
Melihat perubahan sikap Morgan, Ara segera memikirkan poin selanjutnya, agar tidak terkesan garing.
“Ketiga, loe gak usah sok cool lagi sama gue! Inget, gue ini sekarang pacar loe! Loe harus terbuka apa pun hal yang lagi loe rasain! Inget!” ucap Ara, sembari melihat Morgan yang sama sekali tidak bergerak dari posisinya.
Ara memandangnya dengan sinis, ‘ih, kenapa sih nih orang?’ batin Ara kesal.
“Iya,” jawab Morgan dengan simpelnya.
Aku sudah tidak peduli lagi dengan semua respon yang Morgan berikan.
“Keempat, loe gak boleh ninggalin gue dengan alasan apa pun!” ucap Ara lagi.
Morgan akhirnya mengubah posisinya menjadi menindih di atas Ara kembali.
Ara sempat malu dengan tindakannya itu. Tapi, ia berpikir kembali.
Untuk apa malu? Kita sudah resmi menjadi sepasang kekasih, pikir Ara.
Morgan menatap Ara dengan lekat, “sayang ... aku pasti berusaha buat bikin kamu nyaman sama aku. Walaupun terkadang aku masih belum bisa mengubah sifat asli yang aku punya. Maafin yang aku ya. Jangan bosen buat ngasih maaf ke aku,” ucap Morgan, membuat hati Ara menjadi sangat lega.
Ara juga baru pertama kalinya mendengar Morgan mengatakan satu kalimat yang hampir semuanya memakai bahasa informal, karena Ara tidak bisa hidup dalam ketegangan berbahasa.
Ara tidak mau membuat otaknya berpikir dengan sangat keras, karena harus memahami setiap ucapan baku yang terucap dari mulut Morgan.
Ucapan Morgan, membuat Ara tersenyum dan mengangguk pelan padanya. Morgan pun tersenyum, melihat respon yang baik dari Ara.
Pada akhirnya, aku bisa menerimanya dengan sepenuh hatiku, untuk menjadi bagian dari kehidupanku yang baru. Walau sangat berat untuk aku ke depannya, aku harus memilih antara Bisma dengan ketidakpastiannya itu, atau Morgan yang memang selalu berada di sampingku. Akhirnya, untuk saat ini, aku lebih memilih orang yang selalu ada bersamaku, pikir Ara yang sudah mengerti dengan keinginan dalam hatinya.
Ara tak henti-hentinya tersenyum, setelah mendengar perkataan Morgan, begitu pun Morgan yang memang sangat bahagia Ara menerima perasaan cintanya.
Mereka pun saling berpelukan, sebagai tanda Ara yang sudah menerima cinta dari Morgan, yang selama ini Morgan jaga untuknya.
Morgan merenggangkan pelukannya dan menatap Ara dengan tatapan jahil, “jadi, bisa gak kita bersenang-senang di malam yang penuh kebahagiaan ini?” tanya Morgan, membuat Ara tertegun mendengar pertanyaannya itu.
Sebetulnya, Ara ingin sekali menikmati malam indah ini bersama Morgan. Tapi, Ara tidak ingin sampai Morgan melakukan hal aneh lagi untuk malam ini. Itu sama saja dengan cinta memakai hawa *****, bukan?
Ara tidak ingin, cintanya terlalu didominasi dengan hal-hal semacam itu.
Ara mendelik, “gak!” tolak Ara dengan ketus.
__ADS_1
Morgan menyentuh hidung Ara menggunakan hidungnya, membuat Ara malu dengan tingkah manis Morgan itu.
Ara melihat wajah Ara yang kini sudah bersemu merah, “muka kamu merah tuh ...,” Morgan meledeknya, sembari memasang tampang yang menyebalkan.
Ara pun menjadi malu, dan segera menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Aku sudah menjadi pacarnya sekarang, kenapa aku harus malu lagi dengan tingkah laku romantisnya itu? Harusnya tidak masalah, bukan? Ia hanya meledekku sedikit. Apa aku benar-benar sudah mencintainya dengan dalam, sampai aku merasakan sesuatu yang bisa membuat aku malu jika berhadapan dengannya? Pikir Ara.
Morgan tersenyum jahil, ketika Ara sudah kehilangan kepercayaan dirinya. Memang itu yang Morgan inginkan.
Menjahili Ara setiap saat, sebagai bentuk rasa sayangnya pada Ara.
“Morgan mah ... jangan ngeledek begitu sih!” ucap Ara dengan nada yang manja.
Mendengar nada manja dari Ara, yang baru pertama kali ia dengar, Morgan pun tertawa kecil. Ara langsung saja mendelik ke arah Morgan, yang sedang menertawakan dirinya.
“Jangan ketawa, ah!” bantah Ara yang semakin malu dengan keadaan.
Morgan menghentikan tawanya, lalu berubah ekspresi menjadi tersenyum sembari menatap Ara dengan tajam. Ara saja sampai semakin tersipu malu karenanya.
Ara memberanikan diri untuk meletakkan tangannya di mata Morgan, membuat Morgan sedikit terkesiap.
Morgan pun menyingkirkan tangan Ara yang saat ini sedang menutupi matanya itu, dan langsung meletakkan tangan Ara di pipinya.
“Glek ….”
Tak sadar, Ara menelan salivanya sendiri, saking gemetarnya dirinya karena baru kali ini, ia dapat menyentuh wajah Morgan secara sukarela.
Morgan tersenyum manis padanya, “aku sayang kamu.”
“Deg ....”
Setiap kata atau perbuatan yang Morgan ucapkan dan lakukan pada Ara, membuat Ara merasa sangat bahagia, dan tak jarang Ara menjadi salah tingkah karenanya.
Aku harus menjawab apa? Aku bahkan tidak pernah menyatakan perasaanku secara terang-terangan kepada laki-laki yang aku sayangi, pikir Ara yang canggung dengan perkataan Morgan itu.
Morgan mengecup punggung tangan Ara, sesekali, untuk membuat Ara merasakan getaran cinta yang Morgan rasakan, padanya.
“Yaelah … tinggal dijawab aja sih!” ucap seseorang yang terdengar tak asing di telinga Ara.
__ADS_1
Ara seketika menoleh ke arah sumber suara itu.
Terlihat kakaknya yang sedang memegang handphone-nya, yang merekam aksi Morgan bersama dengan adiknya itu. Ara juga teman-teman yang lainnya seperti Ray, Rafa dan Fla.
Ara berpikir, mungkin saja mereka sedang merekam semua ucapan dan tingkah laku dirinya bersama Morgan sejak tadi.
Ara mendelik, dan langsung berubah sikap menjadi sangat malu.
Kenapa mereka semua ada di sini? Pikir Ara yang terkejut melihat semuanya yang ada di hadapannya sekarang.
“Apa-apaan ini?” ucap Ara dengan panik, yang berusaha untuk bangkit dan melepaskan dirinya dari tubuh Morgan.
Morgan yang mengetahui sikap Ara, seperti menghalanginya bangkit, dan tidak mengizinkan Ara untuk bangkit dari posisinya saat ini.
“Mau ke mana sih?” tanya Morgan.
Ara saat ini merasa bahwa harga dirinya sudah tidak ada lagi di hadapan mereka. Ara sudah kehilangan harga diri hari ini. Ara malu sejadi-jadinya.
Ara mengerenyit, kenapa semua mata memandangku dengan tatapan jahil seperti itu? Pikir Ara.
“Cieee Ara ... udah jawab aja sih!” sambar Ray.
“Iya, kenapa sih emang? Kan Pak Morgan ganteng! Ayo jawab sayangnnya dong,” Rafa membenarkan ucapan Ray.
“Cuitttt banget sihhh ...,” ucap Fla menambahkan mereka, ia tidak mau kalah dengan Ray dan Rafael.
Ara semakin tidak bisa bernapas, karena menahan rasa malunya. Morgan hanya diam, sembari tetap pada posisinya yang berada di atas Ara.
Ara sangat malu mendengar ledekan mereka, sampai-sampai ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tapi Morgan lagi-lagi menahan tangan Ara.
“Apan deh!” teriak Ara malu,
Morgan tersenyum tipis, “kenapa harus malu lagi? Kita kan, sudah resmi pacaran?” tanya Morgan, yang semakin memperkeruh suasana.
Mereka semua melihat ke arah Ara, dengan tatapan jahil itu lagi. Ara semakin malu dibuatnya.
Ingin aku berteriak saja, tapi aku sangat malu sehingga tidak bisa berbuat apa pun lagi, pikir Ara.
Ara mendelik, “loe gila ya, Gan?” tanya Ara.
__ADS_1
Morgan tidak merespon pertanyaan Ara, dan hanya diam sembari menatap Ara dengan tatapan yang tajam.