Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Cinta Bersemi


__ADS_3

Terdengar suara Arash dari arah pintu. Ara menoleh ke arah pintu kamar, dengan rasa penasaran.


Terlihat Arash yang tergesa-gesa, sembari membawa koper di tangannya.


Ara mendelik, jangan-jangan, Kakak mau pergi? Tidak-tidak! Bagaimana jika Morgan benar melakukan hal itu nanti malam padaku? Pikir Ara yang sudah ketakukan setengah mati.


“Lho … kakak mau ke mana? Kok buru-buru, sih?” tanya Ara bingung.


Arash kini tiba di hadapan Ara.


“Kakak ada urusan kerja di luar kota. Mau membahas soal penandatanganan kontrak kerja dengan client. Mungkin dua sampai tiga hari. Kamu baik-baik ya di rumah,” ucap Arash.


Ara merasa keberatan dengan yang ia ucapkan.


“Yah ... kak ... aku ikut ya!” rengek Ara padanya, tapi Arash hanya diam.


‘Bagaimana ini?’ batin Arash yang merasa keberatan dengan sikap Ara.


Mungkin diamnya itu menandakan bahwa aku tidak boleh pergi dengannya, pikir Ara.


“Yah ... Kak, ayo dong! Aku kan kena skors seminggu. Harusnya dua sampai tiga hari mah gak ngaruh kan!” Ara lagi-lagi merengek di hadapan Arash.


Arash menatapnya dengan tajam, kakak sepertinya memang tidak ingin aku ikut menemaninya, pikir Ara.


“Gimana, ya …,” lirih Arash, sembari menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal itu.


Ara kembali merengek, sampai memegangi tangannya, “kalau kakak mau main cewek di sana, gak papa kok. Aku gak akan bawelin kakak untuk kali ini aja,” ucap Ara.


Arash terlihat seperti orang yang terkejut.


Apa aku salah bicara padanya? Pikir Ara.


“Ya ampun, Ra!” gumam Arash sembari memelotot ke arah Ara.


Ara hanya menyeringai dan tertawa kecil padanya.


“Memangnya kakak kamu ini laki-laki apa? Udah ya. Pokoknya kamu gak boleh ikut. Kamu jaga rumah,” ucap Arash, membuat Ara termenung.


“Aku janji gak akan nakal, plis … ajak aku ya kak,” rengek Ara lagi, yang masih terus berusaha untuk membuat Arash menjadi luluh karenanya.


“Nanti atau besok, ada manajer dan sekertaris kakak yang akan datang ke sini, untuk menemani kamu. Kakak pergi dulu!” ucap Arash yang tergesa-gesa, lalu pergi dari hadapan Ara.


Ara memandang kepergiannya dengan sangat kesal, “eh kak! Kak!” pekik Ara yang tak dihiraukan olehnya.

__ADS_1


Ara kesal sekali karena sikap Arash yang egois dan tidak bisa dilawan.


Apa karena dia adalah seorang kakak, dan aku adalah adiknya, jadi aku tidak bisa membantah apa pun perkataannya? Pikir Ara.


“Aduh ... gimana nih! Morgan pasti nanti malem ke sini. Terus gimana kalau gak ada kakak? Dia beneran mau lakuin itu dong sama gue?” Ara berpikiran macam-macam karena kesalahan ucapannya tadi.


Aku benar-benar bodoh, pikir Ara.


“Tapi, tadi kakak bilang, akan ada sekertarisnya yang dateng ke sini? Mudah-mudahan aja nanti malam, biar gue gak terlalu gimana-gimana pas ditinggal berduaan sama Morgan,” lirih Ara, yang berusaha untuk berpikiran positif.


Tiba-tiba saja, ia terpikir tentang Fla, yang masih terbaring lemas di rumah sakit. Ara segera menelepon Fla, untuk mengetahui keadaan Fla.


“Tuutt ….”


“Tuutt ….”


“Halo?” sapa Fla, membuat Ara tersenyum.


“Halo, Fla. Gimana keadaannya? Udah mendingan?” tanya Ara.


Fla terseyum, mendengar perkataan Ara, “udah lebih baik. Gue udah ada di rumah, kok. Besok jug ague udah boleh ke kampus lagi,” ucap Fla, membuat hati Ara menjadi tenang mendengarnya.


Di sisi sana, Arash sedang sibuk memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobilnya. Setelah selesai memasukkan barang-barang yang ia bawa, ia segera masuk ke dalam kursi kemudi.


Ia segera menutup kembali pintu mobil itu.


Arash menghela napasnya panjang, karena mengingat perlakuan Ara yang secara tidak langsung, tidak mengizinkannya untuk pergi


“Kejadian yang saya takutkan, terjadi saat ini,” lirih Arash yang berusaha menenangkan dirinya.


“Dringg ….”


Tertera nama “Aresha” di layar handphone Arash, membuat Arash semakin tidak bisa berkata apa pun lagi.


Dengan berat hati, Arash mengangkat telepon dari gadis bernama Aresha itu.


“Halo, Ares?” pekik Arash dengan nada yang sangat ramah.


“Halo kakak. Kakak di mana? Kakak jadi gak ke sini, buat liburan bareng sama Ares?” tanya gadis imut itu, yang membuat Arash menghela napasnya berulang-ulang.


***


Rafa sudah berada di ruangan meeting para dosen.

__ADS_1


Di sana, terlihat wanita yang Rafa sukai, sedang duduk di hadapannya sembari mengisi absensi yang telah tersedia.


Rafa melihat cara ia menulis.


Anggun sekali.


Rafa melihatnya menuliskan namanya. Namanya adalah Kim Yo Ra. Ternyata, memang benar. Mungkin saja, wanita itu benar-benar keturunan Korea.


Rafa jatuh cinta pandangan pertama padanya. Rafa menatapnya dengan penuh harapan. Ia membayangkan, kalau ia bisa bersamanya sepanjang hari, apa yang bisa mereka lakukan bersama?


Matanya tiba-tiba melihat ke arah Rafa. Rafa yang sedang memandangnya, menjadi kelimpungan sendiri.


Kim tersenyum ke arah Rafa, membuat Rafa jadi ikut tersenyum karenanya.


“Have you done?” tanya Rafa.


Kim pun mengangguk cepat. Auranya sangat ceria, membuat Rafa jadi ikut ceria.


Ia memberikan kertas itu pada Rafa, dan Rafa pun menerimanya kemudian sedikit membacanya.


Ternyata, dia adalah guru ekstra kurikuler melukis. Aku jadi ingin sekali belajar melukis. Aku ingin terus berada di sampingnya. Aku harap, aku tidak patah hati lagi kali ini, pikir Rafa yang sudah terlalu jauh dalam berpikir.


Rafa berdiri di hadapan mereka semua, yang sudah mengisi tempat duduknya. Rafa melihat ke arah mereka, sambil sesekali melirik dan membaca lembar absensi yang ia pegang.


“Oke semua, mohon perhatiannya,” ucap Rafa yang sukses mengalihkan perhatian mereka.


Kini, mereka sedang menatap ke arah Rafa. Ia jadi gugup sekali, ditambah lagi, Kim yang juga terus menatap ke arah Rafa.


Rafa jadi semakin nervous dibuatnya. Tapi, ia berusaha mengatur napasnya. Ia tidak mau terkesan biasa saja di hadapan orang yang ia sukai.


“Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri. Nama saya Rafael Tan. Mahasiswa manajemen bisnis di kelas 01TPLP001. Di lembar absensi, ada sekitar sepuluh orang calon pengajar ekstra kurikuler di kampus ini. Tapi saya lihat, di sini baru ada tiga orang yang mengisi. Dengan berbagai macam pelajaran yang akan diajarkan yaitu, PMR, Pencak silat, Seni lukis, Seni musik, Futsal, Basket, Volli, Pencinta alam, Teater, dan Renang. Saya ingin mengetahui perkenalan diri masing-masing guru. Tapi sebelumnya, saya ingin memanggil dosen saya dulu,” ucap Rafa dengan lantang dan penuh percaya diri.


“Lanjutkan saja,” ucap Morgan yang tiba-tiba sudah ada di dekat pintu masuk ruangan.


Rafa mengangguk kecil, dan kembali fokus kepada mereka.


“Oke. Kita mulai satu per satu ya. Dimulai dari yang terdekat dari saya,” ucap Rafa.


Ia mulai memperhatikan kertas absensi yang ia pegang.


“Nama saya Gemi Yasmin Yosi, guru bidang kesehatan atau PMR,” ucap Gemi.


“Nama saya Hendi. Guru bidang pencak silat,” ucap Hendri.

__ADS_1


“My name is Kim Yo Ra. You can call me Kim or Yora. I am a painting teacher,” ucap Kim, yang mampu membuat Rafa menjadi dag-dig-dug tak menentu.


__ADS_2