Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Takkan Pernah Jatuh Cinta


__ADS_3

Ara tidak bisa berkata-kata lagi, karena dirinya yang memang sudah sangat kacau. Mendengar Ilham mengatakan hal seperti itu, cukup membuat Ara menjadi blank.


Ara mendelik tak percaya, "Gimana Kak Ilham bisa nikahin aku, sementara aku gak cinta sama Kak Ilham?" tanya Ara, membuat sedikit banyaknya hati Ilham tersayat karena ucapannya.


Ilham menunduk sedih, karena ucapan Ara itu. Ia kembali memandang ke arah Ara, "Kamu percaya gak, cinta timbul karena terbiasa?" tanya Ilham, membuat Ara lagi-lagi mendelik tak percaya.


"Ya tapi aku gak akan pernah jatuh cinta sama Kak Ilham," bantah Ara lagi, membuat Ilham kembali tersayat hatinya.


Ilham memandangnya dengan tatapan yang berusaha meyakinkan Ara, "Paling tidak, anak itu harus punya ayah, sebelum mereka semua berpikir yang macam-macam tentang kamu," gumam Ilham, membuat Ara tersadar akan hal yang sama sekali tidak terpikirkan olehnya.


Ara menunduk malu, tak bisa berkata apa-apa lagi.


Ilham masih memang Ara dengan sangat serius, karena masih ada harapan yang selalu Ilham harapkan, agar bisa menjadi satu-satunya orang yang ada di samping Ara.


"Gimana, Ra? Will you marry me?" tanya Ilham, membuat jantung Ara menjadi sangat berdebar mendengar perkataan itu dari mulut Ilham.


Bahkan Morgan pun tidak pernah mengatakan hal itu, membuat Ara semakin sedih ketika mengingat segala sesuatunya yang menyangkut tentang Morgan.


Ara menunduk sendu, tak kuasa menahan air matanya. Entah air mata kebahagiaan, atau kesedihan yang ia keluarkan dari pelupuk matanya. Intinya, perasaan Ara saat ini sangatlah campur aduk.


Ilham masih sangat setia menunggu jawaban dari Ara, karena tak ada sama sekali niat untuk Ilham berpikiran jahat terhadap Ara. Di samping untuk menolong Ara dan janin yang ada di dalam perutnya, Ilham juga memang sudah lama menyukai Ara, membuatnya sedikit banyak tidak mempermasalahkan tentang hal ini, asalkan selalu bersama dengan Ara, itu sudah sangat cukup untuk Ilham.


Berbagai spekulasi pun bermunculan di pikiran Ara, membuat dirinya kesal dengan keadaan yang ada. Tak bisa dipungkiri, di dalam hati Ara, masih ada Morgan. Ia tidak bisa menerima Ilham secepat itu.


Namun, pemikiran sebelahnya berpikiran lain. Ini bukan lagi menyangkut soal perasaan cinta. Ini adalah menyangkut masalah janin yang sudah terlanjur ada di dalam perutnya, yang lama-kelamaan pasti akan bertambah besar, seiiring berjalannya waktu, dan sebelum membesar Ara harus sudah menikah, untuk menghalau pemikiran mereka tentang dirinya yang sudah hamil di luar nikah.


Dengan sangat berat hati, Ara menghela napasnya dengan panjang, mempersiapkan dirinya untuk memberitahu jawabannya.

__ADS_1


"Yes, i would," gumam Ara, membuat Ilham mendelik tak percaya dengan apa yang Ara katakan.


Saking senangnya, Ilham sampai melupakan rasa sakit hatinya, dan juga darah yang masih terus mengalir dari telapak tangannya.


Yang ia pedulikan hanyalah Ara, yang tadi sudah mengatakan bahwa ia ingin menikah dengan Ilham. Hal itu sudah sangat membuat Ilham senang.


Ilham memandang Ara dengan sangat dalam, "Jangan pikirin apa pun. Biar Kakak yang pikirin semuanya. Kamu cukup diam, tenang, dan ikutin semua yang Kakak minta, ya?" ucap Ilham, membuat Ara menitikkan air matanya.


Tak bisa dipaksa, Ara ternyata masih belum rela dengan keputusannya. Namun, ia harus mengingat tentang anak yang ia kandung. Ia harus sangat menekan egonya, jangan sampai merusak semua yang sudah semestinya berjalan.


"Kak ...," pekik Ara, membuat Ilham terdiam memperhatikannya.


"Ada apa, Ra?" tanya Ilham dengan sangat lembut.


"Soal ini ... jangan kasih tahu siapa pun, ya?" pinta Ara, membuat Ilham mendelik kaget mendengar permintaannya.


Ilham selalu berpikir secara rasional, sehingga membuat Ilham mengangguk setuju dengan permintaan Ara.


'Mungkin memang ini jalan takdir aku?' batin Ara yang sejujurnya tak rela.


Mau bagaimana lagi? Tidak ada pilihan untuknya saat ini.


Ara tak sengaja memandang ke arah tangan Ilham yang sudah berlumuran dengan darah, bahkan darahnya pun masih mengalir dari pangkal luka.


"Luka Kak Ilham ...," gumam Ara menggantung, membuat Ilham teringat kembali dengan luka yang ia derita.


"Gak apa-apa. Nanti Kakak perban sendiri. Kamu istirahat aja, ya. Jangan mikirin apa-apa. Ingat, jangan pernah sekalipun kamu melakukan hal di luar logika lagi. Tenang saja, Kakak yang akan mempertanggungjawabkan semuanya," gumam Ilham, membuat Ara sedikit melontarkan senyuman ke arahnya.

__ADS_1


Ara pun kembali ke atas ranjangnya, dan Ilham menarik selimut untuk Ara, dengan sangat hati-hati, khawatir terkena darah yang masih membanjiri telapak tangan kirinya.


"Kalau ada apa-apa, Kakak ada di bawah," gumam Ilham, tetapi Ara sama sekali tidak meresponnya, karena sudah tertidur pulas, saking lelahnya dirinya.


Ilham menghela napas panjang, lalu segera keluar dari ruangan Ara, dan menutup pintunya dengan rapat.


Ilham menuju ke arah tempat P3K diletakkan. Ia mengambil perban, obat merah dan plester untuk menutup luka di tangan kirinya. Ia melangkah menuju dapur, dan membilas tangannya yang masih berlumuran darah itu, hingga bersih.


Ilham pun kembali ke ruang tamu, dan mengelap pelan tangannya menggunakan tissue kering. Ia menteteskan obat merah, kemudian menutup tangannya menggunakan perban, dan direkatkan dengan plester yang ia ambil.


Ilham sudah selesai mengobati lukanya. Ia merebahkan dirinya di atas sofa, karena merasa terlalu lelah beraktivitas.


Ia menatap langit-langit rumah, "Apa ini memang sudah benar? Saya gak memaksa dia, kan?" gumam Ilham yang masih penasaran dengan hubungan yang sebentar lagi akan terjalin antara dirinya dan juga Ara.


"Enggak. Saya gak maksa dia, kok. Hanya memberikan arahan, supaya gak tersesat arah nantinya," bantah Ilham pada dirinya sendiri.


Ilham teringat dengan Ara yang belum makan sejak kemarin malam.


"Pesan makan dulu," gumam Ilham, yang lalu segera mengeluarkan telepon genggamnya, untuk menghubungi pihak resto.


Ilham mengubungi resto, tapi pandangannya tertuju dengan foto wallpaper handphone dirinya, yang memakai foto Ara saat ia masih berusia 8 tahun.


Ilham memandang gemas Ara yang memakai gaun cantik berwana biru, dengan sepatu kaca yang selalu ia pakai dalam situasi apa pun. Dandanan Ara layaknya Cinderella, yang sangat manis di mata Ilham.


Ilham tersenyum memandangnya, "Apa pun masa lalu kamu, saya gak peduli dengan itu," gumam Ilham, yang benar-benar sudah mengesampingkan akal sehatnya, demi bisa bersama dengan gadis yang selalu ia puja itu.


"Halo, mau pesan apa?"

__ADS_1


Terdengar suara dari telepon genggamnya, membuat Ilham tersadar dari lamunannya.


...***...


__ADS_2