Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Liburan Terbaik


__ADS_3

Terlihat tatapan wajah Ara yang langsung berubah menjadi lebih bahagia dari sebelumnya. Ia menghampiri Junhey dengan tiba-tiba. Dengan wajah yang malu, ia terlihat mengeluarkan sesuatu dari kantung bajunya.


"Kakak mengerti Bahasa Indonesia, kan? Jadi, aku gak perlu repot untuk menerjemahkannya ke dalam Bahasa Inggris. Aku mau ngasih kakak ini," lirih Ara.


Hal yang dilakukan Ara, itu terlihat sangat manis menurutku, pikir Morgan.


"Tenang saja! Walaupun aku keturunan Korea, tapi aku bisa Bahasa Jepang dan juga Bahasa Indonesia. Karena aku sudah lama tinggal di Jepang dan juga sudah lama berteman dengan banyak orang yang berasal dari Indonesia. Termasuk juga berteman dengan Morgan," ucap Junhey menjelaskan.


Ara sangat terpukau dengan penjelasannya mengenai garis keturunan dirinya. Tanpa disangka, ternyata dia turunan Korea. Tapi, kenapa harus Junhey? Kenapa tidak Joon hee? Pikir Ara.


Ia mengambil pernak-pernik yang berada di tangan Ara, yang kemarin Ara beli untuk oleh-oleh, dan menerimanya dengan senyuman. Untuk pertama kalinya, Ara merasa terkesima dengan seorang wanita. Bagi Ara, Junhey terlihat sangat cantik saat tersenyum dengan tulus.


"Terima kasih ya, Ara. Aku akan segera mengirimkan hadiah balasan untuk kamu. Boleh aku minta ID Line kamu?" tuturnya dengan sangat ramah.


Ara sampai terkejut melongo dibuatnya. Tidak kusangka, aku akan menjadi sedekat ini dengannya, pikir Ara.


Ara tersadar kemudian segera mengeluarkan handphone-nya.


"Sini, biar aku scan barcode-nya," pinta Ara, kemudian mengarahkan handphone-nya tepat di atas handphone Junhey.


Sekarang, Ara dan Junhey sudah berteman di Line. Kini, mereka sudah bisa bertukar chat.


Junhey memandang ke arah Ara, "ya sudah, aku pamit dulu. Sampai jumpa lagi, Ara," pamitnya.


Ara pun tersenyum hangat padanya sembari melambaikan tangan.


"Hati-hati di jalan," pekik Ara.


"Sampai jumpa," ucap Hito, kemudian pergi bersama dengan Junhey.


Mereka menatap kepergian Junhey dan juga Hito. Naoki pun memandang ke arah Morgan.


"Sepertinya aku juga harus kembali. Aku harus kembali bekerja nanti siang," ucap Naoki tiba-tiba, Morgan pun mendekat ke arahnya.


"Kami juga sepertinya harus kembali ke Indonesia. Aku harus menghadiri rapat mendadak," ucap Morgan, membuat Ara tercengang mendengar ucapan Morgan, dalam Bahasa Inggris.

__ADS_1


"Terima kasih atas jamuannya semalam. Semoga kalian selamat sampai tujuan. Jangan lupa untuk mengundang aku jika kalian melaksanakan upacara pernikahan," ucap Naoki membuat Ara mendelik kaget.


"Deggg ...."


Mendengar ucapan Naoki, Ara menjadi tidak keruan dibuatnya.


Masih belum terbayang olehku tentang pernikahan bersama Morgan. Tapi, perkataan Naoki barusan membuat aku membuka mata dan membuka pola pikirku lebar-lebar. Aku pun tidak mungkin selamanya berada dalam hubungan seperti ini bersama Morgan. Pasti akan ada saatnya jika aku berjodoh dengannya, aku akan melaksanakan pernikahan. Apakah itu akan terwujud? Semoga saja, pikir Ara yang terharu dengan yang Naoki ucapkan.


Morgan tersenyum sembari mengucapkan lelucon sebelum akhirnya Naoki berpamitan dan meninggalkan mereka. Kini hanya tinggal mereka berdua di sini.


Aku teringat sesuatu, apa yang tadi Morgan katakan?


Oh ya! Apakah ada sebuah pertemuan mendadak? Pikir Ara yang tiba-tiba saja teringat dengan sesuatu.


"Apa kamu ada meeting mendadak?" tanya Ara tiba-tiba.


Morgan menutup kembali pintu kamar hotel, kemudian ia berdiri di hadapan Ara.


"Ya, sebelum kamu bangun tidur tadi, saya menerima telepon dari Prof. Handoko untuk segera mengadakan rapat tentang penutupan semester kali ini," ucap Morgan menjelaskan, Ara hanya mengangguk kecil.


"Jadi, kita berangkat kapan?" tanya Ara, membuat Morgan tersenyum padanya.


"So sweet ...," lirih yang masih tetap pada posisi memeluknya.


Ara meregangkan pelukannya, dan menatap Morgan dengan lekat.


"Mumpung kita ada di Jepang, kita habisin waktu liburan kita yang sempat tertunda," gumam Morgan, membuat Ara tersenyum dan mengangguk setuju padanya.


Ara pun terdiam, tanpa berbuat apa pun,


"Tunggu apa lagi? Ayo siap-siap!" suruh Morgan.


Ara mengangkat tangannya dan hormat ke arahnya. Seperti tentara saja, hihih.


"Siap komandan! Tunggu sebentar," ucap Ara girang, kemudian segera mempersiapkan seluruh barang yang ia bawa, dan memasukkannya ke dalam koper seperti semula.

__ADS_1


Aku melakukannya agar saat aku lelah karena seharian bermain bersama Morgan, aku tidak harus merapikan barang-barangku lagi. Lebih baik, aku mengemasnya sekarang, pikir Ara.


Beberapa saat berlalu. Ara pun sudah selesai mengemas barang-barangnya, lalu segera menyeka keningnya yang berkeringat.


"Siaappp ...."


Ara menepuk-nepukkan tangannya, pertanda sudah selesai dengan semua pekerjaan yang sudah ia lakukan. Dengan senangnya, ia pun menghampiri Morgan yang sedang duduk sembari membaca novelnya, kemudian Ara pun duduk di sampingnya dan melingkarkan tangannya pada leher Morgan.


Ia tentu saja mengubah fokusnya ke arah Ara.


"Aku udah siap masukin barang-barang. Terus kita ngapain lagi?" ucap Ara dengan semangat.


Mereka saling bertatapan, satu sama lain. Pandangan mereka pun bertemu, dan terjadi kecanggungan di sini.


Morgan terkekeh, "ya memangnya mau apa lagi? Kita berangkat sekarang," jawab Morgan dengan nada heran, membuat Ara sampai menahan kesal padanya.


'Huh ... kenapa sih, semua cowok itu nggak peka?' batin Ara yang kesal, namun tidak bisa untuk mengungkapkannya karena terlalu malu untuk berterus terang padanya.


Ara hanya diam, sembari melipat kedua tangannya bersedekap, apa aku tidak bisa seperti wanita pada umumnya, yang mengeluarkan sifat manja kepada kekasihnya? Aku menyadari, setiap kali aku menginginkan sesuatu, aku selalu tidak bisa mengungkapkannya dan selalu tertahan, pikir Ara yang kesal dengan Morgan.


Melihat perubahan sikap Ara yang aneh, membuat Morgan tersenyum. Morgan paham apa yang Ara maksudkan.


"Muachh ...."


Morgan tiba-tiba saja mencium kening Ara, membuat Ara menjadi terdiam mendelik.


Wajah Ara terasa panas sekarang. Morgan mengelus lembut rambut Ara, dan tersenyum hangat padanya.


Ternyata Morgan tidak terlalu seperti yang aku pikirkan, pikir Ara yang malu pada Morgan.


Morgan menatapnya lekat, "nanti malam sudah waktunya kita kembali ke Indonesia. Saya hanya ingin hari ini tidak ada pertengkaran antara kita dan saya ingin kita menikmati masa-masa liburan kali ini," jelasnya membuat Ara menjadi sedikit malu kepadanya.


Ara merenungkan sikapnya, aku bahkan hampir saja marah padanya. Tak kusangka, Morgan sampai memikirkannya seperti ini, pikir Morgan.


"Mudah-mudahan ini liburan terbaikmu," tambahnya yang langsung memeluk Ara dengan lembut, membuat dirinya nyaman dibuat Morgan.

__ADS_1


Ya, memang banyak sisi dari Morgan yang masih belum aku kenal. Aku harus mengenal lebih jauh lagi, sebelum bisa menyimpulkan dirinya, pikir Ara.


...***...


__ADS_2