Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Teman Dari Amerika 3


__ADS_3

"Intinya, Morgan cuma salah paham. Gue nggak mau kalau harus ngebahas ini lagi, Bis. Gue lagi berusaha buat ngubur perasaan gue sama dia. Gue nggak mau kalau gue ceritain semua kebenarannya sama loe, itu malah bikin hati gue tambah sakit karena khawatir, nanti gue gak bisa nerimanya," ucap Ara dengan nada malas.


Sebenarnya, aku tidak mau membahas Morgan lagi. Tapi semua orang sudah mengetahui hubunganku dengan Morgan. Wajar saja, jika ada yang menanyakan keberadaan Morgan. Cepat atau lambat, Mereka pun akan segera tahu kalau hubunganku dengan Morgan sudah berakhir. Aku tidak mungkin bisa lagi untuk menutupinya, pikir Ara sembari terus-menerus menghela napasnya.


"Oh gitu ya, Ra. Oke deh, gue nggak akan ungkit masalah pak Morgan lagi," ucapnya.


Ara memandang ke arah Bisma dengan heran, aku tidak tahu, apakah ini adalah kemenangan baginya atau memang murni tidak ingin mengungkit masalah Morgan lagi karena benar-benar peduli dengan perasaanku? Pikir Ara.


Semua makanan sudah tersedia di atas meja. Bisma mempersilakan Ara untuk makan terlebih dahulu, makanan yang ia sukai. Ara tentu tidak akan menolaknya.


Bisma menatap Ara teriring senyuman, "Udah lama ya, kita nggak makan di sini?" tanyanya, membuat Ara memandang ke arahnya, dan mengangkat sebelah alisnya.


"Udah deh, gak usah diingat lagi dosa-dosa yang udah loe lakuin ke gue," ucap Ara setengah meledeknya.


Bisma hanya tersenyum mendengar lelucon Ara.


"Gue sekarang udah tobat, kok! Tenang aja, gue nggak bakalan pakai cara-cara kotor kayak gitu lagi buat menangin hati loe," ucapnya dengan nada yang terlalu percaya diri, Ara hanya mentertawakan renyah ucapan Bisma ini.


"Cie ... awas ya, sekali lagi loe pakai cara-cara kotor kayak gitu, gue nggak bakalan mau ketemu lagi sama loe, gue nggak bakalan mau kenal lagi sama loe, gue juga nggak bakalan mau ngeliat muka loe lagi. Pokoknya kita putus," ucap Ara.


Ara masih dengan lelucon yang sama, semakin lama berbicara dengannya, semakin terasa bahwa ini hanyalah perasaan terhadap teman atau sahabat saja. Ia semakin tidak merasakan perasaan yang lebih dari ini.


Mendengar Ara mengatakan hal itu, Bisma hanya tertawa, kemudian melihat ke arah tangan kiri Ara.


Ara yang menyadarinya dengan segera melihat ke.arah tangannya.


Apa yang salah dengan tanganku? Apa karena, cincin yang aku pakai? Pikir Ara yang langsung menutupnya dengan tangan sebelah kanannya.


"Gue kira, cincinnya udah nggak ada. Ternyata loe masih pakai cincin yang gue kasih," ucapnya.


Tiba-tiba saja suasana menjadi serius. Situasi semacam ini yang sebenarnya, ingin sekali Ara hindari sejak tadi. Jangan sampai memancing ke arah hal-hal yang seperti itu.


"Sebenarnya, cincinnya nggak pernah gue pake kok. Waktu itu, gue masih sama Morgan. Gue nggak mau Morgan sampai salah paham sama gue, cuma gara-gara cincin yang loe kasih ini," ucap Ara yang berterus-terang, membuat Bisma terdiam sesaat, kemudian ia mendadak menjadi ceria.

__ADS_1


"Oh gitu. Ya ampun, Ra. Gue cuma nanya kok! Nggak usah jadi baper gitu kali? Santai," ucapnya kembali seperti nada sebelum kami membahas cincin ini.


Ara mengerenyitkan dahinya, sepertinya, ada yang aneh dari Bisma. Apa dia sengaja menyembunyikan perasaannya, agar bisa terus bersama denganku saat ini? Kenapa sekarang jadi aku yang seolah-olah flashback dengan Bisma? Pandai sekali ia bermain kata, pikir Ara yang menjadi rancu dengan keadaan.


"Ya ampun ... gue juga biasa aja tuh! Emangnya gue kenapa?" ucap Ara dengan menyamai nada Bisma.


Tiba-tiba saja, Bisma buru-buru mengambil handphone dari sakunya. Ia menatap layar handphone-nya dengan sangat serius, membuat Ara menjadi penasaran.


"Ra, kayaknya gue harus pergi deh sekarang. Temen gue nggak bisa dateng, terus dia minta tolong ke gue buat bawain baju ganti, buat temennya yang kecelakaan," ucap Bisma.


Ara memandangnya dengan saksama, nadanya seperti sedang serius. Kalau begitu, tidak apa-apa. Aku juga tidak memaksa untuk dia tetap berada di sini, pikir Ara.


"Ya udah nggak papa, Bis. Gue ngerti kok. Temen loe lagi kecelakaan dan memang seharusnya loe tolongin," ucap Ara, Bisma memandang Ara seperti tidak rela.


"Ayo, gue antar loe pulang," ajak Bisma.


Ara tiba-tiba saja teringat dengan Dicky. Ara pikir, ini kesempatanku untuk menjenguk Pak Dicky.


"Emm ... gak usah, Bis. Gue masih mau makan. Gue juga mau jenguk salah satu dosen kampus. Nanti gue minta jemput sama kakak gue kok! Loe tenang aja, mending sekarang loe jalan," ucap Ara.


Ara mendelik, "Lho kok malah diem? Ayo jalan!" ucap Ara memberi perintah padanya, Bisma pun terlihat kaget.


Bisma mengeluarkan dompetnya, kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Bisma lantas menyodorkannya ke arah Ara.


"Ya udah. Nih pegang, buat bayar makanan ini. Gue buru-buru. Loe simpan dulu aja ya kartunya. Bye," ucapnya terdengar tergesa-gesa.


Bisma pergi meninggalkan Ara, setelah memberikannya sebuah kartu, yang nantinya digunakan untuk membayar semua makanan yang sudah mereka pesan.


Ya ... paling tidak, dia tidak lari dari tanggung jawabnya membayar semua makanan ini, pikir Ara.


Ara terdiam sejenak, "Aku harus telepon kakak nih buat jemput!" gumam Ara dengan lirih, yang segera mengambil handphone dan menelpon Arash.


"Tuuuuttt ...."

__ADS_1


Ara menunggunya beberapa saat. Namun, tidak ada jawaban darinya. Hal itu cukup membuat Ara menjadi kesal dengan kakaknya itu.


Kenapa di saat-saat genting, dia tidak bisa dihubungi sama sekali? Pikir Ara yang geram dengan kakaknya.


"Aduh kebiasaan deh!" gumam Ara yang mulai geram dengan perlakuan Arash, yang tidak hanya kali ini dia berbuat seperti ini.


Ara kemudian mencobanya kembali, berharap Arash mengangkatnya kali ini.


"Tuuuuttt ...."


"Tuuuuttt ...."


"Angkat dong! Masa aku harus naik ojek sih?" gumam Ara penuh dengan harapan.


Tak lama kemudian, Arash pun mengangkat telepon darinya.


"Halo, Ra," Arash menjawab telepon dari Ara.


Entah kenapa, aku merasa senang. Bodohnya aku, pikir Ara.


"Kak, jemput aku bisa nggak? Aku ada di kafe dekat rumah," tanya Ara.


Terdengar suara yang sangat berisik, sepertinya kakak sedang tidak ada di rumah sekarang, pikir Ara.


"Ha-halo, Ra? Suaranya putus-putus," ucapnya lagi, membuat Ara seketika mendelik.


Benar saja, ternyata kakak memang sedang berada di jalan, pikir Ara yang tiba-tiba saja kesal dengan Arash.


Entah apa maunya Ara.


"Halo, Kak. Kakak di mana sekarang?" tanya Ara yang masih berusaha keras untuk mencari signal.


"Kak, kakak di--"

__ADS_1


"Tuuuuttt ... tuuuuttt ...."


__ADS_2