Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Jejepangan Dulu


__ADS_3

Beberapa saat berlalu, mereka pun sudah selesai untuk menonton film, yang sebenarnya tidak ingin Ara tonton.


Morgan mengajak Ara untuk menonton film horor. Padahal, seharusnya untuk muda-mudi yang sedang kasmaran, mereka harus menonton film romantis, tapi berbeda dengan Morgan dan Ara.


Apa jangan-jangan dia takut untuk menonton film horor? Kenapa dia sangat tegang bahkan sebelum film di putar. Aku masih belum menemukan jawabannya, pikir Ara.


Morgan memperlihatkan ekspresi wajah yang seperti lega, membuat Ara semakin yakin dengan yang Morgan alami.


“Gan,” pekik Ara, membuat Morgan menoleh ke arahnya, “loe kenapa sih? Kok kayaknya tegang banget?” tanya Ara, membuat Morgan terdiam beberapa saat.


“Hah? Tegang gimana maksudnya?” ucap Morgan dengan tatapan yang sangat aneh menurut Ara.


Ara berpikir sejenak, tentang makna dari tatapan Morgan yang aneh itu.


Ara tiba-tiba saja membelalak, “gak usah mikir aneh-aneh, deh! Tegang yang gue maksud itu tuh tegang kayak takut, bukan tegang yang …,” ucap Ara terpotong, karena tidak sanggup lagi untuk mengatakannya.


Biarlah para readers yang menebaknya, apa maksud tegang yang Ara ucapkan tadi, hihi.


“Memangnya saya mikir aneh apa? Kamu tuh yang mikirnya aneh,” ucap Morgan dengan sedikit terselip nada meledek, namun Ara hanya diam, tak menggubris ucapan Morgan.


Ara tidak ingin sampai Morgan melanjutkan perbincangan ini. Tidak akan ada habisnya berbicara dengan orang seperti Morgan.


Mereka melangkah menuju ke arah eskalator.


“Permisi,” lirih seseorang yang ada di hadapan Ara dan Morgan.


Pandangan Ara tertuju pada si penjual popcorn tadi, yang sudah menghentikan langkah mereka.


Ara memandang dirinya dengan tatapan bingung, entah apa yang mau ia lakukan terhadapa Ara dan Morgan.


“Ada apa, ya?” tanya Morgan.


Sang penjual popcorn itu menatap Morgan dengan tatap ragu, “ta-tadi saya gak sengaja dengar kalau gadis yang ada di sebelah kamu itu manggil kamu dengan sebutan ‘om’,” ucap wanita itu, membuat Ara mengerenyitkan dahinya.


Memang, saat mereka membeli popcorn tadi, Ara tak sengaja menyebut Morgan dengan sebutan ‘om’, tidak heran jika wanita penjual popcorn ini berbicara seperti itu.


“Iya, memangnya … ada apa, ya?” tanya Morgan, membuat wanita itu menjadi terlihat sangat kaku.

__ADS_1


“Emm … sa-saya cuma mau nanya, apa kamu om-nya dia?” tanya, membuat Ara spontan terkejut setelah mendengarnya.


Entah Morgan ataupun Ara, mereka sama-sama diam, tak menjawab apa pun.


Wanita itu menyodorkan sebuah handphone ke arah Morgan, “saya boleh minta nomor kamu?” tanya wanita itu dengan gugup, membuat Ara mendelik tak percaya.


‘Sial, ini cewek kok murahan amat, sih? Gak tau apa kalo laki-laki yang dia goda itu lagi jalan sama cewek!’ batin Ara jengkel dengan sikap wanita ini.


Ara bersiap untuk memarahi wanita itu, tapi, Morgan sudah terlanjur mengambil handphone yang ia sodorkan, membuat Ara melotot kaget dengan aksinya itu.


Morgan mengetikkan sebuah nomor di handphone-nya dan memberikan kembali padanya.


Morgan mendekat, meniadakan jarak di antara mereka, membuat wanita itu tak sadar menelan salivanya sendiri.


“Gadis yang kamu lihat ini, adalah tunangan saya. Dia memang manggil saya om, karena usia kami yang memang sangat jauh. Lagi pula, kamu gak akan bisa menandingi ganasnya dia saat di ranjang. Kamu gak akan mampu menandingi tunangan saya,” ucap Morgan berbisik, sehingga dapat dipastikan kalau Ara tidak akan bisa mendengarnya, dan membuat wanita itu terkesiap.


Morgan merenggangkan kembali jarak di antara mereka.


“Hubungi saja nomor tertera, see you,” ucap Morgan seketika langsung merengkuh Ara ke dalam pelukannya dan mengecup singkat kening Ara, kemudian bergegas pergi dari sana meninggalkan wanita itu.


Setelah beberapa saat, mereka berjalan menuju restoran yang berada di lantai bawah bioskop, untuk sekedar mengisi perut mereka yang lapar.


Morgan masih melihat Ara yang kelihatannya masih kesal dengan keadaan aneh tadi, tapi Morgan hanya diam sembari melontarkan senyum, yang tidak Ara ketahui.


Mereka masuk ke restoran ala Jepang yang direkomendasikan oleh Morgan. Ara mencari tempat nomor 13, seperti nomor keberuntungannya.


Mereka pun duduk sembari menunggu pelayan.


Tak lama, pelayan pun datang dan memberikan buku menu. Ada banyak sekali bahasa yang dipakai di menu ini. Ara sampai bingung sendiri dibuatnya.


“Mau makan apa?” tanya Morgan dengan nada khasnya.


Ara terdiam sejenak, sembari memperhatikan menu yang ia pegang.


“Terserah deh ya. Pusing,” jawab Ara dengan asal.


Morgan hanya menatap Ara dengan datar.

__ADS_1


“Tempura, Onigiri, Udon yang toping beef curry, Semua yang enak bawa sini aja, Mbak,” ucap Morgan dengan lantang.


Ara sampai menganga kaget, karena Ara sama sekali tidak bisa makan banyak. Pasti akan membuatnya mual jika ia menghabiskan semua menu yang ada.


“Baik pak ...,” gumam pelayan itu, kemudian pergi meninggalkan mereka.


Ara membelalak ke arah Morgan, “eh gila kali ya? Gue gak bisa makan banyak gitu!” protes Ara dengan sinis, tapi Morgan hanya menatap Ara dingin.


“Memangnya, siapa yang bilang semua untuk kamu?” ucap Morgan membuat Ara kesal, tapi Ara harus menahannya.


Aku sangat gondok dengannya! Tapi mau bagaimana lagi? Aku tidak ingin bertengkar di tempat umum seperti ini. Itu hanya membuatku malu saja, pikir Ara.


Terdengar suara alunan musik dari kios sebelah, tempat Ara dan Morgan makan. Jarak dari live music ke meja mereka hanya terhalang oleh batas tembok plastik yang memiliki tinggi 1 meter. Jadi, Ara bisa melihat jelas mereka bermain musik.


Ara mendengar, suara penyanyi amatir itu cukup merdu di telinganya. Ara tersenyum mendengar suara indahnya itu. Apalagi, lagu yang ia bawakan adalah lagu kesukaan Ara. Lagu dari band asal Negri Sakura berjudul ‘where ever you are’.


Ara ikut bernyanyi dengan lirih, mengikuti ritmenya.


Tersadar dengan kelakuan Ara, Morgan seperti menoleh ke arah sumber musik. Ara memperhatikan Morgan, yang menoleh ke arahnya dan menatapnya.


Apa yang sedang ia pikirkan? Pikir Ara.


“Ikut,” tegas Morgan, lalu menarik tangan Ara.


“Eh, mau ke mana?” Ara terpaksa mengikuti langkahnya.


Ternyata, Morgan mengajak Ara ke arah live music tersebut. Ara sangat malu, khawatir Morgan melakukan hal-hal aneh yang tidak bisa ia terima.


Morgan maju ke arah panggung mini, dan berbicara kepada semua orang yang terlibat dengan band itu.


Akhirnya, dia mengambil microfon dan mencobanya untuk mendapatkan suara yang bagus.


‘Duh ... dia mau ngapain, sih?’ batin Ara resah, sembari memperhatikan Morgan dari jauh.


‘Mudah-mudahan dia gak bikin yang aneh-aneh,’ batin Ara terus berharap demikian.


Tak lama kemudian, terdengar suara musik yang sama seperti yang aku dengar tadi. Suara petikan gitarnya sangat indah, membuat semua orang berkumpul untuk menyaksikan penampilannya.

__ADS_1


__ADS_2