Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Tabir Kehidupan 2


__ADS_3

Karena pada dasarnya, Ilham adalah seorang yang sangat perasa. Ia selalu menjaga perasaannya, dan tidak ingin sampai terlihat lemah di hadapan mereka yang mengenal dirinya.


Rangga mendelik, tak mengerti dengan apa yang baru saja Ilham katakan tadi.


"Saya tidak mengerti," lirih Rangga, membuat Ilham seketika tersenyum.


Ilham menoleh ke arahnya, "jangan beritahu sikap presdir ke karyawan lain ya," gumam Ilham, sembari tersenyum palsu pada Rangga.


Ilham sangat pandai tersenyum palsu di hadapan lawan bicaranya. Ilham selalu sangat bisa menutupi perasaannya.


Melihat senyuman Ilham, Rangga pun tak sengaja menelan salivanya, dan mengangguk kecil ke arahnya.


...***...


Bel pulang sekolah tiba, membuat Ares seketika langsung pergi menuju ke kelas Lian, untuk menemani Lian menjenguk temannya yang sedang sakit.


Ares berlarian dengan cepat, karena tidak mau ditinggalkan Lian. Karena jarak kelas Ares ke kelas Lian sangat jauh, bahkan berbeda gedung, karena sekolah mereka adalah yayasan, yang tingkatan sekolahnya tergabung, namun mempunyai gedungnya masing-masing.


Tepat sekali, Ares melihat Lian yang sudah keluar dari kelasnya, dan berjalan cepat meninggalkan kelas. Hal itu membuat Ares mendelik, dan segera mempercepat langkahnya untuk menghampiri Lian.


"Lian!" pekik Ares, membuat Lian mengaduh dan semakin mempercepat langkahnya.


Ia tidak ingin Ares sampai mengikutinya untuk menuju rumah Aziel, sahabatnya. Tapi memang dasar Ares, ia melangkah dengan cepat, sampai akhirnya berada di hadapan Lian saat ini, membuat Lian menghentikan langkahnya dengan cepat, dan mendelik ke arahnya.


"Lian!" pekik Ares, membuat Lian mendelik heran padanya.


"Kamu ngapain?" tanya Lian, membuat Ares menyeringai ke arahnya.


"Mau nemenin kamu ke rumah Aziel," ucap Ares, membuat Lian membolakan matanya.


"Kan udah aku bilang, kamu jangan ikut. Kita kan belum kenal," ucap Lian, yang segera meninggalkan Ares, namun Ares kembali mengejarnya.


"Lho, bukannya kita udah kenalan tadi? Namaku kan Ares," ucap Ares, membuat Lian terpaksa harus menahan rasa kesalnya.


Ares melangkah beriringan bersama Lian, karena Lian juga terpaksa karena tidak ingin teman-teman sekelasnya yang lain, meledeknya.


Ia hanya diam, sepanjang menyusuri koridor, menuju ke arah gerbang. Walaupun, Ares terus-menerus memanggilnya, tapi Lian sama sekali tak menghiraukannya.

__ADS_1


"Lian," pekik Ares.


Mereka melangkah melewati gerbang sekolah.


"Lian," pekik Ares lagi, membuat dirinya bertambah kesal dengan Ares.


Mereka berjalan menjauhi gedung sekolah, membuat Lian nampak tenang dengan keadaan situasi yang mulai sepi, tak ada teman-temannya di sekelilingnya.


"Lian," pekik Ares sekali lagi, membuat Lian menghentikan langkahnya, begitu pun Ares.


"Jangan ngikutin aku terus. Memangnya kamu gak dijemput sama orang tua kamu?" tanya Lian, membuat Ares mendelik mendengarnya.


Ares pun menunduk sendu, membuat Lian kaget melihat ekspresi Ares yang sendu seperti itu.


Ares menatap Lian dengan senyuman khasnya, "ibu aku gak tinggal di sini, dan kata ibu, ayah juga udah gak ada. Jadi mereka gak akan jemput aku sekolah," ucap Ares, membuat Lian mendelik kaget dengan perkataannya itu.


Sedikit banyaknya, Lian merasa iba dengan keadaan Ares, gadis yang baru saja ia kenal itu. Lian menyesal sudah berperilaku buruk terhadap orang yang sudah tidak memiliki ayah itu.


Lian memandang Ares dengan sendu, "maaf ...," gumam Lian, membuat Ares kembali menyeringai ke arahnya.


Tak sengaja, Lian menoleh ke arah hadapannya, dan melihat penjual es krim di seberang jalan sana yang sedang melayani pembeli. Hal itu membuat Lian berpikir untuk sekadar memberikan hiburan kepada Ares.


Lian memandang ke arah Ares, "kamu mau es krim?" tanya Lian, membuat Ares tersenyum sembari mengangguk cepat.


Lian pun tersenyum, dan segera berjalan cepat bersama Ares, untuk menghampiri pedagang es itu.


Karena berada di seberang jalan, Lian langsung menyambar tangan Ares, dan membantunya menyeberang jalan. Hal itu membuat Ares seketika menoleh ke arahnya.


'Lho, kok dia pegang tangan aku, ya?' batin Ares yang bingung dengan yang Lian pikirkan.


Mereka melangkah, menyeberangi jalan, dan akhirnya tiba di tempat tujuan.


"Terima kasih," gumam penjual es krim itu, yang sudah selesai menerima uang dari mereka yang membeli es krimnya.


"Mau dua ya," ucap Lian, membuat penjual es krim itu menoleh ke arahnya.


"Wah ... kebetulan es krimnya habis," ucapnya, membuat Ares lemas mendengarnya.

__ADS_1


Ares tidak pernah bisa menolak es krim. Mendengar es krim yang ia inginkan habis, ia jadi seketika sedih mendengarnya.


Lian menoleh ke arah Ares, dan melihat ekspresi Ares yang sepertinya mendadak berubah menjadi sedih seperti tadi.


"Kita cari di mini market, yuk," ajak Lian, membuat Ares kembali tersenyum.


"Yuk!" ucap Ares dengan penuh rasa semangat.


Mereka pun pergi untuk mencari mini market terdekat, untuk membeli es krim yang Ares inginkan.


Dengan cepat, mereka berlarian menuju ke arah mini market terdekat, dan segera masuk untuk mengambil es krim. Lian membuka lemari pendingin, dan mengambil beberapa es krim untuk mereka berdua, tak lupa ia juga mengambilkan untuk sahabatnya, Aziel.


"Yuk kita bayar," ajak Lian, membuat Ares mengangguk kecil.


Mereka pun kini berhadapan dengan kasirnya, dengan membawa begitu banyak es krim di tangan mereka.


Lian dan Ares menuangkan es krim yang ada dalam dekapan mereka, ke arah kasir tersebut, hingga sang kasir pun melongok kaget melihatnya.


Karena dituntut harus profesional, sang kasir pun segera menyortir pesanan mereka, dan memasukkannya ke dalam kantung plastik.


"Semuanya total 100 ribu," ucap kasir, Lian pun segera mengambil uang yang ada di dalam sakunya.


Ia merogoh saku kemeja dan juga celananya, namun ia sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan uang itu, membuatnya sedikit panik jadinya.


Ares memandangnya dengan tatapan bingung, karena sudah terlalu lama Lian mengambil uangnya.


Setelah sekian lama mencari, Lian pun tetap tidak bisa menemukan keberadaan uang itu. Ia malah menemukan kotak kecil yang berisi kalung yang tadinya ingin ia berikan untuk Dinda.


Lian memandang ke arah kasir dengan tatapan bingung, "kak, uang aku sepertinya jatuh pas pelajaran olah raga tadi. Apa ... aku boleh bayar pakai kalung ini?" tanya Lian, sembari menyodorkan kotak kecil itu ke arah kasir, membuat kasir itu mendelik kaget.


"Duh, maaf sepertinya tidak bisa, dek," ucap sang kasir, membuat Lian kecewa mendengarnya.


"Tapi kalung ini harganya 15 juta lho, kak. Masih ada kertasnya di dalam.


Sang kasir pun dengan rasa penasaran yang dalam, ia membuka kertas tersebut, dan sangat terkejut dengan kuitansi yang jumlahnya memang benar seperti yang Lian sebutkan tadi.


"Apa gak bisa?" tanya Lian, membuat sang kasir bingung menjawabnya.

__ADS_1


__ADS_2