Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Pernyataan Cinta Morgan


__ADS_3

“Kakak ...,” pekik Ara dengan nada khas seperti anak kecil.


Ara berhamburan memeluk kakaknya yang sedang duduk di kursi ruang tamu. Sepertinya, Arash sedang sibuk sekali dengan pekerjaannya, sampai tidak menyadari kalau Ara sejak tadi sudah berada di belakangnya.


“Kak!” pekik Ara sekali lagi, membuat fokus Arash berubah menjadi ke arahnya.


“Eh iya?” Arash terkejut karena kejutan yang diberikan Ara padanya, “lho ... tumben? Kamu salah makan?” tanya Arash heran dengan perubahan sikap Ara yang tiba-tiba.


Ara mengerucutkan bibirnya, lalu memukul dada kakaknya, karena ia merasa kesal sekali mendengar celotehannya itu. Jarang sekali mereka bercengkerama seperti ini, Arash malah mengacaukan semuanya.


“Uhukkkk ... sakit tau,” gurau Arash, sembari menyentuh dadanya.


Ya.


Memang Ara tidak seserius itu, saat memukul dadanya Arash. Semarah apa pun Ara pada kakaknya, ia tidak akan sampai hati untuk menyakiti kakaknya itu. karena di lubuk hati Ara yang paling dalam, Ara sangat menyayangi Arash, sebagaimana adik yang menyayangi kakaknya. Hanya Arash yang tersisa saat ini.


“Mmm ... lagian kakak gitu ngomongnya ...,” ucap Ara dengan manja, kemudian kembali memeluk Arash dengan erat.


Arash tersenyum, sembari membelai halus rambut Ara. Kalau sedang seperti ini, Ara jadi teringat masa kecilnya bersama Arash.


Saat itu, Arash selalu mengantarkan Ara ke mana pun Ara pergi. Entah ke sekolah, ke taman bermain, ke mall, atau ke tempat les bela diri yang Ara ikuti. Mereka juga selalu berlarian bersama sampai merasa lelah. Melakukan hal-hal aneh seperti hujan-hujanan bersama, bercanda bersama, sampai makan dan tidur pun, semuanya Ara lakukan bersama dengan kakaknya.


Ingin rasanya memutar waktu, pikir Ara.


“Heheh, iya maaf, ya,” lirih Arash merasa tak enak dengan adiknya.


Ara hanya diam saja, tak merespon ucapannya.


Mereka terdiam, seperti tidak ada topik pembicaraan lagi. Arash mengambil remot TV, kemudian menekan tombol sesuka hatinya, sampai menemukan program televisi yang menurutnya bagus.


“Nah ... ini nih, tinju!” ucap Arash, yang sudah menemukan program televisi yang ia inginkan.


Ara mendonggak, berusaha melihat Arash yang sedang memeluknya, “oh ya kak, nanti temen-temen aku mau pada ke sini,” ucap Ara dengan riangnya.


Arash mengubah posisinya, menjadi menatap Ara dengan tatapan yang heran, “lho, bukannya kamu hari ini mulai les? Gurunya udah datang, lho,” ucap Arash tiba-tiba, membuat Ara terkejut.

__ADS_1


Kenapa kakak tidak konfirmasi sebelumnya padaku? Pikir Ara.


“Lho ... kakak kenapa gak konfirmasi dulu ke aku? Lagian walaupun aku setuju untuk les tambahan, bukan berarti kakak seenaknya gak ngomong apa-apa ke aku!” bentak Ara, yang menggunakan nada lebih tinggi dari sebelumnya.


Arash hanya terdiam, sambil mengerenyitkan dahinya.


Ya.


Beginilah Arasha.


Selalu hidup dalam kekangan, membuat Ara tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Ara mengerti, tugas kakaknya sangat berat untuk membuat Ara menjadi manusia berguna. Tapi, seharusnya Arash juga mengerti dengan apa yang Ara inginkan. Bukan memaksakan kehendak seenaknya seperti ini.


“Temen-temen aku mau ke sini sebentar lagi!” rengek Ara kesal, “kakak bilang sudah ada gurunya, mana? Aku gak lihat, tuh!” Ara mulai menjadi geram pada Arash.


Padahal, aku sudah lama ingin menikmati momen berdua seperti ini dengan kakak. Kenapa di saat sedang bermanja-manja, ia malah menghancurkan mood-ku seperti ini? Pikir Ara.


Suasana menjadi hening. Arash tidak tahu lagi harus berkata apa pada adiknya itu. Dilihat dari sudut pandang mana pun, tetap dia lah yang salah.


“Udahlah, aku males! Mau ke kamar!” ucap Ara dengan ketus.


Mata Ara mendelik, “Huaaaaaaaaahhh!” Ara terkejut, karena saat ia berbalik, sudah ada Morgan yang mengunci tubuhnya dengan segera.


Ara mendadak gagap tak keruan, karena awalnya Ara tak sadar kalau itu adalah Morgan.


“Sssstttttttttt ....” Morgan membungkam mulut Ara dan menyuruhnya untuk diam.


Ara mendadak diam karena terkena sugestinya.


Ketika keadaannya sudah memungkinkan, perlahan Morgan melepaskan tangannya yang baru saja digunakan untuk membungkam mulut Ara.


Ara mempersiapkan dirinya, “heh, ngapain loe ada di sini? Keluar, gak?!” bentak Ara secara spontan.


Morgan hanya melontarkan senyuman miring ke arah Ara, membuat Ara mendadak berubah mood menjadi marah sekali.


“Loe mau ngapain lagi sih di sini? Gue kan udah bilang, jangan ganggu gue lagi, karena gue nggak suka sama loe! Jadi, jangan ngikutin gue lagi!” bentak Ara, yang merasa kalau privasinya sudah dilecehkan oleh Morgan.

__ADS_1


Entah kenapa, hawa saat berhadapan dengan Morgan, selalu panas, membuat Ara selalu terpancing dengan keadaan. Ara jadi seperti Orang Dengan Gangguan Jiwa, atau disingkat ODGJ.


“Saya juga nggak bilang tuh, kalau saya suka sama kamu,” ucap Morgan dengan nada yang menyeleneh, membuat Ara mendelik ke arah Morgan.


Ara menjadi semakin tertantang untuk segera memukulnya. Sekarang, Morgan sudah berani menjadi seenaknya pada dirinya.


“Hah. Maksud loe apa sih? Ngedeketin gue, terus bilang kalau loe enggak suka sama gue? Maksudnya apa?” tanya Ara meninggi, sembari mendelik ke arahnya.


Morgan terlihat hanya diam, sembari menatap mata Ara dengan dalam.


Perseteruan mereka sepertinya tidak akan pernah ada habisnya, selama Morgan dan Ara sama-sama meninggi, dan tidak mau kalah satu sama lain.


“Apalagi, sekarang loe udah punya pacar. Ngapain loe masih deketin gue dan masih ngejar-ngejar gue? Emangnya, sama pacar loe itu, loe nggak cukup apa? Masih kurang body-nya dia? Masih kurang goyangannya dia? Haaaaaaaa?” ucap Ara asal secara menyeleneh.


Lagi-lagi Morgan hanya diam, seperti sedang menahan sesuatu. Kalaupun dia marah, apa haknya untuk marah pada Ara?


Ada alasan tersendiri, mengapa Morgan hanya diam saat Ara mencacinya. Morgan tidak ingin membuat Ara ketakutan seperti waktu itu lagi. Morgan lebih memilih untuk diam.


“Jawab gue dong! Kok loe diem aja sih?” tanya Ara kembali.


Morgan mendadak mengelus pipi Ara secara tiba-tiba, membuat Ara mulai hanyut lagi dengan alur yang Morgan mainkan.


Setiap sentuhannya, selalu bisa mengubah pendirian Ara.


Ah.


Ada apa dengan Ara?


Buru-buru Ara tersadar dari pemikirannya yang melenceng, bahwa yang ada di pikiran Ara itu tidaklah benar.


Morgan sudah mempunyai wanita pilihannya sendiri, dan Ara tidak boleh merebut siapa pun dari orang yang dia sayang.


It’s same like a ‘pelakor’, isn’t it?


Dari sekian banyak laki-laki di dunia ini, mungkin saja Ara masih bisa bahagia. Walaupun harus tanpa Morgan.

__ADS_1


Morgan menatap lekat Ara, “saya cuma mau ngomong …” ia kembali membuat suasana menjadi rancu, “mau tidak, kamu menjadi tunangan saya?” tanya Ara sembari buru-buru menundukkan kepalanya dan memejamkan mata, karena malu dengan Ara.


__ADS_2