Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Kencan Buta 6


__ADS_3

Ara sudah selesai membeli barang yang ingin ia berikan kepada Morgan, sebagai hadiah ulang tahun. Ara kembali ke tempat Morgan berada. Ara senang, karena ia bisa memberikan hadiah ulang tahun padanya.


Dengan senyuman khas yang Ara miliki, ia tersenyum sembari memandang bingkisan yang ia bawa.


“Morgan pasti suka deh!” lirih Ara, sembari terus memandang bungkusan yang sejak tadi ia pegang.


Ara melangkahkan kaki menuju restoran, tempat ia meninggalkan Morgan tadi.


“Tap ….”


Langkahnya terhenti, karena Ara yang tak sengaja melihat Morgan, yang sedang bersama dengan beberapa gadis asing di sana.


Mereka terlihat sedang mengobrol dengan akrab sekali. Walaupun, Morgan sama sekali tidak berekspresi secara berlebihan, tapi sorot matanya tetap saja terlihat begitu asyik menikmati suasana seperti itu.


Morgan tetap saja bersikap dingin, walau saat ini sedang berada di hadapan banyak gadis cantik sekali pun.


Ara melihatnya dengan tatapan miris. Ada sedikit perasaan sedih saat Ara melihat mereka yang tengah asyik berbincang bersama dengan Morgan.


Kenapa Morgan bisa bersama dengan mereka, padahal, Ara baru saja meninggalkannya sebentar, untuk membelikan ia hadiah. Hati Ara mendadak remuk, sampai tidak mood lagi. Ara menyimpan hadiah itu di dalam tasnya.


Ara mengurungkan niatnya untuk memberikan Morgan sebuah hadiah yang baru saja ia beli.


“Ara?” pekik seorang laki-laki, yang tiba-tiba saja datang dari arah yang entah darimana.


Ara sangat terkejut. Ternyata, dia adalah teman sekelas Ara juga. Tapi, Ara sama sekali tidak pernah berbincang dengannya.


Ara menyipitkan matanya, berusaha mengingat sosok laki-laki yang sepertinya tidak asing baginya.


Bukankah dia ….


“Ra?” pekiknya lagi, membuat Ara tersadar dari lamunannya.


“Eh, iya…,” Ara tersadar, lalu membenarkan sikapnya di hadapan laki-laki ini.


“Loe ngapain, Ra, di sini?” tanyanya yang sepertinya sok akrab dengan Ara.


Ara sudah mengingat tentang laki-laki ini. Sebetulnya, Ara sangat malas berbincang dengan laki-laki ini, karena dia yang waktu itu sudah melukai Fla, dan berseteru dengan Ray hingga dosen idiot itu datang untuk mengusut kasus yang tidak jelas ini.


Tapi jika dipikir kembali, akhirnya Ara sadar alasan Morgan sampai melakukan itu. Itu karena korbannya adalah Fla, adiknya sendiri. Setidaknya aku sudah tahu satu poin itu.


“Ra,” pekiknya lagi, yang lagi-lagi berusaha untuk membuat Ara tersadar.

__ADS_1


Ara kembali tersadar, dan merasa tidak nyaman berbincang dengannya.


“Eh, g-gue ….” Ara gugup seketika, kemudian tak sengaja melihat ke arah Morgan yang juga kebetulan sedang melihat ke arahnya.


Laki-laki yang diketahui bernama Rafael, lantas mengikuti Ara untuk menoleh ke arah yang ia lihat. Dahinya mengerenyit setelah melihat seseorang yang sedang Ara lihat.


“Eh, itu bukannya pak ….” Rafael seperti sedang berpikir, sembari menaruh jari telunjuknya ke dagunya.


Ara mendadak tertawa kecil untuk mencairkan suasana.


“Oh, gue lagi jalan-jalan doang kok di sini,” ucap Ara untuk mengalihkan pembicaraan, Ara mempunyai misi, jangan sampai Rafael tersadar, kalau Ara ke sini bersama dengan Morgan.


Dia langsung menoleh ke arah Ara dan tersenyum.


“Oh ... sama dong? Kalau gitu, boleh bareng gak? Gue juga lagi jalan-jalan aja di sini,” gumam Rafa dengan sangat bersemangat.


Ara bingung harus menjawab apa. Ara melihat ke arah Morgan yang sedang menatap ke arahnya dengan tatapan yang dingin. Para gadis itu kemudian lagi-lagi mengalihkan perhatian Morgan. Ara kembali melihat pria yang ada di hadapannya saat ini.


“B-boleh aja sih,” jawab Ara, membuat Rafa tersenyum.


“Oke deh.”


Keadaan Ara dan juga Rafael saat ini sangat canggung. Ara harus mencari topik pembicaraan agar bisa mengalihkan suasana canggung ini.


Rafael pun mengangguk kecil.


“Iya, dia sok banget di kelas. Gue gak suka orang yang nyakitin perempuan tapi kayak gak merasa bersalah gitu,” jawabnya membenarkan pertanyaan Ara.


Rafael terlihat kesal sendiri dengan ucapannya. Nampaknya, ia terbawa suasana dengan hal yang ia ceritakan. Ara jadi tidak enak padanya, dan hanya tertawa kecil.


“Tapi, mereka udah baikan, kok. Malah sekarang, gue, Fla, sama Ray jadi sering bareng kalau ke mana-mana,” sanggah Ara, berusaha membenarkan keadaan.


Jangan sampai, Rafael merasa kesal dengan kejadian yang sebenarnya sudah lama terjadi. Lagi pula, Fla dan Ray saat ini sudah baik-baik saja.


“Oh ya? Baguslah kalau begitu. Gue jadi tenang.”


“Hah?” lirih Ara yang tidak mengerti dengan yang Rafa maksud.


‘Bukannya dia yang punya kasus sama Fla?’ batin Ara tidak mengerti dengan keadaan saat ini.


Ara hanya tersenyum, tanpa tahu harus menjawab apa lagi.

__ADS_1


Suasana seketika menjadi sunyi kembali. Ara tidak bisa terus-menerus mencari topik pembicaraan, karena memang ia tidak biasa seperti itu. Biasanya, Reza yang lebih dulu bertanya, dan mencairkan suasana. Bahkan, Reza yang setiap hari mengirimkan pesan singkat dan meneleponnya lebih dulu.


‘Uh, kepikiran mantan terossss …,’ batin Ara yang masih terus berada dalam bayang-bayang mantan terindahnya.


“Heheh, oh ya nama gue Rafael,” gumamnya tiba-tiba, sembari menyodorkan tangan kanannya.


Ara sampai lupa dengan namanya. Ara bahkan tidak bertanya padanya. Tapi, dia sendiri yang berinisiatif untuk memperkenalkan diri. Benar-benar laki-laki yang unik.


Ara berusaha menjabat tangannya. Tapi ….


“Tseet ….”


Morgan tiba-tiba saja datang, dan langsung menyambar tangan kanan Rafa, menggantikan tangan Ara yang hampir menjabat tangan Rafa tadi.


“Morgan…,” lirih Morgan yang memperkenalkan dirinya pada Rafa.


Ara yang melihatnya pun menjadi terkekeh.


“Iya, Pak. Saya tahu Pak Morgan, kok. Kan kita pernah ketemu di ruangan bapak waktu itu,” ucap Rafael, kemudian terlihat menghempaskan pelan tangan Morgan.


Ara terkekeh mendengarnya.


‘Ish apan sih Morgan? Sok kenal banget,’ batin Ara yang merasa sangat jengkel dengan perbuatan Morgan yang secara tiba-tiba, mengacaukan sesi perkenalannya dengan Rafa.


“Bagus deh kalau kamu sudah kenal dengan saya,” ucap Morgan terdengar sangat kaku.


Kenapa dia masih saja menjaga image-nya? Padahal, ini bukan sedang di kampus. Harusnya dia tidak perlu berbicara secara formal terus-menerus. Ara jadi kesal kembali dengannya.


“Lho, Pak Morgan ngapain di sini?” tanya Rafa, Morgan sepertinya tidak bisa menjawab pertanyaannya.


‘Jawab dong! Hoho!’ Ara menertawakan Morgan dalam hati, tak sabar ingin mendengar jawabannya itu.


Morgan melihat ke arah jam tangannya kemudian langsung menoleh ke arah Arasha.


“Sebentar lagi dimulai,” ucapnya, membuat Ara kaget sekali, khawatir Rafa dan para gadis itu mengetahui kalau dirinya dan Morgan di sini sedang berkencan.


Ah.


Bukan, Ara sedang tidak berkencan di sini. Ara sedang ikut berpartisipasi untuk merayakan ulang tahun Morgan.


Rafael yang sedang memperhatikan Morgan, mendadak menganga.

__ADS_1


“Jadi, Ara sama Pak Morgan …,” ucap Rafa menggantung.


__ADS_2