Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Halusinasi Atau Nyata?


__ADS_3

Ara merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi dengan Ilham semalam. Sebelumnya, ia hanya beberapa kali bertemu dengan Ilham. Namun, ia tak menyangka kalau dirinya akan menyeret Ilham ke dalam masalah sebesar ini.


Ara merenunginya sembari melihat ke arah handphone-nya. Keadaan semakin terasa sepi saat Ara tahu, tidak ada notifikasi apa pun di handphone-nya sejak semalam.


Seseorang tiba-tiba saja duduk beberapa kursi dari tempat duduk sambung, yang sedang Ara tempati, tapi Ara sama sekali tidak memedulikannya.


Hatinya terasa hampa sekali, mengingat kenangan bersama Morgan yang sudah terlalu banyak, sampai tak bisa dilupakan dengan mudahnya.


"Prof Handoko, saya ingin memberi kabar."


Terdengar suara Morgan, di telinga Ara sekarang. Ia tidak menyangka, kalau perasaannya menjadi sedalam ini pada Morgan. Sampai-sampai ia berhalusinasi mendengar suaranya itu.


"Apa gue beneran jadi gila?" gumam Ara dengan lirih, yang bingung karena terus-menerus dihantui oleh sosok Morgan.


"Saya mengalami kecelakaan saat sedang mengendarai mobil bersama Dicky. Keadaan saya baik-baik saja. Namun, Dicky cukup mengalami cedera serius. Saya ingin meminta izin cuti atas nama Dicky."


Suaranya terus terngiang dan bahkan sekarang lebih jelas. Ara mendelik, dan segera menoleh ke arah orang yang sedang duduk beberapa kursi di sebelahnya itu.


"Tess ... tess ...."


Air matanya seketika jatuh tak beraturan, karena ia melihat Morgan yang ada di sebelahnya, dan sedang menelepon seseorang. Sampai saat ini, Morgan pun masih memakai jaket pemberian Ara, dan sama sekali tidak melepasnya, membuat Ara bertambah sesak.


'Dia bahkan masih pakai jaket yang aku kasih,' batin Ara yang sendu menatap ke arahnya.


Sesuatu terlihat menempel menutupi pelipisnya. Ara menyadari, bahwa ucapan yang Morgan katakan tadi, adalah benar. Ara menyadari kalau Morgan mengalami kecelakaan, sama seperti yang ia lihat di dalam mimpinya.


Morgan kemudian menoleh ke arah Ara juga. Tatapannya terlihat dingin, sama seperti saat pertama kali mereka bertemu.


Aku tidak menyangka! Ternyata Morgan dan Dicky mengalami kecelakaan, sama seperti mimpiku tadi, pikir Ara tak henti-hentinya mendelik.

__ADS_1


Melihat Ara yang ada di sebelahnya, Morgan sampai tak bisa berkata apa-apa lagi. Padahal, saat ini dia sedang berbincang dengan Prof Handoko.


"Emm ... terima kasih Prof. Nanti saya hubungi lagi. Saya sedang menunggu Dicky di luar ruangan. Jika ada perkembangan, saya pasti akan memberi kabar. Selamat siang, Prof."


Morgan mengakhiri teleponnya, sesaat setelah melihat ke arah Ara.


Air mata Ara semakin membanjiri pipinya. Bahkan, Ara hampir tidak bisa mengontrol dirinya lagi. Ingin sekali ia memeluk Morgan, tapi apalah daya, mereka kini bukan lagi sepasang kekasih.


Suasana nampak canggung, sejenak mereka saling mencuri pandang.


"Saya sudah selesai ...."


Ucapan Ilham tergantung, karena dirinya yang tiba-tiba saja datang dari balik pintu, juga menyadari adanya Morgan yang sedang berada beberapa meter di sebelah Ara.


Ara menatap ke arah Ilham, yang sedang terdiam di hadapannya saat ini. Perlahan Ilham pun mendekat ke arah Ara, dan menyodorkan tangannya.


"Ayo kita pulang," ucap Ilham dengan lembut, membuat mata Ara seketika mendelik takut.


Ara hanya diam, sembari menatap sendu ke arah Ilham. Tak sadar, Ara pun sampai terus-menerus meneteskan air mata di hadapan Ilham.


Tak tega dengan Ara yang sudah sangat hancur, tangan yang Ilham sodorkan tadi, ia pakai untuk menghapus air mata Ara, membuat Ara sangat terkejut!


Kenapa semakin aku ingin menjaganya, semakin juga ia berusaha mendekatkan dirinya ke dalam masalah? Apa yang Ilham pikirkan sebetulnya? Pikir Ara, yang tak habis pikir dengan Ilham.


Ilham tersenyum, "Ayo, tunggu apa lagi? Ayo kita pulang ke rumah," ucap Ilham dengan kata-katanya yang sangat lembut.


Tak henti-hentinya Ilham membantu untuk menghapus air mata yang terus-menerus membanjiri pipi Ara. Sepertinya, Ilham sudah tidak memedulikan lagi apa yang Morgan lakukan setelah ini.


Ara menoleh sedikit ke arah Morgan, yang hanya diam sembari melipat kedua tangannya, tapi masih terlihat sedang melirik ke arah mereka. Morgan hanya diam, membuat Ara menjadi sedih karenanya.

__ADS_1


Kenapa Morgan tidak merespon tindakan Ilham sama sekali? Padahal dia jelas-jelas memperhatikan kami sejak tadi. Apa benar, dia sudah tidak memedulikan aku lagi? Pikir Ara sendu, tak habis pikir dengan sikap acuh Morgan.


Melihat Morgan yang tidak merespon apa pun, Ara pun kembali melihat ke arah Ilham yang masih setia menunggunya. Perlahan, Ara pun meraih tangan Ilham. Namun, Morgan masih sama sekali tidak merespon dan menanggapinya.


Itu tandanya sudah jelas sekali, bukan? Dia tidak menginginkan aku lagi, pikir Ara yang sudah pasrah dengan perasaannya pada Morgan.


Ara terus menahan rasa sesak di hatinya. Sampai akhirnya, ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Morgan, dan terus menggandeng tangan Ilham.


Dengan berat hati, Ara sama sekali tidak menoleh ke arah Morgan.


Melihatnya sebentar, sudah cukup membuat hatiku sakit. Apalagi sebelum ia meninggalkanku kemarin, ia berpesan agar aku tidak menemuinya lagi. Baiklah, jika itu yang ia inginkan, aku tidak akan mengusiknya lagi. Selamat tinggal, Morgan, pikir Ara sembari tetap melangkah bergandengan bersama dengan Ilham.


Morgan menatap kepergian Ara yang sembari menggandeng tangan laki-laki kotor itu. Hatinya kembali menjadi panas. Namun, sudah tidak ada lagi urusan Morgan padanya. Kini hubungan mereka sudah berakhir, dan Morgan tidak berhak lagi ikut campur dengan pilihannya.


Meskipun sejujurnya, Morgan sangat geram saat melihat Ilham menghapus air mata Ara, tapi ini adalah tempat umum. Morgan tidak ingin mengganggu pasien lainnya, dan membuat keributan di sini, hanya karena masalah wanita.


Morgan menafikan pandangannya dari mereka. Ia tidak ingin melihat kemesraan mereka lagi.


Aku ingin menutup rapat-rapat perasaanku padanya. Pria itu, sepertinya dia sengaja memamerkan kemesraannya di hadapanku. Padahal dia tahu, aku sedang memperhatikan mereka, pikir Morgan yang mendadak geram melihat mereka bermesraan di hadapannya.


Morgan menjadi kesal sendiri dibuatnya. Ia mengeluarkan handphone-nya, dan melihat akun sosial media mantan kekasihnya itu.


Morgan sudah tidak ingin melihatnya lagi. Rasanya, ia ingin sekali memblokir semua akses komunikasi, agar mereka tidak bisa berhubungan kembali.


Setelah mencari, saat ini di hadapannya terlihat akun milik Ara. Morgan pun menekan tombol blokir, sampai muncul tanda pop-up blokir atau batal.


Morgan memandangnya dengan sendu, rasanya aku sangat berat untuk melakukannya. Apa yang harus aku pilih? Pikir Morgan.


"Uh ...."

__ADS_1


Pilihan yang sangat sulit.


Pada akhirnya, Morgan pun menekan tombol batal, dan mengurungkan niatnya.


__ADS_2