
"Kenapa Kak Ilham bilang seperti itu?" tanya Ara dengan sangat sinis, membuat Ilham menatapnya dengan sendu.
"Karena memang sudah tidak perlu ada yang dipertanggung jawabkan lagi, bukan? Saya gak akan batasin kamu. Saya gak akan melarang kamu," jawab Ilham, membuat tangis Ara seketika pecah mendengarnya.
Bukan tidak mungkin, Ilham juga sangat sakit mengatakan hal ini pada Ara. Namun, entah mengapa hal ini harus ia katakan, agar Ara tidak menyesal nantinya.
"Saya gak bisa jaga kamu, sehingga kamu sampai harus kehilangan bayi itu. Maaf," gumam Ilham, membuat Ara menggelengkan kepalanya.
Hati Ara menolak, ketika Ilham mengatakan demikian. Ia sama sekali tidak merasa seperti itu. Ara justru sangat terlindungi dengan adanya Ilham di sisinya.
"Jangan ngomong seperti itu!" bentak Ara, membuat Ilham memandangnya dengan derai air mata.
Ini adalah kali kedua Ara melihat Ilham yang menangis di hadapannya. Pertama saat mereka melangsungkan pernikahan, dan yang kedua adalah saat ini.
"Kenapa saya gak boleh bicara seperti itu?" tanya Ilham yang sangat sendu, membuat Ara semakin tak bisa mengontrol perasaannya sendiri.
"Bagi aku, Kak Ilham di sisi aku pun, udah lebih dari cukup. Kak Ilham juga selalu perlakuin aku dengan baik. Kak Ilham selalu bilang ke kak Arash, kalau aku adalah istri yang baik. Maaf, sudah bikin Kakak berkorban terlalu banyak untuk aku," gumam Ara, membuat Ilham tersenyum walaupun air mata masih jatuh di pipi.
"Jadi, saya harus bagaimana?" tanya Ilham, yang memberikan trik psikologi untuk Ara.
Ara pun menghela napasnya. Dirinya merasa sangat hampa ketika tidak ada Ilham di sisinya. Saat Ilham sedang bekerja, Ara selalu memegang handphone-nya, menunggu kabar dari Ilham, walau hanya sekadar menelepon atau pesan singkat. Walaupun, selama 2 bulan mereka berumah tangga, mereka sama sekali tidak pernah tidur satu ranjang, tetapi Ara tetap selalu merasa terlindungi olehnya.
Pada akhirnya, cinta tumbuh karena terbiasa.
Ara menunduk malu mendengar Ilham bertanya seperti itu, "Aku egois banget ya? Harusnya cewek hina kayak aku, gak pantas dapetin cowok sebaik Kak Ilham," gumam Ara yang semakin menyalahkan keadaan.
Ilham memandangnya sendu, "Kamu percaya, kalau yang baik akan dapat orang yang baik juga?" tanya Ilham.
"Ya," jawab Ara dengan singkat.
"Tidak menutup kemungkinan, kalau yang buruk mendapatkan yang baik. Pasti, ada hikmah di balik peristiwa. Yang baik punya masa lalu, dan yang buruk punya masa depan," ucap Ilham, membuat Ara gemetar mendengar ucapannya.
"Kenapa Kak Ilham selalu bersikap seolah-olah gak ada yang terjadi, sih?" tanya Ara yang masih bingung dengan jawaban Ilham.
"Jawabannya cuma satu. Karena saya cinta sama kamu," jawab Ilham, membuat bunga di hati Ara menjadi bermekaran.
__ADS_1
"Srakkk ...."
Hujan turun dengan lebatnya, membuat setiap rintik hujan terdengar jelas mengenai genting kamar mereka.
...Rinai hujan basahi aku...
...Temani sepi yang mengendap...
...Kala aku mengingatmu...
...Dan semua saat manis itu...
...Segalanya seperti mimpi...
...Kujalani hidup sendiri...
...Andai waktu berganti...
...Aku tetap takkan berubah...
...Saat hujan turun...
...Karena aku dapat mengenangmu...
...Untukku sendiri ooohhh .......
Terdengar alunan musik dari handphone Ilham, yang sengaja Ilham nyalakan, untuk menemani malam mereka yang indah ini.
Ara sedikitnya tersenyum karena mendengar lagu yang tepat, di saat yang tepat. Ia merasa, di dekat Ilham juga tidak terlalu buruk.
Ilham menatap Ara dengan tatapan yang sangat dalam, "Kehilangan seseorang yang kita cintai, pasti sangat sedih. Itu wajar. Yang gak wajar, terlalu mendalami, padahal jalan masih panjang ke depan," gumam Ilham, membuat Ara memandangnya dengan tatapan yang sama dengan yang Ilham lontarkan.
"Tentang ucapan kamu waktu itu, jangan ikut menghilang, jika saya menghilang. Jalan kamu masih terbentang luas. Kamu harus kejar impian dan cita-cita kamu dulu," tambah Ilham, membuat Ara menjadi sendu kembali mendengarnya.
Ara sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi. Ia tidak tahan jika terus-menerus mendengar Ilham mengatakan hal demikian.
__ADS_1
"Impian aku, cuma berada di dekat Kak Ilham," ucap Ara dengan sangat tegas, membuat Ilham sampai mendelik mendengarnya.
Tak banyak kata lagi yang bisa terucapkan dari mulut Ilham. Mendengar perkataan Ara yang demikian saja, sudah membuat Ilham terbang sampai ke ujung langit. Itu adalah ucapan paling indah, yang pernah ia dengar langsung dari mulut wanita yang ia cintai.
Ara menatap Ilham dengan air mata yang sudah membanjiri pelupuknya, "Makanya, jangan bicara macam-macam lagi! Jangan pernah ninggalin aku, sama seperti Morgan yang udah ninggalin aku!" teriak Ara, membuat Ilham juga tidak bisa menahan perasaannya.
Air matanya tiba-tiba saja keluar dari pelupuk mata Ilham, membuat dirinya harus membenamkan wajahnya dengan kedua tangannya. Ilham merasa, sangat senang bisa mendengar ucapan itu dari Ara.
'Terima kasih,' batin Ilham, yang saking senangnya tidak bisa lagi membendung perasaannya.
Kini, rasanya lebih sesak daripada biasanya. Saking senangnya Ilham mendengar kalimat itu dari Ara.
Suasana haru biru membuat Ara dan Ilham hampir saja hanyut dalam tangis kebahagiaan yang sedang mereka alami. Sedih itu pasti, tetapi Ara juga berpikir untuk melangkah lebih jauh daripada yang saat ini ia alami. Ara tidak mau hanya jalan di tempat, untuk orang yang sudah meninggalkannya jauh ke depan. Ia juga harus melangkah, untuk melanjutkan hidupnya yang tentu saja dengan arah yang berbeda.
Ilham memandang Ara dengan sangat bahagia, "Apa ... saya boleh pegang tangan kamu?" tanya Ilham, yang masih terbiasa untuk bertanya sebelum melakukan.
Ara memandangnya dengan sangat kesal, sembari tetap menangis, "Kenapa malah bertanya?" tanya Ara kembali, membuat Ilham tersenyum mendengarnya.
Ilham pun menggenggam tangan Ara, dan memandangnya dengan tatapan yang sangat dalam, membuatnya larut dalam kebahagiaan yang baru pertama kali ia rasakan ini.
Jantung Ilham tak henti-hentinya terpacu, membuatnya selalu merasa bergetar bila memandang Ara. Napasnya yang kembang-kempis pun, semakin mempengaruhi keadaan.
"Ra ...," pekik Ilham dengan sangat bersemangat, sembari sesekali menghapus air matanya yang sudah bercucuran, saking senangnya ia.
Ara yang merasakan hal yang serupa, juga melakukan hal yang demikian. Ia berusaha menghapus air matanya, tak membiarkan hal itu menghambat kebahagiaan yang sedang mereka rasakan saat ini.
"Kamu bisa menolak jika kamu mau. Apa boleh, saya menganggap kamu ... sebagai istri sesungguhnya, dan memperlakukan kamu juga seperti istri sesungguhnya?" gumam Ilham dengan sangat sumringah, membuat Ara terasa sangat senang mendengarnya.
"Ya, boleh!" jawab Ara, membuat Ilham mendelik bahagia mendengarnya.
Ah. Apakah ini akhir dari cerita mereka?
Tidak. Ini adalah awal dari segalanya. Kita takkan pernah tahu, bagaimana takdir bekerja. Kita juga takkan pernah tahu, siapa yang nantinya akan bersama menemani hari-hari indah yang tersisa.
Bisa orang yang kita cintai, atau bisa juga orang yang mencintai kita. Atau ... tidak keduanya.
__ADS_1