
Ilham memandang kepergian Ara, lalu ia memandang kembali ke arah Reza.
"Saya gak pernah maksa dia untuk menikah dengan saya," gumam Ilham, membuat Reza seketika mendelik ke arahnya.
"Gue baru percaya, kalau gue udah lihat langsung keadaannya," ujar Reza tanpa ekspresi sedikit pun.
Ilham menghela napas panjang, "Jangan pernah kamu ganggu kami lagi," pinta Ilham, membuat Reza mengangguk kecil.
"Gue gak akan ganggu dia lagi. Jangan lupa bahagia!" ujar Reza, membuat Ilham melontarkan senyum tipis.
"Terima kasih," gumam Ilham.
Reza menyodorkan sesuatu ke arah Ilham, "Ini ... hadiah ulang tahun untuk Ara. Tolong kasih ini untuk yang terakhir kali, karena besok gue udah harus terbang ke Amerika bareng Bisma. Gue mohon," pinta Reza dengan sendu, membuat Ilham tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Ilham pun menghela napasnya panjang, kemudian menerimanya.
"Terima kasih," gumam Ilham.
Reza pun berbalik, "Sekali lagi, tolong jaga dia," gumam Reza membuat Ilham tersenyum.
"Pasti."
Reza pun pergi dari hadapan Ilham, membuat Ilham sendu menatapnya.
"Dasar anak muda," gumam Ilham yang tak habis pikir dengan Reza, yang mengingatkan Ilham tentang dirinya kala itu, tentu saja saat belum berhasil menggapai Ara seperti sekarang ini.
Ilham pun masuk ke dalam rumah, dan segera menghampiri Ara yang sudah berada di ruang makan.
Ilham memandang Ara yang sedang menyiapkan makanan untuk mereka makan, membuat Ilham tak kuasa menahan hasrat untuk memeluk Ara.
"Hugg ...."
Ilham pun tiba-tiba saja memeluk Ara, membuat Ara terkejut mengetahuinya.
__ADS_1
"Kak Ilham, kaget tahu!" bentak Ara, tak membuat Ilham melepaskan pelukannya dari istrinya tersebut.
Sedikit banyaknya, Ilham sudah sangat cemburu dengan percakapan antara Reza dan juga Ara, membuat rasa percaya dirinya sangat menurun drastis. Bisanya, Ilham selalu menuliskan semuanya di buku diary miliknya. Namun, saat ini ia sudah bisa memeluk Ara, sebagai salah satu pembangkit energi untuknya.
"Jangan dilepas," pinta Ilham, membuat Ara terdiam sesaat dan membiarkan dirinya dipeluk dengan erat oleh Ilham.
"Kenapa kamu menolak permintaan dia?" tanya Ilham, yang masih teringat dengan perkataan Ara yang akan menghormatinya.
Ara menghela napasnya panjang, "Aku gak mau nurut sama orang yang udah bikin aku sakit hati," jawab Ara, membuat Ilham menempelkan pipinya di pipi Ara.
"Kalau orang itu gak pernah bikin kamu sakit hati, kamu mau nurutin semua yang dia minta?" tanya Ilham, membuat Ara mengerenyitkan dahinya.
"Pasti lah!" ujar Ara dengan semangat yang membara, membuat Ilham tersenyum mendengarnya.
"Berarti, kamu ... mau nurutin semua yang aku minta?" tanya Ilham, membuat Ara mengerti dengan apa yang Ilham maksudkan.
"Glekk ...."
Ara tak sengaja menelan salivanya, dan sangat malu dengan Ilham yang jaraknya sangat dekat dengannya saat ini.
Mengetahui Ara yang sangat gugup, Ilham pun tersenyum, "Kamu kenapa?" tanya Ilham, membuat Ara semakin terkejut mendengar pertanyaan Ilham.
"Eng-enggak! Udah ah, ayo makan! Mudah-mudahan makanannya gak diracunin sama si Reza sialan itu!" bentak Ara yang langsung mengalihkan suasana.
Ara pun melepaskan dirinya dari Ilham, membuat Ilham tertawa kecil karenanya.
Ilham dan Ara segera melanjutkan makan malamnya dengan cepat, karena hari sudah semakin malam.
...***...
Ilham melangkah menuju ke dalam kamar, dengan kaki yang gemetar. Ia masih sangat kaku, karena mungkin ini adalah kali pertamanya tidur satu ranjang bersama dengan Ara.
Ilham menuju ke arah meja kerjanya, dan segera duduk di sana. Tak lama, Ara pun masuk ke dalam kamarnya, dan tak sengaja melihat Ilham yang sedang duduk di meja kerjanya.
__ADS_1
"Kamu gak tidur?" tanya Ara yang heran dengan Ilham.
Ilham memandang ke arah Ara dengan gemetar, "Ka-kamu tidur duluan aja, ya," jawab Ilham, membuat Ara mengangguk kecil.
Ara melangkahkan kakinya menuju ke arah ranjang, kemudian merangkak menuju ke atas ranjangnya dengan bersusah payah.
Ara merebahkan dirinya, dan memakai selimutnya.
Melihat Ara yang sudah pada posisinya, Ilham pun mengeluarkan buku catatannya dan mulai menorehkan segala keluh-kesahnya.
..."Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan untuk saya. Ara, gadis yang sudah saya cintai dari dulu, ternyata membalas cinta saya. Hari ini juga pertama kalinya saya mendapatkan ciuman darinya, dan merupakan ciuman pertama saya. Walaupun dia sangat sedih kehilangan janinnya, tapi bagusnya saya bisa membuat dirinya sedikit melupakan tentang kesedihannya. Belum terpikir untuk melakukan honeymoon dengannya. Sudah dua hari ini dia menangis, dan sudah berhenti seketika ketika perutnya mulai lapar. Hari ini juga, Reza datang meminta untuk menghabiskan waktu bersama Ara seharian penuh. Untungnya Ara menolak, dan lebih memilih saya daripada Reza. Mudah-mudahan, dirinya bisa sepenuhnya menerima saya, cepat atau lambat."...
Ilham menorehkan demikian, membuatnya merasa sangat lega sudah menuliskan kalimat seperti itu di buku catatannya.
Ilham menghela napas panjang, dan segera menutup buku catatannya, lalu meletakkan kembali buku itu pada tempatnya.
Ilham melihat ke arah Ara, yang sudah tertidur dengan cepatnya. Ia pun menghampiri Ara, dan dengan ragu berusaha untuk merebahkan diri di sebelahnya.
Hening sejenak. Hanya itu yang Ilham rasakan. Ia pun membalikkan dirinya menghadap ke arah Ara. Dari jarak sedekat ini, Ilham sangat senang menatap wajah polos istrinya ketika sedang tidur.
Ilham menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian mata Ara, membuat Ara tiba-tiba membuka matanya.
Ilham pun terkejut, tetapi tidak mengubah posisinya itu dengan jarak yang sangat dekat dengan Ara. Ara pun begitu. Ia tidak terkejut, berteriak ataupun menghindari Ilham. Mereka hanya bertatapan saja, lebih dari 5 detik.
Dengan sangat cepat, Ara pun mendekatkan wajahnya ke arah Ilham, dan mencium bibir Ilham dengan sangat menjiwai. Hal itu membuat Ilham mendelik tak percaya dengan yang Ara lakukan.
'Dia berinisiatif mencium saya?' batin Ilham yang hatinya sudah porak-poranda saat ini, saking senangnya mendapatkan ciuman dari Ara, tanpa harus bersusah payah mencari waktu yang tepat.
Lama-kelamaan, Ilham menjadi kalut. Ia spontan menggerakkan lidahnya dengan sangat lembut, sampai Ara merasakan setiap sentuhan lidah Ilham yang masuk mengabsen setiap rongga mulut Ara, dengan sangat nikmatnya.
Dari sini Ara bisa membedakan, antara Morgan yang sudah mahir dalam berciuman, dengan Ilham yang baru kali ini merasakannya bersama dengan Ara.
'Begini, bukan?' batin Ilham bertanya-tanya, yang kebingungan dengan hal yang ia lakukan.
__ADS_1
Saking menikmati Ilham, ia sampai tidak peduli lagi dengan ritme ciumannya itu. Yang ia tahu, hanya rasa nyaman dirinya ketika melakukannya bersama dengan Ara.