Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Mega Proyek


__ADS_3

Ilham terdiam di dalam ruangannya, sembari memegangi kartu ucapan yang ada di dalam bingkisan hadiah yang Ara berikan padanya. Di tangan kanannya pun ia memegang kalung milik Ara, yang belum sempat ia kembalikan, saat kejadian Ara digoda oleh preman itu.


Bukan belum sempat, tapi memang Ilham tidak berniat untuk mengembalikannya pada Ara.


Tidak ada niat jahat sedikit pun dari Ilham. Ia hanya ingin menjaga barang yang Ara punya, dengan segenap hatinya.


Ilham memainkan kalung itu, sembari menatapnya dengan sendu. Ia juga terus-menerus membaca kartu ucapan bertuliskan kata "i love you" itu, tanpa henti.


Ilham menghela napas panjang, "apa maksud dari kartu ucapan ini?" gumam Ilham dengan lirih, membuatnya selalu memikirkannya sejak pertama Ara memberikan hadiah jas hitam yang saat ini juga sedang dirinya pakai.


Itu adalah hadiah pertama yang Ara berikan untuknya. Ilham selalu berharap, akan ada hadiah-hadiah lainnya yang nanti akan Ara berikan untuknya. Bukan materialistis, tapi Ilham akan menyebutnya sebagai cenderamata, atau kenang-kenangan dari orang yang ia sayang, yang mungkin saja tidak akan bisa ia miliki sampai kapan pun.


Tidak ada ambisi apa pun untuk mendapatkan Ara. Ia hanya berusaha untuk mengisi kekosongan yang ada pada Ara. Ia tidak ingin, gadis yang ia cintai sampai harus merasakan sedih, atau terpuruk berlebihan.


Sama seperti ayahnya, yang selalu ada untuk ibu dari Ara, meskipun hanya dianggap sebagai seorang badut, tapi itu sudah sangat cukup bagi ayahnya.


Drama cinta yang memilukan, karena tidak akan ada tempat untuk orang lain lagi di hati Ilham, selain Ara.


Wajah Ilham kini memerah, saking terlalu meresapi tulisan yang ada di kartu tersebut. Sejak saat pertama kali ia melihat kartu itu, ia selalu membayangkan hal itu benar terjadi padanya.


Ilham menatap kalung tersebut, "genggam atau lepaskan?" gumam Ilham, yang masih rancu dengan perasaannya pada Ara.


Cinta tak berujung ini membuat Ilham merasa sesak, dengan perasaan yang ia punya pada Ara.

__ADS_1


Ilham memegang dadanya yang terasa sesak, entah karena perasaannya tak terbalas, atau karena kejadian kemarin yang masih membuat dadanya terasa sesak.


"Seandainya saya lebih cepat sedikit," gumam Ilham dengan sangat lirih, membuat sedikit air matanya menggenang di pelupuknya.


"Tok ... tok ...."


Seseorang mengetuk pintu ruangan kerja Ilham, membuat Ilham buru-buru menghapus air matanya yang sempat menggenang di pelupuknya. Ia menghela napas panjang, berusaha menahan sekuatnya perasaan sesak yang ia rasakan.


"Masuk," pekik Ilham, membuat seseorang itu masuk ke dalam ruangan Ilham, dan segera duduk di hadapannya.


"Ada apa, Ga?" tanya Ilham, membuat Rangga yang merupakan sekretaris general di perusahaan Arash, menghela napasnya panjang.


"Begini, Pak. Saya mau konfirmasi tentang tender yang kemarin kita ajukan," ucap Rangga dengan sendu, membuat Ilham mengerenyitkan dahinya.


Wajah Ilham seketika berubah, seperti orang yang kaget dengan hasil yang ia baca. Ilham pun meletakkan kembali berkas yang ada di tangannya, ke atas meja.


"Gimana mungkin bisa gagal? Kita sudah tanam ratusan juta hanya untuk operasional. Belum lagi inventaris yang sudah kita beli itu, yang harganya juga bukan murah," gumam Ilham tak percaya, dengan nada yang sangat sendu, namun ia berusaha untuk menahan perasaannya.


"Saya juga gak paham. Kenapa ini semua bisa terjadi?" ucap Rangga, membuat Ilham mendelik ke arahnya.


"Bukannya kita sudah akan tanda tangan kontrak, hari ini? Kenapa dengan seenaknya dia membatalkan dan malah menolak pengajuan yang sudah mati-matian saya buat?" tanya Ilham dengan sedikit nada yang tidak terima dengan semuanya.


Usaha Arash kala itu sia-sia belaka. Arash, Ilham serta tim lainnya yang mempersiapkan proyek ini dengan sebaik-baiknya, bahkan hari libur pun mereka pakai untuk pertemuan dengan client, akhirnya hanya bisa sampai sini saja.

__ADS_1


Ilham mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya, membuat Rangga menjadi iba dengannya. Biar bagaimana pun juga, Rangga bukanlah karyawan baru di perusahaan ini. Ia sangat tahu, perjuangan Ilham dan Arash dalam menyanggah perusahaan yang hampir collaps ini, selama setahun ke belakang.


Kepala dibuat kaki, kaki dibuat kepala. Begitulah mereka bekerja siang dan malam, senin sampai minggu, hanya untuk beberapa proyek yang mereka hadapi saat ini.


Proyek yang mikro lainnya sudah sangat sukses, entah kenapa mega proyek ini yang malah kandas, seperti ada permainan di dalamnya. Semua hal yang mereka siapkan, sia-sia belaka.


"Gimana bisa? Gimana saya harus menjelaskan ke presdir?" tanya Ilham, membuat Rangga menatapnya dengan sendu.


"Saya juga sedih, tapi mau bagaimana lagi? Dunia bisnis itu kejam. Yang berkuasa yang menindas, mungkin saat ini kita yang sedang ditindas. Jangan mau kalah, saya juga pasti back up semua keperluan yang nanti dibutuhkan untuk proyek selanjutnya," ucap Rangga, membuat Ilham beberapa kali menghela napasnya.


Ilham memandang ke arah Rangga, "lantas, bagaimana saya harus menjelaskan pada Arash, dan para calon pekerja yang sudah saya siapkan?" tanya Ilham yang agak keras, membuat Arash yang hendak masuk ke dalam ruangan Ilham, menjadi tertahan karena mendengar Ilham berteriak seperti itu.


Arash mengerenyitkan dahinya, 'Gak seperti biasanya. Kenapa Ilham teriak-teriak seperti itu?' batin Arash bertanya-tanya dengan keadaan yang ada di dalam.


"Saya akan bantu Pak Ilham untuk bicara dengan presdir," ucap Rangga dengan penuh energi positif, yang ia harap bisa tersalurkan pada Ilham, yang saat ini sedang meledak-ledak dan kecewa karena gagalnya tender yang mereka persiapkan itu.


"Dia sudah terpuruk, kalau kita beri tahu proyek yang gagal ini juga ke dia, bagiamana mentalnya nanti?" tanya Ilham, yang masih memikirkan Arash.


Mendengar hal itu, seketika Arash pun mendelik karena merasa sangat terkejut. Proyek yang sudah ia persiapkan selama berbulan-bulan itu, akhirnya harus gagal. Padahal dari pihal client yang waktu itu Arash temui di hotel, mereka sangat menyetujui pengajuan yang Arash ajukan.


Nahas, dunia bisnis tak seindah yang kita pikirkan. Dunia bisnis sangatlah kejam. Itulah mengapa Arash harus menjadikan dirinya sendiri kuat, dan dewasa sebelum waktunya.


Sudah sepuluh tahun terakhir ini, ia berjuang sendirian untuk menyanggah perusahaan yang ayahnya tinggalkan itu, demi memenuhi kebutuhan adiknya, dan juga dirinya sendiri. Ia juga sampai melupakan mimpinya untuk menjadi polisi, demi menjalani perusahaan yang ayahnya tinggalkan itu.

__ADS_1


Hal yang seperti ini, bukan hanya sekali ia rasakan. Sudah beberapa kali, bahkan puluhan kali sudah ia rasakan. Seharusnya Arash sudah terbiasa dengan kegagalan seperti ini.


__ADS_2