
Ara terdiam di atas ranjang tidurnya, hanya bisa memandangi foto dirinya dan juga Ilham yang sedang bergandeng mesra di atas altar.
Ia termenung, merenungi nasibnya yang sangat menyedihkan baginya. Bahkan pernikahan mereka sudah berjalan dua bulan lamanya, tetapi Ara sama sekali tidak bisa melupakan Morgan, bahkan sedikit pun.
Sikap Ilham pada Ara juga hanya datar, persis seperti yang Ilham katakan, bahwa ia hanya akan menyelamatkan status janin yang ada di dalam perut Ara saja. Akan tetapi, Ilham selalu menunjukkan sesuatu yang sangat manis, setiap kali menghadapi Ara.
Sepertinya Ilham memenangkan keadaan dalam dua bulan ke belakang ini. Ia hanya bersikap layaknya seorang suami, tetapi dia sama sekali tidak melewati batas ucapan yang ia ucapkan.
Semua hal manis yang Ilham lakukan padanya, justru malah membuat hati Ara yang hampa, menjadi terisi kembali.
Ara menyandarkan kepalanya di dinding, "Apa aku terlalu serakah? Masih mencintai Morgan, tapi malah merasa nyaman dengan sikap suami sendiri. Apa yang harus aku lakuin ke depannya? Bayangan Morgan terus menghantui!" gumam Ara, sembari memejamkan matanya, merasa pikirannya sangat buntu.
Sama seperti saat ia melupakan Reza. Sekuat hati ia melupakan Reza, namun ia masih bisa menjalani kisah cintanya dengan Morgan.
Benar-benar wanita yang serakah.
Sebetulnya, bukan Ara yang bersikap demi kian. Namun, siapa pun lama-kelamaan juga akan menjadi luluh, jika terus bertemu dengan lawan jenisnya yang suka memberikan perhatian kecil padanya. Apalagi, orang itu sudah menjadi suaminya.
Benar kata Ilham, bahwa cinta akan tumbuh karena terbiasa.
Ilham tiba-tiba saja datang dengan membawa makanan siap saji, yang sudah ia pesan. Melihat Ara yang sedang termenung, Ilham pun mendadak sendu melihatnya.
"Kamu kenapa, Ra?" tanya Ilham, membuat seluruh lamunan Ara menjadi buyar seketika.
Ara menatapnya dengan panik, "Ah? Gak ada apa-apa, kok," jawab Ara, membuat Ilham mengangguk kecil.
Ilham merapikan makanan yang ia bawa, dan menyusunnya di meja kerjanya. Ilham memandang ke arah Ara, yang juga sedang memandang ke arahnya.
Ara mengerenyitkan dahinya, "Apa gak buang-buang uang, kalau terus order setiap hari? Udah dua bulan lho, Kakak order makanan terus," ucap Ara, membuat Ilham memandangnya dengan senyuman.
Kini, Ilham sudah selesai menata makanan di atas meja. Ia segera menghampiri Ara, dan mengulurkan tangan ke arahnya.
__ADS_1
"Yuk ... kita makan," ajak Ilham, membuat Ara meraih tangannya.
Ilham membantu Ara berjalan, karena perut Ara yang sudah mulai terlihat membuncit. Kini, mereka pun sudah duduk berhadapan.
Ilham memandang ke arah Ara, "Yang penting kamu bisa makan dengan benar, karena ... jujur," gumam Ilham yang sangat malu mengatakannya, "saya gak bisa masak," sambungnya, dengan wajah yang memerah, membuat Ara mendelik mendengarnya.
'Morgan jago banget masak, makanya dia mau masakin buat aku. Ternyata, Ilham gak bisa masak. Pantas dia selalu order makanan,' batin Ara, yang sedikit mengenal Ilham lebih dalam.
Ilham mulai kembali tidak bisa menghadapi suasana, jika berhadapan dengan Ara. Ingin sekali ia berteriak, dan memeluk Ara dengan erat.
"Glekk ...."
Ilham tak sengaja menelan salivanya. Ia meletakkan tangannya, tepat di sebelah tangan Ara, membuat Ara tersadar dengan jarak yang terlalu dekat itu.
'Apa dia mau aku megang tangannya?' batin Ara, yang tiba-tiba saja berpikir seperti itu.
'Apa boleh megang tangannya, kalau gak ada keperluan?' batin Ara, yang lagi-lagi bimbang dengan keadaan.
Ilham yang kaget, juga sangat terkejut. Karena refleks, membuat Ilham tanpa sadar menarik tangan Ara, dan menggenggamnya dengan erat. Seperti bunga raflesia yang sedang menangkap seekor lalat, yang terbang di area sekitarnya.
Wajah Ilham memerah, karena terkejut dengan Ara, yang sedang berinisiatif tinggi untuk memegang tangannya.
Ara memandangnya dengan tatapan aneh, "Kak Ilham kenapa?" tanya Ara, membuat Ilham semakin terkejut karena tegurannya.
"Eng-gak apa-apa," jawab Ilham dengan sangat gugup.
Karena sudah terlalu melewati batas, Ilham pun melepaskan tangan Ara, dan segera menafikan pandangannya.
Jantung Ilham terus berdetak dengan sangat cepat, membuat perasaan Ilham menjadi tambah menggelora.
'Saya jadi semakin menggebu,' batin Ilham.
__ADS_1
'Apa boleh lebih dari ini?' batin Ilham lagi, yang sejenak memikirkan dampak dari keinginannya.
Ilham pun mempersiapkan diri untuk mengutarakan maksudnya.
Ilham kembali menatap ke arah Ara, "Ra ... ada sesuatu yang saya inginkan. Kita kan sudah menikah, apa boleh ... saya melakukan sesuatu?" gumam Ilham dengan ragu.
"Degg ...."
Ara sangat terkejut dengan apa yang Ilham ucapkan. Ia tidak menyangka, Ilham akan melenceng dari niatnya, untuk menjadi ayah dari janin yang sedang ia kandung.
'Hah, Kak Ilham mau nyium aku? Kok begini, sih? Apa boleh?' batin Ara, yang mendadak kaget dengan keinginan Ilham yang rancu.
Ara memandang ke arah Ilham, yang juga memandangnya seperti pandangan seekor kelinci yang sedang memandang penuh harap di hadapannya.
'Kalau cuma cium sih ... gak apa-apa kali, ya? Sudah jadi suami istri juga. Lagian, gak akan mungkin juga kita terus-menerus seperti ini. Pasti suatu saat, kita akan berciuman juga, dan juga akan melakukan itu juga. Mungkin, saat ini pelan-pelan, aku harus bisa nerima dia,' batin Ara, yang memikirkan segala sesuatu yang pastinya akan terjadi di kemudian hari.
Ara memandang ke arah Ilham tanpa ekspresi sedikit pun, "Boleh," jawab Ara, membuat Ilham mendelik kaget, dan sangat bahagia mendengarnya.
Ilham segera mengambil sebuah sendok, dan menyuapi Ara makanan, membuat Ara terkejut melihatnya. Karena sudah disodorkan sesendok makanan, Ara pun akhirnya menerimanya, walau dengan keadaan bingung.
Ilham melontarkan senyuman ke arah Ara, "Ini yang mau saya lakukan. Suapin kamu makan," gumam Ilham, membuat Ara mendelik kaget mendengarnya.
'Hah, jadi dia bukan mau cium aku? Jadi dia cuma mau suapin aku aja? Ugh!' batin Ara, yang tiba-tiba saja geram dengan dirinya sendiri, yang sudah salah sangka dengan pemikiran Ilham.
Sepertinya, jiwa kesepiannya membuat dirinya menjadi tidak bisa berpikir dengan jernih.
Ilham tersenyum memandang Ara, "Saya harap ke depannya, kita bisa sering-sering melakukan ini, sebagai seorang suami-istri," gumam Ilham dengan sangat senang, karena sudah bisa menyuapi Ara.
Ara yang malu, segera merebut sendok itu dari tangan Ilham, "Sini, gantian!" ketus Ara, yang langsung memasukkan makanan ke dalam mulut Ilham.
Ilham pun menerimanya dengan senang hati. Namun, belum habis Ilham menelan makanan itu, Ara sudah kembali memasukkan suapan kedua, ketiga, dan seterusnya, membuat Ilham kelebihan asupan, hingga tak muat mulut Ilham menampungnya.
__ADS_1