
“Braaaakkk ....”
Ara terbangun dari tidurnya karena mendengar seseorang seperti membuka paksa pintu rumahnya. Ara sangat takut, kalau saja orang itu adalah penjahat yang berusaha berniat tidak baik padanya dan juga orang-orang yang ada di rumah ini.
Ara menoleh ke arah mereka. Mereka sama sekali tidak bangun dari tidurnya, seakan sudah diberi obat tidur.
Ara melirik jam dinding yang berada di kamarnya.
“Udah jam 1, siapa yang berani masuk ke rumah jam segini? Apa tadi pintu rumah gak dikunci lagi?” lirih Ara yang agak takut.
Ah, aku tidak punya waktu untuk berpikir, pikir Ara.
Ia bergegas menuju pintu masuk rumahnya, dan tanpa sadar ia justru mengabaikan keselamatannya.
Ara mengendap-endap melewati ruang tamu yang gelap karena tadi ia sudah mematikan lampunya sebelum mereka semua beranjak tidur.
Ara mendelik, “Morgan!” ia kaget dan setengah berteriak, karena melihat Morgan yang terlihat teler seperti orang yang sedang mabuk berat.
Ara berhambur ke arahnya, dan memapah Morgan dengan sekuat tenaga.
“Gan, kamu kenapa bisa begini, sih?” lirih Ara yang berusaha menyeimbangkan tubuh besar Morgan itu.
“Ehehe ... gkkkk ....”
Morgan terdengar seperti sedang cegukan, bau alkohol dari mulutnya sangat menyengat, membuat Ara hampir saja muntah karena mencium bau tak sedap ini.
“Kamu mabuk?” tanya Ara, sembari berusaha memapah Morgan ke atas sofa.
“Brukk ....”
Ara menjatuhkan dirinya ke atas sofa, yang tanpa sengaja, ia malah menindih di atas Morgan.
Ara mendelik, “M-Morgan ...,” Ara berusaha melepaskan dirinya dari atas tubuh Morgan, namun ia malah merangkul Ara dengan sangat erat.
Kedua tangannya itu melingkar di pinggang Ara, membuat ia sangat kesulitan bernapas.
“Watashi wa watashi no gārufurendo ga daisukidesu!”
Morgan mengucapkan kalimat dalam bahasa Jepang, yang tidak Ara ketahui. Ara sampai bingung untuk mencerna apa yang barusan Morgan ucapkan.
“Gan ... aku ada di sini. Kamu kenapa?” lirih Ara.
__ADS_1
Morgan benar-benar terlihat menyedihkan. Air matanya mendadak keluar, tanpa membuka matanya.
“Ara-chan ... gomen,” Morgan melanjutkan ucapannya setelah mengeluarkan air matanya itu.
Kali ini Ara mengerti dengan yang Morgan ucapkan. Ia meminta maaf kepada Ara. Tapi itu justru malah membuat Ara semakin bingung karenanya.
Tapi, kenapa dia meminta maaf padaku? Apa kesalahannya yang tidak aku ketahui? Pikir Ara.
“It's okay, beib. I'm here for you,” ucap Ara, berusaha membuat Morgan tenang, meskipun kini ia sedang berada di bawah alam sadar sekalipun.
Ara membalas pelukan Morgan itu.
Mendadak matanya terasa berat sekali, pandangannya sudah setengah kabur, Ara tidak bisa menahan rasa kantuknya lagi, mengingat malam ini yang sudah terlalu larut untuk terjaga.
...***...
...Sebelumnya, -FLASHBACK ON-...
“Saya gak bisa terus-menerus seperti ini,” lirih Morgan, yang masih dengan tegarnya menenggak sisa minuman yang tersisa di dalam gelasnya.
“Glkk … glkk ….”
“Prangg ….”
Meygumi memandangnya dengan tatapan setajam elang, “akhirnya, kamu sudah mencapai batasmu,” lirih Meygumi yang tersenyum melihat keadaan Morgan yang sudah tidak berdaya di hadapannya.
Meygumi meraih handphone-nya, untuk menelepon seseorang. Ia pun menunggu telepon di terhubung.
“Siapkan kamar VVIP yang paling nyaman di hotel kita. Saya ingin membawa tunangan saya untuk menginap di sana,” lirih Meygumi dengan senyuman yang terus menyungging di pipinya.
Ilham yang saat itu tak sengaja mendengar percakapan gadis asing itu di telepon, membuatnya berpikir tentang keselamatan laki-laki yang saat ini sudah tidak berdaya itu.
Kebetulan sekali, Ilham berada di bar yang sama, dengan Morgan. Memang tak heran, karena Arash yang juga sering mengajak Morgan untuk menemaninya minum di sana, sehingga Morgan sudah terbiasa berkunjung ke bar ini.
“Enghh ….”
Jessline terbangun dari tidurnya, karena mendengar suara gelas yang pecah tadi. Tatapannya langsung menuju ke arah Morgan, yang saat ini sudah tak sadarkan diri.
Ilham menoleh ke arah Jessline, karena memang tugas Ilham adalah mengawasi Jessline.
“Kak Morgan, kenapa ada di sini?” lirih Jessline, yang tentunya tidak sepenuhnya menggunakan kesadarannya.
__ADS_1
Ucapan Jessline, membuat Ilham kembali menoleh ke arah Morgan yang sudah tertunduk lemas di atas meja bar itu. Ilham pun berasumsi beda dengan gadis yang saat ini sedang berada di sebelah Morgan.
Tiba-tiba, datanglah beberapa laki-laki yang mengenakan jas serba hitam, dan juga terpasang sebuah alat pemantau di telinganya. Segerombolan orang yang datang itu, membuat Ilham semakin mencurigai, kalau laki-laki itu sedang tidak baik-baik saja saat ini.
Meygumi tersenyum, “tolong bawa Morgan ke dalam mobil. Beberapa dari kalian, membawa mobilnya juga,” titah Meygumi.
“Hai!” ucap mereka serempak dalam bahasa Jepang, yang artinya “baik.”
Mereka membawa Morgan pergi dari sana, tapi Ilham segera berlari dan berdiri di hadapan mereka, membuat mereka menghentikan langkahnya.
Meygumi mendelik, “siapa kamu?” tanyanya, membuat Ilham terdiam.
“Saya teman dari adik laki-laki yang kamu bawa. Mau dibawa ke mana dia?” tanya Ilham, membuat Meygumi menyunggingkan senyumnya.
“Saya tidak percaya,” lirih Meygumi.
Ilham pun menoleh ke arah Jessline yang juga sedang melihat ke arah mereka, “bisa kamu lihat di sana. Itu adalah adik dari laki-laki ini,” ucap Ilham membuat Meygumi mendelik, Ilham pun menoleh kembali ke arahnya, “izinkan saya membawa pulang dia,” tambah Ilham, membuat Meygumi tidak bisa berkata apa pun lagi.
Meygumi menoleh ke arah pesuruhnya, “lepaskan,” lirih Meygumi, membuat semuanya melepaskan Morgan.
Ilham pun memapahnya menuju ke arah Jessline berada, kemudia mendudukkannya di sebelah Jessline.
“Ini kakak kamu?” tanya Ilham, membuat Jessline mengangguk kecil.
Sepertinya, karena sudah terlalu lama tertidur tadi, membuat Jess mendapatkan kembali kesadarannya, meskipun belum sepenuhnya sadar.
“Mari, saya antar kamu pulang,” lirih Ilham.
Jess menyipitkan matanya, “kamu … siapa?” tanya Jess yang bingung dengan laki-laki asing yang ada di hadapannya saat ini.
“Saya, temannya Arash,” jawab Ilham, membuat Jess mendelik tak percaya dengan apa yang Ilham katakan.
Air mata seketika menggenang di pelupuk mata Jessline, ia pun menunduk karena merasa sedih dengan kenyataan yang ada.
‘Kenapa malah temannya yang datang?’ batin Jess, yang merasa sangat sedih karena Arash tidak datang.
Ilham berusaha memapah tubuh Morgan, tapi Morgan tiba-tiba saja membuka matanya.
“Nani?” tanya Morgan yang masih terbawa dengan efek mabuknya itu.
Ilham terkejut, karena Morgan yang tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
Ilham melepaskan tangannya dari tangan Morgan, dan membiarkan Morgan berjalan pergi dengan keadaan yang masih sempoyongan.