya setegang itu? Apa ada yang salah dengannya? Pikir Ara.


Ara menggenggam tangan Morgan tanpa sadar. Terlihat Morgan yang seketika menoleh, dengan tatapan yang tegang.


“Loe gak papa?” tanya Ara.


Ara meyakini, Morgan tidak akan berbicara atau menjelaskan sesuatu padanya. Ara hanya ingin memastikan bahwa Morgan baik-baik saja.


“Saya? Kenapa saya?” tanyanya balik, seperti memberi tahu bahwa dirinya memang baik-baik saja.

__ADS_1


A


ra melepaskan genggaman tangannya. Tapi, Morgan menariknya kembali, membuat Ara terkejut dengan sikapnya itu.


“Jangan dilepas,” lirih Morgan, membuat Ara terdiam malu.


Tangan mereka kembali bergandengan. Mungkin, wajah Ara kini sudah bersemu merah. Ara menundukkan pandangannya sambil sesekali melirik ke arah Morgan.


Wajah Morgan masih saja terlihat tegang, seperti sudah terjadi sesuatu dengannya.


‘Morgan kenapa, ya? Gak biasanya dia tegang gitu?’ batin Ara merasa sangat heran dengan kelakuan aneh Morgan.


Beberapa saat kemudian, film pun akhirnya diputar. Mereka mempersiapkan diri untuk segera menonton film yang sudah mereka pesan. Ara membetulkan duduknya, karena tangannya yang masih saja dipegang oleh Morgan.


Ara kesulitan mengambil popcorn karena Morgan yang tidak membiarkan tangannya lepas dari tangan Ara. Ara berusaha melirik popcorn yang berada tepat di antara mereka.


Morgan yang merasa risih dengan pergerakan Ara, segera menoleh ke arah Ara.


Ara menyaadari kalau Morgan telah menoleh ke arahnya dan melihat dia dengan tatapan yang seakan tidak menyukainya. Ara memberanikan diri untuk menatap mata Morgan.


Mata Morgan lantas tertuju pada popcorn yang baru saja Ara lihat.


“Kenapa ‘hkwkwosjshsbsjsk’ terus?” bisiknya yang tidak terdengar karena film sudah diputar.


Ara mendelik, “hah? Apa?” bisik Ara dengan sedikit lebih keras dari ucapan Morgan tadi.


“Kenapa ‘hkwkwosjshsbsj’ terus?”


Sekali lagi, Morgan membuat Ara terlihat seperti orang yang tuli.


Ara lantas mendekatkan telinganya ke arah wajah Morgan, membuat Morgan agak malu.


“Coba diulang!” pinta Ara yang sudah gemas dengan Morgan.


Morgan terdengar seperti menghela napasnya.


“Dengerin, ya?” tanya Morgan, membuat Ara mengangguk, “kamu … cantik,” lirihnya membuat Ara merasakan hawa panas kembali di wajahnya.


Kenapa dia terus membuatku merasa malu? Pikir Ara.

__ADS_1


Jantung Ara terus dibuat berdetak dengan kencang. Setiap perkataan dan perbuatan Morgan yang menurutnya romantis, Ara selalu terbawa dan hanyut dalam keadaan.


Betapa bodohnya Ara.


“Tsett ....”


Terlihat sinar bulat berwarna merah yang tepat menyorot ke arah mereka. Ada seseorang di bawah sana yang sengaja untuk bermain laser.


Orang itu melihat sinis ke arah Ara dan Morgan, membuat Ara tersadar dengan posisi Morgan yang memang terlalu dekat baginya, sehingga membuat orang lain yang melihatnya, menjadi salah paham seperti itu.


Ara menoleh seketika ke arah Ara, “ih, jangan deket-deket gue!” bentak Ara dengan kasar, membuat Morgan menjauh sedikit dari hadapan Ara.


Ara jadi paham, kalau mereka sedang memperhatikan gerak-gerik dirinya dan Morgan. Apalagi, tadi mereka menangkap basah Ara dan Morgan yang sedang berdekatan tanpa jarak. Siapa pun pasti akan berpikiran sama dengan yang orang itu pikirkan.


Tapi, padahal tidak terjadi apa pun di antara Ara dan Morgan tadi. Banyak juga orang di sekitar mereka yang memperhatikan gerak-gerik Ara dan Morgan, membuat Ara jadi risih sekali.


“Kita gak berbuat apa-apa. So, why you scared?” tanya Morgan, membuat Ara menghela napasnya panjang.


“Tetap aja, namanya orang kan, mikirnya macem-macem! Apalagi, ini keadaan gelap, ya jelas aja mereka mikirnya yang jelek aja tentang kita!” bentak Ara, membuat Morgan terdiam.


“Apa perlu saya kasih pelajaran?” tanya Morgan, membuat Ara memelototinya.


“Pelajaran apa sih? Jangan ngawur deh! Ini tuh bukan di kampus, jadi gak usah sok pinter!” bentak Ara, membuat Morgan terkekeh mendengarnya.


“Lucu?” tanya Morgan dengan ekspresi yang datar, membuat Ara kesal sekali mendengarnya.


“Iya lucu, ha ha ha,” ketus Ara sembari tertawa paksa, karena Morgan yang sudah mempermainkan dirinya.


“Lebih lucu lagi kalau kamu diam,” lirih Morgan, membuat Ara membelalak sinis ke arah Morgan.


Morgan yang mengetahui Ara yang pastinya akan emosi, hanya bisa diam, sembari memakan popcorn miliknya lagi, tanpa memperhatikan Ara yang sudah hampir meledak-ledak itu.


“Tapi bener, kalau seandainya kamu izinin saya buat berkelahi, pasti mereka udah saya kasih pelajaran dari tadi,” lirih Morgan sembari melahap popcorn-nya lagi.


Ara memperhatikan Morgan dengan seksama, jangan sampai Morgan berbuat ulah lagi seperti saat di basement.


Matanya memang sudah berubah aura menjadi agak tajam. Sepertinya, Morgan sedang menahan emosi, pikir Ara.


“Udah deh, kita lagi nonton nih!” sindir Ara pada Morgan.

__ADS_1


Morgan hanya diam tak bergeming.


Ternyata sikap kasarnya masih ada sampai sekarang. Awalku jumpa dengannya juga dia tak segan untuk menyakiti dirinya sendiri. Aku hampir saja kena amukannya itu, pikir Ara sembari menahan kesalnya.


__ADS_2