
Mereka semua tersenyum, membuat keadaan Arash semakin terpojok.
'Yah ... mau bagaimana lagi?' batin Arash yang sudah tidak punya pilihan lain lagi.
"Ya sudah, tapi izin dulu sama ayah," ucap Arash pada Fla, membuat Fla mengangguk senang karenanya.
Fla tak sengaja melirik ke arah Bunga, yang sepertinya tidak senang dengannya. Fla tak mempedulikannya, malah Fla memikirkan cara untuk dirinya supaya bisa lebih unggul lagi dari wanita bernama Bunga itu.
Fla merogoh saku tasnya dan segera mengambil handphone-nya, lalu menyodorkannya pada Arash. Arash melihatnya dengan tatapan bingung, karena tidak tahu maksud Fla seperti apa.
"Maksudnya apa, Sayang?" tanya Arash, membuat Ilham terkejut mendengar panggilan Arash pada Fla.
Panggilannya terdengar lebih natural dari sebelumnya, pikir Ilham, menimbulkan satu kecurigaan pada Arash.
"Kakak yang izin aja ke ayah," gumam Fla sembari tersenyum manis ke arah Arash, membuat jantung Arash seketika terpompa lebih cepat dari sebelumnya.
Ini adalah kali pertama Arash meminta izin kepada ayah dari gadis yang berstatus sebagai kekasihnya. Ia tak sengaja menelan salivanya dengan kasar, karena terlalu gugup dengan keadaan.
Arash mempersiapkan diri, dan mengambil handphone yang Fla sodorkan padanya. Fla melirik sedikit ke arah Bunga, yang terlihat jelas sangat tidak senang melihat ke arah Arash.
'Gak usah segala kebakaran jenggot untuk hadapin wanita seperti dia,' batin Fla sembari tersenyum kecil.
Arash menelepon nomor tujuan, sembari khawatir dengan dirinya sendiri. Sangat jelas terlihat, kalau Arash saat ini sangat gugup karenanya.
Arash pun membuka load speaker handphone Fla, agar mereka bisa mendengar perbincangan Arash dan juga ayah Fla.
"Halo, Fla," sapa seseorang dari ujung sana, yang memiliki suara berat, yang tak lain adalah ayah dari Fla.
Meskipun Arash sudah sering kali berkunjung ke rumah Morgan, dan sering berbincang dengan ayah Morgan, tetap saja, kali ini adalah permasalahan yang beda menurutnya. Ia bukan sedang berbicara dengan ayah Morgan, tapi berbicara dengan ayah Fla. Itu dua hal yang jelas berbeda sekali menurut Arash.
"Ha-halo, Om. Ini saya, Arash," sapa Arash kembali dengan nada yang ragu dan sangat gugup.
"Lho, kok Arash? Fla mana?" tanya ayahnya Fla, membuat Arash beberapa kali menelan salivanya, saking kelu lidahnya.
"Anu, Om. Saya, Fla, Ilham, dan yang lainnya sekarang sedang ada di pantai selatan, kemungkinan besar sih ... kami menginap di sini karena sudah terlalu sore untuk pulang ke rumah. Kami baru sampai beberapa menit lalu. Sekalian kami mau merayakan malam tahun baru di sini," ucap Arash mencoba menjelaskan pada ayah dari kekasihnya itu.
__ADS_1
"Haha, om kira kenapa. Ya sudah, hati-hati di sana. Besok jangan terlalu malam pulangnya ya, Rash. Om titip Fla sama kamu," ucap ayah Fla, memberikan izin dengan mudahnya pada Arash.
Mendengar hal baik yang ayahnya Fla lontarkan, Arash mendelik kaget karena bisa dengan mudahnya untuk meminta izin pada ayah dari kekasihnya itu.
'Ternyata gak buruk juga,' batin Arash, yang sudah mulai terbuka mata hatinya.
"Baik, Om. Arash janji akan jaga Fla. Besok juga diusahakan gak terlalu malam kami sampai sana," ucap Arash.
"Oke. Selamat bersenang-senang, jangan lupa stay safe," gumam ayahnya, membuat mata Arash berbinar terang.
"Terima kasih, Om. Selamat sore," ucap Arash, yang langsung mengakhiri teleponnya.
Fla mendelik senang, "yes! Akhirnya boleh nginep!" teriak Fla, membuat Arash memandangnya teriring tawa.
Bunga melontarkan pandangan tajam ke arah Fla, 'awas kamu, Fla,' batin Bunga yang kesal dengan Fla.
...***...
Ara pun bergerak mengikuti arah Morgan berjalan, untuk pergi dari sana dan segera keluar dari apartemen itu.
"Ada apa sih?" tanya Ara dengan ketus.
Morgan menghentikan langkahnya, sesaat setelah mendengar pertanyaan Ara, membuat Ara juga menghentikan langkahnya.
"Jangan berhubungan dengan wanita itu," gumam Morgan memperingati Ara.
Ara mengerenyitkan dahinya, nampaknya benar, ada yang tidak beres dengan mereka, pikir Ara yang curiga dengan hubungan mereka.
"Apa yang salah? Kamu kenal sama dia?" tanya Ara yang ingin sekali tahu kebenaran yang harusnya ia ketahui, tapi, Morgan sama sekali tidak bergeming.
Ara mendelik, "Apa jangan-jangan, dia mantan kamu?" tanya Ara dengan asal.
Seketika Morgan pun menoleh spontan ke arah Ara. Wajahnya seperti orang yang sedang kesal. Ara sampai terkejut melihat responnya itu.
"Saya gak punya sesuatu yang disebut masa lalu, bareng dia," ucap Morgan seperti sedang menegaskan.
__ADS_1
Mata Ara membulat kaget, karena sepertinya harus ada penjelasan di sini. Kalau tidak, mungkin saja akan ada kesalahpahaman berlanjut yang nantinya akan terjadi.
Morgan kembali menarik tangan Ara, dan bergegas menuju halte bus. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Ara tidak bisa hanya diam melihat sesuatu yang terjadi, yang dirinya sendiri tidak tahu itu apa.
"Setidaknya kamu jelasin dong ke aku, kenapa kamu bisa kenal sama wanita itu?" tanya Ara dengan nada yang sedikit tinggi.
Morgan melepaskan tangannya secara tiba-tiba, membuat Ara sedikit kaget karenanya.
"Awsss ...." lirih Ara yang merasa terkejut.
Melihat Ara yang sepertinya kesakitan, dan menyadari tentang dirinya yang sudah terlalu kasar terhadap Ara, Morgan pun berusaha untuk mendekati Ara setelahnya.
"Ra, ma-maaf, saya--"
Ara mendelik ke arahnya, "jangan sentuh aku!" potong Ara memperingatkannya.
Mendengar ucapan Ara, Morgan sama sekali tidak menyentuhnya, seperti yang Ara perintahkan. Wajah Morgan terlihat suram sekali.
"Aku gak akan mau disentuh, sampai kamu jelasin semuanya tentang wanita itu," ucap Ara pada Morgan.
Morgan masih mengeluarkan aura yang suram seperti itu, semakin menambah rasa penasaran Ara.
"Paling tidak, kita sampai ke hotel dulu," ucap Morgan, yang ada benarnya juga.
Aku tidak mungkin membahas semua masalah di jalanan seperti ini. Yang ada, mereka yang lalu-lalang berpikir kalau aku ini wanita yang aneh, pikir Ara.
"Oke, tapi kamu janji ya harus cerita semuanya. Gak boleh ada yang kamu tutupin dari aku," ucap Ara seperti anak kecil yang menginginkan sesuatu.
Mengetahui respon Ara yang seperti itu, Morgan pun menghela napas panjang, lalu menurunkan egonya untuk mengelus puncak kepala Ara.
"Bawel," lirihnya membuat Ara menjadi kesal dengannya.
"Ish, awas ya!" ucap Ara memperingatinya.
"Tangkap dong kalo bisa," gumam Morgan sembari berlari meninggalkan Ara.
__ADS_1
Ara berlarian mengejar dirinya yang lebih dulu pergi meninggalkan Ara. Kali ini, ia tidak berpikir tentang pandangan orang lain terhadapnya. Ara pun tidak begitu fasih berbahasa Jepang. Itu sih alasan utama dirinya yang tidak menggubris perkataan mereka.