
Arash sudah bersiap untuk mengantar Ares mengunjungi Bunga. Kini, Arash sudah selesai merapikan barang-barang yang perlu ia bawa.
"Gak usah bawa baju ganti lah, orang gak nginap kok," gumam Arash, sembari memasukkan charger handphone, earphone, dompet dan vape miliknya, sebagai pengganti cerutu.
Arash pun sudah siap, dan kini sudah selesai merapikan barang-barangnya.
"Siap, tinggal nunggu Ares aja," gumam Arash yang kemudian segera melangkah menuju ruang tamu.
Sesampainya di ruang tamu, Arash melihat barang-barang Ares yang tergeletak di atas sofa, membuat Arash menggelengkan kecil kepalanya.
"Ini anak, kok sembarangan naruh tas sama handphone, sih?" gumam Arash yang agak kesal dengan kelakuan adiknya.
"Ares!" pekik Arash.
Arash pun menunggu, dan tidak ada jawaban dari Ares, membuatnya penasaran dengan keberadaan Ares.
"Ares di mana, ya?" gumam Arash, yang tanpa basa-basi segera menuju ke ruang kamar Ares yang berada di sebelah kamar Ara, di lantai atas rumahnya.
"Res ...," pekik Arash, yang langsung saja masuk ke kamar Ares, tetapi tidak ada siapa pun di sana.
Arash mengerenyitkan dahinya, "Ares ...," pekik Arash.
"Aku masih di toilet, Kak!" teriak Ares dari dalam toilet, membuat Arash mengerti dengan yang ia lakukan.
"Oh ya udah, Kakak tunggu mobil ya," ucap Arash.
"Ya!"
Arash pun keluar dari kamar Ares, dan segera menuju ke ruang tamu lagi. Namun, langkah Arash terhenti saat melewati kamar Ara.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, Arash pun masuk ke dalam kamar Ara, karena khawatir dengan Ara yang sejak semalam belum keluar dari kamarnya.
"Cklekk ...."
"Ra ...," pekik Arash, yang segera masuk ke dalam kamar Ara.
Terlihat Ara yang masih saja terlelap di atas ranjang tidurnya, membuat Arash sendu melihatnya.
"Huft ...."
Arash menghela napasnya panjang, karena ia merasa sangat kasihan dengan adiknya itu. Biar bagaimana pun juga, Arash paham dengan perasaan wanita, yang pastinya akan sangat terluka jika hubungan yang sudah ia jalin selama ini, harus kandas di tengah jalan.
__ADS_1
Arash pun menghampiri Ara, dan duduk di bibir ranjang. Arash melihat ke arah Ara yang sedang memiringkan tubuhnya, hingga wajahnya tak terlihat.
"Ra ...," pekik Arash, membuat Ara terbangun dari tidurnya.
"Engh ...."
Ara membenarkan posisi tidurnya, menjadi menghadap ke Arash. Ara memandang Arash dengan pandangan yang masih remang.
"Iya, Kak," sahut Ara, membuat Arash lagi-lagi menghela napasnya.
"Tumben belum bangun? Tumben juga semalam tidur awal. Kamu sakit?" tanya Arash, membuat Ara mengusap wajahnya dengan lembut, membersihkan setiap kotoran yang menempel di sela matanya.
"Kayaknya memang lagi gak enak badan, Kak. Badan aku ngilu, bawaannya capek mulu terus pusing," jawab Ara, membuat Arash tak tega melihatnya.
"Mau Kakak antar ke dokter, Ra?" tanya Arash, membuat Ara menggelengkan kecil kepalanya.
"Gak usah, Kak. Kakak kan mau ada acara sama Ares, biar aku istirahat aja di rumah," tolak Ara, membuat Arash semakin tak tega meninggalkannya sendirian di rumah ini.
"Kakak makin gak tega jadinya," gumam Arash, membuat Ara tersenyum tipis ke arahnya.
"Gak apa-apa, Kak. Bukan sering kan Kakak nemenin Ares. Mumpung Kakak libur, ya udah pakai buat jalan aja sama Ares. Kebetulan aku lagi gak mood pergi," ucap Ara, membuat Arash agak sedikit lega mendengarnya.
"Ya udah, Kakak pergi dulu sama Ares, tapi kamu tetap sama Ilham ya, takutnya nanti ada apa-apa, Kakak susah hubungi kamu, atau kamu yang sudah hubungi Kakak," gumam Arash, membuat Ara mengangguk kecil, karena tidak mempunyai pilihan lagi.
Arash tersenyum, "Ya udah, Kakak jalan ya?" pamit Arash.
"Hati-hati, Kak," ucap Ara, membuat Arash melontarkan senyum ke arahnya.
Arash pun beranjak dari kamar Ara, membuat Ara kembali tertidur seperti sebelumnya. Arash bergegas menuju ke ruang tamu, dan tak sengaja melihat Ares dan Ilham di sana.
"Lho, baru saya mau hubungi kamu, Ham," gumam Arash, membuat Ilham mengubah fokus ke arahnya.
"Lho, ada apa, Ras?" tanya Ilham yang penasaran dengan tujuan Arash.
"Minta tolong jaga rumah. Saya mau pergi sebentar sama Ares buat ke rumah Bunga. Gak lama, kok. Jam 7 malam sudah balik lagi," ucap Arash, membuat mata Ilham seketika berbinar saking senangnya dirinya.
"Tenang aja. Kalian bersenang-senang saja sana. Jangan lupa, pulangnya bawain makanan, ya?" goda Ilham, membuat Arash tertawa kecil mendengarnya.
"Tenang aja," ucap Arash yang langsung menoleh ke arah Ares, "sudah siap belum?" tanya Arash, membuat Ares tersenyum senang.
"Sudah dong!" gumam Ares dengan nada yang sangat senang.
__ADS_1
"Ya udah, yuk kita jalan," ajak Arash, membuat Ares mengangguk cepat sembari menyeringai.
Arash kembali menoleh ke arah Ilham, "Oh ya, sepertinya Ara gak enak badan. Tolong diperhatikan makannya ya, soalnya dari semalam Ara gak mau makan," gumam Arash, membuat Ilham melontarkan senyuman ke arahnya.
"Jadi job desk saya hari ini, menjadi satpam dan baby sitter untuk Ara?" goda Ilham, membuat Arash tersenyum.
"Tolong, ya?" gumam Arash memelas, membuat Ilham menepuk-nepuk bahu Arash dengan pelan.
"Selamat bersenang-senang," gumam Ilham, yang seketika membuat Arash tersenyum ke arahnya.
"Ya udah saya pamit dulu, ya," pamit Arash, membuat Ilham mengangguk kecil.
"Hati-hati," ucap Ilham.
"Dah Kak Ilham," pamit Ares.
"Bye cantik."
Ares pun menggandeng tangan Arash, dan segera meninggalkan Ilham sendirian di sana.
Seketika perasaan Ilham menjadi sangat sedih, mendengar Ara sedang tidak baik-baik saja hari ini. Ia hanya berpura-pura baik-baik saja ketika mendengar Arash mengatakan itu, tetapi dalam lubuk hati Ilham, ia sangat terpukul mendengarnya.
Dengan segera, Ilham pun menyelinap masuk ke dalam ruang kamar Ara.
Ia mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam ruangan itu.
"Cklekk ...."
Ilham berhasil membuka pintu ruangan kamar Ara, dan segera masuk ke dalam kamarnya untuk melihat keadaannya.
Kini, Ilham pun berhadapan dengan Ara yang masih tertidur pulas di ranjangnya. Ilham segera duduk di bibir ranjang, dan memandangi setiap sisi wajah Ara.
"Kamu sakit apa, Ra?" gumam Ilham dengan lirih, tidak ingin membangunkan Ara.
Ilham masih ingin berlama-lama memandang wajah polos Ara, yang sedang tertidur. Itu sangat membuat Ilham tenang.
Ilham mengeluarkan handphone-nya, karena ia ingin sekali menjaga Ara di sini. Sembari menjaganya, Ilham memainkan ponselnya, untuk sekedar melihat-lihat berita terkini yang terjadi di negara tempat ia tinggal.
Ilham pun hanya fokus ke arah layar handphone-nya, tanpa mempunyai niat jahat pada Ara yang tidak sadarkan diri.
"Huekk ...."
__ADS_1