
"Semuanya udah beres?" tanya Dicky pada Morgan, yang saat ini sudah menunggu di ambang pintu kamar Morgan.
Hari ini pun tiba. Sudah saatnya Morgan meninggalkan Indonesia, dan pergi ke Amerika untuk menjalani program pertukaran dosen, selama kurang lebih 4 bulan ke depan.
Morgan mengemas barang-barang yang ia perlukan untuk keperluannya, selama di Amerika.
"Sedikit lagi selesai," jawab Morgan, sembari memasukkan baju yang tersisa di atas ranjang tidurnya.
"Tukk ...."
Morgan tak sengaja menjatuhkan sesuatu. Ia memandangnya dengan sendu, karena yang terjatuh adalah sebuah gantungan mirip dirinya, yang saat itu diberikan oleh Ara.
Selama satu minggu ke belakang ini, Morgan sudah sangat susah payah untuk melupakan Ara. Namun, hanya karena ia melihat gantungan itu lagi, membuat Morgan merasa sangat terpukul.
Bukan karena gantungannya, tetapi karena orang yang telah memberikan benda tersebut padanya.
Morgan memandangnya dengan sendu, membuat Dicky menyadari kelakuan Morgan yang berbeda dari sebelumnya.
Dicky memandang ke arah Morgan memandang, membuat Dicky paham dengan isi hati Morgan saat ini.
Dengan segera, Dicky mengambil gantungan tersebut, dan segera meletakkan di dalam laci lemari Morgan.
"Yuk, udah gak ada waktu lagi. Kamu sudah harus terbang siang ini," gumam Dicky, sembari mengangkat beberapa barang milik Morgan.
Dicky pun meninggalkan Morgan di kamarnya, dan segera menuju mobilnya untuk meletakkan barang-barang Morgan yang ia bawa.
'Maaf, Gan. Saya tahu apa yang kamu pikirin,' batin Dicky, sembari melangkah ke luar ruangan.
Di sana, Morgan hanya bisa memandang ke arah jendela kamarnya. Hanya karena melihat sebuah gantungan, membuat dirinya menjadi teringat kembali dengan kenangan bersama dengan Ara.
"Saya gak bisa bohongin perasaan saya," gumam Morgan dengan lirih, membuatnya hampir saja tak bisa menahan perasaannya.
Morgan menunduk sendu, tak kuasa melawan takdir yang ia terima.
"Huft ...."
Morgan menghela napasnya berulang kali, karena saat ini napasnya terasa sangat sesak.
"Kak Morgan!" pekik Lian dari arah luar kamarnya.
__ADS_1
Lian, Fla, Jessline, dan kedua orang tua Morgan sudah ada di hadapannya Morgan saat ini. Mereka terlihat sangat sedih, karena Morgan yang saat ini hendak bersiap terbang menuju Amerika, meninggalkan mereka untuk beberapa waktu ke depan.
"Ya," ucap Morgan yang langsung mengubah sikap dan perasaan sedihnya, ketika mereka semua sampai di hadapannya.
"Kakak mau berangkat, ya? Lian boleh ikut, gak?" tanya Lian, membuat Morgan tersenyum tipis ke arahnya.
"Bagaimana dengan sekolahnya?" tanya Morgan.
"Kan pekan ujian semester udah selesai kemarin," jawab Lian membuat Morgan kesulitan menjawab ucapannya.
"Emm ... sudah terlambat. Pendaftarannya sudah ditutup seminggu lalu," gumam Morgan, membuat Lian merengek di hadapannya.
"Yah ... tapi Lian mau ikut Kak Morgan!" rengek Lian yang seperti anak kecil, membuat ibunya memandangnya dengan tatapan yang sangat seram.
"Lian, kakaknya mau kerja, bukan mau main-main. Kamu ngerti dong jadi adik," tegur ibunya, membuat Lian kesal sendiri dengan keadaan, tetapi tidak bisa menyangkal dari ibunya.
"Gimana persiapan?" tanya ayah Morgan, membuat Morgan tersenyum tipis padanya.
"Sudah siap, tinggal berangkat aja kok," jawab Morgan, dengan nada bicara yang ia balut dengan keceriaan.
Morgan memandang ke arah Fla yang berada di hadapannya, dan juga Jessline yang kini berada di ambang pintu kamarnya.
"Fla, Jess, baik-baik ya di rumah. Inget, jangan bertengkar lagi. Biar bagaimana pun juga, kalian adik kakak," gumam Morgan, membuat Fla melongo tak percaya dengan apa yang Morgan ucapkan.
Fla hanya diam, tidak bisa berbuat apa-apa.
Morgan memandang ke arah Jessline, "Jess, kurangin keluar malam," gumam Morgan padanya, membuat Jessline melongo tak percaya dengan apa yang ia ucapkan.
"Kak Morgan kayak mau pergi ke mana aja sih. Kan cuma ke Amerika, nadanya gak usah kayak pengen ninggalin untuk selamanya gitu, dong," gerutu Jessline, membuat Morgan menghela napasnya.
"Kita semua tidak tahu mengenai seberapa lama usia kita hidup," gumam Morgan, membuat Fla mendelik kaget mendengarnya.
"Jangan ngomong gitu, ah!" teriak Fla tiba-tiba, yang tangisannya seketika pecah.
Fla pun langsung memeluk Morgan, yang masih duduk di ranjang tidurnya. Ia memeluk Morgan dengan tangis yang terisak, membuat Lian dan yang lainnya menjadi sangat sedih melihatnya.
"Jangan bicara soal kepergian Kakak, dengan Ara," bisik Morgan yang saat ini sedang memeluk Fla, membuat Fla mengangguk kecil.
Lian tiba-tiba saja memeluk Morgan, mengikuti Fla yang sedari tadi sudah memeluk Morgan dengan erat.
__ADS_1
"Kakak jangan ngomong gitu lagi. Nanti Lian gak bisa minta beliin apa-apa kalau Kak Morgan udah gak ada," gumam Lian yang juga menangis karenanya, membuat Morgan terkekeh mendengar ucapan Lian padanya.
'Sial, kenapa anak kecil jujur banget sih?' batin Morgan yang masih terkekeh dengan ucapan Lian.
Morgan memandang ke arah Jessline yang hanya bisa memandangi Fla dan Lian yang memeluknya dengan erat, membuat Morgan menghela napasnya.
"Kamu gak mau peluk Kakak?" tanya Morgan, membuat Jessline menafikan pandangannya.
"Makasih," gumam Jessline menolak ucapan Morgan.
Morgan mengerenyitkan dahinya, "Kapan lagi meluk orang ganteng? Kalau Kakak udah beneran gak ada, kamu pasti akan menyesal, karena gak peluk Kakak sekarang," gumam Morgan, membuat Jessline seketika menatapnya dengan sendu.
Dengan sangat malu, Jessline pun mendekat ke arah Morgan, lalu memeluk Morgan juga seperti yang Fla dan Lian lakukan padanya.
Mereka pun berpelukan seperti Teletubbies.
"Jaga diri kalian," gumam Morgan dengan nada yang sangat datar.
Ia tidak ingin mereka sampai melihat air matanya jatuh. Makanya sejak tadi, Morgan selalu berusaha untuk menahan perasaannya.
"Kak Morgan jangan lama-lama di sana," gumam Fla yang masih dalam keadaan menangis.
"Gak akan lama," jawab Morgan dengan sendu, namun ia tidak membiarkan dirinya menangis di hadapan mereka.
Mereka melepaskan pelukannya dari Morgan. Kini, Morgan pun berdiri sejajar di hadapan ayah dan ibu sambungnya itu.
"Morgan pamit," gumam Morgan pada mereka.
Sedikit banyaknya ayah dan ibunya sangat terharu dengan kepergian Morgan. Ayahnya pun segera memeluk Morgan dengan erat, sembari mengusap punggung Morgan.
"Jaga diri di sana," gumam ayahnya yang mendapat anggukan dari Morgan.
Morgan pun melepaskan pelukannya dari ayahnya, dan segera memeluk ibu sambungnya.
"Jangan terlambat makan," gumam ibunya, Morgan hanya mengangguk kemudian melepaskan pelukan itu.
Morgan mengedarkan pandangannya ke arah mereka yang saat ini sedang menangisi kepergian Morgan.
Morgan menghela napasnya panjang dan mempersiapkan dirinya untuk berpamitan pada mereka.
__ADS_1
"Morgan pamit."
...***...