
Ara lagi-lagi mendelik, “Wait! Apaan sih loe? Ngapain loe bersikap seolah-olah gue ini pacar loe? Loe sadar gak sih, kalo loe juga udah punya kehidupan sendiri sama pacar loe!” bentak Ara panjang lebar.
“Sttttt ....”
Morgan menyentuh bibir Ara dengan jari telunjuknya. Ara seketika menjadi diam. Mata Morgan selalu mampu membuat Ara mabuk. Ketika Ara memandang matanya dengan dalam, Ara merasakan sensasi yang membahagiakan. Ketidakselarasan antara logika dan perasaan pun muncul. Logikanya menolak, namun perasaannya sangat bahagia, karena bisa senyaman ini.
“Udah saya bilang kan ... jangan suka sama saya,” lirihnya membuat Ara semakin tidak keruan.
Apa yang Morgan maksud, sama sekali tidak Ara mengerti.
“Udah deh! Gak usah sok bilang kayak gitu, bukannya loe yang naksir sama gue, hah?” tanya Ara dengan nada yang angkuh sekali, seperti merasa tidak ada yang bisa menandingi kecantikannya itu.
“Rahasia ...,” ucapnya dengan nada menggoda.
Wajahnya seakan-akan terus melontarkan ekspresi jahil. Ara jadi semakin dag-dig-dug dibuatnya.
“Gak usah sok kegantengan deh ya! Mau gimana pun juga, gue ga akan pernah suka sama loe! Jadi, loe gak usah sok ngedeketin gua segala!” bentak Ara.
Morgan tertawa kecil. Terasa sesuatu di antara kakinya yang menonjol, tergesek dengan sesuatu di antara kaki Ara.
Ara sangat tegang kalau Morgan terus-menerus melakukan hal intim ini kepadanya. Ara pasti tidak akan tahan dengan ajakannya. Ara mulai ketakutan, khawatir kalau saja Morgan sengaja untuk melakukan hal itu kepadanya.
“Kenapa?” tanya Morgan yang mungkin bingung karena Ara yang menunduk dan melihat ke arah hal yang mengganjal itu.
Napas morgan seperti tersendat. Napas beratnya berembus dari hadapan Ara. Ara gugup sekali melihat reaksi Morgan yang sepertinya sudah tidak bisa menahan nafsunya lagi.
Morgan membelai lembut pipi Ara. Awalnya Ara sempat risih. Tapi lama-lama, Ara malah menikmati saja sentuhan Morgan. Lama-kelamaan, tangan Morgan mengelus-elus bibirnya. Matanya hanya tertuju pada bibir Ara saja. Ara semakin terusik dengan tingkah anehnya. Tatapannya nampak sudah kosong, entah apa yang sedang Morgan pikirkan.
“Mo-Morgan ...,” lirih Ara, sembari terus memperhatikan reaksi Morgan yang aneh.
Morgan terlihat mendekat ke arah bibir Ara.
“Cuppppsss ....”
Morgan beraksi untuk mencium bibir Ara. Ara sontak terkejut dan tidak sengaja merespon permainannya itu.
Lama-kelamaan, Ara jadi terbawa suasana olehnya. Pikirnya, sudah tidak ada gunanya lagi, Ara juga sudah tidak bisa lepas darinya saat ini. Mereka juga sudah berbuat lebih dari ini sebelumnya. Dan Ara merasa, sudah tidak perlu sungkan lagi untuk mereka melakukan ini.
__ADS_1
Ara semakin terangsang olehnya. Ada sesuatu yang Ara tahan. Rasanya geli sekali. Tangannya jahil, dan mulai meraba sekujur dada Ara. Ara sangat menikmati permainannya. Beberapa saat Ara terbawa olehnya. Morgan sudah semakin lihai sekarang.
Ara tersadar karena Morgan menghentikan aktivitasnya. Morgan memeluk erat tubuh Ara dengan posisi tetap berada di atas menindihnya. Ara memegang kedua sisi wajahnya.
‘Panas,’ batin Ara.
Ara merasakan panas pada wajahnya. Sekuat itukah Morgan menahan nafsunya?
“Maaf,” lirihnya, sembari mengencangkan pelukannya.
Ternyata, Morgan lebih memilih untuk menahan semuanya. Menahan hawa nafsunya itu.
Ada sedikit rasa kesal dan kecewa, tapi kenapa aku merasa demikian? Pikir Ara.
Beberapa saat Morgan memeluk Ara dengan erat, sampai-sampai Ara kesulitan bernapas.
Tidak ada yang terjadi di antara mereka setelahnya. Ara merasa bimbang dengan kejadian yang terjadi ini. Entah kenapa, Morgan kali ini menahan dirinya, padahal kesempatan tidak datang dua kali.
‘Ah, gue mikir apa sih?’ batin Ara yang mulai berpikir macam-macam tentang Morgan.
“Saya di sini sampai malam. Kita lanjut ke rumah ya,” lirihnya.
Ara mengangguk kecil, mengiyakan saja setiap perkataannya. Sebenarnya, Ara sudah tidak bisa berpikir dengan normal lagi, untuk saat ini. Kejadian tadi, membuat Ara sedikit kecewa, padahal Ara sama sekali tidak menginginkan itu terjadi padanya.
Morgan bergegas bangkit, dan merapikan pakaiannya yang sudah berantakan akibat ulahnya sendiri. Ara pun mengikuti hal yang serupa. Ia bangkit, dan bergegas merapikan kemejanya yang berantakan itu.
Morgan memandang ke arah Ara, membuat Ara memandang ke arahnya juga, “saya gak akan nyentuh kamu, Ra,” lirih Morgan yang langsung meninggalkan Ara seorang diri.
Ara memandangnya dengan tatapan yang tidak bisa dimengerti, bahkan dirinya sendiri pun tidak mengerti. Ara mengusap sisa keringatnya yang masih ada di keningnya.
Ara merasa, Morgan sudah keterlaluan terhadapnya.
Kalau memang dia tidak mau menyentuhku, kenapa dia memulai semua ini? Aku sudah luluh dengan seluruh perbuatan yang ia lakukan padaku. Pikiranku selalu melayang saat Morgan sudah melakukan hal semacam itu kepadaku. Dan ... sekuat apa pun aku menahan, pada akhirnya aku akan kalah dengan nafsuku sendiri. ***** ini terus menggebu, dan rasanya tidak kalah dengan saat pertama ia melakukan itu padaku, pikir Ara.
Ara menatap langit-langit kamarnya untuk memikirkan perasaannya sendiri. Ara menjadi bingung dengan yang sedang ia rasakan. Perasaan dan logikanya sama sekali tidak selaras. Ara berpikir kedepannya, bagaimana jadinya nanti.
“Dring ....”
__ADS_1
Handphone Ara berdering dengan sangat kencang. Ara mencari sumber suara itu.
“Di mana sih tadi handphone gue?” lirihnya, sembari tetap mencari keberadaan ponsel miliknya.
Tak lama kemudian, ia pun menemukannya. Setelah menemukannya, Ara langsung melihat siapa yang sudah meneleponnya.
Nama Bisma tertera di sana. Ara mengerenyitkan dahinya, lalu segera mengangkat video call darinya.
-VIDEO CALL-
Terlihat Bisma yang sedang duduk di meja makan. Sepertinya, saat ini Bisma sedang sarapan.
“Hai, Ra,” sapa Bisma dengan sangat bersemangat.
Melihat Bisma yang sangat bersemangat, Ara memaksa dirinya untuk melontarkan senyumnya pada Bisma.
“Hai,” jawab Ara.
“Gue ganggu gak?” tanya Bisma, yang sepertinya hanya basa-basi saja pada Ara.
Ara menggeleng, “enggak kok,” jawab Ara.
“Hmm ...,” lirih Bisma.
Sepertinya, Bisma sudah tidak punya bahan untuk dijadikan perbincangan lagi. Ara seketika langsung memutar otak, agar bisa sedikit lebih lama untuk menghubungi Bisma. Karena, jarang sekali mereka bisa bertukar kabar dan berbincang ria seperti saat ini.
“Btw, ini kan masih jam 5 sore. It's means di sana udah jam 5 pagi dong ya?” tanya Ara, Bisma hanya mengangguk kecil ke aranya, “tumben? Ada apa?” tanya Ara lagi, tapi Bisma hanya melontarkan senyum ke arahnya.
“Jam segini, loe pasti baru pulang ngampus. Makanya ... gue bangun lebih awal buat telepon loe,” jawab Bisma, membuat Ara sedikit tidak enak.
Sampai seperti itu dia kepadaku, pikir Ara.
Ara jadi goyah sendiri dengan perasaannya.
“Ra ....”
Terdengar suara Morgan dari balik pintu. Aku segera mengakhiri teleponnya dengan Bisma. Ara khawatir, Bisma mengetahui kalau ada Morgan di sini.
__ADS_1