Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Pertarungan Melawan Batin 2


__ADS_3

Tiba-tiba saja, dari arah pintu toilet, datang segerombolan anak perempuan yang membuat kisruh keadaan. Beberapa di antaranya, adalah anak perempuan yang pernah Ara lihat sedang bersama Morgan waktu di mall malam itu.


Ara hanya diam dan tidak menghiraukan kedatangan mereka. Ara hanya fokus pada dirinya yang sedang ia lihat di cermin. Mereka sangat bising, sehingga membuat Ara sangat terganggu.


“Eh tau gak, waktu itu kita berdua jalan sama pak Morgan lho!” gumam salah satu wanita secara bersemangat.


‘Nih orang, bisa gak sih gak ngomongi Morgan sama mereka?’ batin Ara yang semakin kesal karena mendengar hal yang tidak terduga.


Mereka semua terlihat sangat antusias, dengan cerita dari kepala geng ini.


“Oh ya? Gimana tuh gimana …,” tanya gadis yang mengenakan bandana berwarna oranye itu.


Sang ketua genk membalikkan tubuhnya menjadi ke arah mereka, “iya ... jadi tuh ya, kita lagi jalan, pengen nonton ceritanya ...,” jawabnya menggantung.


“Nonton apa?” tanya dua orang lainnya yang merasa penasaran.


Sang ketua genk menyunggingkan senyumannya, “nonton film romantis terbaru itu, lho ....”


Mereka saling menatap satu sama lain, sembari tertawa dengan tawa khas mereka, “wah seru banget tuh!”


“Iya dong. Tapi kita gak kebagian tiket,” sanggah gadis licik itu.


“Yah ... sayang banget ya,” tanya gadis pertama, menoleh ke arah gadis kedua.


“Iya sayang banget,” jawab gadis kedua, membenarkan pernyataan gadis pertama.


Sang ketua membuka minuman yang sedang ia pegang, “eh tapi ada tapinya ....”


Kedua gadis itu saling menatap satu sama lain, kemudian kembali melihat ke arah ketua genk, “apa, tuh ....”


“Tiba-tiba ada Pak Morgan lagi duduk di tempat makan. Langsung aja waktu itu kita samperin, ya nggak Fir?” tanya ketua genk, kepada gadis yang ketiga, yang diketahui bernama Yusfira.


“Yoi,” Fira membenarkan ucapan ketua genk itu.


“Woah … kalian jalan sama Pak Morgan?” tanya gadis pertama.


“Iya dong ….”


‘Cih, jangan bikin cerita yang enggak bener! Udah tahu Morgan jalan sama gue, bukan sama loe,’ batin Ara sembari mendelik ke arah cermin.


“Terus, tau gak ... gue ngasih gelang ke dia!”

__ADS_1


“Deg ….”


Jantung Ara seketika terpacu, ketika mendengar gadis itu memberikan gelang pada Morgan. Ara mengingat kembali kejadian tadi, saat dirinya berada di ruangan itu bersama Morgan.


‘Hah, gelang? Apa mungkin gelang yang tadi putus itu?’ batin Ara yang sedari tadi mendengarkan secara diam-diam, mereka yang sedang bergosip.


Sebetulnya, Ara tidak ingin mendengarkan secara diam-diam pembicaraan siapa pun di kampus ini. Ara juga tidak ingin ikut campur dengan urusan mereka. Tapi, ini menyangkut tentang Morgan!


Apa lagi, saat Ara mengetahui, kalau yang mereka ucapkan memang benar adanya. Morgan memang memakai sebuah gelang di lengannya, tapi tak sengaja, gelang itu sudah Ara putuskan tadi.


“Eh serius?” tanya temannya yang tidak percaya dengan yang gadis ketua itu katakan.


“Iya, serius! Terus diterima dong sama Pak Morgan. Aaaaaaa ….” Ia mengucapkannya dengan nada yang sangat manja, membuat Ara ingin sekali mencubit ginjalnya itu.


“Wah ... padahal, Pak Morgan terkenal jutek ya, sama mahasiswi sini. Apalagi sama mahasiswa, hahah.”


“Ya iyalah, sama mahasiswa mah gak sexy kayak mahasiswi.”


“Bener baget! Kayaknya, dia suka deh sama gue ...,” ucapnya membuat telinga Ara seketika menjadi sakit.


Sebetulnya, Ara ingin sekali menyambar, tapi itu sama sekali tidak etis baginya.


‘Dih, percaya diri banget loe! Pengen muntah gue dengernya juga!’ batin Ara geram, sembari membasuh, dengan kasar, berkali-kali tangannya yang sudah bersih itu.


“Uhuy … kalo jadian, teraktir kita-kita, dong ...,” goda salah satu temannya.


“Pasti dong! Kita makan-makan nanti. Kalian tenang aja,” jawab sang ketua, membuat Ara mendelik.


“Asiiikkkkk ....”


“Gue juga lagi follow up terus Pak Morgan dari chat. Pokoknya, setiap melek mata, sampe pengen tidur, gue pasti nge-chat dia mulu. Biar dikira perhatian gitu ….”


“Uhuyy ….”


Ara menghentikan aktivitasnya. Ara sudah mulai geram dengan keadaan. Kenapa Morgan membalas pesan singkatnya, sementara Morgan tidak memberikannya kabar sedikit pun belakangan ini? Harus berbicara apa lagi Ara padanya?


‘Walaupun udah dibilang bakalan ngechat tiga kali sehari juga, tetep aja sebelumnya kan dia gak pernah chat, setelah handphone-nya ilang,’ batin Ara mendumel kesal.


Ara yang kesal, langsung pergi dari sana, dan sengaja menabrak ketua geng tersebut.


“Brukk ....”

__ADS_1


“Awws ...,” jeritnya.


Ara berdiri sejajar dengannya namun berlawanan arah. Ara tidak melihat ataupun menoleh padanya. Ara hanya berdiri sejajar dengannya, lalu mendekatkan wajahnya dekat dengan telinga gadis itu.


“Jangan mimpi ...,” lirih Ara padanya.


Ara mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum sinis. Terlihat jelas kekecewaan di wajahn gadis itu. Dengan segera, Ara berlalu meninggalkan mereka.


Paling tidak, dia sudah memperingatkan mereka untuk tidak macam-macam dengan Morgan. Sisanya, terserah takdir yang menentukan.


“Woy!” pekiknya kasar, yang terdengar samar oleh Ara, namun tidak mempedulikannya.


Ara keluar dari tempat itu, dan segera menuju ke kantin kampus. Ara sangat kesal dengan perkataan mereka yang mengakui, bahwa seolah-olah Morgan itu menyukainya.


Ara kesal dengan pernyataannya.


“Ehh ….”


Mata Ara membulat seketika, kenapa juga Ara harus bersikap demikian pada mereka? Ara bukan pemeran utama di sini.


“Kenapa gue harus kesel, coba?” teriak Ara yang sudah sadar dengan pemikiran yang sudah melenceng sangat jauh dari peredaran.


Ara menampar kecil kedua sisi pipinya.


“Aws … sakit kok!” ucap Ara dengan polos.


Ara merasa seperti frustrasi, lalu menjambak pelan rambutnya. Ia sudah tidak tahan dengan semuanya. Pikirannya juga sudah mulai dipenuhi tentang Morgan.


Ara bergidig, “ahh bodo amat lah!”


Ara memilih untuk membuang semua pikirannya terhadap Morgan.


Percuma, tidak ada untungnya juga untuknya.


Ara menuju tukang siomay langganan, yang biasa ia beli ketika sedang berada di kampus. Selama ini, seluruh agendanya selalu diperhatikan oleh Arash. Sampai-sampai, kakaknya tahu kalau dia tidak masuk tiga hari belakangan ini.


Siapa lagi kalau bukan Morgan yang memberitahunya?


Ara juga baru mengetahui, bahwa pihak yayasan yang kakak ceritakan untuk menitipkannya di kampus ini, adalah Morgan. Setangkap Ara selama ini, pertemuannya dengan Morgan itu bukan sebuah kebetulan. Tapi, memang sudah ada koneksi dengan kakaknya sebelumnya.


Hal kecil yang Ara lakukan di kampus ini, selalu Arash ketahui dengan detail. Bahkan, Ara juga tidak bisa makan dengan leluasa di kantin, karena kakaknya menganggap makanan di luar tidak higienis, dan bisa membuat Ara sakit, jika makan sembarangan.

__ADS_1


Hal itu juga yang membuat Ara kesal. Ara jadi harus mengendap-endap jika ingin makan makanan yang ada di kantin ini.


“Dasar kakak rese!” geram Ara, karena tiba-tiba saja teringat dengan sosok Arash yang sangat menyebalkan.


__ADS_2