Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Morgan Buron


__ADS_3

“Apaan sih … foto jelek begini juga! Ini gue belom siap. Loe jangan asal maen jepret aja deh, ya. Udah kayak paparazi aja!” bentak Ara dengan kesal.


“Oh … jadi kamu mau kita foto dengan aba-aba?” tanya Morgan, membuat Ara tersadar dengan ucapannya.


Aku tidak seharusnya berbicara seperti itu, pikir Ara.


Ara memandang kesal Morgan, “engga! Enak aja! Lagian siapa juga yang mau foto sama loe!” bantah Ara dengan nada sinis, tetapi Morgan malah tersenyum padanya.


“Pokoknya jangan dihapus!” tegasnya.


Ara hanya bisa memelototinya saja, sembari menyinyir. Ara kesal dengan sikap Morgan yang secara tiba-tiba, dan membuat orang menjadi tidak keruan seperti itu.


Suasana sudah mulai kondusif, Morgan melirik ke arah jam tangannya, kemudian langsung menoleh ke arah Ara.


“Ayo, gak terasa sudah malam. Saya mau ajak kamu ke rumah,” ucapnya.


Ara memandangnya dengan sinis. Ternyata, Ara masih merasa khawatir dengan Morgan, yang bisa saja berbuat macam-macam dengan dirinya.


“Gak macem-macem, kan?” tanya Ara untuk memperjelas semuanya.


Morgan hanya memasang wajah datar, dan tidak menggubris pertanyaan Ara, membuat Ara mati gaya.


“Ih … yaudah lah, terserah!” ucap Ara asal, dengan nada yang sangat pasrah.


Mereka kemudian meninggalkan tempat ini.


Ara sungguh kesal dengan sikap Morgan yang secara tiba-tiba, tanpa peringatan terlebih dahulu. Ara tidak menyukai sikap dadakannya itu, yang seperti tahu bulat yang dijual lima ratusan, anget-anget. Hehe.


Ara dan Morgan sudah tiba di basement. Mereka langsung masuk ke dalam mobil pintar milik Morgan.


Ara duduk dengan melipat kedua tangannya sambil memandang malas ke arah hadapannya.


Morgan yang mengetahui hal itu, segera menarik kesimpulan tentang apa yang ia rasakan, “kamu sepertinya gak suka ya, jalan sama saya?” tebaknya, membuat Ara membuang pandangannya dari Morgan.


Ara memandang sinis ke arah Morgan “gimana mau suka? Loe aja kayak begitu! Seenaknya sendiri sama gue, ini itu tanpa ada persetujuan dari gue Semuanya harus serba loe atur! Emangnya gue ini apa, hah? Emangnya gue ini mainan loe yang bisa dengan mudahnya buat loe suruh-suruh atau atur-atur? Gitu maksudnya? Iya?” hardik Ara yang tanpa ampun.


Morgan hanya menatap Ara dengan pandangan yang datar. Tidak ada ekspresi sama sekali darinya.


“Emang harusnya saya bagaimana? Saya harus seperti apa?” tanya Morgan, yang membuat jantung Ara sedikit berdegup lebih kencang dari sebelumnya.


Aku harus menjawab apa padanya? Aku sendiri tidak tahu untuk mengatur dia seharusnya seperti apa dan bagaimana? Aku pun bingung dengan perasaanku sendiri, pikir Ara.

__ADS_1


Tidak ada satu patah kata pun yang bisa Ara ucapkan. Ia hanya bisa terdiam bingung, sembari memikirkan jawaban apa yang harus Ara berikan padanya.


Morgan tersenyum manis pada Ara, dia paham sifat Ara yang hanya berbicara semaunya, tanpa berpikir lebih dulu, “coba jawab, saya harus gimana? Bagaimana caranya saya bersikap sama kamu, kalau setiap saya tanya, kamu hanya diam?” tanya Morgan yang semakin membuat Ara terkesiap.


Ara memandang Morgan dengan tatapan tidak percaya.


“Ketika saya tanya lagi, kamu juga tetap diam. Ketika saya melakukan sesuatu, kamu selalu tidak suka dengan apa yang saya lakukan. Lantas, harus seperti apa saya bersikap ke kamu sekarang?” ucap Morgan panjang lebar, membuat Ara malu sendiri mendengarnya.


Sudah cukup! Aku tidak tahan lagi mendengar ucapannya yang bertubi-tubi itu sehingga melukai telingaku, pikir Ara yang sudah berubah sikap menjadi geram.


Ara mendelik kesal, “udah ah!” bentak Ara dengan nada yang sepertinya sudah terpojok.


Mengetahui hal itu akan terjadi, Morgan sudah mempersiapkan dirinya untuk menyikapi sikap Ara yang terlalu parah ini.


“Loe tuh harusnya--”


“Emphhhh ....”


Morgan segera menerjang Ara, dan mengecup bibirnya tanpa ampun, membuat jantung Ara terus terpacu. Ara tidak bisa melepaskan dirinya dari Morgan, karena di dalam mobil terasa sangat sempit.


Ara terlalu mudah terbawa arus perasaan ini. Ia merasa bahwa bibir Morgan terasa sangat hangat, membuatnya tidak ingin cepat-cepat menyudahi ciuman itu.


Setiap detik yang terlewatkan, membuat Ara ingin terus mengulang waktu. Ia ingin berlama-lama bersama Morgan.


Ara sudah larut dalam kenikmatan. Morgan sesekali melirik mata Arasha yang saat ini sudah terpejam itu.


Tangan lembut Morgan mengusap seluruh area wajah Ara. Belaian lembutnya membelai tengkuk kepala, hingga pipi kanan dan kiri Ara.


Ara sangat menikmati ciuman mesranya kali ini, bak melayang ke langit. Morgan selalu meninggalkan bekas kecupan mesra di seluruh wajah dan leher Arasha.


Morgan kemudian menyudahi ciuman itu. Terlihat pandangan matanya yang tanpa sengaja bertemu dengan pandangan mata milik Arasha.


Keheningan terjadi beberapa saat. Ara dibuat mabuk oleh Morgan, hanya dengan hitungan detik.


Apakah Ara sudah mulai bisa menerima Morgan di sisinya?


Morgan meraba bibir bawah Ara dengan ibu jarinya. Gejolak ini, membuat Morgan semakin ingin melakukan hal yang lebih dari yang sekarang mereka lakukan.


‘Sudahlah, jangan diteruskan,’ batin Morgan yang berusaha untuk menahan gairahnya terhadap Ara.


Ara seketika menunduk malu dengan sikap Morgan yang ia lihat itu.

__ADS_1


Walaupun Morgan sangat berambisi untuk bisa merasakan seluruhnya tentang Ara, tapi sebenarnya, Morgan tidak pernah bersikap seperti ini kepada selain Ara. Ia juga akan sangat canggung, jika berhadapan dengan lawan jenisnya.


‘Bibirnya membuat candu,’ batin Morgan, yang tidak bisa menahan gelora asmara itu.


Morgan menoleh ke arah Ara, “Ra …,” pekik Morgan, sehingga membuat Ara menoleh dengan ragu ke arahnya.


Morgan berusaha untuk mendekat kembali ke arah Ara, dan Ara hanya pasrah saja menerima keinginan Morgan.


“Tin ....”


Belum sempat mengulang kembali adegan mesranya, mereka terkejut karena mendengar klakson mobil yang terparkir di belakang mereka, membuat semua adegan mesra itu buyar seketika.


“****!!”


“Brakkkkkkk ....”


Morgan menggebrak stir mobilnya karena kesal, dan langsung melihat ke arah spion, mencari mereka yang sudah mengganggu aksinya itu.


“Deg ….”


Morgan terkejut, karena seseorang yang ia lihat itu.


Ara yang melihat ekspresi Morgan yang terkejut, menjadi khawatir dengan apa yang terjadi.


“Lho … kenapa, Gan?” tanya Ara yang khawatir dengan keadaan sekelilingnya.


Morgan tidak menghiraukan Ara. Ia mengemudikan mobilnya dengan sangat buru-buru, setelah melihat ke arah spion.


Ara bingung dengan perilaku Morgan yang tiba-tiba saja berubah menjadi seperti orang takut.


Karena rasa penasaran Ara yang teramat besar, ia melihat ke arah kaca spion depan, ingin memastikan keadaannya.


Betapa terkejutnya Ara, saat melihat orang yang sepertinya ia kenali.


‘Itu kayak …,’ batin Ara, sembari berpikir orang yang sedang ia lihat di spion itu, karena sangat familiar bagi Ara.


Aku pernah melihatnya di mana, ya? Aku sampai kehilangan akal sehatku, tidak ingat orang yang baru saja aku lihat, pikir Ara.


Mereka meninggalkan basement dengan segera. Ara berusaha melihat Morgan yang terlihat sangat tegang, dan terus-menerus melirik ke arah kaca spionnya.


Tatapannya seperti orang yang sedang terancam.

__ADS_1


Entahlah!


__ADS_2