
Belum selesai Arash berbicara, Fla segera memeluk Arash dengan sangat erat, membuat Arash mendelik kaget, karena Fla yang tiba-tiba saja memeluk dirinya dengan erat.
"Mau ... aku mau," ucap Fla spontan, seketika membuat pikiran Arash terbuka seketika.
'Apa ini rasanya dicintai?' batin Arash bertanya-tanya di dalam hatinya.
Selain Bunga, Arash tidak pernah merasakan lagi arti cinta yang tulus. Kebersamaannya dengan Jessline yang diawali dengan kegiatan yang sudah menodai arti cinta, membuat cintanya mengalami gagal fungsi.
Padahal seharusnya, jika mereka sama-sama mencintai, mereka akan menjaga satu sama lain, bukan malah merusak dengan cara berbuat hal-hal yang tidak-tidak.
Mungkin benar, dengan melakukan hal seperti itu, akan membuat mereka semakin cinta. Tapi ternyata, melakukan hubungan seksual sebelum pernikahan, dapat membuat hubungan menjadi tidak sehat, dan itu semua tidak akan bertahan lama. Kalaupun bertahan, pasti akan selalu banyak keributan di dalamnya, sehingga salah satu atau bahkan keduanya merasa tersakiti karena rasa egois mereka masing-masing.
"Bahkan saya belum bisa melupakan Jessline seutuhnya, apa kamu bisa menerima saya yang masih belum pulih dari cinta yang hilang itu?" tanya Arash menekankan pada Fla, membuat Fla mengangguk kecil.
"Apa kamu janji, tidak akan meninggalkan saya, ketika banyak orang yang berusaha membuat jatuh harga diri saya di hadapan kamu?" tanya Arash lagi, dan lagi-lagi Fla mengangguk kecil.
Arash tersenyum tipis melihat reaksi Fla yang saat ini masih di dalam pelukannya.
Sungguh bahagia perasaan hati Fla saat ini. Meskipun ia harus menahan rasa sakit di awal, tapi ia berhasil membalikkan hati dan perasaan Arash padanya.
'Akhirnya ... aku janji, akan berusaha lebih dewasa untuk hubungan ini,' batin Fla yang sudah tak terbendung lagi.
Arash tersenyum simpul, lalu segera membalas pelukan Fla dengan sangat erat. Akhirnya setelah beberapa tahun ke belakang ini, Arash memulai kembali hubungan dengan orang yang mencintainya. Meskipun tertatih, Arash akan berusaha untuk menghilangkan keseluruhan tentang Jessline, dan mulai menerima Fla seutuhnya.
"Saya akan berusaha mendalami perasaan saya ke kamu. Soal Bunga atau Jessline, atau wanita lain yang nantinya akan datang dan merusak hubungan kita, kamu janji kan gak akan dengan mudah lepasin saya, sama seperti tadi kamu meninggalkan saya?" tanya Arash.
"Aku janji, akan berusaha dewasa dan lebih dulu minta penjelasan ke Kakak. Makasih ya udah mau nerima aku," jawab Fla, membuat Arash mengangguk kecil.
Arash merenggangkan pelukannya dan menatap wajah Fla yang saat ini sedang berseri-seri, "Fla, would you be my girlfriend?" tanya Arash, membuat Fla mendelik tak percaya dengan perkataan Arash, saking bahagianya dia.
Fla pun mengulurkan tangannya ke arah pipi Arash, dan mencubitnya dengan cukup kencang.
"Aduh ... kok Kakak dicubit?" tanya Arash yang segera mengusap pipinya karena merasakan sakit akibat cubitan Fla.
__ADS_1
"Aku kira mimpi, ternyata beneran," jawab Fla dengan polosnya, membuat Arash melontarkan tatapan dingin ke arahnya.
"Harusnya cubit ke pipi kamu sendiri, kayak gini ...," gumam Arash yang mempraktikkan, ia mengulurkan tangannya ke arah Fla.
Saking takutnya, Fla memejamkan matanya karena khawatir tak kuasa menahan sakitnya cubitan Arash. Tapi yang ia rasa hanya Arash yang hanya meletakkan tangannya di pipi Fla, membuat Fla memandang Arash kembali dengan heran.
Pandangan mereka pun bertemu pada satu titik, membuat suasana malam kembali terasa canggung karenanya. Tak sengaja, Fla menelan salivanya dengan kasar, saking kakunya dirinya ketika dipandangi oleh Arash.
"Fla, would you be my girlfriend?" tanya Arash lagi, namun Fla masih terdiam tanpa menjawab pernyataan Arash.
Arash menggeleng kecil, "okay last, would you be my girlfriend, Flareon?" tanya Arash, tetap saja masih membuat Fla terdiam tanpa kata.
Dalam hati Fla, 'ternyata aku lagi gak mimpi. Ini beneran terjadi!'
Arash terdiam, karena Fla yang hanya diam tanpa menjawab pernyataan Arash yang sudah dinyatakan tiga kali berturut-turut itu.
Dengan ragu, Arash mendekatkan wajahnya ke arah wajah Fla, membuat tangan Arash seketika menjadi panas karena sedari tadi memegangi pipi Fla.
Apakah ini cinta?
Arash melihat ke arah bibir Fla yang terlihat sangat manis, karena sedari tadi, Fla tak henti-hentinya mengulum bibirnya sendiri, karena merasa bibirnya sangat kelu, tak bisa berkata apa pun.
Fla menyadari Arash yang sudah terlalu lama menatap ke arah bibirnya itu, membuat Fla tak sadar kembali menelan salivanya.
"Bolehkah?" gumam Arash dengan lirih, membuat napas Fla semakin memburu karena ia sudah tak sanggup lagi menahan perasaannya pada Arash, orang yang memang ia sukai itu.
Fla sedikit menunduk, karena ia sudah malu dengan Arash. Ia tidak bisa menatap wajah Arash terlalu lama. Wajah Fla kini sudah berubah memerah, membuatnya semakin malu memperlihatkannya pada Arash.
'Apa boleh seperti itu?' batin Arash yang masih ragu untuk melakukannya dengan Fla.
Fla kembali memandang ke arah Arash, membuat Arash memperhatikannya kembali. Seketika Fla memejamkan matanya, membuat Arash tertegun dengan yang Fla lakukan. Ini adalah kesempatan yang bagus untuk Arash.
Perlahan namun pasti, Arash segera mendekatkan bibirnya ke arah bibir Fla.
__ADS_1
"Cupps ...."
Malam ini, adalah malam yang sangat bahagia untuk Fla dan juga Arash. Setelah perasaan Fla yang selama ini muncul dan ia pendam, kini semua menjadi kenyataan. Arash sudah bisa menerimanya, walaupun belum seutuhnya.
Jessline yang mengintip adegan mesra mereka dari balkon lantai atas rumahnya, segera menafikan pandangannya dan langsung meminum segelas sirup yang ia pegang di tangannya.
Kali ini, Jessline tidak bisa berkata atau bahkan berekspresi apa pun.
Hanya datar.
Setelah mengecup lembut bibir Fla, Arash mengulum pelan bibirnya, membuat suatu gerakan yang bisa lebih meyakinkan dirinya untuk memilih Fla.
Bagi Arash, Fla sangat lembut, bahkan ia hanya diam tanpa melakukan perlawanan.
Tidak seperti Jessline.
Arash pun menghentikan aksinya, dan memandang wajah Fla yang kini sudah memerah, bak kepiting rebus.
"Gimana?" tanya Arash, membuat Fla mengangguk kecil menjawab pertanyaan Arash, membuat Arash melontarkan senyumnya.
Fla yang malu segera bersiap untuk keluar dari Mobil Arash.
"Fla!" pekik Arash, membuat Fla menghentikan langkahnya, dan kembali menoleh ke arah Arash.
"Besok pagi, saya jemput untuk jalan-jalan bareng Ares, ya?" tanya Arash, membuat Fla tersipu malu, sembari mengangguk.
Fla pun dengan segera pergi dari sana, karena merasa sudah sangat malu dengan Arash.
Arash pun tersipu malu karena sikap Fla yang pemalu itu.
"Ah ... jadi seperti ini rasanya dicintai?" gumam Arash yang terpukau dengan sikap Fla yang malu-malu seperti itu.
...***...
__ADS_1